
Semua bangs*at
&
Buka Semangat Baru🎤🎤🎤
Keyra dan Rafka memasuki bar-bar Arien kafe milik keluarga Ivan yang nampak ramai pengunjung. Manik keduanya tertuju pada meja yang sudah diisi oleh 3 pemuda yang terlihat paling mencolok diantara yang lain. Terutama Akhir yang sedang memegang gitar sambil bernyanyi.
Rafka izin ke toilet setelah menyapa teman-teman nya, Keyra pun duduk disamping Akhir dan Ivan.
“Pesen aja Key,” ujar Ivan menawarkan.
Keyra mengangguk lalu memanggil waiters.
“Caffe latte nya satu, dan banana milkshake nya juga satu ya.”
“Ada lagi?”
“Nachos nya dua.” Waiters itu mengangguk lalu melenggang pergi.
Keyra menatap Akhir, Ivan, dan Rivan bergantian. “Segini doang nih? Kenapa gak ke markas aja sih?”
“Markas berantakan, Key.” Ucap Ivan. “Masih pada tidur mereka. Yang ada ya kita-kita doang.”
Rivan nampak diam, Keyra juga enggan bertanya karena sepertinya Rivan risih dengan keberadaannya.
Keyra sekilas memandang arlojinya, sudah jam 11 siang ternyata. “Kenapa pengen ketemu siang-siang Pang? Malem ‘kan bisa.”
Ivan tertawa lalu menunjuk Akhir yang sedang bernyanyi kecil. “Nih pengen ketemu lo. Lagian gue tau kok malem itu tempatnya lo sama Rafka bercocok tanam.” Keyra mendeliki Ivan namun tak ayal pipinya bersemu. "Gimana mantap mantap pertama lo?"
Akhir jadi sensi mendengarnya. “Semua bangsatt,”
Keyra menjitak kepala Akhir keras. Akhir pun tertawa innocent.
“Bercanda.”
Segelas ice squash milik Akhir yang masih penuh Keyra sodorkan pada si pemilik. “Minum dulu sebelum konser.”
Begini-begini juga Keyra yang paling perhatian kepada teman-temannya, walaupun sifat jarang berinteraksi nya masih mendarah daging.
“Semua baik,”
Bruk!
Akhir melotot pada Ivan yang melempar tas gitarnya tepat dikepalanya. Lagi dan lagi kepala estetik nya harus rela jadi korban keganasan Keyra dan Ivan.
“Gak juga..”
“Gue benci inget... mantan.. gue, nikah...”
“....Anjing engga engga."
Akhir meminum ice squash nya kemudian melanjutkan nyanyiannya.
“Mendingan gue,”
“Nongki ~ ketempat kopi~ nyalain wifi~ stalking in doi~ berharap gue jadi jodohnya..”
“.....Gak mungkin,” tambahnya datar.
Bukannya merasa kasihan, Keyra dan Ivan malah tertawa. Mereka merasa lucu mendengar setiap bait yang Akhir lontarkan. Keren banget sih, tapi 'kan bikin Keyra canggung aja. “Mantan lo cuman gue ya?” Tanya Keyra ragu.
Akhir mengangguk antusias, ia berlutut didepan Keyra sambil memandang gadis --akh wanita bermata amber itu dengan kuyu. “I really really really really.. like you. You want me, i want you, you want me too.” Keyra ingin tertawa lagi ketika Akhir berucap dengan bernada.
__ADS_1
“Gak kreatif lo,” ucap Keyra tertawa pelan.
“Aku ganti dari ‘bentar' ke ‘nikah' kok, Key. Kreatif dong aku," balas Akhir tak mau kalah.
Rafka yang baru tiba, memandang Akhir dengan heran. Pemuda itu bersimpuh didepan Keyra. Bahkan keduanya menjadi pusat perhatian di kafe.
“Key, ku tunggu janda mu!” Akhir yang biasanya santai, kini nampak seperti pria agresif.
Pluk!
“Sembarangan!” Setelah melayangkan tabokan dibahu Akhir, Rafka langsung duduk di samping Keyra, mengusir Ivan yang mendengus. “Baru sebulan gue sama Keyra nikah, cari cewek lain sana.”
Lagi dan lagi Ivan tertawa melihat Akhir yang ternistakan. “Awal aja Awal, udah dibaperin malah ditinggalin.” Cibir Ivan sambil memakan nachos nya.
“Gue bukan kaca ya Pang,” decak Akhir kesal. Ia kembali duduk ditempatnya lantas memandang Rafka yang sepertinya sengaja memanasi nya dengan merangkul pinggang Keyra erat.
Ivan terkekeh sambil mengacungkan jari tengahnya. Lantas memandang Rivan yang sibuk memainkan ponselnya. “Lo kenapa diem aja? Sariawan? Sakit gigi atau sakit ati?”
Rivan berdiri dari duduknya. “Sorry gue ada urusan, have fun bro sist.”
“Kenapa tu anak?”
★★★★★
Dua bulan kemudian...
Markas Traavo sangat ramai, Akhir yang merupakan Ketua pengganti Friski sudah mengumpulkan semua anggotanya di markas yang sangat luas. Tadi sebelum mereka tiba di markas, sang Ketua sudah menggiring anggotanya mengunjungi makam Friski.
Akhir beranjak dari duduknya, lalu dengan kepercayaan diri diatas rata-rata, ia berdiri di podium kecil yang ada di markas dengan senyum lebar. “Adek adek gemes gue, cieee udah lulus.”
“Pedopil Akhirat.”
“Ho'oh, gue jadi ngeri ternyata Akhir belok.” Ivan menimpali ucapan Rafka.
“Salahin Queen Keyra lah bikin Ketua kita belok.”
“Hehehe.”
“Akhirat lu beneran belok?” Tanya Rafka memastikan.
“Bener tuh belok!” Sahut Revan menggebu. “Kemaren gue liat Pak Ketu gandengan sama Bang Jay.”
“Jay?” Beo Piano, teman kelas Revan.
“Itu loh alumni seangkatan Bang Akhir yang punya gelar ‘suka laki suka perempuan’.” Ungkap Revan memanasi.
Piano melongo, “Serius? Adu pedang dong Bang Akhir sama Bang Jay, kek gimana?” Tanya Piano polos.
Polos polos bancat.
Memang benar ya gosip di sekolah jika Revan dan Piano ini kalo sudah bersama, akan heboh apalagi jika tengah menggosip kan sesuatu. Buktinya keduanya bersuara keras tanpa memedulikan Ketua mereka yang sudah berkali-kali membuang nafas kesal.
“Coba aja lo berdua adu pedang, biar ngerasain.” Cibir Rafka.
“NAJIS!”
“OGAH!”
“Awas jodoh,” celetuk Keyra.
Revan dan Piano saling melirik satu sama lain, lalu keduanya membuang muka setelah bergedik ngeri.
“Mending naksir Ola Biola, dibanding naksir si Babi.” Gumam Piano.
__ADS_1
Akhir menghela nafasnya kasar. Mereka ini ya gak ada sopan sopannya apa sama dia? Akhir kan Ketua mereka, berasa gak dihargai banget loh. Tapi Akhir memilih untuk tak ambil pusing.
“Dengerin gue, yang motong ucapan gue, silahkan push up seratus kali.” Semuanya diam, menunggu sang Ketua melanjutkan ucapannya. “Gue udah lulus setahun yang lalu, tapi masih menjabat sebagai Ketua Traavo, kali ini gue gak bisa lagi jadi Ketua kalian. Gue harus pindah ke Amsterdam buat ngelanjutin kuliah gue yang sempet tertunda. Revan sama Piano tolong berdiri di samping gue.”
Kedua nama yang terpanggil pun berdiri disamping Akhir sambil menggaruk tengkuk salah tingkah dipandang semuanya intens.
“Revan, gue serahin jabatan Ketua ini ke elo, walaupun lo bawel kek emak-emak, gue percaya banget lo bisa jadi pengganti gue.”
“Tapi Bang--”
“Traavo gaada musuh, tugas lo cuman mensejahterakan kehidupan anggota Traavo.”
“Lah lu kira gue pejabat Bang?!" Ketus Revan mulai berani. “Kenapa harus gue?”
“Bentar,” kini Akhir memandang Piano yang berdiri melempem. “Lo mau kan jadi Wakil Ketua?”
“Kenapa harus gue sih?” Pertanyaan yang sama Piano lontarkan. Ia sama seperti Revan, bingung njer.
“Singkat aja, lo berdua Sultan." Ucapnya jujur. “Kalo Ketua nya Revan dan Waketu-nya Ano, gue yakin Traavo gak akan bubar.”
Revan dan Piano langsung melototi Akhir yang terkekeh samar. Mereka jadi tau maksud Ketua mereka menyerahkan jabatan padanya.
Karena punya duit!
“Ber kidding anjaay baperan amat, Nak!”
Setelah hampir setengah jam berdebat, akhirnya Revan dan Piano menyetujui permintaan Ketua mereka saat ini. Markas Traavo semakin ramai, Rafka memeluk pinggang Keyra dari samping ketika istrinya itu asik berbincang dengan Ivan tentang musik.
Pandangan semua orang didalam markas, tertuju pada Ivan yang sedang memetik senar gitarnya.
“Dalam suasana baru.”
Keyra
Dengarkan hatimu.
Pastikan pilihanmu
Esok mentari 'kan datang
Bawa sejuta harapan
Kita jumpa disana
Berbagi bersama
Dan kita tahu
pelangi yang satukan kita
Semua pemuda disitu terpesona pada suara Ratu mereka. Rafka sang suami pun antara bangga dan kesal sendiri ketika istrinya dipuji oleh orang lain.
All
Buka kita buka hari yang baru
Sebagai semangat langkah kedepan
Jadi pribadi baru~
End~
Maksudnya ending SMK nya, tinggal konflik nikahnya asek bentar lagi end:b
__ADS_1
sorry berbelit-belit, udah jalan nya gini, gak bisa diganggu gugat
Seeeeeyou!