
Duabelas👼
Cklek....
Seorang pria dengan balutan jas berwarna putih khas Dokter keluar dari ruang UGD dengan di ikuti suster di belakang nya.
“Keluarga pasien?”
Rafka dan Reno berdiri menghadap Dokter itu.
“Saya guru nya, Dok. Gimana keadaan siswi saya?” tanya Reno.
Dokter itu mengangguk, “pasien mengalami pendarahan yang mengakibatkan kondisinya saat ini kritis. Golongan Darah pasien AB- dan stok di rumah sakit ini tengah kosong, saya harap keluarga pasien segera tiba di sini secepat nya, karena pasien bisa saja meninggal dunia jika tidak segera mendapatkan donor darah. Keluarga pasien sudah di hubungi?” jelas Dokter itu to the point.
“Sudah, Dok. dan---”
“Cek darah saya, Dok!” potong Rafka cepat. Dokter itu memandang Rafka tak yakin.
“Pendonor darah harus berusia minimal 17 tahun, Rafka.” ujar Reno.
“Bisa, Pak. Untuk usia di bawah 17 tahun boleh menjadi pendonor darah bila mendapat izin tertulis dari orangtua.” kata Dokter itu menjelaskan. “Saya permisi terlebih dahulu,” pamit Dokter itu.
“Jangan gegabah, Rafka. Siapa tau kamu punya penyakit bobrok akut yang bisa saja tertular ke diri Keyra jika kamu mendonorkan darah untuk nya,” kata Reno kepada Rafka.
Rafka mendelik, hey! Rafka itu tampan dan juga kalem, ya! Dari mana bobrok nya, coba? Fikir nya.
“Saya diam karena saya cakep, Pak. Bapak bawel kayak emak-emak rempong tetangga saya,” balas Rafka.
Tangan Reno menarik telinga Rafka dan memutar nya, “yang sopan kamu sama saya!” ujar nya sangar.
Rafka mencibir, “dih kayak preman suara situ, Pak. Lagian siapa suruh Bapak ngatain saya bobrok! Kalem gini kok,” sahut nya percaya diri.
“Preman nggak ada yang seganteng saya, Rafka. tukang nyinyir seperti kamu kalem bagian mana nya? Sana kamu hubungi orang tua Keyra lagi. Pastikan salah satu keluarganya yang kesini mempunyai golongan darah yang sama dengan Keyra,” ujar nya bijak.
“Saya cakep dan saya diam,” ujarnya.
Rafka menurut, cowok itu merogoh ponsel nya dan kembali menelfon Indira.
“Hallo, Ma? Bisa Mama pesen tiket ke Magelang sekarang? Di rumah sakit yang paling deket dari candi borobudur, nanti Rafka share location. Keyra... Keadaan Keyra kritis karena pendarahan dan dia butuh transfusi darah secepatnya! Golongan darah Mama sama kan sama Keyra?” tanya Rafka bertubi-tubi begitu Indira mengangkat panggilan nya.
“Mama bentar lagi berangkat kesana, Rafka. Tunggu Mama! golongan darah Keyra O kan?” Indira bertanya balik.
”AB- bukan O Mah, Om Andri ikut juga ke sini, kan? Rafka titip pesen buat Om Andri jangan kelelahan sampe sini biar bisa donorin darah nya buat Keyra,” Ujar Rafka.
“I-iya, Rafka. Sambungan nya Mama tutup dulu ya,” sahut Indira dengan nada bergetar. Wanita itu langsung memutuskan sambungan nya secara sepihak.
Rafka tak mengerti dengan suara Indira yang mendadak seperti ketakutan.
Reno menepuk bahu Rafka, “saya harus melapor langsung pada Pak Anjar, untuk masalah administrasi, sekolah yang akan mengurusnya.”ujar pria itu dan berlalu pergi meninggalkan Rafka sendiri yang mengabaikan ponsel nya yang terus bergetar.
“Baru nyadar gue tu guru bau amis,” kekeh Rafka yang baru menyadari jika baju Reno yang berwarna putih itu terkena banyak sekali darah dari Keyra.
__ADS_1
***
“Si Rafka tolol ngapa kagak angkat telfon gue sih?” tanya Friski seraya berdecak sebal. Sedari tadi ia sudah mencoba menghubungi nomor Rafka, namun cowok itu sama sekali tak mengangkat panggilan nya.
“Kekey adek ipar gue gimana, ya?”
“Gimana keadaan Keyra?” tanya Rivan dan Ivan secara
bergantian. Friski melirik ke arah teman nya itu, “ya mana gue tau! Yang ngajakin Keyra kesini sampe ketabrak
siapa sih? Mau gue seruduk apa?” kesal nya.
“Gue bakalan cari tau,” ujar Ivan dan beranjak dari duduk nya.
Rivan menatap punggung Ivan yang
berjalan menjauh, “Ipang ngapa dah? Suara nya dingin bat kek yayang Agni.”
ujar nya.
Tadi Alisa, sekarang Agni. Jahara sekali kamu Rivan!
“Yayang, yayang pala lo pe'ang!” Friski menoyor jidat Rivan keras.
“Pindah kuy! Di sini rame banyak polisi,” ajak Alfarel yang disetujui oleh Friski dam lain nya. Mereka memilih masuk kedalam bus dan menunggu instruksi selanjut nya dari para staf guru.
Di tempat lain.
Kedua nya saling bertatapan dengan
pandangan yang sulit di artikan.
Karena tak mendengar satu suara pun dari mantan sekretaris nya, Davin memilih bersua terlebih dahulu.
“Lima menit,” ujar nya.
Indira menghembuskan nafas nya pelan, “Pak Davin. Apa saya tidak menganggu pekerjaan, Bapak?” tanya Indira basa-basi.
“Mengganggu,” Indira merutuki pertanyaan nya yang malah membuat suasana sunyi kembali tercipta.
Indira berdiri seraya berkata, “saya bisa minta tolong, Pak? Anak saya kecelakaan dan butuh donor darah. Bisa--”
“Urusan dengan saya, apa?” potong Davin cepat.
Air mata Indira menetes melewati pipi mulus nya,
“Tolong pak. Hanya Bapak
yang bisa mendonorkan darah untuk putri saya,
dia kecelakaan dan mengalami pendarahan yang hebat, dan di rumah sakit tempat putri saya di tangani kehabisan stok kantong darah yang sama, karena putri saya memiliki golongan darah yang langka, sama seperti, Bapak.”
__ADS_1
Dulu, saat ia masih menjadi Sekertaris pria di depan nya. Indira sering menemani pria itu untuk mendonorkan darah langka nya. Jelas saja jika Indira tahu.
“Dimana?” tanya Davin singkat dan padat.
Indira tanpa sadar tersenyum berbinar mendapati respon mantan bos nya itu. Ia langsung memberitahu alamat rumah sakit tempat Keyra di tangani yang tentu letaknya jauh dari kota Jakarta.
♣♣♣♣♣
Kegiatan study tour yang awal nya akan berakhir esok hari pun harus di urungkan karena insiden kecelakaan Keyra yang mengharuskan seluruh siswa dan siswi untuk pulang terlebih dahulu di dampingi beberapa guru.
Teman-teman Rafka sempat menolak dan ingin menemui Keyra pun terpaksa di giring untuk pulang, kecuali Abian dan Ervin yang diam-diam masuk kedalam mobil milik Reno yang tentu nya akan kembali ke rumah sakit.
“Astaga anak tuyul!” Reno yang kaget pun spontan berteriak saat pintu mobil belakang nya terbuka keras,
Abian dan Ervin merotasikan kedua mata nya malas.
“Jalan, Pak!” titah Ervin tak tahu diri.
Mata Reno membola mendengar perintah anak didik nya itu, “Kamu pikir, saya supir kamu?”
“Ervin gak bilang gitu, Pak. Bapak sendiri yang ngakuin,” timpal Abian santai.
“Tapi tetap saja kalian tidak sopan! Asal masuk kedalam mobil saya. Semua siswa dan siswi sudah di instruksi kan masuk kedalam bus, ya! Kenapa kalian malah masuk ke mobil saya?” tanya nya tegas.
Ervin mengangkat bahu nya acuh, “ralat, kecuali Rafka dan Keyra.”
“Kita berdua cuma mau ngambil duit yang di pinjem Rafka, Pak.” timpal Abian ber-alibi.
“Dalam keadaan seperti ini kalian masih memikirkan hutang Rafka?” Kedua remaja itu kompak mengangguk acuh.
Reno menghembuskan napas nya jengah, “Sabar Reno, orang sabar istrinya banyak.” batin pria dewasa itu.
Mobil Reno kembali melewati jalanan menuju rumah sakit tempat Keyra di tangani. Sesampai nya di rumah sakit,
Abian dan Ervin kompak turun lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Reno yang masih memarkirkan mobil nya.
Ngundang buat di hujat si anak tuyul. Gumamnya.
.
.
.
Tet tett tettt tetttt tetttttttt
G a j e:v
Like n comen_-
Typo n salah kalimat, hampura:v
__ADS_1
Thank's:V