Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan

Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Bab. 92. Amarah Diandra


__ADS_3

Ketiga pria yang gantengnya paripurna itu sampai detik ini masih status single belum ada yang berhasil mengakhiri masa kesendiriannya. Tapi, entah siapa yang pertama kali akan memulai untuk mengakhiri masa bukannya.


Prinsip mereka, hidup boleh bebas tapi, tidak boleh melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan apa lagi untuk **** bebas.


Suara-suara dee sa haan dari kedua pasang bibirnya Nindi dan Bagas memenuhi seluruh penjuru sudut ruangan. Bagas sama sekali tidak menggubris hpnya yang tidak berhenti sama sekali berdering plus bergetar.


"Baru kali ini aku menemukan perempuan yang mampu membuatku terbang melayang tinggi hingga ke langit tingkat tujuh, wajah, body dan suaranya mampu membuatku melupakan siapa pun diluar sana," batinnya Bagas.


"Aku akan melakukan apapun agar Bagas segera menceraikan Diandra walaupun bos Austin tidak menyuruhku untuk melakukan hal itu terjadi tapi, aku tidak ingin berbagi dengan perempuan mana pun, aku harus menjadi istri dan perempuan nomor satu di dalam kehidupannya," Nindi membatin sambil terus memompa dan menggenjot dirinya seirama hentakan demi hentakan seirama dengan gerakan halus nan lembut dari Bagas.


Prank!!!!!!!!!


Suara lemparan dari benda yang terlempar mengenai tembok memenuhi kamar tidur yang begitu besar dan nyaring. Semua benda yang mampu dalam jangkauannya terlempar dengan sangat kuat. Hingga terbang dan mengenai tembok hingga hancur berkeping-keping.


"Aaahhhhhh!!! Bagas kamu sangat kurang ajar, brengsek, tukang tipu, pembohong aku akan balas semua ini atas apa yang telah kamu lakukan!" Geramnya Diandra.


Wajahnya memerah, matanya melotot, jakunnya naik turun, hidungnya kembang kempis, buku urat-urat tangannya terlihat dengan jelas.


Apa pun yang bisa dia lempar, ia akan melemparnya ke segala arah. Tanpa perduli bahkan hampir ada vas bunga pecahan belingnya mengenai wajah putranya yang sedari tadi menangis histeris dengan suara bayi yang melengking.


"Aku akan buktikan padamu Bagas aku bisa menipu dan membohongimu juga, aku akan cari tahu kenapa brengsek itu hingga detik ini belum pulang juga, tapi aku yakin ada lagi wanita gatal yang menggodanya, jika aku melihat perempuan itu aku akan membunuhnya hingga kematian enggan mendekatinya, haaaa!!!" Makinya Diandra dengan sangat kesal.


Diandra kemudian memanggil baby sitter dan asisten rumah tangganya dengan suara teriakannya yang mampu memecahkan keheningan tengah malam itu. Dia membuka pintu hingga membantingnya dengan sekuat tenaganya dengan membenturkan ke dalam tembok hingga dinding seolah bergetar dan akan rubuh.

__ADS_1


"Ani!!! Rita!!! Cepat kesini!!" Teriaknya Diandra diujung anak tangga.


Diandra sudah terbakar emosi yang cukup membara. Pembantunya yang dipanggil segera datang dengan berlari kencang dalam keadaan yang setengah tertidur. Siapa pun akan mengalami hal yang sama jika, di teriakin dipanggil namanya dijam 1 malam. Lagi enaknya tidur dan beristirahat tiba-tiba digangguin oleh suara teriakan yang menggelagar bagaikan petir di tengah malam itu.


Nafas keduanya ngos-ngosan saking kencangnya mereka berlari karena takut jika mereka mendapatkan amukan,omelan dan amarah dari Nyonya besar yang akan bisa berujung dengan pemecatan tanpa gaji dan pesangon dikit pun.


"Iya Nyonya Besar, ada yang bisa kami bantu?" Tanyanya Ria dengan nafasnya yang masih sulit dia atur.


Ani menatap dan diam-diam memperhatikan wajahnya dari bosnya itu dan sedikit terkejut karena penampilannya tidak seperti biasanya, yang mereka lihat saat itu adalah Diandra dengan rambutnya yang tergerai dan berantakan seperti layaknya orang yang habis main janbak-jambakan saja.


Keduanya ingin tertawa terbahak-bahak tapi, mereka terus berusaha untuk menahannya. Ani dan Rita saling beradu pandang dan hanya menganggukkan kepalanya tanda tidak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya di dalam rumah yang cukup besar itu.


"Bersihkan kamarku hingga bersih dan rapi kembali jangan biarkan ada kotoran sedikit pun hingga lalat dan semut saja enggan masuk ke dalam kamarku!" Cerca Diandra yang memerintah ARTnya dengan raut wajahnya yang sudah seperti Mak lampir saja.


"Iya Nyonya, saya akan segera laksanakan perintah Nyonya," jawab Ani.


"Eeehhh, maaf saya salah dengar Nyonya Besar," balasnya Ani dengan menundukkan kepalanya tapi tatapan matanya tidak menerima dibentak seperti itu.


"Kapan taubatnya ini Nyi Blorong, kenapa sifatnya semakin menjadi jelek saja," umpatnya Ani yang sudah geram dan jengkel meladeni sikap dari Diandra.


"Sudah galak, kasar, tidak sopan, eehh gaji kami sering dipotong dengan alasan yang tidak jelas, kalau seperti ini sebaiknya aku pindah saja dari sini kalau besok aku terima gaji," Batinnya Ria.


"Ya Allah.. sadarkanlah Nyonya Diandra untuk kembali kejalanmu, aku tidak tega melihat anaknya yang selalu jadi korban jika dia kesal dan marah," gumam Ani dengan wajahnya yang sendu dan sebal dalam waktu yang bersamaan.

__ADS_1


...----------------...


Jangan lupa untuk Mampir juga di novelku yang lain Kakak Readers dengan judul yang insya Allah ceritanya tidak kalah keren..



Pesona Perawan


Kau Hanya Milikku


Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Dilema Diantara Dua Pilihan


Cinta CEO Pesakitan


Ketika Kesetiaan Dipertanyakan



Makasih banyak bagi kakak Readers yang telah memberikan dukungannya, i love you all....

__ADS_1


Mohon Maaf jika terbanyak typo atau kesalahan dalam pengetikan di novelnya Fania….


Tetap Dukung Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan dengan cara Like setiap Babnya, Rate Bintang 5, Favoritkan, Komen dan Gift Poin/Koinnya seikhlasnya.


__ADS_2