
"Udah nih, Key. Sekarang kita balik!"
Atensi Keyra yang mulanya tertuju pada punggung wanita yang meninggalkan toko itu terganti memandang Awal. "Oh ya, Al. Cincin yang tadi aku pilih, itu buat calon istri Erosi. Dan itu bukan aku," jelas Keyra langsung.
"Erosi blacklist nih? Terus yang kamu pilih, Rafka atau Mark?"
"Pastinya, aku pilih Milan."
19:15
"Tok tok tok, samlekom mamang! Ada orang tydak?!"
Keyra yang sedang membantu Tiffany belajar pun langsung bangkit menuju asal suara tersebut. Di belakangnya, ada Tiffany yang setia mengekor dirinya. Sementara Milan tengah menonton serial favoritnya.
"Apa benar disini ada Ke-- KEKEY?!"
Brugh!
Keyra terkejut kala seorang pria langsung menubruk badannya. Tubuhnya yang tak sebanding dengan pria di-depannya, terpaksa mundur hingga membuat Tiffany terjatuh karena berdiri dibelakangnya.
"AUNTY KUNCI IH CAKIT!" Tiffany mengelus pantatnya yang mencium lantai. Matanya memerah memandang sang pelaku dengan tajam. "Om kalo mau ngerucuh jan dicini dong! Tifa aduin ke Mommy bial tau lasa!"
"Udah malem, Tifa jangan berisik!"
Tiffany menatap penuh permusuhan kearah bocah lelaki yang 4 tahun lebih tua darinya itu. Belum juga ia mengeluarkan amarahnya pada Kenzo, Ivan terlebih dahulu menggendong dirinya dan masuk kedalam rumah.
"Aunty Kunci itu jangan ditinggal!"
"Aunty Kunci, Aunty Kunci, nama dia Kekey!" Gemas, Ivan menjawil hidung mungil Tiffany. "Eh itu beneran Kekey?" Sekilas Ivan menoleh kebelakang, menatap Keyra yang sedang berdiri saling tatap dengan Bulan, istrinya.
Ia pun tak ambil pusing dan memilih duduk di samping Milan yang masih asik menonton layar televisi. "Marvel? Hidih gak Bapak gak anak, seleranya sama," cibir Ivan namun tak ayal pria itu tersenyum memandang buah hati Keyra dan Rafka.
Kepribadian Milan memang introvert. Sedikit mirip dengan Keyra namun bedanya Keyra tak lemah dan jarang menangis. Bentuk paras wajah Milan menurun 90% dari Rafka, hanya berbeda di warna mata dan bentuk alis.
__ADS_1
"MOMMY AWAL, BABU AKHIRAT, AMBILIN IPANG JUS KOPI YA!"
Tiffany menutup telinganya rapat-rapat. Menatap Paman sengklek nya dengan malas. "Daddy bukan babu! Yang babu itu Om kele."
"Kele? Lele maksud kamu heh?"
Tiffany menggeleng. "Kele itu gak punya duit, kayak Om, mizqueeen!"
"Anjayy ngena!"
"Anjay itu apa?"
"Ipang!" Keyra yang baru datang langsung menatap tajam pria itu. "Disini banyak bocah, jaga umpatan lo!"
Ivan tertawa haru lalu menarik tangan Keyra untuk duduk disampingnya. "Bener kata Rafka curut, lo masih idup Kekey sayang."
Keyra seketika melirik Bulan yang masih berdiri memandang dirinya dan Ivan dengan pandangan kesal. Wanita itu memilih menjaga jarak dengan Ivan. "Duduk Mbak."
"Mbak-- pftt," Ivan menutup mulutnya menahan tawa. "Dia sepupu jauhnya Bunga kali, Key. Lapan tahun lebih muda dari kita."
"Anak Epin ini." Jawab Ivan sembari menepuk puncak kepala Kenzo. "Otomatis keponakan lo, cok."
Pandangan Keyra mulai sendu. "K-kok mirip Papa sama Raga?"
Ivan mengangkat bahu. "Ken, cium tangan Tante Keyra. Dia adik dari Papa kamu."
Kenzo hanya bergidik acuh lalu ia berpindah di samping Milan untuk menonton film yang sedang di tonton Milan.
"Emang gitu, mirip Epin cueknya."
Keyra mengangguk mengerti. "Bunga sekarang dimana?"
"Gak usah kepo deh Tante! Nanya ke suami saya terus daritadi," suara yang baru pertama kali Keyra dengar membuat wanita itu mengerutkan dahi lalu tersenyum kesal.
__ADS_1
"Ah ya Tante," gumam Keyra pelan. "Akhir sama Awal baru aja keluar rumah buat jengukin temennya yang sakit. Lo mau apa kesini, Pang?"
"Gue mau ngomong sama lo. Tapi di gazebo ajalah jangan disini, berisik itu bocah bocah nya." Ucap Ivan. "Aku kebelakang, Lan. Telfon Bunga kalo kita nitip kembar lebih lama."
Ivan mencium kening Bulan lalu bangkit menuju halaman belakang dengan Keyra dibelakangnya. Tiba di gazebo, mereka duduk menghadap kolam dan berdiam cukup lama. Keyra yang dulunya tak pernah canggung dengan Ivan pun memilih bersuara terlebih dahulu.
"Bunga, kenapa dia bisa cerai sama Rey?"
"Intinya Erpin salah paham."
Matanya terpejam. Ia tak mau ikut campur permasalahan antara Ervin dan Bunga lebih lanjut. Baginya, permasalahan dirinya dengan Rafka sudah cukup rumit dan membuat kepalanya rasanya mau pecah saja.
"Terus kenapa lo kesini? Ada hubungannya sama Afka?"
Ivan bertepuk tangan sambil tersenyum bangga. "Adik gue cenayang ya? Kok lo tau sih?"
"Bahkan gue sama lo tuaan gue, Pang. Ngaku-ngaku lo, demit!"
Ivan tertawa kesal. "Beda enem bulan doang, anjay." Ucapnya. "Iyap lo bener banget. Gue kesini karena Rafka Curut. Dia mau lo kawin sama cowok lain. Gue misalnya."
"Ayok kawin!"
"Lah Kekey, jangan mancing dong! Gini-gini juga, gue pernah naksir elu. Kalo lu maksa, ayok dah!"
"Kawin sama koceng sono lo!" Balas Keyra.
"Key," panggil Ivan dengan nada yang terdengar serius. "Lo tau, hidup Rafka curut ngenes banget pas tau lo koit. Bertahun-tahun hidupnya gak pernah teratur. Lo liat kan sekarang, wajahnya tirus, bentuk badannya gak sebagus saat masih jadi suami lo. Hampir setiap menjelang pagi, dia kerumah gue buat curhat tentang mimpinya yang terus-terusan ketemu sama lo. Bukan cuman Rafka curut doang yang tertekan, gue bahkan depresot gegara dia, gue gak bisa ML sama bini gue sendiri woy!"
Keyra yang awalnya tersenyum haru mendengar ketulusan Ivan yang mau meladeni curhatan Rafka, langsung tersenyum datar. "Otak laki, gak jauh-jauh dari s*langkangan."
"Heh, maksud gue nge-game mobile legends. Otak lo ya kotor!"
Keyra menarik nafas panjang lalu menghembuskan-nya kasar. "Lo pikir gue percaya? Kilah seorang kang cabol!"
__ADS_1
"Mengakak, udah gede ya lo!" Ivan terbahak-bahak sementara Keyra masih memandang pria itu datar.
"Tentang Afka, gue harus gimana, Pang?" Keyra menengadahkan kepala keatas menatap langit malam yang ditaburi beberapa bintang. "Gue kembali sama dia, trauma penghianatan itu masih ada. Tapi, gue gak kembali sama dia, sama aja gue boongin perasaan gue sendiri."