Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Manis Dan Miris


__ADS_3

Ketika kamu pergi, ada yang menunggu kamu pulang. Ketika kamu pergi, ada yang inginkan kamu kembali. Sadarkah itu aku dan anakku?


...🐤🐣🐥...


Mobil Akhir berhenti di depan apotik yang masih buka, ia turun dari mobil setelah Keyra memintanya untuk membelikan minuman disamping apotik.


"Capek juga ya pura-pura tegar?"


Dengan kepala yang disandarkan, Keyra memandang lurus jalanan yang nampak sangat ramai. "Terhianati dan tertipu bertahun-tahun dan baru terungkap sekarang itu rasanya bikin lemes banget ya?"


"Aku salah apa? K-kenapa harus kamu yang nyakitin aku, Af."


Keyra menggertakkan gigi untuk meredam isakan-nya. Kejadian hari ini benar-benar sangat menguras energinya.


Keempat orang yang sangat berharga dihidupnya meninggalkan dirinya dalam sepi. Keyra tak tahu mengapa ia mengetahui perselingkuhan Rafka dan Shahila disaat orangtua serta adiknya baru saja dikebumikan.


Pintu bagian kemudi terbuka, Keyra meraih botol mineral yang Akhir sodorkan padanya. "Makasih."


"Kamu mau coba ini?" Dahi keyra mengernyit begitu Akhir menunjuk`kan benda kecil kepadanya.


"T-testpack?"


Akhir mengangguk kecil.


"Gak perlu. Hasilnya pasti tetep sama, garis satu." Ujar Keyra minder.


"Coba aja dulu, nih kamu simpen."


Keyra menghela jengah begitu Akhir menaruh testpack itu di dekatnya.


"Kamu ikut aku pulang ya?" Keyra mendengus ngeri, namun ucapan Akhir selanjutnya membuat ia tersenyum senang. "Ada Nana sama Rivan lagi nginep dirumah aku, dan testpack ini aku harap kamu pake besok pagi."


"Anterin ke makam."


"Udah tau parnoan, sok-sokan mau ke makam jam segini. Besok aku janji anterin kamu ke sana." Ujar Akhir serius. "Muka kamu pucet butuh istirahat."


Keyra mengangguk. "Laper," keluhnya.


Akhir terkekeh, ia lantas menginjak pedal gasnya hingga mobilnya meninggalkan area apotik.


...🐤🐣🐥...


"Kak Keyra!"


Tiba dirumah Akhir, keduanya disambut teriakan kecil Nana.


"Hati-hati, sayang!" Tegur Rivan pada Nana yang berlari mendekati Keyra dan Akhir yang baru saja membuka pintu. Ia khawatir anaknya akan terguncang didalam perut Nana yang bar-bar.


Keyra terkekeh menyambut pelukan Nana. "Aku kangen banget sama Kakak!"


"Dek, siapin makan buat Keyra ya? Dia belum makan dari tadi." Akhir menarik pelan tangan Keyra agar terlepas dari pelukan Nana. Ia menggiring tubuh wanita itu ke meja makan.


"Dih kok lo ngejadiin bini gue babu sih? Nana lagi hamil ya!"


"Emang kenapa kalo lagi hamil?" Bukan Akhir yang menjawab melainkan Nana sendiri. "Cuman nyiapin doang Mas. Mbak Titin kan kalo malem udah balik ke rumahnya."


"Ya tapi kan--"


"Pan, keruang kerja gue." Titah Akhir menunjuk lantai atas agar Rivan mengikuti langkahnya. Rivan mengangguk, sebelum mengikuti langkah Akhir, ia mewanti-wanti istrinya agar tak melakukan hal yang berlebihan.


"Gue ambil sendiri aja Na," Keyra berjalan mendekati wastafel dan mencuci wajah serta tangannya. Ia berbalik hendak mengambil piring namun Nana lebih dulu menyiapkan piring berisi makanan serta air putih diatas meja. "Si bumil gercep banget ya," kekeh Keyra.


Nana ikut terkekeh, ia duduk disebelah Keyra sambil menatap wajah Kakak iparnya itu sendu. "Kakak kenapa? Ribut lagi sama Tante Ana? Biarin aja orang kek gitu mah Kak, nanti kesel sendiri," cerocos Nana.


Keyra meneguk minumnya lalu menggeleng. "Gak kok gaada yang ribut."


Setelah menghabiskan makannya, Keyra dan Nana sepakat berada di kamar tamu yang biasa ditempati Nana dan Rivan saat menginap dirumah Akhir. Nana merebahkan diri disamping Keyra yang nampak murung. "Mau cerita?"


Keyra menyenderkan punggungnya dikepala ranjang, matanya terpejam erat. "Afka bentar lagi bakal punya anak."


"Wah serius? Alhamdulillah ya Allah, penantian Kakak sama Bang Rafka selama ini akhirnya membuahkan hasil."


"Gue gak mau dimadu, Na." Keyra tersenyum miris, kilas balik saat Rafka menghinanya perempuan tak guna membuat hati kecilnya tercubit. "Gue benci penghianatan."


Nana menutup mulutnya tak percaya. Ia menatap Keyra, "Gak mungkin! Selama ini Bang Rafka cinta banget sama Kakak!"


"Iya kakak lo cinta banget sama gue. Dan..."


Sayangnya itu cuman pura-pura.


"Dan apa kak?" Tanya Nana penasaran. "Tapi aku sedikit curiga sama Bang Rafka dan Tante Ana deh, Kak."


Keyra menaikan alisnya. "Curiga gimana?"


"Gini, dua bulan lalu aku ngeliat Bang Rafka gandeng perempuan yang manja banget di mall. Ada Tante Ana juga disana, kayak akrab banget sama perempuan ganjen itu!"

__ADS_1


"Terus lo minta kejelasan siapa cewek itu?" Tanya Keyra cepat.


Nana menggeleng lemas. "Abis itu aku pingsan, dan aku lupa nanya ke Bang Rafka."


Keyra mengangguk mengerti. Kemudian Nana beranjak meninggalkan keyra sendiri menuju kamar sebelah setelah Rivan memanggilnya.


Keyra menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dalam diam, dia menangis tanpa suara.


Katanya kamu benci Tante Ana, Af. Kok akrab? Batinnya miris. Terimakasih lukanya, aku kenyang banget sampai rasanya pengen muntah.


Pukul enam pagi, Keyra terbangun dari tidurnya. Ia meraih testpack yang tersimpan diatas nakas. Kemudian menggunakannya sesuai petunjuk. Beberapa detik dia menunggu dikamar mandi, hingga garis dua muncul di benda kecil tersebut.


Iya dua garis. Keyra tak bisa menahan tangisannya antara sedih dan terharu.


Dadanya sesak mengingat panjangnya penantiannya, telah membuahkan hasil yang manis sekaligus miris.


Kamu hadir, sayang? Makasih udah hadir di saat orang-orang yang Mama sayang meninggalkan Mama.


Keyra membersihkan diri sebelum keluar dari kamar mandi. Raut wajahnya tak sekelam semalam. Ia mendudukan diri disebelah Akhir yang kosong, menatap ketiga manusia yang juga sedang menatapnya. "Gue hamil,"


"SERIUS KAK?"


"What Key?" Timpal Rivan yang juga sama terkejut seperti istrinya. "Gue harus datengin Rafka curut sekarang juga!"


"Lo kesana sama aja ngehancurin gue, Pan." Kalimat Keyra seolah membius ketiga orang itu. "Kalian mau ngedrama sama gue?"


"Maksudnya?"


Keyra memandang Rivan. "Gue minta lo sama Nana tinggal disini sampai anak gue lahir. Dan Akhir, lo mau pura-pura jadi Ayah anak gue kan?" Tanya Keyra penuh harap. "Gue bakal ngerepotin kalian selama 9 bulan kedepan. Gue bayar kok dirumah lo Akhirat, boleh kan? Gue sekarang sendiri. Orangtua gue dan adik gue meninggal, gak mungkin gue tinggal bareng Kakak gue yang udah punya keluarga masing-masing."


Hati gue terlanjur sepi, gue jadi gak suka suasana yang sepi.


Nana lantas memeluk Keyra erat. "Apapun buat Kakak, Nana pasti turutin. Kita bertiga keluarga Kakak jadi jangan ngerasa ngerepotin. Kita bakal bikin Bang Rafka panas liat istri tercintanya punya anak dari Bang Akhir."


Keyra tersenyum miris. Lo salah besar, Na. Gue tau Afka gak akan panas tau gue punya anak dari orang lain. Gue cuman mau anak gue gak sakit hati kek gue karena perlakuan dan ucapan Afka.


🐥🐣🐤


Ponsel Akhir bergetar, Akhir memandang layar ponselnya menimbang. "Aku boleh izin sebentar?”


“Kemana?”


“Kerumah Mama.”


Keyra mengangguk tanpa menolak. Lalu


*****


Sesampainya dirumah Cakra, Akhir langsung masuk kedalam untuk menemui sang Mama. Langkahnya terhenti begitu melihat Mamanya yang sedang berdiri membelakangi dirinya sambil berbicara melalui telpon.


“Bagus dong rencana kita gak sia-sia. Tante gak sabar punya menantu seperti kamu.”


“...”


“Oh pasti nanti kalo kamu udah jadi istri sah Rafka, kita berdua shoping bareng. Tante bosan sama Keyra yang gak pernah mau diajak tante.”


“..."


“Oke byee,” kemudian ia memutuskan sambungan tersebut sambil tersenyum puas.


“Mam,"


Ana membalikkan tubuhnya.


Secepat kilat wanita paruh baya itu mendekati Akhir yang baru datang dan mengecup pipi anaknya itu.


“Gimana, kamu seneng bukan akhirnya bisa bersama wanita pujaan kamu yang mandul itu?”


Akhir tak bodoh, rahang pria itu mengeras, jadi semua ini ulah Mama nya sendiri? Pikir Akhir.


“Kenapa Mama tega ngelakuin ini semua?”


“Ngelakuin apa maksud kamu?”


Mamanya duduk diatas sofa dengan kaki menyilang, Akhir ikut duduk sambil menatap wanita yang sudah melahirkan nya itu.


“Akhir gak mau basa-basi, Mam.”


Ana tertawa melihat anaknya seperti itu. “Mama udah capek jodohin kamu sama anak temen-temen Mama, tapi kamu selalu nolak dengan alesan belum siap?”


“Akhir emang gak siap, Mam...”


"Kalo Keyra udah jadi janda, kamu siap untuk menikah?”


“Mam--”

__ADS_1


“Jangan kamu kira Mama bodoh, Akhir. Setiap kamu sakit, selalu nama Keyra yang kamu sebut. Mama sedikit gak rela anak Mama mencintai wanita cacat kayak Keyra.”


“Jaga omongan Mama!” Akhir reflek membentak Mama nya. Ana yang baru ini dibentak oleh anaknya sendiri pun matanya berkaca-kaca. Akhir yang melihat pun mengacak-acak rambutnya lalu bergerak memeluk tubuh Mama nya. “Mam Please, Akhir gak mau Mama ngomong gitu tentang Keyra.”


Ana tersenyum tipis.


“Mama ngelakuin ini buat kamu dan Rafka. Kamu mendapatkan wanita yang kamu cintai, dan Rafka dapet anak yang udah dari dulu ia idamkan. Mama baik bukan?”


Akhir menggeleng tak setuju. “Cara Mama yang salah, kasian Keyra tertekan Mam."


“Nah itu mah tugas kamu bikin dia gak tertekan,” ucap Ana enteng. “Udah akh Mama mau ketemu temen-temen Mama dulu.”


Akhir diam ditempat, memandang punggung Mamanya yang sudah menghilang dari balik pintu, meninggalkan dirinya sendiri.


“Keyra gak mandul, Mam. Gara-gara rencana Mama yang berhasil itu, Mama memisahkan anak dari Ayah kandungnya.” Rahangnya mengetat, Akhir benci dirinya sendiri “Sekarang gue harus gimana? Kalo gue ngasih tahu semuanya ke Rafka, Keyra pasti marah besar sama gue."


"Sebelas tahun yang lalu, Mama ngerebut Om Cakra dari Tante Rini. Sebelas tahun kemudian, Mama sukses jauhin Rafka dari calon anaknya. Kenapa Mama tega?"


****


“Anda memang tengah mengandung, dan janin anda berusia 5 minggu, selamat ya Bu.”


Keyra tersenyum haru sambil mengusap sudut matanya yang berair. Sekilas, ia menjabat tangan dokter tersebut.


“Tapi..”


Kerutan didahi Keyra menandakan jika wanita itu sedang bingung. “Tapi apa dok?”


“Bu terpaksa saya harus mengatakan ini. Lebih baik Ibu menggugurkan kandungan Ibu, demi keselamatan Ibu.”


Mata Keyra menajam, memandang tak suka wanita tua berjaz putih khas dokter itu. “Saya kesini untuk menanyakan kandungan saya, bukan untuk aborsi!"


“Sudah 11 tahun saya menanti ini dok, bagaimana anda tega bicara seperti itu pada saya?”


"Bu maaf sebelumnya kalo ucapan saya tadi terkesan tidak sopan. Namun begini, anda mengidap penyakit ginjal kronis."


Keyra tak terkejut, ia sering merasakan lelah, hilang fokus dan susah tidur. Yang kata google merupakan ciri-ciri pengidap penyakit gagal ginjal. Keyra masih memandang dokter di depannya dengan tajam.


“Ada hubungannya sama janin saya?”


Dokter itu mengangguk. "Wanita yang mengidap gagal ginjal biasanya disarankan menghindari perencanaan kehamilan. Tingkat komplikasinya sangat tinggi, Bu. Risiko untuk Ibu dan keselamatan kehamilan juga sangat tinggi.”


“Tadi Ibu bilang sudah menikah 11 tahun, dan baru kali ini diberi momongan? Nah itu, wanita dengan gangguan ginjal berat memiliki kesulitan terbesar untuk hamil, tingkat tertinggi dari keguguran, dan hasil kehamilan sukses yang minim." Dokter itu memandang Keyra yang menyimak. "Anda sedang hamil, berarti anda perlu pengawasan medis yang ketat, perubahan dalam pengobatan, dan lebih banyak dianalisis untuk memiliki bayi yang sehat.”


“Pada ibu hamil dengan penyakit ginjal kronis, struktur dan fungsi ginjal mengalami kerusakan sehingga ginjal tidak dapat beradaptasi dengan kehamilan seperti pada umumnya dan mengalami peningkatan risiko bagi ibu maupun janin, termasuk dalam penurunan yang cepat dari fungsi ginjal sehingga dapat menyebabkan kematian.”


Keyra memejamkan matanya kuat.


Kematian?


“Tolong ya Bu untuk menghindari lingkungan asap rokok, lakukan pola hidup sehat dan rajin memeriksakan ke dokter untuk mengontrol kesehatan Ibu.”


Keyra mengelus perutnya yang masih rata, sambil mengangguk tanpa membuka matanya. “Baik dokter saya paham, saya akan rutin kerumah sakit dan menjaga pola makan saya... Tapi tolong jika nanti suami saya datang, dokter katakan saja pada dia bahwa kondisi saya dan janin saya baik-baik saja.”


“Tapi Bu--"


“Tolong saya dok..."


Dokter itu mengangguk, iba melihat wajah Keyra yang pucat pasi.


“Oh iya dok, apa anda kenal dengan dokter Rafka Kalandra, anak dari almarhum dokter Rini?”


“Kenal dong, Bu. Dokter Rini kan pemilik rumah sakit ini, kalo dokter Rafka baru kemarin dia dan istrinya datang ke sini untuk memeriksakan kandungan istrinya.”


Ada yang nyeri, tapi bukan nyeri sendiri. Hati Keyra yang nyeri mendengarnya.


11 tahun menyandang gelar sebagai istri Rafka Putra Kalandra, Keyra tak pernah menginjakan kakinya dirumah sakit milik mertuanya sendiri. Karena jika ia tengah sakit, Rafka yang akan memeriksa dan mengobatinya ataupun menyuruh rekan sesama dokternya untuk memeriksa Keyra.


Keyra juga malas jika berada dirumah sakit, bau obat-obatan membuatnya muak.


Lima menit dokter itu kembali berbincang dengan Keyra, sebelum pria yang memakai jas hitam masuk keruangan itu. Pria itu duduk disamping Keyra sambil tersenyum lebar.


“Gimana keadaan kandungan istri saya dok?”


Dokter itu sekilas melirik Keyra sebelum akhirnya mengangguk. “Kondisi kandungan istri anda baik-baik saja, Pak. Saya sarankan agar Bapak bisa membantu Ibu Keyra untuk menjaga pola makannya. Dan jika anda seorang perokok, jangan merokok didepan Ibu Keyra agar calon bayi kalian baik-baik saja.”


“Alhamdulillah,” ucap Akhir penuh syukur. “Baik dok, saya gak akan merokok didekat istri saya. Terimakasih, kami permisi.”


Dokter paruh baya itu mengangguk, mempersilahkan keduanya berlalu.


“Kasian, mana masih muda.”


TBC


Tandai typo, like komen n paporitnyaaaaaa

__ADS_1


makaseh


__ADS_2