
"Ini rumah Bapak, maaf kecil," ujarnya dengan senyuman khasnya.
"Aahh bapak kenapa merendah, nah bapak lebih beruntung punya rumah sendiri daripada Saya yang tidak tahu mau pulang ke mana," balasnya.
Tok... Tok... Tok..
Pintu rumah yang bercat coklat tua itu terbuka. Hyuna yang awalnya membelakangi pintu sudah membalikkan tubuhnya. Ia terkejut melihat siapa orang yang berada di balik pintu itu.
"Mas Guntur!" Lirihnya.
Orang yang disapa Guntur pun sama terkejutnya dengan yang dialami oleh Hyuna. Pak Hasan tersenyum ke arah Guntur.
"Tuan Muda Guntur sudah mau pulang yah? apa sebaiknya nanti sore saja pulangnya kan kebetulan Tuan Muda datang ke Indonesia hampir tiga tahun," ujarnya Pak Hasan.
"Eh, itu Pak aku harus ke Bandara kebetulan Mama baru balik dari Kuala Lumpur," jawabnya dengan salah tingkah.
Hyuna hanya berdiri mematung tanpa ada lagi kata yang terucap dari bibirnya. Dia hanya terdiam membisu seribu dan mematung.
Guntur segera berpamitan kepada Pak Hasan. Lalu meninggalkan rumah sederhana itu dengan raut wajahnya yang belum pupus dari rasa terkejutnya.
"Ya Allah.. hampir tiga tahun aku tidak bertemu dengannya, wajahnya semakin cantik saja," lirihnya Guntur sebelum memutar stok kunci mobilnya.
Sebelum dia meninggalkan depan rumah Pak Hasan dia menyempatkan dirinya untuk melihat ke arah Hyuna yang masih terdiam di tempatnya.
"Mas Guntur, setelah kepergianmu tanpa pamit kenapa hari ini harus muncul lagi," gumam Hyuna.
"Maaf yah Nak, rumahnya bapak kecil tapi insya Allah aman dan nyaman untuk dihuni," tutur Pak Hasan.
Pak Hasan membuka pintu rumahnya yang kebetulan terkunci rapat. Istrinya Pak Hasan nanti habis magrib baru pulang bekerja. Bu Rita bekerja di salah satu rumah warga yang tinggal di kompleks perumahan elit.
__ADS_1
Tepatnya di rumahnya Guntur, sedangkan Pak Hasan menjadi tukang kebun di rumah tersebut.
"Maaf Pak apa tadi itu putranya Bapak?" Tanyanya Hyuna yang penasaran ingin mengetahui apa hubungannya Pak Hasan dengan Guntur.
Selama Hyuna kenal Guntur yang hampir tiga tahun menjalin hubungan, sekalipun Hyuna tidak pernah bertanya tentang keluarganya Guntur. Begitu pun sebaliknya. Guntur juga tidak pernah sekalipun menjelaskan kepada Hyuna siapa dia sebenarnya.
Mereka menjalin hubungan dari mereka sama-sama masih duduk di bangku perguruan tinggi. Hyuna dan Guntur kebetulan satu kelas. Awalnya mereka hanya sekedar berteman biasa saja, tapi lambat laun. Pertemuan yang sering dan intens membuat tumbuh dan timbul benih-benih cinta.
Tapi, satu tahun sebelum hari kelulusan mereka. Guntur menghilang tanpa jejak, Hyuna saat itu sangat sedih dan terpukul tapi Hyuna selalu mengajarkan kepadanya jika jodoh pasti tidak akan lari ke mana. Seperti pepatah mengatakan, asam di gunung garam di laut pasti akan bertemu juga, kalau lah jodoh tak akan ke mana.
Pak Hasan sudah menjelaskan secara rinci tapi, Hyuna berdiri terdiam dan seperti orang linglung saja. Sehingga Pak Hasan menyentuh dengan terpaksa lengan tangannya Hyuna. Pak Hasan menggoyang tangannya Hyuna agar segera tersadar dari lamunannya.
"Maaf Pak, tadi bapak ngomong apa, aku tadi gak sempat denger baik,?" Tanyanya Hyuna dengan sedikit malu dan salah tingkah karena kedapatan melamun.
"Ohh baiklah bapak akan ulang, Tuan Muda Guntur Bumi Triyoga adalah putra kedua dari pemilik rumah yang bapak tempati bekerja selama kurang lebih 12 tahun lamanya Nak," jelasnya Pak Hasan.
Hyuna terduduk di kursi kayu jati yang tertata rapi di dalam ruangan tamu milik Pak Hasan. Dia menutup mulutnya saking tidak percayanya jika, Guntur adalah anak orang kaya yang selama ini setahunya bekerja di salah satu cafe untuk mencari tambahan biaya kuliahnya. Karena Guntur dulu kuliah karena bantuan beasiswa full.
"Kamu baik-baik saja kan Nak?' tanyanya Pak Hasan sambil memegang pundaknya Hyuna dengan cara menepuk perlahan.
Hyuna menatap ke arah Pak Hasan yang sudah nampak khawatir. Pak Hasan bergegas menuju dapurnya untuk mengambil air putih untuk segera dibacakan doa karena, Pak Hasan takut jika Hyuna kesambet atau pun kesurupan sesuatu yang tidak baik untuk berbau hal mistis.
Pak Hasan menyodorkannya segelas air putih ke arah depannya Hyuna," ini nak silahkan diminum dulu, sepertinya kamu kelelahan karena sudah berjam-jam berjalan."
Hyuna tidak banyak pikir langsung mengambil alih gelas tersebut dari dalam genggaman tangannya Pak Hasan, lalu meminumnya hingga tandas tak tersisa setetes pun air.
"Bapak lihat kamu cukup kelelahan, jadi sebaiknya kamu masuk ke dalam kamar Nak, itu kamar yang paling di luar kosong jadi, kamu tempati kamar itu saja, kebetulan itu sudah lama kosong kadang sih terisi jika ada Tamu," terangnya Pak Hasan sembari menunjuk ke arah letak kamar tersebut.
"Makasih banyak Pak, Saya tidak tahu harus bagaimana caranya membalas kebaikan bapak, saya tidak punya apa-apa Pak jadi hanya ucapan setulus hati yang bisa saya ucapkan ke depan Bapak," tuturnya Hyuna yang sedikit membungkuk di hadapan Pak Hasan.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu sungkan Nak, bapak sangat bersyukur karena selama hampir 30 tahun bapak menikah bapak belum dikaruniai anak jadi sebagai gantinya Bapak suka menolong dan membantu siapa saja yang butuh bantuan dan bapak sebenarnya ingin sekali mengangkat anak hanya saja sepertinya itu sulit kami lakukan karena bapak sama Ibu sama-sama sibuk," ungkap Pak Hasan panjang lebar.
Setelah mereka berbincang-bincang santai dan Pak Hasan menunjukkan letak dapur rumahnya, kamar mandi serta yang lainnya barulah Pak Hasan berpamitan kepada Hyuna untuk segera pergi kerja kebetulan jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak Readers dengan judul:
Pesona Perawan
Hasrat Daddy Anak Sambungku
Aku Diantara Kalian
Cinta dan Dendam
Cinta yang tulus
Bertahan Dalam Penantian
Pelakor Pilihan
Hanya Sekedar Pengasuh
Ceo Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
__ADS_1
Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....
Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan...