
"Bian ini beneran lo? Woe kemana aja lo berabad-abad ngilang."
Bian memandang Keyra sendu. Ia, Rafka dan Akhir saat ini sedang bertamu di rumah Keyra yang nampak sepi.
"Gue pindah ke Cakrawala, Key."
Cakrawala? Keyra mengerutkan keningnya.
"Gitu? Lo pindah gak ngabarin kita-kita dulu, Bi! Kita temen bukan sih?"
Rafka dan Akhir saling lirik. Kali ini mereka memilih diam dan mendengarkan pembicaraan kedua temannya.
"Waktu itu gue mau pamit, tapi ngeliat kalian yang masih berduka. Jadi langsung ke Bandung dan menetap disana, Key."
"Lo emang gak anggep kita temen lo, Bi." Jujur, Keyra kecewa dengan Bian yang memang menghilang dari pandangan Keyra dan teman-temannya saat Friski baru dikebumikan. "Bahkan nomer lo gak bisa dihubungin sama sekali," tambah gadis itu lagi. Ia beranjak saat Bian akan membalas ucapannya.
"Sebentar gue ambil minum dulu."
Bian menggeleng. "Gue cuman sehari di Jakarta, gak bisa lama-lama sorry."
"Yaudah, sana balik." Ketus Keyra tetap pergi kedapur mengambil minum untuk tamunya.
Bian memandang Rafka dan Akhir. "Keyra udah punya pacar?"
Rafka menggeleng sementara Akhir mengangguk.
"Gaada,"
"Otw."
Bian mengerutkan keningnya heran. "Yang bener mana?"
Rafka dan Akhir hanya bisa menggedikkan bahunya.
"Keyra!"
Keyra mendekati sofa panjang yang terdapat Akhir, Rafka dan Bian. Ia duduk di sofa single setelah meletakkan tiga botol minuman soda di atas meja, lantas menatap Akhir yang tadi memanggilnya. "Apa?"
"Gue gak mau basa basi, gue bukan cowok romantis. Lo mau kan jadi pacar pertama gue?" Ujar Akhir penuh harap.
Mata Keyra, Rafka dan Bian membulat. "Lo nembak gue?" Tanya Keyra tak percaya.
Akhir menggeleng. "Enggak, kalo gue nembak lo, mati dong."
__ADS_1
"Dih serius," decak Keyra sebal.
"Aing serius, Keyra."
"Yaudah mau."
Deg
"Lo gak nunggu gue, Key?" Bian memandang Keyra dengan kecewa.
"Ehek," Keyra tersedak ludahnya sendiri memandang Bian yang wajahnya semakin datar, sementara Rafka biasa biasa saja. Hal itu membuat Keyra semakin yakin jika Rafka tak mempunyai perasaan khusus padanya. "Maap ya Bi, cowok pertama gue Akhir."
Akhir nampak tersenyum bahagia sambil membayangkan rencana kencannya nanti bersama Keyra. "Makasih Key, lo pertama buat gue dan gue pertama buat lo."
"Sans aja. Gue laper, mau coba nyicip masakan gue?"
Akhir mengangguk antusias. "Yok kita kedapur," Keyra tanpa sadar menarik tangan Rafka yang langsung menepis tangannya. "Yaampun gak sengaja gue," ucap Keyra kikuk.
Akhir tersenyum maklum sambil meraih tangan Keyra dan membawa gadis itu pergi meninggalkan Rafka dan Bian yang berdecak pelan.
"Gue ditolak sebelum nembak, Raf." Ujar Bian setengah curhat. Ia dengan lesu menyenderkan kepalanya di sandaran sofa, sambil menatap punggung Keyra dan Akhir yang berjalan kearah dapur.
"Kasian sadboy," ucap Rafka mengejek.
★★★★★
"Dengan kamu nyuruh aku buat gugurin anak ini bikin aku tau, Kak. Kamu cuman jadiin aku pelampiasan nafs*u kamu, 'kan?" Gumam Naya tak bersemangat.
Naya mengaduk susu vanilla nya sambil melamun. Rumahnya yang minimalis nampak sepi, dia sekarang dirumah sendirian.
"Aku bodoh banget ya Kak mau aja ML sama kamu yang bukan siapa-siapa aku, pertama lagi."
Naya menyesal, jelas. Apalagi ia kini tengah mengandung, dan Ayah biologis sang jabang bayi tak mau bertanggung jawab. Entah apa yang akan gadis berusia 18 tahun itu lakukan. Di umurnya yang bahkan masih muda, sudah mengandung seorang bayi.
Naya meminum susu Ibu hamil nya sambil menimbang-nimbang sesuatu. Ia melirik pintu belakang rumahnya yang terbuka, nampak Garen yang mengenakan setelan formal berjalan mendekatinya.
"Hai," sapanya setelah ia duduk disamping Naya.
"Hai juga Kak," balas Naya tersenyum tipis. "Kakak mau kemana?"
Garen menatap Naya dalam. "Lisa malam ini nikah, jadi Kakak harus kesana ngewakilin Papa yang gak bisa datang."
"Ka-kak Alisa Nikah?"
__ADS_1
Garen mengangguk. "Iya, dan setelah ini Kakak saranin kunci pintu belakang. Kakak gak bakal kesini lagi setelah semuanya selesai."
Naya membeku lalu saat sudah mengendalikan ekspresi nya, Naya tersenyum. "Iya Kak," balasnya singkat.
Garen mengulas senyum sembari mencium pipi Naya berkali-kali. "Sweetheart, aku harap kamu mau lakuin ini." Garen meletakan sesuatu di meja yang membuat Naya mengernyitkan dahi.
Obat perangsang?
"Komplek kita kalo malem rame, dan bisa hancur rencana kita kalo ada temen-temen Rafka yang dateng. Jadi siang atau sore aja, kamu buat alesan apapun biar Rafka bisa kesini. Kamu gak mau gugurin janin itu kan? Opsi terakhir, jebak Rafka pake obat perangsang oke?" Ujar Garen panjang lebar yang mana sedikit menyakiti perasaan Naya.
Naya mengangguk sembari menatap mata Garen penuh harap. "Kak, boleh aku peluk?"
Garen tak menjawab, namun ia langsung menarik Naya masuk kedalam dekapannya. "Apa sih yang enggak buat kamu?"
Naya membalas pelukan Garen sambil mengusap kepala pria itu. Dia bingung akan perasaannya. Takut kehilangan Rafka namun kecewa dengan ucapan Garen yang memintanya untuk menggugurkan anaknya dengan pria itu.
"Makasih Kak," Garen menguraikan pelukan nya lalu tersenyum manis.
"Kamu hati-hati disini, Ibu masih di Surabaya 'kan?"
Naya mengangguk lirih. "Iya, masih dua hari lagi baru bisa pulang."
Garen menangkup kedua pipi Naya. "Kakak pergi dulu, semoga besok lancar! Kakak cuman bisa bantu dari jauh, sweetheart." Lantas garen mencium kening Naya yang membuat si empu memejamkan mata.
Pria itu kemudian meninggalkan rumah Naya melewati pintu belakang, yang sedari dulu menjadi jalan pintasnya saat ia diam-diam memasuki rumah gadis itu.
Perpisahan yang manis, Kak. Aku rasa cukup sampai disini pertemuan kita.
Tandai typo
Like favorit n comen
ntahlah cocok apa enggak
castnya kalem, aslinya somvlakಥ‿ಥ
dih nfsu aja disnsor, w kdu ngetik apa? >_<。
See you!
__ADS_1