
Keyra Naura
Afka itu definisi terbaik menurut Shahila? Terbaik kepalamu! Kalo si mantan itu terbaik, lalu bentuk terlknatnya seperti apa?
Taulah, pusing aku.
Aku melirik Ani yang masih berdiri menatap Shahila yang baru saja pergi dengan langkah angkuh. Aku berdeham, mengalihkan atensinya.
Ani langsung tersadar dan duduk didepan ku. "Mbak, Pak Rafka udah cerai ya sama tu orang?"
"Belum."
"Tapi kata Mas Erosi, mereka udah pisah. Mbak gak mau gitu balikan sama mantan?"
Aku bergedik acuh. "Kagak."
"Ayolah Mbak balikan sama Pak Rafka! Biar Mas Erosinya sama aku aja."
"Lah saya gaada hubungan apapun sama Erosi. Ambil aja, An, dia pria single."
"Serius Mbak? Tapi semalam Mas Erosi bilang otewe nikah sama Mbak Keyra. Sakit hatiku Mbak," ucap dia dengan memasang wajah melas.
"Itu kan semalem, An. Gaada yang tahu nantinya gimana. Lagian Erosi itu gak cocok sama aku. Dia terlalu baik dan,... berondong."
Ani mengangguk-angguk mengerti. "Mbak.. Sejujurnya-- aku.."
"Apa?"
"Aku udah gak prawan Mbak," ucap dia membuatku menatapnya datar.
"Ya terus saya harus bilang WOW gitu?"
"Ih Mbak Keyra! Ani lagi serius loh!"
"Saya juga serius Ani! Wajar aja sih umur setua kamu udah gak prawan. "
"Mbak! Ani sama Mbak Keyra aja tuaan situ ya!" Ucapnya tak terima.
"Lah yang bilang mudaan saya siapa? Anak saya satu loh, An. Terus masalahnya apa kalo kamu udah pecah prawan?"
Ani menggigit jemarinya hingga aku tahu dia sedang gugup. Matanya terpejam lumayan lama, "Ani takut hamil anaknya Mas Erosi."
"Ya cuman sekali belom tentu ha-- HAMIL ANAK EROSI?"
Dia mengangguk takut-takut. Aku yang sadar suaraku berlebihan pun melirik sekitar dan menundukkan kepala berkali-kali sembari meminta maaf.
Ani lalu menceritakan awal mula kenapa bisa ia dan Erosi bersama hingga dia pecah prawan. Aku melotot tak percaya mendengar penjelasan nya.
"Dia mabok dan p*rkosa kamu?" Tanya ku lirih lalu mengajak Ani keluar dari kafe setelah membayar pesanan ku. Gak nyangka aku, cover Erosi pria baik-baik, tapi aslinya bastard juga.
"Ya bisa dibilang gitu Mbak. Cuman aku senang hati kok yang ngambil--"
"Ani!" Bentak ku keras. Aku tahu kita berdua tak sedekat itu hingga aku berani menghakiminya. Namun, pikiran Ani terlalu sempit dan aku yakin siapapun yang mendengar ceritanya, akan dibuat naik darah. "Datangi Erosi, minta dia tanggungjawab."
"Tapi---"
"Kalo dia gak mau, gorok aja lehernya, biar mampos sekalian!" Ucapku geram.
__ADS_1
"Yah tapi Mbak mana tega aku--"
"Harus tega! Kamu cinta sama Erosi? Cinta boleh bor, tapi jangan jadi bodoh!"
"Mbak Keyra gak kaku gitu ngomongnya 'saya kamu?' Berasa ngomong sama pejabat ini."
Aku memutar mata. Tau dia sedang mengalihkan topik. "Tuntut Erosi buat tanggungjawab."
"Anu Mbak. Kalo kata Bu Shahila, Mbak Keyra harus jauhin Tio sama Mas Robby, yang harus Mbak jauhin itu saudara kembar aku Mbak. Ane." Ucap Ani kembali mengalihkan pembicaraan.
Aku diam mencerna ucapannya.
Ane?
Sebenarnya ada apa dengan Robby, Tio dan Ane? Mengapa Ani dan Shahila menyuruhku untuk menjauhi mereka? Jelas aku tak pernah mencari masalah dengan siapapun. Ah! Kecuali Tio, Tio itu. Aku ingat kelakuan bocah evil itu yang nyatanya bukan anak dari Afka.
Dia yang membuat wajah putraku lumayan hancur akibat jiwa psiko nya. Dan staf guru pasti sudah menghukumnya akibat melukai Milan di area sekolah.
Lalu masalah ku sama mereka tuh apa?
Tak berselang lama, Ani pamit pulang meninggalkan ku sendiri. Dari gelagatnya, aku yakin dia tak akan memberitahukan malam panasnya dengan Erosi yang mabuk parah.
"Tante pulang." Suara tersebut mengalihkan atensi ku.
Aku memandang keluar kaca mobilku. Ada Milan disana sedang berdiri dengan seragam yang lumayan acak-acakan. "Loh kamu kok bisa disini? Setau Tante jam segini tuh waktunya istirahat."
"Milan bolos, mau pulang sama Tante."
"Kamu masuk lagi ya? Kasian dong masa Daniel sama Nika nya kamu tinggal."
Bukannya menurut, bocah itu malah masuk kedalam mobil dan duduk disampingku. Aku mengernyit dalam menyadari wajahnya yang pucat.
"Sebentar, Milan."
____
Rasa mual yang aku rasakan membuat langkah ku yang awalnya ingin ke ruang tamu, langsung berbelok ke kamar mandi. Gila, akhir-akhir ini aku selalu merasakan pusing dan mual. Apa penyakit lambung dan cluster ku kambuh ya?
Aku berjalan gontai menghampiri Milan yang sedang menonton televisi sendirian. Tiba disana, aku langsung mendekap tubuh mungil itu dengan sayang. "Tante kenapa?"
"Gapapa. Cuman mau meluk Milan aja," ucapku sembari mencuri ciuman di keningnya. "Tugas matematika udah kamu kerjain?"
Milan menggeleng, "Tugasnya buat lusa, Tante. Masih ada waktu," ucap dia membuatku terkekeh. "Tante mukanya pucet gitu kaya mayit di TV itu." Aku langsung mendongak menatap layar televisi yang menampilkan serial horor. "Kedokter aja Tan, biar diobatin sama dokternya."
"Tumben cerewet," kekeh ku dalam diam. Kuusap surai hitamnya yang halus, mirip rambut seseorang. "Selagi ada waktu, kamu kerjain ya sayang. Ntar kelupaan, gurunya marah loh.."
Milan mengangguk mengiyakan. "Tante ayo kedokter! Nanti kalo Tante beneran sakit, siapa yang ngurusin Milan?"
"Meluk Milan aja Tante udah sembuh, kok."
"Emang Milan obat ya?" Tanyanya dengan nada yang terdengar polos. Aku tersenyum sembari mengangguk kuat. "Iya. Jadi kalo Milan yang sakit, Tante juga ikutan sakit, sayang. Kamu jangan sakit ya?"
"Eumm, oke."
Selagi dia menonton layar didepan kami, aku mengedarkan pandangan mencari-cari keberadaan penghuni rumah ini. "Kamu gak ribut lagi kan sama Nika?"
"Aku gak pernah ribut, Tante. Yang ribut itu Nika sama Tifa. Mereka berisik gak bisa diem!"
__ADS_1
Aku manggut-manggut mengerti. Tiffany dan Kannika memang kerap menganggu aktifitas Milan yang tak suka diganggu. Dan mereka akan selalu ribut dengan bar-bar mencoba menarik perhatian Milan yang kadang kaku bak kanebo kering. 11 12 lah sama Daniel, putra Mark.
"Tante, Papa hari ini gak dateng ya?"
Aku menunduk menatap Milan yang bertanya. Tumben sekali dia menanyakan tentang kedatangan Papanya. Aku ingat, setiap Afka datang kerumah ini, Milan akan selalu menolak dan memilih menghindar dari sang Papa.
Memang sih, hampir sebulan penuh Afka akan selalu mendatangi rumah Akhir untuk menemui Milan dengan dalih kangen. Kedatangan dia hanya disambut baik oleh Tiffany. Sementara yang lain memilih tak acuh dan pura-pura tak melihat Afka.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya Afka tak datang kerumah ini. Apa Milan merindukan Papa nya?
"Aku kangen Papa, Tante.." Cicitnya pelan.
"Kangen Papa, hm?"
Milan terkesiap, begitu juga dengan ku. Kami menatap Afka yang berdiri diambang pintu utama dengan menenteng paper bag ditangannya. Afka tersenyum kecil mendekati ku dan Milan yang masih duduk.
Menaruh bawaannya di meja, nampak Afka memandang ku dan Milan dengan serius.
"Dinner diluar, mau?"
"Emm," Milan nampak ragu-ragu sambil memalingkan muka kearah ku meminta persetujuan. Aku pun mengangguk pelan. "Milan mau!" Serunya langsung.
Afka meraih paper bag nya sembari memberikan isi dari paper bag tersebut pada Milan. Ada dua sweater putih bertuliskan 'fam' yang sama dengan yang dikenakan oleh Afka. Aku enggan memakainya saat Milan menyodorkan sweater tersebut kearah ku.
"Tante, diluar dingin, ayo pakai!"
"Tante pakai jaket--"
"Jaket itu kan dicuci Bibi kemarin."
Aku hanya bisa pasrah memakai sweater tersebut.
****
Aku menatap wajah Milan yang tampak berseri sejak kami berada di pasar malam yang ramai. Tadinya Afka berencana mengajak kami ke sebuah resto namun Milan langsung menolak dan meminta Afka mengemudikan mobilnya menuju pasar malam.
Beberapa hari lalu Milan pernah mengajakku ketempat ini. Putraku itu yang biasanya hanya diam pun kini sering mengoceh dan terlihat bersemangat berjalan kesana kemari.
Tak sadar, 2 jam sudah kami bertiga berada di pasar malam ini. Setetes air yang jatuh menimpa pipiku berhasil membuat ku langsung menarik tangan Milan dan berlari menuju mobil Afka terparkir. Aku tahu, Milan sudah kedinginan dan kini bertambah hujan yang turun tiba-tiba.
"Alhamdulillah kamu gak kena ujan, sayang."
"Makasih Tante, sekarang aku ngantuk."
Aku menarik Milan ke dekapan ku dan mengelus surainya hingga dengkuran halus keluar melalui sela bibirnya. Suara pintu yang terbuka mengalihkan atensi ku. Disana, Afka tengah mengeringkan rambutnya yang basah akibat hujan dengan handuk kecil ditangannya.
"Nih," dia menyodorkan sebuah plastik padaku. "Dari tadi aku liat, kamu lirik sosis ini terus." Lalu tatapan ku terjatuh pada boneka doraemon yang ia pegang. Aku tersenyum samar.
"Makasih." Ucapku tanpa meraih pemberiannya. Aku takut, gerakan sedikit yang aku lakukan bisa membuat Milan terbangun. "Taro aja disitu, nanti aku makan."
Afka tak menggubris, ia malah menyodorkan sosis tersebut tepat didepan mulut ku. Aku yang memang kelaparan langsung membuka mulut dan menerima suapan nya.
"Terakhir Af. Jangan gini lagi." Tolong jangan keseringan ngasih perhatian, Afka ogeb!
"Iya. Terakhir tanpa ikatan. Besok aku lamar kamu. Apa perlu langsung nikah aja?"
Aku menghela napas kasar sembari memeluk Milan semakin erat saat dirasa anakku ini mengerang karena tidurnya terganggu. "Pulang, Af."
__ADS_1
"Kamu tiduran aja, Ra. Disamping kamu ada jaket aku, pake kalo kalian kedinginan."
Kuraih jaket yang ia maksud lalu menaruhnya diatas badan Milan agar tubuhnya semakin hangat. "Makasih," gumamku lirih.