
...Mantan yang masih perhatian,...
...masuk ke kategori :...
...-Utang...
...-Simpanan...
...-Tanggungan...
...-Beban...
.
.
"Uhuk uhuk!"
Erosi terbatuk melihat wanita yang sejak pagi selalu menghantui pikirannya tiba-tiba datang dan langsung duduk di sampingnya. Ia meminum air mineral yang ada diatas meja kemudian memandang Keyra.
"Kamu yang tadi nganter adiknya kerumah sakit kan?" Tanya Erosi berbinar.
"Perlu dijelas, dia anak saya." Ujar Keyra.
Yang tadinya berbinar, kini berubah mengerutkan dahi. "Masih muda tapi udah punya anak?" Tanyanya tak percaya. Melihat Keyra yang terdiam, Erosi mengingat kembali ucapan Kakak sepupunya tempo hari.
"Kalo lo nerima cwe yang terakhir gue jodohin, lo harus nyematin cincin ini ke Keyra. Gue tau lo gak modal makanya gue beliin. Tapi kalo beneran serius, beli ndiri yang mahal napa! Jangan sakitin temen gue yang ini, oke?!"
Keyra jelas wanita yang akan dijodohkan dengannya. Wanita itu seumuran dengan Awal yang pastinya lebih tua dari dirinya.
"Temen nya Awal? Yang mau dijodohin sama aku?"
Keyra mengerutkan dahi tak memahami ucapan Erosi. Ia sekilas memandang Rafka yang diam mematung.
"Na-naura?" Rafka menggeleng berkali-kali sambil mencondongkan tubuhnya kedepan Keyra. Ia memegang bahu Keyra erat, meneliti wajah wanita itu dengan intens. "Jangan becanda!"
"Loh, lo kenal bidadari gue ini, Bang?" Erosi menepuk tangan Rafka yang nampak mencengkram bahu Keyra terlalu erat.
"Dia--"
"Ah, Rafka. Lama gak ketemu," sela Keyra cepat. Terkekeh manis sambil memundurkan tubuhnya menghindari Rafka. Ia kembali memandang Erosi. "Dan btw, umur saya udah 34 ya dok."
Mata Rafka menajam. Mimpi 3 hari yang lalu menjadi kenyataan untuknya. Keyra yang selalu memanggilnya 'Afka' kini berubah. Jika menurut kalian ini simple, tapi tidak bagi Rafka.
Raut Keyra yang tanpa emosi semakin membuat ia bertanya dalam hati. Apa benar yang duduk didepannya adalah Keyra, mantan istrinya?
"Ra--"
"Oh iya, dokter pasti adiknya Awal?" Keyra memotong ucapan Rafka lagi sambil meraih sebuah kotak beludru dari dalam totebag nya. Kemudian ia menyodorkan benda tersebut ke Erosi. "Awal masih ditoilet dan nyuruh saya untuk memberikan ini pada anda."
"Lah ini mah buat kamu kali. Kan kita mau nikah," ucap Erosi percaya diri. Membuka kotak beludru itu, ada sebuah cincin bermata kan berlian kecil didalamnya. Erosi terkekeh pelan kemudian tanpa ragu menyematkan cincin itu dijari manis Keyra.
"Kamu bilang udah punya anak? Dan Awal udah jodohin kita, artinya sekarang single kan? Gak masalah kok. Kali ini aku mau ke jenjang yang lebih serius."
Erosi, di umurnya yang menginjak 31 tahun, dia selalu ragu menjalin hubungan serius dengan wanita manapun. Sampai orangtua serta kerabat dekatnya menyangka ia menyukai sesama jenis dan Erosi tak pernah menyangkal itu karena terlalu malas.
Setiap bulannya, Erosi harus rela membuang waktu demi keinginan keluarganya, bertemu wanita pilihan mereka yang sama sekali bukan tipe Erosi.
Dan baru kali ini hati serta pikiran-nya langsung kompak menginginkan seorang janda anak satu. Padahal ia dan Keyra baru dua kali ini bertemu dan tak ada kesan istimewa disetiap pertemuan mereka.
Walapun dirinya dibuat penasaran dengan hubungan Keyra dan Rafka, menyadari betapa frustasi dan kesalnya wajah seniornya itu. Namun ia tak ambil pusing. Pikirannya positif, menyangka bahwa Rafka tengah badmood karena istri serta anaknya.
Selama menjadi junior Rafka, Erosi memang sering datang ke rumah pria itu. Namun, ia belum pernah bertemu langsung dengan anak bungsu Rafka, karena Milan yang jarang keluar kamar. Pria itu tak tahu jika bocah yang tadi ia obati, adalah Milan, anak tunggal dari Keyra dan Rafka.
Rafka memandang secara bergantian dua manusia yang duduk didepannya. Ia masih mencerna kehadiran Keyra yang tiba-tiba. "Ero, lo bisa keluar dulu dari sini? Gue mau ngomong sama calon istri lo ini." Ujar Rafka dengan menekankan kata 'calon istri'.
"Oh gak perlu, Raf! Aku harus pulang sekarang, permisi." Keyra keluar dari ruangan sambil meraih ponselnya kemudian mengubungi Awal.
__ADS_1
"Al, kamu dimana?"
"Dirumah, Anak-anak udah pada tidur."
Keyra berdecak pelan.
"Kamu mau jodohin aku sama adik kamu itu?" Tanya Keyra to the point.
Diseberang sana Awal sedang cekikikan menerima serangan Akhir di lehernya. "A-enggak kok. Tapi kalo kamu sama Erosi nya mau, tinggal nikah aja, kita dukung suer."
"Masalahnya, aku ketemu Afka disini!"
"Hah-ah anjirt Akhir!"
Keyra langsung memutuskan sambungan mendengar suara lknat Awal dan Akhir. Wanita itu berjalan ke tepi jalan untuk mencari taksi. Tadi dia datang ke restoran ini dengan menumpang mobil Awal. Tau-taunya wanita itu malah pulang ke rumah meninggalkan Keyra sendiri.
Sedari tadi keyra sudah merasa tidak enak. Entah apa yang akan terjadi kedepannya, feeling nya yang buruk, membuat Keyra merasa sedikit cemas.
"Mau kemana?"
Tubuh Keyra berjingkat kaget dengan mata yang terbuka lebar merasakan hembusan napas dibelakangnya. Tangan besar seseorang memeluk pinggang nya.
Wanita itu melirik kanan kiri dan mendapati beberapa orang yang sedang menatapnya sinis. Keyra langsung menyentak tangan pria yang sudah kurang ajar memeluknya ditempat umum.
"I'm not hallucinating am I?" Tanya Rafka melepas jaketnya kemudian menyampirkan nya di bahu Keyra. Gaun yang dipakai Keyra sangat mengekspos bahu wanita itu dan Rafka tak suka ada yang memandang wanitanya dengan lapar.
Keyra diam, meneguk ludahnya kasar. Ia ditarik masuk kedalam mobil Rafka.
21:34 WIB
"Apart siapa?"
"Masuk," titah Rafka tanpa menjawab pertanyaan Keyra.
Wanita itu enggan masuk. Ia berusaha kabur namun tangan Rafka terlalu kuat mencekal lengannya. Terpaksa, Keyra masuk kedalam terlebih dahulu sedangkan Rafka berdiri dibelakangnya sambil menatap punggung mungil itu.
Rafka menubruk punggung Keyra dan menumpukan dagunya diatas puncak kepala wanita itu. Tangannya yang besar memeluk pinggang Keyra. "Kenapa? Kenapa kamu sekarang gini, Ra?"
Keyra memejamkan matanya lalu menonjok perut Rafka dengan sikutnya hingga Rafka meringis kesakitan. Wanita itu berbalik badan dan menatap Rafka kecewa. Namun sorot tajamnya lebih mendominasi.
Pandangan Rafka tertuju pada cincin yang baru beberapa jam yang lalu Erosi sematkan dijari lentik Keyra. Rafka cemburu, apalagi ketika Keyra tak menolak cincin itu. Ia dengan cepat melepaskan cincin itu dan membuangnya keluar jendela yang terbuka.
"Kamu disini, masih hidup, mayat itu siapa Ra? Kamu selama ini kemana aja? Jangan bikin aku kayak orang gila lagi, please.." Rafka berusaha keras menyimpan emosi agar tidak membentak Keyra.
"Nggak usah berlebihan, Af." Keyra melepaskan jaket Rafka yang tadi pria itu pakaikan. "Aku capek. Mau pulang."
Suara gemelatuk gigi membuat Keyra berdiri mematung. Dia tahu aura kemarahan Rafka sudah menguar mengisi apartemen.
"Berlebihan katamu?" Rafka mendesis pelan. "Enam tahun, enam tahun aku ngiranya kamu meninggal, Ra. Tapi apa? Sekarang kamu malah dateng tiba-tiba didepan aku kayak orang asing. Kamu pikir aku terima? Enggak, sama sekali enggak! Aku gila karena kematian kamu. Sedangkan kamu ternyata masih hidup dan malah enak-enakan entah dimana!"
Keyra menahan nyeri di dadanya. Rafka tak tahu saja perjuangan dia mengobati penyakit kronisnya di negara orang. Wanita itu menghempaskan tangan Rafka dan menatap dingin.
"Kamu lupa kalo kita udah berakhir?"
Rafka menggeleng. "Gak akan lupa. Dan aku mau perbaikin semuanya, sayang."
"Jangan jadi bajing--"
Tangan Rafka menyentuh tengkuk dan pinggang Keyra lalu menubruk bibir mungil itu dengan bibirnya. Ia mengusap pelan tengkuk Keyra kemudian tangannya turun kebawah dan menarik resleting Keyra. Gaun hitam selututnya langsung jatuh ke lantai, menyisakan bra dan CD merah yang kontras dengan kulitnya.
Keyra yang diserang panik, langsung mengigit bibir bawah Rafka dan menarik jaket pria itu kemudian menutup area dada dan paha dalamnya.
"Selain jadi pembual, kamu ternyata jadi bastard juga ya, Af." Keyra sedikit menundukkan tubuhnya untuk meraih gaun tadi.
"Aku udah bahagia sama calon aku, Af. Dia orang yang udah gantiin posisi kamu, jadi jangan gini ya? Kamu emang mantan aku, tapi kita masih bisa sahabatan." Ucap Keyra pelan sambil berusaha mendorong tubuh Rafka yang semakin menghimpit tubuhnya.
"Omong kosong! Calon mana yang kamu omongin? Erosi, bocah itu?"
__ADS_1
"Mark! Dia dokter yang udah nemenin aku di Thailand, aku cinta dia, Af. Tolong lepasin aku!" Dusta Keyra memandang mata elang Rafka.
"Minggir!"
Bukannya menyingkir, Rafka malah maju hingga Keyra langsung jatuh keatas ranjang. Wanita itu gelagapan ketika Rafka ikut menjatuhkan tubuh atletis nya diatas tubuhnya.
Tatapan mata tajam namun gelap akan gabut g@irah itu membuat Keyra hilang akal.
"I'll be gentle."
Wanita itu menggeleng keras. "Aku gak mau kamu nyesel lagi karena udah ons sama cewek lain, Af. Istri kamu, nungguin dirumah!"
"Ons? Kita bercinta Naura, dan aku gak peduli sama dia!"
Keyra tak bisa lari lagi saat Rafka menghentak nya dengan keras. Wanita itu sesekali memberontak dari kungkungan Rafka namun tenaganya kalah jauh dengan mantan suaminya itu.
Keyra menikmati, sekaligus menyesali. Seumur hidup baru pria diatas tubuhnya yang berhasil menyentuh dirinya. Wanita itu heran mengapa tak bisa berpaling dari Rafka si pria egois.
Keesokannya, pukul 4 WIB. Rafka terbangun terlebih dahulu. Ia sebenarnya tak bisa tertidur karena takut Keyra akan pergi lagi dari sisinya. Walaupun wanita itu kini terbaring naked di sampingnya, Rafka tetap tak puas dan menginginkan Keyra kembali menjadi istrinya.
Tangannya terulur pelan meraih ponsel diatas nakas. Ia menghubungi kontak teman lamanya.
"Gblok! Anak gue nangis denger telpon dari lo, Rafka tololl!"
"Pang, cara mikat cewek yang terlanjur tersakiti, gimana?" Tanya Rafka tak acuh dengan gerutuan Ivan.
"Pftt lu nonton chanel ikan terbang makanya nanya gituan?"
Rafka menarik napas mencoba bersabar menghadapi Ivan yang tak berubah. Ia mengusap rambut coklat Keyra yang berantakan karena ulahnya. "Na-- Kekey, dia masih hidup."
"Lah si Kekey mah kan emang masih idup. Yang bilang artis Kekey mati sapa?" Tanya Ivan diseberang sana dengan polos. Ia menimang bayi berusia 10 bulan sambil menunggu istrinya kembali dari dapur.
"Bangsatt!"
Tut
Keyra terbangun mendengar makian Rafka. Perlu beberapa menit untuk wanita itu sadar jika ia sedang bersama mantan suaminya. Keyra hendak bangkit, namun Rafka semakin memeluk tubuhnya erat. "Biarin gini."
Keyra menatap kelopak mata Rafka yang tertutup. Wanita itu berujar serak. "Kamu kenapa egois sih, Af? Inget, udah punya istri dan anak! Jangan coba-coba deketin aku lagi! Ogah aja dikatain pelakor dihubungan mantan."
"Aku ceraikan dia," ucap Rafka. "Kamu balik sama aku, kita bertiga, sama Milan."
"Bener-bener egois," desis Keyra marah. Ia mendorong dada Rafka hingga pria itu termundur sedikit kebelakang, Keyra memandang Rafka tajam.
"Kamu terlalu nyepelein urusan pernikahan, Af. Apa Milan mau kembali sama Papa nya yang gak pernah perduliin dia?" Melihat wajah Rafka yang pias, Keyra menyeringai. "Kamu itu utang, simpanan, tanggungan sama beban. Paham?!" Ucapnya sarkas.
Rafka menarik Keyra masuk kedalam pelukannya. Pancaran nya redup seakan menyimpan lautan kesakitan.
Didalam pelukan Rafka, Keyra merasakan pipinya basah, ia tak bisa mencegah air matanya yang berderai, kembali ke Jakarta memang membutuhkan keberanian. Ia mantap pulang ke Jakarta karena adanya Milan.
"Kamu bakal kembali ke aku, Naura. Aku gak akan biarin kamu kabur lagi, Diperkuat dengan adanya janin disini."
Keyra menepis tangan Rafka yang kurang ajar mengelus perutnya. Ia pun tersenyum sarkas. "Gak usah berharap banyak! Kamu pikir, aku mau ngandung benih kamu lagi? Inget ya Afka, kita nikah bertahun-tahun aja, belum dikasih keturunan. Sampe-sampe kamu selingkuh sama Shahila, dia istri kamu kan sekarang?" Tanya Keyra sinis dengan menekankan kata 'istri'.
"Kita selesai udah dari beberapa tahun yang lalu. Tolong jangan gini, Af."
Mata Keyra mengedar mengamati pakaian semalamnya yang sudah hancur akibat tangan nakal Rafka. "Tanggungjawab!"
"Besok kita nikah," sahut Rafka enteng.
Keyra mendeliki Rafka. "Bukan itu bambang!" Decak wanita itu. "Aku mau pulang, bajunya gaada."
"Ngapain sih? Ini tempat sementara kita. Kalo kamu udah siap, kita balik kerumah."
"Cih, secara nggak langsung, kamu anggep aku simpanan kamu, Af." Seringainya. Keyra menarik paksa selimut yang menutupi tubuhnya dengan tubuh Rafka. Ia bangkit dan berusaha fokus kala tubuh atletis Rafka terpampang polos. Wanita itu menuju lemari dan dengan tak sopannya mengambil baju serta celana yang sepertinya tak terlalu kebesaran ditubuhnya.
Keyra masuk kedalam kamar mandi, dia hanya membasuh muka dan memakai baju serta celana Rafka tanpa mandi. Ia tak mau berlama-lama di ruangan yang sama dengan Rafka. Takut khilaf, lagi.
__ADS_1
Wanita itu keluar dari kamar mandi lalu menaruh selimut tadi diatas kasur. Menarik napasnya pelan, Keyra mengangkat dagunya tinggi. "Ini terakhir kalinya kamu nyentuh aku. Jadi, kalaupun kamu bosen sama Shahila seperti yang kamu lakukan dulu ke aku, cari cewek lain yang mau diajak berdosa sama kamu."