
Diselingkuhin suami sendiri itu bikin harga diri aku jatuh terlalu dalam. Jadi buat apa ngemis-ngemis cinta yang bikin aku ngerasa semakin rendah?
...🐣🐥🐤...
Duduk sendirian di gazebo belakang rumah, Keyra sedang merenung menatap cincin bermata berlian kecil di jari manisnya. Cincin itu pemberian Rafka empat tahun lalu saat anniversary ke-tujuh mereka.
Helaan nafas terhembus dari bibir ranum nya. Keyra memandang langit yang nampak sangat cerah. "Apa gue periksa diri kedokter aja?" Ujarnya melirih lalu disusul gelengan keras darinya. Keyra bersandar di gazebo sambil menekuk lututnya. Kepalanya ia benamkan diatas pahanya. Wanita itu tak menangis, namun hatinya tengah bersedih.
Ponselnya berderit, Keyra spontan mendongak. Melirik layar ponselnya yang menyala, ternyata ada sambungan video call dari Naya. Keyra menekan icon hijau dan menaruh ponselnya di tripod mini lipatnya. Keyra mulai tersenyum kala Netha dan Lintang menyapanya.
"Aunty, Aunty! Lintah makan permen terus keluar asap. Mulut Lintah kebakaran ya?"
"Heh?" Keyra tak mengerti dan pandangannya kini tertuju pada Lintang yang terdiam disamping Netha. "Kamu makan permen apa sampe keluar asap?"
"Permen loli," balas Lintang memalingkan muka.
"Gak aunty enggak! Kata Abang Kiel, Lintah ngerokok." Terang Netha yang membuat Keyra terkejut. Sementara Lintang sudah mendeliki sepupunya. "Ngerokok itu apa aunty? Etha juga mau permen itu!"
"Netha udah bobo siang?" Tanya Keyra mengalihkan pembicaraan. Netha menggeleng lucu. "Kamu tidur dulu sana, bobo siang bisa bikin Netha makin cantik loh."
"Siap Aunty!" Netha kecil berlari meninggalkan ponsel Mommynya bersama Lintang.
"Lintang." Panggil Keyra lembut namun dengan nada tegasnya. "Sejak kapan kamu merokok? Siapa yang ngajarin?"
Lintang langsung memandang lurus ponsel di depannya. Jelas sekali cowok irit bicara itu sedikit takut dengan tatapan dan suara Aunty nya.
"Kemarin dirumah sebelah, Bang Kiel yang ajarin."
"Kiel siapa?"
"Abangnya Latasha." Sahut Lintang lagi. "Aunty jangan marah, Lintang takut Aunty gak sayang Lintang lagi." Cicitnya, namun nada datarnya masih mendominasi suaranya.
"Aunty gak akan marah kalo Lintang gak ngerokok. Jadi mulai sekarang hindarin rokok, ya? Kamu gak mau kan Mama Papa marah?"
Lintang menggeleng. "Mereka marah gapapa, asal Aunty jangan marah sama Lintang."
Sedari Lintang berumur 5 tahun, Keyra sudah bingung mengapa Lintang terlihat lebih menghormatinya dibanding orangtuanya sendiri. Wanita itu menepuk jidatnya pelan. Padahal bisa dibilang Keyra dengan kedua keponakannya hanya bertemu sebulan sekali, Keyra menghela nafasnya lagi.
"Gak boleh gitu, sayang. Kalo mereka marah, Aunty juga marah loh." Ujar Keyra. "Lintang sayang Mama kan?"
"Iya, Lintang sayang Mama."
"Good, berarti kalo Mama Lisa marahin Lintang, Lintang diem aja ya jangan ngelawan? Dosa loh ngelawan orang tua. Mama Lintang suka sedih loh kalo Lintang gak nurutin ucapan Mama," ujar Keyra tak bohong. Dari tatapan Alisa saja Keyra tahu Kakaknya itu sedih dengan ketidakpedulian nya Lintang pada dirinya.
"Mama gak sayang sama Lintang, Aunty. Mama sayangnya sama Latasha."
"Siapa yang bilang gitu?"
"Bang Kiel."
Astaghfirullah, toxic banget tu bocah.
Keyra menggeram dalam hati.
"Dengerin Aunty, Mama itu sayang banget sama kamu. Walaupun sikapnya galak kayak singa betina, dia gak bisa liat kamu sakit, Lintang. Aunty gak ngelarang kamu main sama siapapun, tapi kalo orangnya kayak Kiel tetangga kamu itu, jauhin ya, Lintang?"
Lintang nampak ragu. "Tapi kalo aku gak main sama Bang Kiel lagi, disekolah pasti aku di-bully."
Keyra menganga tak percaya. "Yaudah, mulai besok setelah pulang sekolah, Kamu belajar bela diri ya? Bukan buat jadi preman sekolah tapi buat jaga diri biar gak ada yang nindas kamu lagi."
"Sekarang kamu tidur, masih nginep dirumah Aunty Naya 'kan?"
Lintang mengangguk, tak lama sambungan video call itu terputus. Keyra langsung menekan kontak Andra dan menelponnya. Berhubung ini jam makan siang, sambungan itu langsung terhubung.
"Gue minta satu permintaan."
"Apaan? Lo kira gue jin pengabul permintaan."
"Dih jokes lu garing," balas Keyra. "Sebenarnya bukan permintaan sih melainkan minta izin. Izinin Lintang ikut pelatihan bela diri. Gue ada kenalan atlet taekwondo yang sering ngelatih bocah-bocah di daerah komplek rumah lo. Diizinin kan kalo Lintang ikut?" Ujar Keyra panjang lebar tanpa membiarkan lawan bicaranya protes.
"Lintang itu pemalas, dia sering belajar sama anak tetangga gue kok."
"Belajar ngerokok, belajar gak ngehargain orang tuanya sendiri? Lo tau, Kiel anak tetangga lo itu ngajarin Lintang ngerokok!"
"HAH?"
"Gue gak suka ngulangin kalimat yang udah gue lontarin." Ujar Keyra kesal.
Andra yang merupakan Abang ipar sekaligus Om nya itu membuat Keyra gregetan. "Intinya itu doang, bye gue sibuk."
Keyra langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Sebenarnya yang sibuk itu Keyra atau Andra? Jelas Andra dilain tempat sedang bertemu dengan kliennya, sementara Keyra? Sedang menganggur bukan?
Gue culik juga itu bocah.
Ponselnya kembali berdering dan Keyra langsung mengangkatnya sambil beranjak dari gazebo.
Dugh
Keyra terkejut saat ponsel nya terjatuh ke rerumputan.
"Anjer kok bisa jatuh?" Tanya Keyra heran sambil memunguti ponsel berwarna birunya itu. "Hadeh jari gue kenapa suka banget sih gemeteran?" Ujarnya lirih.
Keyra menempelkan ponselnya ke telinga kanannya.
“Kenapa telfon Rey?”
Suara tangisan bayi terdengar, Keyra juga mendengar suara istri Ervin yang sedang menenangkan anaknya. “Bunda, Papa dan Raga meninggal dunia." Ujar Ervin to the poin.
Keyra bukannya sedih malah terkekeh hingga membuat Ervin yang berada di seberang telpon mengernyit heran.
__ADS_1
"Ngeprank lo?"
“Gue gak--”
“Mentang-mentang ultah gue hari ini, lo kok tega sih ngeprank gini?” Sela Keyra.
“Gue serius--”
“Sayang aku keluar nyari angin dulu ya? Kayaknya Azka kepanasan didalem.”
Suara Bunga tertangkap di indra pendengar Keyra. Wanita itu semakin terkekeh. "Noh suara bini lo aja tenang-tenang aja, ngeprank gak usah segitunya kali, Rey."
"Gue gak ngeprank bangsatt! Key, mereka kecelakaan dan dinyatakan tewas sebelum dibawa ke rumah sakit. Gue sama Bunga gak santai-santai aja seperti yang lo omongin! Lo kerumah gue sekarang, mereka bakal dikebumikan secepat mungkin.”
Sambungan terputus, Keyra terdiam kaku. Bahkan jantungnya sudah berdebar gila mendengar suara Ervin yang sangat serius. Ia segera menuju mobilnya tanpa menghubungi Rafka terlebih dahulu. Lagian suaminya berkata akan lembur malam ini, mungkin saja Rafka sudah diberitahu oleh Ervin sehingga Keyra memutuskan kerumah Ervin tanpa bilang pada Rafka dulu.
Sesampainya dirumah Ervin, Keyra langsung menerobos masuk melewati orang-orang yang mengenakan pakaian hitam dan putih khas seperti orang yang tengah melayat. Keyra mendekati Ervin yang duduk bersimpuh disamping orang tua dan adiknya yang terbujur kaku dengan tubuh yang ditutupi oleh kain.
Keyra ikut duduk disamping Ervin dengan bibir bergetar, matanya memanas dan ragu-ragu membuka kain itu untuk melihat wajah ketiganya.
Setelah kain itu pelan-pelan Keyra singkirkan, dapat Keyra lihat wajah Reva, Davin serta Raga yang hanya diam dengan wajah yang sangat pucat. Wanita itu terisak hebat begitu Ervin menarik dirinya kedalam pelukan.
“Mereka udah gaada, Key."
Itu yang Keyra dengar dari mulut Abang tirinya, wanita itu merasakan pening menghantam nya hingga pandangannya meng-gelap, kesadaran Keyra hilang saat itu juga.
...❣❣❣❣❣...
Akhir duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan mungil Keyra. Tadi Akhir dan teman-temannya datang kerumah Ervin untuk melayat dan melihat keadaan Keyra yang terbaring lemah dikamar Ervin dan Bunga.
Disaat teman-temannya sudah pulang, Akhir sendiri masih betah menunggu Keyra siuman. Ia mengecup punggung tangan Keyra yang dingin. Pria itu kembali teringat pesan yang beberapa menit yang lalu Shahila kirimkan padanya.
Dimana Shahila, sang mantan mengiriminya sebuah photo dua orang manusia yang sedang duduk diatas sofa. Shahila tersenyum dipangkuan Rafka, sementara Rafka nampak mengerutkan dahi dengan mata terpejam.
Ingin membuat Akhir panas? Hey tentu saja tidak bisa! Akhir tak mencintai Shahila sedikitpun. Tujuannya memacari Shahila setahun yang lalu adalah agar Shahila berhenti mengejar Rafka, dan menggagalkan rencana licik Shahila untuk memisahkan Keyra dan Rafka.
Namun semuanya kini tinggal wacana. Temannya tergoda untuk memiliki buah hati dari wanita lain. Akhir tak tahu mengapa Rafka sekarang begitu bodoh.
Jika Rafka ingin memiliki buah hati dari wanita lain, harusnya menceraikan Keyra dulu bukan? Wanita mana yang mau diselingkuhi dengan cara yang seperti Rafka lakukan?
Buah jatuh gak jauh dari pohonnya, heh? Sinis Akhir dalam hati.
“Suami kamu bajingan, Key. Apa kalo kamu tau sebenernya, kamu bakalan--”
Bibir Akhir langsung terkatup ketika merasakan tangan yang ia genggam mulai bergerak. Akhir melepaskan tangan Keyra dan memandang lekat wajah Keyra.
Pelan-pelan kelopak mata Keyra terbuka, Keyra mengerjap beberapa kali. Ia menatap sekeliling dan matanya jatuh pada siluet Akhir.
“Akhir?”
Keyra memegang keningnya sambil berusaha untuk duduk. “Bunda, Papa sama Raga mana?”
“Key, kamu yang sabar. Mereka udah tenang disana.”
“Mereka udah dimakamin tadi sore, Key. Besok aku anterin ke makam,” ucap Akhir. “Suami kamu lagi dirumah--”
Stop, ini bukan kewajiban lo buat bilang ke Keyra.
"Dirumah Mama sama Om Cakra, katanya mo ketemu mereka. ”
Alis Keyra terangkat. Semenjak Ibu mertuanya meninggal, Rafka sungguh tak sudi bertemu Ibu tiri dan Ayah kandungnya, karena menurut Rafka, Cakra dan Ana lah penyebab kematian Ibu kandungnya.
“Akhir, kita temen kan?”
Akhir mengangguk. “Iya temen,” jawabnya.
“Kalo kita temen, sekarang jawab pertanyaan gue dengan jujur. Lo tau keberadaan suami gue sekarang?”
Lagi dan lagi Akhir mengangguk.
“Dimana.”
"Dirumah nyokap--"
“Akhir!” Bentak Keyra. "Gue gak suka dibohongin, dan sekarang gue lagi butuh Afka disamping gue,” tambah Keyra lirih. “Dimana?”
Awalnya Akhir diam. Namun melihat wajah frustasi Keyra membuat ia tak tahan. “Rumah Nyi Lampir Shahila.”
Beberapa menit Keyra terdiam.
“Ngapain dirumah Hila?”
"Buat anak," balas Akhir sekenanya.
"Serius Akhirat! Gue lagi gak mood ngeladenin ucapan lo.”
Akhir memutar mata. "Kamu ikut aja, aku anterin sampai tujuan ketempat suami kamu sekarang. Gak akan lecet sedikitpun," Akhir menarik tangan Keyra keluar meninggalkan rumah Ervin tanpa pamit pada si empu rumah.
...🐥🐣🐤...
Tiba di rumah berlantai dua yang sedikit sepi, Keyra melirik mobil putih sang suami yang terparkir asal di halaman rumah Shahila. Segala pikiran negatif bersarang di otaknya, Keyra memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya.
Keduanya turun dari mobil. Tanpa basa-basi Akhir kembali menggenggam tangan Keyra dan membawa wanita itu masuk kedalam rumah tersebut yang ternyata tak dikunci.
"Ketuk pintu dulu baru masuk hey," tegur Keyra namun tak digubris oleh Akhir. Pria itu tetap menarik tangan Keyra menuju ruang tamu. Kaki Akhir berhenti melangkah, otomatis langkah Keyra juga berhenti. Tatapan sinis Akhir layangkan kearah pasangan manusia yang sedang duduk disofa, dengan seorang wanita yang dengan manja nya duduk dipangkuan si pria.
Detik itu juga mata Keyra menatap pandangan yang membuat hati dan matanya sakit.
Keyra menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Akhir. Ia berdeham keras sambil bersedekap dada, lalu membuang wajahnya kesamping. Ia tak kuasa melihat wanita lain yang hampir mencium bibir Rafka, didepannya sendiri. "GG banget ngelembur nya disini toh Af.“
__ADS_1
(GG/hebat)
Rafka sontak mendorong bahu Shahila agar beranjak dari pangkuannya. Ia memandang istrinya dengan perasaan campur aduk. "Kamu ngapain disini?"
Ini gak salah? Harusnya gue 'kan yang nanya gitu?!
"Nge-jemput suami dong, apalagi?"
"Suami lo lagi pacaran sama gue jadi gak usah ganggu deh!" Dengan percaya dirinya, Shahila memeluk pinggang Rafka dari samping.
Yang membuat Keyra sakit hati adalah, kala sang suami yang sama sekali tak menolak pelukan dari Shahila.
Prok prok prok
Keyra menepuk tangannya sambil menatap Shahila rendah. "Oh ceritanya lo itu pelakor? Terus gimana? Ada drama pelakor yang dateng terus ngaku-ngaku lagi hamil apa--"
"Gue emang lagi hamil!" Potong Shahila keras. "Gue hamil beneran, anak suami lo, Rafka Putra Kalandra!"
Keyra diam seribu bahasa, tubuhnya terasa kaku untuk digerak'kan. Kini tatapannya tertuju pada Rafka, wajah Rafka sedari Keyra menginjakkan kaki dirumah ini memang sangat datar, berbeda sekali dengan tadi pagi saat Rafka pamit untuk berangkat kerumah sakit dengan wajah ceria.
Keyra jadi curiga pria disamping Shahila itu bukan suaminya.
"Beneran Af?“
Rafka mengangguk. Dan anggukan dari Rafka mampu membuat kaki Keyra melemas. Tak ada pengelakan dari Rafka, Keyra menggapai tangan Akhir yang berdiri di samping nya.
Bukan, bukan karena Keyra sedang modus ataupun ingin memamerkan ke sang suami jika ia juga bisa selingkuh. Wanita itu hanya merasa dirinya akan luruh ke lantai jika tak berpegangan pada lengan Akhir.
"Kamu yang paling tau aku, Af. Aku benci penghianatan dan ke bullshit-an," ujar Keyra tanpa ekspresi. "Kasih aku alesan kenapa kamu gini?"
"Alesan apa?" Rafka merangkul bahu Shahila sambil mencuri ciuman dipipi. "Udah jelas aku bosen sama kamu."
Keyra hancur dan Shahila benar-benar merasa diatas awan. Itu yang menggambarkan perasaan kedua wanita yang ada diruangan itu.
"Bosen sama aku? Atau karena aku belum hamil juga, Af?"
Terus kemana Afka yang selalu bilang 'aku gak akan bosen sama kamu, Ra! Didunia ini hanya kamu yang aku cinta, bahkan tanpa anak pun kita bisa bahagia!'
Bullshit?
"Of course! Lo itu cuman beban dihidup gue. Bahkan setelah kita nikah selama puluhan tahun, lo sama sekali gak bisa ngasih gue turunan, gak guna emang!"
Bagai ditusuk belati, Keyra benar-benar tak kuasa mendengar kalimat kejam yang dilontarkan oleh suaminya sendiri. Selama 10 tahun berumah tangga, baru kali ini Rafka sanggup menggoreskan luka dihatinya. Terlalu dalam, bahkan sangat dalam.
"Selama ini ungkapan cinta dari gue anggep aja nggak pernah gue ucapin. Karena apa, gimana mau cinta? Nerima kehadiran lo aja enggak. Gue cuman pura-pura biar Bunda gak benci sama gue. Sekarang Bunda udah gaada, gue buka topeng gue sekarang juga!“ Bohong Rafka.
Keyra tak salah dengar? Rafka nya, cintanya tak benar-benar mencintai dirinya? Jadi selama ini, semua hanyalah omong kosong? Bahkan Rafka kembali menggunakan kosakata saat mereka masih sekolah dulu "gue elo"
"Kenapa gak dari dulu kamu bilang ini, Af?" Tanya Keyra menuntut. "Kenapa baru sekarang?"
Kenapa baru sekarang setelah aku bener-bener udah jatuh terlalu dalam karena kamu?
"Lo gak perlu tahu.“ Ucap Rafka santai. " Intinya gue mau nikahin Shahila karena dia lagi hamil anak gue. Siap-siap nerima dia jadi madu lo."
Keyra menggeleng, "For what? Buat apa sih aku harus nerima madu aku sementara kamu aja gak pernah benar-benar nerima kehadiran aku dihidup kamu!"
"Tinggal terima apa susahnya sih? Aku nafkahin kamu lahir batin, jadi gak usah drama gitu."
Nah kan, Rafka ini labil atau mempunyai kepribadian dua sih? Keyra kan jadi bingung.
Rasanya aku pengen nampar pipi kamu sekeras-kerasnya. Tapi kenapa gak sanggup? Aku emang gak guna, gak bisa kasih kamu keturunan, tapi kenapa kamu yang ngomong rasanya kayak ada yang nikam jantung sama hati aku Af?
Akhir maju, ia dan Rafka hampir tak berjarak. Hingga pukulan keras yang Akhir layangkan membuat Shahila terpekik keras, sementara Keyra hanya memandang datar.
Bugh
"Lo goblogg!"
Bugh
Bugh
"Lo tololl!"
Bugh
Akhir menarik kerah kemeja Rafka, "lo bener-bener goblog Raf! Lo buang berlian demi sampah kek dia."
Akhir lantas berjalan mendekati Keyra, ia menggenggam tangan Keyra erat namun tak menyakiti tangan mungil itu. "Ayo Key, udah cukup kamu terima penghinaan dari cowok gak tau diri kayak Rafka."
Dengan mata kosongnya, Keyra melepas genggaman Akhir. Keyra berjalan kearah dua sejoli yang mampu meretakkan isi hatinya. Namun ia tak berniat memukul ataupun menampar kedua manusia itu. "Yang cinta aja bisa berhianat, apalagi kamu ya, Af." Ujar Keyra sarkas lalu menatap Shahila yang sedang memandang Rafka khawatir. "Apa enaknya sih ngambil hak orang?"
"Kamu cemburu?"
"Cemburu?" Banget, Af. Namun bibirnya berucap lain. "Gimana aku bisa cemburu sih, sementara selingkuhan kamu itu gak secantik diriku." Ujar Keyra sok percaya diri. Ia menarik tangan Rafka dan dengan berani berbisik sesuatu hingga tubuh Rafka menegang.
"Aku cinta sama kamu, dari dulu bahkan sebelum kamu nyatain cinta palsu kamu itu. Dengan kamu selingkuh sama Hila, bukan berarti aku bakalan ngemis-ngemis cinta kamu itu. Terimakasih untuk hadiah aniv kita ke 11 dan ultah aku. Jujur, aku terkesan dengan akting kamu itu, dan terimakasih juga udah buat aku jatuh terlalu dalam, Afka."
Keyra memundurkan wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Rafka yang kaku, ia mengusap rahang dan sudut bibir Rafka yang berdarah akibat ulah Akhir. Kemudian, Keyra memutar tumitnya dan berjalan keluar rumah itu dengan dagu terangkat. "Ayo Akhir, gue tunggu dimobil."
TBC
tandai typo woe, blom direpisi nih
cerita ini drama, gak enak juga karena cwoknya selingkuh. realistis aja sih kalo jadi Rafka. bertahun" nikah tapi belom juga dikasih kepercayaan buat punya anak, Rafka itu iri sama temen-temen nya n dihasut:v dia juga ragu perasaan Keyra, cuy.
emang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. sama kek cakra, bedanya cakra GAK BERSYUKUR! punya bini cantik, bawel, pinter n punya dua anak laki cwe malah selingkuh terus-terusan ..
kalo ada yang bilang kagak nyambung ni nopel, kalian benar! gue otaknya terlalu dangkal buat bkin yang nyambung, tapi setydaknya dari awal dah diterapin gini
__ADS_1
sama w. n tentunya kagak jiplk, awas nih yang jiplk minta disantet, UDAH TAUKAN CERITANYA GAJE, JAN DIJIPLK YAK!
salam bocil ngegas:v