
Happy reading...
Sebelas🍽**
Keyra sedari tadi ingin mendekati kedua sahabatnya. Namun, tatapan yang menyiratkan akan benci itu membuat ia memilih masuk kedalam bus.
Gadis itu memandang keluar jendela. Banyak teman seangkatan nya yang masih berada di luar dengan ber selfi ria dan membeli barang yang di perjualkan oleh pedagang keliling.
“Ra, oi! Jangan ngelamun! Bisa kemasukan setan nya si Ipang lo,” Keyra berdecak sebal. Ia memandang Rafka yang baru saja datang dan langsung berdiri di depan kursinya.
“Oi, kerempeng! Minggir, jangan di depan gue!” Ujar Keyra berdecak.
“Dih, itu tempat duduk gue, ya!” sahut Rafka ketus, “suara lo kok bisa gitu?”
“Gue nyari minum dulu buat lo, Ra. Lo disini, jangan kemana' mana!” sambung nya yang segera keluar dari bus meninggalkan gadis itu.
Keyra hanya mengangkat bahunya acuh.
“Key,” Keyra merasa bahu nya diguncang kuat, ia memandang siapa yang menganggu-nya, lagi. Tatapan nya berubah berbinar kala Aura dan Shahila yang kini menatap nya dengan pandangan yang sulit di artikan.
“Ikut gue Key,” Aura menarik lengan Keyra sedikit kasar, membawa gadis itu keluar dari bus, menyeret Keyra ke aspal yang diatasnya di tumbuhi rumput hijau seperti taman di dekat jalan raya yang di lalui banyak pengendara mobil dan motor yang melajukan kendaraan mereka kencang.
Tempat parkir bus mereka sangat dekat dengan taman itu.
Angin menerpa wajah dan rambut Keyra yang membuat Rambut nya berterbangan, “kenapa kesini?” tanya nya yang hanya di balas tatapan aneh dari Aura. “Kita bukan orang sini loh Ra yang tau jalanan disini.” ujar Keyra menjelaskan, Keyra sedikit mundur karena dorongan dari Aura.
“Udah syukur gue sama Shahila mau temenan sama elo yang suka ngerebut milik orang lain!” ujar Aura sarkas.
“Hah? Maksud nya apaan sih?” tanya Keyra tak mengerti.
“Heh? Lo nggak ngerti?” Keyra menggeleng sebagai jawaban. “Lo tuh cuman anak haram yang nggak punya temen! Kita deketin lo juga karena kasian. Lah lo? Ngerebut cowok gue dan sekarang pura-pura polos? What the hell!
__ADS_1
Lo ngelunjak ya jadi orang!” bentak Aura.
Keyra terkekeh, “apasih? Lo kalo becanda jangan kelewatan, ya! Gue bukan anak haram! Dan.. Siapa sih yang ngerebut cowok lo? Pura-pura polos lo bilang? Dalam rangka apa seorang Aurelia bercanda segaring ini?“ Keyra tertawa hambar.
“Lo kira gue becanda? Heh! Semua yang gue ucapain itu fakta-nya! Lo tuh anak haram yang entah siapa Ayah kandung lo itu. Karena lo, semua orang ribut! Mulai dari Mama lo yang hampir di cerai-in, Kak Lisa yang lo rebut Rafka nya. Semua, semua perusak itu elo, Key!” teriak nya keras.
Shahila hanya diam menatap Keduanya.
Mengapa Aura bisa tahu semua nya? Masih ingat dengan Anggi? Wanita ular itu berteman baik dan menceritakan semua tentang aib keluarga nya kepada Clara —Mama Aura.
Jelas! Mulut Clara itu bercabang.
“Lo tuh jadi orang bisa nggak sih stop jadi orang keganjenan! Kayak jalangg tau, nggak!” ucap nya sarkas.
“Mending lo mati aja,” sambung Aura. Tak peduli raut Keyra yang berubah semakin mendung. Namun tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan menangis. Keyra mundur beberapa langkah menjauhi kedua sahabat, ah! Lebih tepat nya mantan sahabat nya, mungkin?
“Lo tuh pembawa sial!” Keyra semakin mundur dengan menutup mulut dengan tangan nya, “NAURA AWAS GOBLOG!” Rafka berlari mendekati Keyra yang hanya terdiam dan tak sadar bahwa sebuah mobil sedan melaju cepat kearah nya yang langsung menghantam tubuh mungil gadis itu.
Rafka, cowok yang sedari tadi khawatir dengan keadaan Keyra, terpaku menatap darah yang berserakan di aspal tempat Keyra terbaring lemah. Ia berlari mendekati Keyra dan langsung menepuk pipi nya pelan. “Ra, Naura Bangun! Jangan mati,” Keyra masih diam dengan darah yang mengucur dari kening gadis itu, banyak goresan yang tercipta di kening, lutut, kaki dan tangan nya yang membuat Rafka semakin panik.
Friski bingung, ia mana bisa memanggil mobil ambulan jika dia saja berada di kota orang. Ia mendekati guru lelaki yang juga hanya mematung menatap Kejadian tragis itu. “Pak ya Allah pak! Itu anak orang kecelakaan napa kagak di tolongin sih?!” bentak Friski.
Guru bernama Reno itu seakan tersadar langsung berlari mendekat ke arah Keyra dan Rafka, pria itu membopong tubuh mungil itu dan berusaha membawa nya masuk ke dalam mobil pribadinya. Ya, kepala sekolah dan ketiga guru yang ikut study tour itu memang membawa mobil pribadi.
Setelah memasukan Keyra kedalam mobil nya, Reno langsung mendekati Friski, “tolong kamu bilang ke Pak Anjar dan lain nya tentang kecelakaan ini. Saya akan membawa gadis itu kerumah sakit terdekat dan--”
“Yawoh, Pak! Cepetan bawa Keyra, kek! Bacot amat,” cerca Friski kepada mantan guru nya itu, Reno ingin membalas namun nyawa anak didiknya tengah terancam. Ia langsung masuk diikuti oleh Rafka yang duduk di samping kursi kemudi.
Mobil milik Reno melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang lumayan ramai. Ia memandang sekilas Rafka yang nampak sangat khawatir melihat keadaan gadis itu.
“Siapa yang izinkan kamu masuk kedalam mobil saya? Kenapa anak jaman sekarang tidak ada sopan santun nya sama sekali?” cibir nya.
__ADS_1
“Diem elah, Pak! nggak liat muka saya yang ganteng ini lagi cemasin babu saya?” Bentak Rafka tanpa sadar.
“Astaga, salah apa gue punya murid kurang ajar semua,” gumam Reno lirih. Mengusap dada nya dengan tangan kiri nya.
Untungnya Reno sering berada di kota itu, sehingga ia tak perlu memakai waktu yang lama untuk sampai di salah satu rumah sakit terdekat. Reno memarkirkan mobil nya dengan asal-asalan dan langsung membopong tubuh Keyra kembali, “SUSTER! MURID SAYA KECELAKAAN,” beberapa wanita berseragam perawat datang membawa brankar dan Reno langsung menaruh Keyra di atasnya. Lalu, Brankar itu di dorong memasuki ruang UGD.
“Rafka, tolong kamu hubungi orang tua Keyra. Handphone saya ketinggalan di mobil,” pinta Reno yang duduk di kursi tunggu di depan ruangan Keyra.
Tanpa basa basi lagi, Rafka merogoh ponsel nya dan langsung menghubungi Indira cepat.
“Assalamu'alaikum, mah.”
“Wa'alaikumsalam, kenapa Rafka?” Tanya seseorang di seberang sana.
Rafka mengepalkan tangan kiri nya erat, “K-keyra Mah....”
“Keyra kenapa? Dia pasti seneng ya di sana? Keyra kan paling suka liburan,” nada suara nya terdengar antusias.
“keyra kecelakaan,” Rafka menelan saliva-nya susah payah saat tak mendengar sahutan lagi dari seberang telfon.
Tut tutt.....
Ia memandang nanar layar ponsel nya. Mengapa Indira tidak menyahut nya?
.
.
.
Tet tettttttttt
__ADS_1
T Y P O... yg ngetik ngntuk, yg bc lebih ngantuk:v
Terimakasih_-