Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 68. Kebaikan Pak Hasan


__ADS_3

"Ibu tahu apa yang sedang terjadi padamu, ibu akan bantu kamu untuk balas semua perbuatan mereka hingga apa yang telah mereka lakukan tak bisa mereka lupakan hingga mati pun," tuturnya Bu Dewi.


Hyuna sudah sekuat tenaga menahan air matanya tetapi, tetap saja mengalir menetes membasahi pipinya.


"Menangislah, jika itu yang bisa kamu lakukan untuk membuat kamu lega tapi ibu minta jangan sekali-kali meratapi perceraian kamu, Ibu yakin ini semua adalah awal dari kebahagiaanmu," terangnya Bu Dewi dengan penuh keyakinan.


Tiga hari kemudian, Hyuna sudah bersiap untuk pulang ke rumahnya Pak Hasan dan Bu Tika yang sudah menganggap Hyuna adalah putri kandungnya.


"Alhamdulillah.. kamu sudah bisa pulang Nak! kondisi kesehatan kamu juga sudah cukup stabil," tuturnya Pak Hasan.


"Iya Pak, syukur Alhamdulillah Hyuna sudah bisa keluar dari rumah sakit kasihan dia sudah lama di sini," timpal Bu Tika dengan mengemasi barang-barangnya Hyuna ke dalam tas yang berwarna coklat itu.


Hyuna tersenyum bahagia melihat mereka yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah tapi, sudah sangat baik dan perhatian kepada Hyuna.


"Syukur Alhamdulillah… makasih banyak ya Allah Engkau menghadirkan mereka disaat aku butuh sandaran dalam menghadapi semua cobaan hidupku," batinnya Hyuna dengan menatap ke arah keduanya secara bergantian.


Berselang beberapa saat kemudian mereka sudah berada di dalam mobil yang menjemput mereka untuk pulang. Bu Dewi mengirim mobil untuk mereka bisa pakai untuk pulang.


"Aku harus bisa kuat dan membuktikan kepada Diandra jika aku masih mampu bernafas dan hidup tanpa Mas Bagas, mungkin aku memang tercipta bukan untuk Mas Bagas," Hyuna membatin.


Perjalanan mereka cukup lancar karena mereka memilih jalan alternatif yang tidak terlalu mengalami kemacetan. Hanya butuh waktu setengah jam mereka sudah sampai di rumahnya Pak Hasan.


"Nak Hyuna, Ibu sama Bapak pamit ijin pergi kerja dulu, soalnya sudah hampir jam 10 pagi," pinta Bu Tika.


Hyuna tersenyum sebelum menjawab perkataan dari ibu angkatnya itu, " Silahkan Pak dan Ibu pergi, aku tidak apa-apa sendiri kok lagian aku sudah merasa sehat dan baikan," balasnya.


"Kamu kalau perlu apa-apa atau ada yang kamu butuhkan telpon saja Ibu atau Bapak, makanan ada di dalam lemari, Ibu sudah buatkan kamu rendang dan sayur asem kesukaanmu," ujarnya Bu Tika dengan senyuman lebarnya lalu meraih tasnya akan bersiap untuk pergi.


"Makasih banyak Bu, Aku sangat senang dan bahagia diperlakukan sangat baik dan istimewa dari kalian, padahal aku hanya Orang lain di dalam keluarganya ibu," tutur Hyuna dengan wajah sendunya.

__ADS_1


"Cukup hari ini Kamu bicara seperti itu, bapak minta sama kamu untuk kedepannya dan seterusnya jangan sekali-kali ada perkataan seperti itu lagi, Bapak akan marah dan tidak akan menyukai jika hal seperti ini terulang lagi," ucapnya Pak Hasan dengan mewanti Hyuna.


Hyuna tersenyum bahagia dan terharu dengan sikap dari kedua pasangan suami istri tersebut. Air matanya menetes membasahi pipinya. Untuk menemukan orang yang benar-benar tulus kepadamu tidak lah mudah di zaman sekarang ini. Apa lagi tidak ada sedikitpun ikatan darah diantara mereka.


"Kami pamit yah nak, assalamu alaikum," ucap salam keduanya lalu berjalan meninggalkan Hyuna yang duduk di kursi ruang keluarga sembari mengambil remote control yang ingin menyalakan televisi.


"Waalaikum salam, hati-hati yah Bu, Bapak juga harus rajin merawat bunga mawarnya," katanya Hyuna yang melihat ke arah mereka sehingga motor yang dipakai mereka menjauh dari kawasan perumahan komplek rumahnya.


Sore harinya Hyuna baru bangun tidur, dia bergegas ke dalam kamar mandi karena akan melaksanakan shalat ashar setelah mendengar suara adzan dari toa masjid.


"Alhamdulillah sudah sore, segarnya sudah menenangkan diri dan pikiran lewat tidur," ujar Hyuna yang tersenyum kecil menanggapi perkataannya sendiri.


Hyuna melaksanakan kewajibannya selalu walaupun dalam keadaan sakit apalagi dia sudah sembuh dari sakitnya. Air mata Hyuna kadang menetes jika mengingat calon bayinya yang telah tiada dan tidak bisa diselamatkan.


"Maafkan Bunda sayang, Bunda tidak bisa menjagamu dengan baik," tutur Hyuna saat setelah menyelesaikan doanya setelah shalat ashar sambil mengelus perutnya.


Hyuna melipat mukena dan menyimpan Al-Qur'an nya kembali ke tempatnya semula. Tiba-tiba hpnya berdering dan membuatnya sekitar tersentak kaget. Hyuna buru-buru berjalan dan memeriksa siapa orang yang menelponnya.


"Nomor baru!" Cicitnya yang kebingungan siapa yang meneleponnya.


Hyuna tanpa sadar pikir panjang lagi langsung mengangkat telepon itu. Belum sempat dia berbicara dan mengucapkan salam, orang di seberang telpon mendahuluinya.


"Assalamualaikum Hyuna, bagaimana kabarmu?" Tanyanya orang itu yang mampu membuat Hyuna terduduk di ujung dipannya.


"Mas Guntur!" Lirihnya.


Suara itu masih mampu ia kenali dengan baik. Walaupun sudah hampir empat tahun tidak pernah dia dengar lagi. Kilatan masa lalunya terlintas di dalam benak pikirannya. Masa indah bersama dengan pria yang pernah hadir dan mengisi hatinya kembali hadir di dalam hidupnya saat statusnya sudah menjadi seorang janda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul:



Pesona Perawan


Cinta dan Dendam


Menggenggam Asa


Kau Hanya Milikku


Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....


Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….


Tetap Dukung Ketika Kesetianku Dipertanyakan dari cara like setiap Babnya, komentar, Gift, Komentar dan berikan dengan keikhlasan Kakak.

__ADS_1


__ADS_2