Keyra Naura

Keyra Naura
Selesai


__ADS_3

"Ma, aku gak mau Mila ajak temen-temennya kesini."


"Gak bisa sayang, temen Mila udah sampe tuh," Keyra menunjuk segerombolan gadis cilik yang baru saja masuk melalui pintu utama. Wanita itu kembali menata paper bag dengan dibantu para pembantunya.


Milan membuang nafas jengah. "Yaudah," sahutnya pendek. Kemudian Milan bergerak mendekati sepupu laki-laki nya yang tengah mabar game online.


"Anjrit payah!" Umpat Lintang kesal. Dibanding sepupunya yang lain, Lintang memang yang paling tua dan kerap mengatakan kalimat kasar.


Semenjak Lintang memasuki dunia perkuliahan, bahasanya memang tak se-sopan dulu. Ia mengikuti gaya bicara teman-temannya yang cenderung kasar dan penuh makian.


Namun beruntungnya, Andra --sang Ayah sering melatih emosi Lintang yang suka meledak-ledak.


Lintang mengedarkan pandangan mencari keberadaan seseorang. "Netha mana?"


"Kak Netha gak dateng, lagi sama Bang Leon." sahut Milan.


Kenzo mengangguk menyetujui. "Pacaran."


"Ohh,.." respon Lintang memang biasa saja. Namun lain lagi dengan batinnya yang merutuk kesal. "Awas aja lu Singa!"


Lintang meraih ponselnya lalu berdiri sambil memandang Keyra. "Aunty, Lintang cabut ya."


"Hadiah dari lo mana, heh?" Celetuk Rafka yang baru tiba. Mengundang cengiran lebar dari Lintang. "Kata Milan, sultan itu gak perlu hadiah. Jadi Lintang gak bawa apa-apa Om." ucap Lintang sok polos.


Lintang lekas meninggalkan rumah Rafka dengan tergesa-gesa sampai menabrak teman main Karmila. Pemuda itu tanpa merasa bersalah langsung pergi dari ruangan itu, sama sekali tak berniat membantu orang yang ditabrak nya.


Rafka mendekat kearah putrinya yang terlihat kesal. Gadis cilik itu mencak-mencak seiring dengan omelan yang keluar dari mulutnya untuk sang sepupu. "Bang Bintang emang minta dilukyah!"


"Bang Lintang bukan Bintang, dear," ucap Rafka mencubit gemas hidung mancung putrinya. "Papa ihh jangan dicubit, akunya gak suka!" Karmila mundur saat menyadari gelagat sang Papa yang akan kembali mencubit hidungnya.


Gadis itu paling anti dengan cubitan.


Rafka tertawa geli.


Karmila lalu berjalan riang kala menyadari ada sepupu tampan nya yang sedang duduk disamping Kakaknya. Gadis cilik tersebut berdiri dibelakang sofa sembari mengalungkan tangan nya yang mungil di leher Kenzo.


Kenzo yang risih pun menepis tangan mungil Karmila. "Jangan peluk, kamu bau."


"Iya kamu bau, sana jauhan Mila." sahut Milan jujur. Kedatangan Karmila membuat Milan dan Kenzo ingin muntah, karena mencium aroma bayi bercampur keringat yang menyengat dari tubuh sang adik.


Walaupun menggerutu, Karmila tetap mempertahankan diri memeluk leher sang sepupu.


Keyra memegang kaos polos yang dikenakan Rafka. Keringat nampak mengucur dari dahinya. Rafka yang melihat Keyra kelelahan pun bergegas membawa sang istri ke kamar, mendudukkan Keyra diranjang dengan kedua tangan berada di bahu istrinya.


"Udah ya, jangan kecapean." Mengusap peluh di dahi Keyra.


Rafka berjongkok di depan Keyra sambil memijit kaki sang istri. Tangan Keyra mengusap dahi mulus Rafka dan alis tebalnya yang indah.


"Aku izin tidur dulu sampe ashar, ya." Keyra merebahkan tubuh ke tengah ranjang. Rafka ikutan rebah di samping Keyra dan menarik selimut sampai pinggang. Wajahnya tepat berada di depan dada Keyra dengan tangan yang memeluk Keyra erat. "Aku kangen kamu."


**


Acara ulang tahun Milan terbilang sangat ramai. Ada 2 sesi --dimana sesi pertama di mulai selepas maghrib dengan mengundang anak-anak panti asuhan serta di meriahkan oleh teman-teman Milan dan juga Karmila.


Di sesi yang kedua berlangsung pada pukul 8 malam, tamunya adalah teman Keyra dan Rafka ---bermaksud reuni sekaligus tasyakuran kehamilan Keyra yang ketiga.


"Dingin." Airin terlihat menggosok telapak tangan karena merasa udara dingin begitu menusuk kulitnya.


Wanita itu sedang berjalan sendirian mengitari kolam renang yang sudah di hias seapik mungkin. Tamu Keyra dan Rafka sudah banyak yang berdatangan, yang bisa Airin tebak jika umur mereka tak jauh berbeda dengannya.


Airin memilih duduk di gazebo yang ada di dekat kolam renang. Ia menikmati keadaan di sekitarnya yang ramai namun tak mengganggu pendengarannya.


"Hai."


Airin mendongak, menatap pria yang baru saja menyapa ---pria itu tersenyum manis sambil duduk disamping nya.


"Oh, hai." Airin membalas canggung.


"Lo alumni SMK juga? Kok gue gak pernah liat lo, ya?"


Wanita itu menggeleng. "Bukan, saya teman kuliah Rafka."


"Oh," sahutnya. Pria bernetra hazel tersebut mengulurkan tangan yang ragu-ragu Airin sambut. "Gue Farel."


Airin tersenyum. "Saya Airin."


"Rel, Rin, maaf lama."

__ADS_1


Airin memandang Keyra yang mendekat bersama Rafka, kedua pasangan itu terlihat begitu serasi dimata Airin. "Gapapa, santai aja... lagian ini 'kan acara nya kalian." Airin melirik Farel yang berpelukan ala laki dengan Rafka.


"Yailah Ai, gak sadar apa lo, orang-orang disini tuh temen sekampus lo dulu." Ujar Rafka. "Gabung sono."


"Siapa?" Tanya Airin sembari mengedarkan pandangan. "Gaada yang aku kenal, Rafka. Semuanya asing."


Rafka menepuk jidatnya. "Ini kebanyakan temen SMP-SMK gue sih. Tapi ada kok temen sekampus kita, liat aja nanti."


"Cowok apa cewek?"


"Cowok."


"Fix aku pulang!" Sahut Airin cepat. "Keyra, aku pulang dulu ya. Nanti kalo Milan mau buka kadonya, difoto terus kirim ke aku. Byee!"


"Telat lo Rin." kekeh Rafka.


"Assalamu'alaikum."


Langkah Airin sontak terhenti. Secepat kilat pandangan wanita itu langsung tertuju pada kedua sejoli yang baru tiba.


Arsha,


Dan,


Istri kecilnya.


"Waalaikumusalam," jawab Rafka. "Abang lo mana Ar?"


Sejenak tatapan Arsha beradu dengan Airin. Dia mengernyit lalu mengalihkan pandangan pada Rafka yang bertanya tadi. "Emang kalian ngundang Bang Shaka?"


Keyra dan Rafka mengangguk serempak. Semua yang ada disitu heran dengan reaksi Arsha selanjutnya. Pria itu langsung menggenggam tangan Rekansha dan mendekapnya erat.


Rekansha malu menjadi pusat perhatian. Ingin sekali ia meninju perut suaminya yang menyebalkan. "Maaf terlalu over, tapi Angsa lagi hamil." kekehnya malu. "Angsa kalo liat Bang Shaka, jadi suka muntah-muntah," terangnya lagi.


Mulut Airin seakaan terkunci rapat melihat betapa khawatirnya Arsha terhadap sang istri. Dan... mengetahui jika istri Arsha tengah mengandung, mampu membuat Airin ingin pergi dari tempat itu sekarang juga.


"Aku sesek nafas dih!" Kesal Rekansha. "Mbak Keyra, tolongin aku,..." Rekansha memanggil Keyra dengan tatapan memohon.


★★★★★


7 bulan berlalu.


"Kali ini pengen apa lagi?"


Keyra terdiam sejenak.


"Ada sih satu keinginan aku, pengen liat Airin nikah sama Bang Shaka."


Rafka menarik nafas. "Kamu gak tau? Shaka bentar lagi mau nikah sama Aura, masa tiba-tiba pengantin ceweknya jadi Airin."


"Iya sih."


Keyra menarik tangan sang suami agar kembali berdiri. Keduanya memilih merebahkan diri diatas ranjang kala hujan semakin deras terdengar jelas dari luar rumah.


"Kamu kenapa baru ngomong sih kalo Airin tuh suka sama Arsha?" tanya Keyra. "Dan aku juga baru tau kalo kamu, Arsha, sama Airin saling kenal deket pas kuliah."


"Kamu nya gak nanya." Rafka menggedikkan bahu. Tangannya bergerak mengelus perut besar sang istri, sedangkan bibirnya mulai aktif meraup bibir Keyra yang ranum. "Udah, sekarang tidur! Ngidamnya besok-besok lagi ya."


Keyra mengangguk patuh sambil mengeratkan pelukan.


*


Keesokan harinya di meja makan, terdapat Keyra yang sedang sarapan hasil olahan tangan Rafka. Sementara Rafka sendiri hanya bisa tersenyum melihat nafsu makan Keyra yang meningkat.


Pipi Keyra yang tembam, menjadi objek cubitan Rafka. "Cantik banget istri aku."


"Makasih, kamu juga jelek."


"Dih.." kembali mencubit pipi Keyra. "Setiap hari porsi makan kamu begini, seneng aku, Ra."


"Bisa jadi balon udara aku." Keyra tersenyum miring. "Realita aja, semua cowok suka cewek langsing yang cantik!"


"Gak boleh pukul rata begitu," tegur Rafka lembut. "Pukul rata? Hampir 99% cowok itu mandang fisik. Gendut dikit, tinggal, kalo burik apalagi." celetuk Keyra.


Rafka tertawa ngakak. "Aku bisa baca pikiran kamu loh, Ra. Jangan berpikiran buat diet, gak baik buat anak kita." tambah Rafka.


"Diet setelah melahirkan boleh kan?"

__ADS_1


Rafka menghela nafas panjang. "Kamu cantik gini, sayang. Berisi, natural, dan gak umbar aurat sana-sini."


"Oke janji gak diet! Aku bakal rajin olahraga aja, gak baik juga kalo kegendutan."


"Kegendutan apaan? Ini normal buat Ibu hamil, Naura," ujar Rafka gemas. "Tapi kalo olahraga ranjang, gaslah!"


Rumah itu sedikit sepi karena Milan dan Karmila tadi dijemput oleh Kakak perempuan Keyra. Berhubung kehamilan Keyra sudah memasuki bulan ke-8, Rafka tentu tak mengizinkan istrinya itu untuk ikut berlibur ke pantai.


"Kamu gak makan?"


Rafka menggeleng. "Belum laper, aku maunya makan kamu."


Keyra yang tengah menyantap makanan nya langsung tersedak. "Uhuk uhuk!"


Rafka menepuk bahu sang istri sebelum menyodorkan air minum. "Pelan-pelan."


"Hum."


Keyra bangkit untuk menaruh piring di wastafel, Rafka mengambil alih piringnya itu dan menyuruh Keyra untuk cuci tangan. Wanita itu mengambil yougurt di lemari pendingin lalu menyodorkan yougurt tepat di depan mulut Rafka yang sedang mencuci piring.


"Kamu mau aku buatin sesuatu?" tanya Keyra.


Rafka menggeleng. "Habis solat tadi, aku makan roti. Sekarang masih kenyang, sayang."


Melihat sang suami sudah selesai mencuci piring, Keyra membungkam mulut Rafka dengan bibirnya. "Dokter Sella suka sama kamu, kamu tau itu?" Bisik Keyra membuat Rafka melongo.


"Apa?"


Keyra mencengkram lengan sang suami. "Minggu lalu, aku labrak Dokter Sella... Gimana pendapat kamu?"


"Jelasin rinci nya, Ra."


Flashback


Keyra memainkan ponselnya sambil menunggu lift sampai dilantai tertinggi Gandawari Group. Dirinya fokus membalas pesan Rafka sambil sesekali mengelus perut besarnya.


"Bu Keyra ya?"


Suara berat itu membuat Keyra mendongak. "Ya betul."


"Adiknya Pak Ervin?" tanya dia lagi.


Keyra mengangguk.


Pria bernama Nathan mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Keyra. Namun Keyra dengan sigap mundur satu langkah sambil tersenyum. "Maaf Pak."


'Somse' batin Nathan. "Ibu pasti datang kesini ingin bertemu dengan Pak Ervin kan?"


Keyra mengangguk. 'Lebih tepatnya ketemu sekertaris nya Rey.'


"Ah kebetulan sekali Pak Ervin sedang bertemu dengan kolega diluar kantor. Kalo Ibu gak keberatan, boleh saja menunggu di ruangan saya."


Keyra mengernyit. "Maaf sekali lagi, tapi saya bisa menunggu di ruangan Kakak saya."


Keyra lantas keluar dari kotak besi itu diikuti oleh Nathan.


Melihat kepergian Keyra, Nathan berdecak. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Saat panggilan tersambung, pria itu lantas berkata. "Kata lo, Keyra orangnya gampangan. Mana?! Dideketin aja sombong banget, Sela!"


"Hum... Keyra awalnya suka jual mahal, dia make jilbab juga biar keliatan polos, Nathan! Deketin terus, buat dia bisa jauh dari suaminya. Keyra itu kaya raya, lo bisa keruk hartanya kalo dia udah jatuh ke pelukan lo."


"Tcih dia bukan tipe gue. Harta? Yang kaya itu Pak Ervin, Keyra cuman anak haram nya Pak Davin yang pastinya gak bakal dapet warisan." ejeknya.


Keyra yang belum pergi, mampu mendengar percakapan antara Nathan dengan Sela. Wanita itu tersenyum miring.


Saat Nathan sudah meninggalkan tempat itu,


Keyra lantas putar arah menuju rumah sakit tempat suaminya bekerja. Dia menaiki mobilnya dan duduk di kursi belakang. Diperjalanan Keyra mengirim pesan pada Ervin bahwa ia tak jadi menunggu diruangan Kakaknya.


Flashback off


"Aku bisa denger ucapan Dokter Sela karena Nathan-Nathan itu loudspk sambungan telepon nya."


Rahang Rafka mengeras, matanya terpejam berusaha mengontrol emosinya yang memuncak mendengar istrinya di hina. Brngsek!


"Setelah itu aku langsung datengin ke ruangan dia. Mana pas di labrak, muka dia songong banget... feeling aja sih kalo dia bisa jadi perusak rumah tangga kita kalo kamu yang welcome... again."


DEG

__ADS_1


Perasaan bersalah langsung menghampiri Rafka. Ia meremas lembut tangan Keyra dan mencium kening sang istri lama. "I love u, Keyra Naura. Aku gak mau janjiin apapun lagi sama kamu. Kalo di masa depan kelakuan buruk ku buat kamu muak, apalagi sampai selingkuh.... jangan kasih kesempatan lagi, kamu pantas buat tinggalin aku, selamanya." ucapnya tulus.


Keyra menatap lekat sebelum memeluk Rafka erat. "Love u too, Mas Rafka." bisiknya lirih.


__ADS_2