Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Kesedihan


__ADS_3

Siang berganti sore, cuaca yang tadinya panas pun kini berubah dingin. Langit mendung disertai tetesan kecil jatuh ke permukaan pipi Keyra. Gadis itu beranjak dari duduknya sembari matanya bergerak kesana kemari mencari keberadaan Rafka. Cowok itu sudah pergi 20 menit yang lalu dan sampai sekarang tak jua kembali.


“Afka kok jadi kek cewe ya beli jajan aja lama, apa dia lagi nawar harga sate kodoknya?” Sebenarnya, membayangkan kodok di depan matanya saja Keyra sudah jijik dan pastinya ia akan lari ketakutan. Apalagi harus memakan kodok itu. Err, Keyra yakin Rafka hanya bercanda tadi.


“Dia bawa uang gak sih?”


“Kok perasaan gue mendadak gak enak ya?” Gadis yang memakai baju crop berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulitnya itu tengah menggigiti jemarinya. Kebiasaan jika ia tengah mencemaskan sesuatu.


Keyra membalikan badannya hendak masuk kedalam SMK Cakrawala untuk memanggil Bian.


Dugh


“Buset!” Keyra benar-benar kaget mendapati Abian yang baru saja datang dan langsung memeluknya erat, bahkan sangat erat. Gadis itu memukul punggung pemuda itu meminta di lepaskan.


Bian pun menurut, ia mengurai pelukannya. Kali ini manik matanya menatap kedalam manik amber Keyra. Ia kembali memeluk Keyra dengan tubuh bergetar.


Kenapa jadi agresif gini? Njer kesurupan ni anak.


“Gue sayang banget sama lo, Key. Lo harus tau itu!” Keyra memilih memberontak, ia merasa tak nyaman. “Walaupun lo tunangan nya Rafka, bisa jadi Rafka lagi jagain jodoh gue.” Ucapnya lagi, Keyra ingin tertawa mendengar suara Bian yang berbeda.


"Biarin lima menit aja, Key."


Keyra menyerah, ia membalas pelukan Bian sembari mengusap punggung tegap pemuda itu, “gue tau itu, kalo boleh jujur, gue juga sayang sama lo, Bi.”


“Sebagai temen..” Bisiknya lirih.


“Ra--”


Rafka memandang lurus kedepan tanpa suara, matanya memburam akibat air hujan yang terus-terusan menimpanya. Ia mendengar dengan jelas percakapan Keyra dan Bian, terkecuali kalimat terakhir yang Keyra ucapkan. Kantong plastik yang tadi di genggamnya pun terjatuh di atas kakinya. Ia berbalik, meninggalkan dua orang yang masih berpelukan itu dengan perasaan campur aduk.


Friski yang baru tiba setelah meninjau PT yang akan menjadi tempatnya magang selama 6 bulan itu, menatap Keyra dan Bian yang sedang berpelukan, lalu ia memandang punggung Rafka yang mulai menjauh.


“RAFKA WOI LO MAU KEMANA?!”


Keyra dan Abian tersentak mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


Itu jelas suara Friski, kedua remaja itu melihat kearah suara dimana Friski tengah mengejar Rafka. Keduanya juga ikut mengejar pemuda itu. Namun sayangnya, saat Keyra dan Abian ingin mengejar lebih jauh, sebuah tangan mencekal lengan Keyra hingga keduanya berhenti.


“Kamu ngapain disini?"


“P-papa?”


“Iya ini Papa,” jawab Davin. Ia mengusap wajahnya yang basah mengunakan telapak tangannya. “Kamu ngapain disini? Bukannya Papa udah ngelarang kamu keluar, Queen?!”


Keyra ingat jika semalam Davin menyuruhnya untuk tetap dirumah bersama Reva saat papanya ada urusan diluar Kota.


“Nanti aku jelasin, Pa. Sekarang aku sama Bian mau ngejar Afka dulu!”


“Mari Om,” pamit Abian saat Keyra menarik tangannya paksa.


Alis Davin naik sebelah, namun ia membiarkan anaknya itu mengejar Rafka. “Kenapa sama bocah tengil itu?” Tanya Davin entah pada siapa.


“Tuan Davin silahkan masuk kedalam mobil kembali, hujan sepertinya akan semakin deras. Biar kita mengejar Nona Keyra dengan mobil.” Davin mengangguk menyetujui usulan supirnya itu. Ia masuk kedalam mobilnya dengan gelisah, semoga anaknya baik-baik saja.


★★★★★


"RAFKA!"


Friski menarik tangan Rafka yang akan menyebrang jalan tanpa melihat kanan kiri. "Lo kenapa sih goblog?"


Rafka mengerutkan keningnya heran. "Gue kenapa? Gue baik-baik aja, gan."


"Ujan gini jalan licin tolol!"


Keyra dan Bian mendengar bentakan yang keluar dari mulu Friski. Bian memukul kepalanya sendiri sambil


Menggeleng. " Gak, gak itu gak bakal terjadi."

__ADS_1


"Ada apa sih?" Keyra makin bingung dengan kelakuan Bian yang langsung berlari mendekati Rafka dan Friski.


"Rafka, jangan kejalan itu bangsatt!" Teriak Bian penuh emosi.


Rafka mengerjapkan matanya polos. "Lo berdua kenapa sih? Gue cuman mau nyebrang jalan doang, kek uji nyali aja."


Jdeeeeerrr


Keempat remaja itu tersentak mendengar suara petir yang menggelegar.


"Lo kenapa lari tadi?" Kali ini Friski bertanya sambil meraup wajahnya. Ia merasakan dadanya berdetak lebih cepat mendengar suara guntur yang bersahut-sahutan.


"Ngobrolnya jangan disini, ayok nyari tempat makan, gue laper." Keyra sadar mereka sedang berada di tepi jalan, jadi gadis itu mengajak ketiganya menuju warung makan sederhana yang ada di seberang jalan.


Keempatnya melirik kanan kiri sebelum melangkah menuju warung tersebut. Mereka sudah sampai diwarung tepi jalan itu, namun keempatnya tersentak kala ada sebuah motor dan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Jderrrr


Tinnnnnnnnn


Bunyi klakson yang begitu keras mengagetkan keempatnya, untung keempatnya selamat tanpa harus lecet sedikitpun. Keyra dan Rafka menghela nafas lega sambil berucap hamdalah dalam hati. Mereka tak menyadari keadaan Friski sekarang. Raut Bian sudah setengah mati khawatir melihat Friski yang memegang dadanya dengan kuat.


"Mau mati kalian?" Bentak pengendara tadi sambil menatap sinis pada Friski yang memegang dadanya. Lantas kembali mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan.


"Ma-mamah?" Gagap Friski dalam hati, ia memejamkan matanya kuat begitu irama jantungnya semakin menggila. "Mah Friski sakit, Mah. Butuh Mama sama Papa," Hatinya menangis melihat ketidakpedulian sang Mama.


"Gila itu orang, kita udah nyampe sini malah dibentak," decak Rafka.


Keyra dan Rafka menoleh, keduanya sangat terkejut dengan keadaan Friski saat ini.


"G-gue sayang ka-kalian," ucap Friski terbata-bata, ia tersenyum manis, sangat manis. Hingga Bian yang memegang bahunya meneteskan air mata untuk pertama kali didepan teman-temannya.


"Friski lo kenapa?"


Sebuah mobil berhenti disamping mereka yang nampak kedinginan. "Kalian masuk, dingin." Ucap Davin.


☪☪☪☪☪☣☣☣☣☣


Rumah sakit Bandung


Disinilah Keyra sekarang, terduduk dengan tubuh bergetar ditemani Rafka dan Bian di sampingnya. Abian hanya diam dengan tangan terkepal kuat, matanya terpejam disertai helaan nafas kasar.


“Af, Bi. Bang Friski baik-baik aja ‘kan?”


Rafka dan Bian sontak menatap Keyra.


Mereka menganggukkan kepala untuk menenangkan.


"Gak yakin gue Key," batin Bian.


Tak lama kemudian dokter yang menangani Friski keluar dari ruang IGD tempat Friski diperiksa dengan tersenyum masam.


"Terpaksa saya harus menyampaikan ini." Dokter itu memandang ketiga remaja didepannya dengan ragu. "Pasien atas nama Friski, sudah meninggal dunia."


Bian terduduk lemas dengan menutup wajahnya. Sementara Rafka menarik Keyra kedalam pelukannya. Hingga gadis itu menangis sejadi-jadinya didalam dekapan pemuda itu.


"K-kenapa dok?"


Dokter itu sedikit menggaruk tengkuknya mendengar pertanyaan ambigu dari Rafka. "Kenapa apanya?"


Rafka menggeram tertahan. "Kenapa Abang saya meninggal? Dia gak ketabrak sama sekali--"


"Pasien mengidap penyakit jantung koroner--"


"Cukup dok, saya gak kuat."


Ingin sekali dokter Evans mencekik leher Rafka yang menyela ucapannya. Namun mengetahui situasi jika ketiga remaja didepannya tengah berkabung, dokter Evans pun jadi iba.

__ADS_1


"Orang tua pasien sudah dihubungi?"


Keyra, Rafka dan Bian saling pandang lalu menggeleng. "Saya aja gak pernah ketemu orang tua dia, mana bisa hubungin."


"Lah kata kamu tadi pasien merupakan Abang kamu, kok gak pernah ketemu orang tua sendiri?"


"Lah si dokter kuper nih, emang manggil Abang itu--"


"Cukup Afka!" Bentak Keyra lirih. Ia menoleh menatap dokter Evans. "Ada Papa saya dibawah dok, dokter bisa bicara sama Papa saya."


Dokter itu mengangguk sambil tersenyum. "Teman kalian meninggal dengan keadaan tersenyum, saya yakin dia orang baik."


Mendengarnya saja sudah membuat Keyra, Rafka dan Bian merasa kehilangan jiwanya.


Keesokan harinya,


Kini ketujuh remaja itu tengah berdiri di sisi kanan dan kiri, menapaki sebuah tanah kuburan yang masih basah. Pertanda kuburan itu masih baru.


Keyra berdiri, memandang nisan itu nanar. “Bang, detak jantung lo masih bunyi ‘kan? Sapa tau lo cuman mati suri. Ayo Bang bangun, Keyra tau kok kalo lo kesulitan nafas kan di dalem? Apa perlu gue suruh para cecurut buat bongkar makam lo? Pasti dengan senang hati mereka lakuin, Bang--”


“Ra--”


Rafka membekap mulut Keyra dengan tangannya, ia tanpa banyak pikir lagi memeluk tubuh rapuh itu. Tak di hiraukan dirinya yang paling merasa kehilangan. Sekarang hatinya lebih sakit melihat gadis yang sangat berarti di hidupnya nampak meraung-raung di depan makam Friski.


Ini semua salahnya, andai waktu itu ia tak hilang fokus. Pasti sekarang Friski masih ada, masih menjadi Abang yang galak tapi perhatian bagi anggota Traavo lainnya.


Ya, Rafka memang menyalahkan dirinya sendiri. Sementara waktu itu Friski meninggal karena riwayat penyakit jantungnya.


“Ikhlasin Friski, Ra. Semua ini udah kehendak Allah. Kalo lo gak rela gini, kasian Friski yang udah tenang disana.” Rafka mengecup puncak kepala Keyra. Gadis itu pun mengangguk sambil masih sesegukan.


Rivan terkekeh hambar, matanya memanas. Perlahan tapi pasti, air mata nya pun jatuh tanpa bisa dicegah. Ia masih tak percaya dengan apa yang di lihat oleh mata kepalanya sekarang.


Rivan memandang sebuah nisan bertuliskan Muhammad Friski Adhiwijaya, nama yang sangat ia kenali. Friski --Abang dari Traavo yang tengah tertidur lelap di dalamnya.


“Lo bener, gan. Gue nangis di depan nisan lo sekarang, Ris. Bangun lo anjing! Gue gak terima lo pergi secepet ini. Padahal gue belum pernah tonjok-tonjokan sama lo!” Erangnya keras. Agni yang berdiri disampingnya pun menarik kekasihnya itu kedalam pelukan. “Dia udah tenang, tolong jangan nangis!”


Bukannya semakin tenang, tangis Rivan malahan semakin menjadi. Ia tak peduli dengan sekitarnya yang semakin bersedih karena ucapannya.


Belva-- kekasih dari Friski terus menangis dengan memeluk nisan kekasihnya. Baru kemarin, iya baru kemarin keduanya berjanji untuk terus bersama. Namun kenyataannya, Tuhan berkehendak lain. Friski-nya sudah tiada sekarang.


“Friski, love you! Kamu udah sering ‘kan denger kalimat ini dari aku? Makasih ya buat waktunya selama ini. Maafin aku juga yang udah sering ngekang kamu, ngerepotin kamu, selalu sibuk nyari kesalahan kamu sampai aku lupa kalo kamu itu sangat perhatian sama aku. Maafin aku huhuhu...”


Tangis gadis cantik berpipi tembam itu pecah, tubuhnya bergetar kuat. Air matanya tak mau berhenti, jantungnya terasa sesak, seperti ada sebuah batu yang menghimpit dadanya.


Keyra berjongkok di samping Belva, ia mengelus bahu gadis itu walaupun Kakak kelasnya itu kadang tak suka dengan keberadaan nya. Namun sekarang, Belva malah memeluk Keyra erat --seolah menyalurkan rasa sedih yang amat dalam.


“Friski, Key, Friski!"


“Bang Friski udah pergi, Bel. Gak cuman elo yang kehilangan, kita semua kehilangan dia. Yang hidup pasti bakalan mati, gak ada yang kekal. Jadi yang harus kita lakuin sekarang cukup ikhlas-in dan do'ain dia, Bang Friski cuman butuh itu.”


Walau berat, Keyra berucap dengan masih menahan isak tangisnya. Sumpah demi apa, kehilangan teman sekaligus Abang itu rasanya sangat menyakitkan bagi Keyra.


Rafka, Ivan dan Akhir menengadahkan kepalanya keatas menahan air matanya turun. Mereka lelaki, tak sepantasnya menangis apalagi di depan makam Friski yang masih basah.


Tangan Ervin mengepal disisi tubuh, ia membalikkan badannya, meninggalkan semuanya dalam hening. Ia tak kuat lagi.


Sementara Bian? Dia sudah menghilang sejak tadi, entah kemana pemuda itu pergi. Tak ada yang menyadari ketiadaan Abian.


Oh ngomong-ngomong, sedari kemarin Rivan sudah memberi kabar pada orang tua Friski. Namun keduanya hanya menjawab ‘iya.’ Dan sampai sekarang, keduanya nampak tak pernah muncul di makam Friski.


TBC


dih kek banyak kurangnya gitu, tapi pusing dahlah


Favorit yak,


see you!

__ADS_1


__ADS_2