
Happy Reading!
...Kalo gak pro, gak usah sok jago,...
...Ya kawan:v...
...~Keyra Naura~...
Keyra masuk kedalam kamarnya lantas mengunci pintu. Kamarnya masih sama, terdapat banyak debu yang menempel di jendela nya yang langsung mengarah pada pintu balkon kamar Rafka.
Iya, kadang jika ia tengah menghirup udara, Keyra tanpa sengaja sering melihat Rafka yang sedang rebahan di kasurnya sambil mendengarkan lagu Barat dan Jepang.
Jarak rumahnya dengan Rafka memang sangatlah dekat.
Keyra duduk di meja belajarnya sambil meraih buku hariannya di laci. Ia mengusap buku bersampul bunga itu pelan, lantas membuka lembaran demi lembaran yang isinya ditulis oleh dirinya.
“Buset gue alay banget dulu make nulis ginian lagi,” gumamnya pelan. “Buang aja kali ya ni buku?”
Gadis itu beranjak hendak menutup jendela kamarnya yang terbuka. Atensinya langsung menangkap pintu balkon kamar Rafka yang terbuka. Disana --Rafka beserta teman-teman nya sedang bermain game online dengan suara yang tak bisa dikatakan kecil.
Namun, yang nampak menonjol disana itu Friski, pemuda itu duduk sambil memegang dadanya, raut wajahnya terlihat kesakitan. Tak ada yang menyadarinya, karena semua sibuk dengan ponsel masing-masing.
Tak berapa lama, raut Friski sudah biasa saja dan bahkan kini sedang tertawa bersama teman-temannya yang lain, walau mata mereka masih fokus dengan pacar kedua mereka --smartphone.
Suara adzan Isya berkumandang, setelah menutup jendela, Keyra masuk kedalam kamar mandinya untuk berwudhu. Tak lama kemudian, ia keluar dan berjalan menuju lemarinya, mengambil mukena berwarna marun yang sudah lama tak dipakai. Selepasnya, ia menunaikan kewajiban shalat Isya dengan khusuk.
8 menit kemudian
Selesai shalat dan berdoa, Keyra merebahkan tubuhnya di kasur sambil guling-guling. Perut bagian bawahnya tiba-tiba terasa sakit hingga membuat Keyra memekik dalam hati. Ia mengatur nafasnya kemudian terlelap.
*****
“Ngapain dia disini sih Bang? Apa keluarganya gak terima Keyra lagi karena dia tuh pembawa sial?!” Alisa mengaduk-aduk nasinya. Mood-nya sudah hancur sejak keberadaan Keyra disini. Bertambah dengan Andra yang selalu melirik nya sedari tadi, membuat Alisa risih saja.
“Lo ngapain sih ngeliatin gue mulu? Naksir ya lo sama gue?” Tuduh Alisa.
“Emang,” balasnya cuek.
“Gue gak suka sama Om-Om, jadi mending lo mundur aja!“ Ujar Alisa menggebu-gebu, ia memakan nasi goreng seafood yang tadi dipesan oleh Andra melalui aplikasi online.
“Yang nyuruh kamu suka sama saya itu siapa?” Andra sebenarnya gugup, entah mengapa rasa gugupnya tertutupi saat ia berbicara formal dengan Alisa.
“IHH NYEBELIN BANGET YA LO!”
“Lisa kecilin suara kamu! Istirahat Keyra bisa keganggu. Hargain Andra, dia temen Abang!”
Alisa berdecak, ia mengatur napasnya lantas memakan makanannya dengan tenang.
Ponsel Garen berbunyi, pria itu beranjak dari duduknya menuju teras kemudian mengangkatnya disana.
Alisa mengerutkan keningnya, mengapa hanya mengangkat panggilan saja, harus keluar rumah? Pikir Alisa sedikit curiga.
“Heh Om, Abang gue kenapa ngangkat telfon aja di teras? Siapa sih yang nelfon?”
Wajah Andra langsung datar, ia tak suka pujaan hatinya terus-terusan memanggilnya dengan sebutan ‘Om’. Memangnya ia setua itu apa?
“Bisa sopan dikit kamu sama saya?” Bukannya menjawab, Andra malah balik tanya.
Alisa menggeleng polos, “gak!"
Di luar..
“Selamat malam Om,” sapa Garen begitu panggilan terhubung.
“Malam.”
“Ada keperluan apa Om Davin menelfon saya?”
__ADS_1
“Anda sibuk?” Tanya nya balik.
“Tentu tidak,” tumben ni orang sibuk pake basa basi. “Ada apa ya Om?"
“Jam 12 siang, saya tunggu di kantor saya.”
Apalagi? Batin Garen.
“Baik Om." Tapi, tapi besok ‘kan weekend! Batinnya menggerutu
Sebelum panggilan berakhir, Garen memilih kembali berucap. “Om Davin, jika diperbolehkan, saya ingin Keyra menginap dirumah ini sampai hari senin," ujarnya ragu-ragu.
“Silahkan,” Garen terdiam sejenak.
“Bukannya Om Davin ngelarang keluarga gue buat deket-deket sama Keyra lagi? Kok dia sekarang ngizinin?” Batinnya bertanya.
“Senin antar putri saya sampai Andromeda tanpa lecet sedikitpun.”
“Andromeda? Keyra sekolah di SMK Andromeda?”
“Ya.”
Tut tuuttt
Sambungan terputus secara sepihak.
Garen lekas menuju kamarnya yang berada di lantai bawah, menghiraukan panggilan Alisa yang menyuruhnya untuk melanjutkan makan malam. Ia duduk di tepi ranjang setelah mengambil laptopnya dan memeriksa sesuatu, Garen membuka data terbaru kelas sepuluh Akuntansi dengan cermat, kegiatannya terhenti begitu melihat nama Keyra yang terpampang di tabel kelas X Akuntansi 3.
“Kok gue baru tau ya? Ah sial.”
★★★★★
Keyra terbangun saat perutnya terasa melilit, ia ingin turun kedapur untuk mengambil minum, namun rasa takut mendominasi nya saat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 23:50 WIB, jelas gadis itu tak berani untuk turun walau tenggorokan nya terasa kering. Pasti dibawah sudah gelap karena biasanya, Garen akan mematikan seluruh lampu terkecuali lampu kamar mandi di jam 11 malam.
Keyra merasakan tubuhnya berkeringat, padahal tidak biasanya ia kepanasan, mungkin hujan akan turun makanya Keyra merasa gerah.
Kleek
Begitu jendela besar itu terbuka, Keyra langsung menangkap siluet Rafka yang sedang berdiri di balkon kamar nya, menatap keatas tepatnya langit yang gelap tanpa adanya bintang. Sepertinya memang benar hujan akan turun.
Pandangan Rafka langsung tertuju pada Keyra. Keningnya berkerut, matanya membola sembari kakinya melangkah mundur seperti ketakutan melihat wajah Keyra.
“Awas kepentok tembok Af, ” ucap Keyra mengingatkan.
Rafka seperti tersadar, “Ra? I.. Ini beneran lo bukan dedemit ‘kan?"
Keyra diam, ia hanya menatap Rafka tanpa ekspresi.
“Mundur Ra.”
"Ha?"
“Mundur Naura!" Keyra terpaksa mundur satu langkah, ia melongo begitu Rafka melompat dari balkon kamarnya dan mendarat tak sempurna di dalam kamar Keyra.
Iya tak sempurna, pasalnya cowok itu membuat Keyra terjatuh hingga terlentang di lantai. Untungnya balkon kamar Rafka dengan jendela kamar Keyra itu tak terlalu jauh jaraknya.
“Adohh remuk badan gue,” Keyra memegang pinggang nya yang terasa sakit, lalu mendorong tubuh tinggi Rafka yang masih menindih tubuhnya. “Kalo gak pro, gak usah sok jago shia!”
“Gue pro ya, cuman lagi ketiban sial aja.” Rafka merebahkan tubuhnya di kasur Keyra. Gadis itu langsung melotot tak terima. Sebelum mendekati Rafka, ia memilih menutup jendela kamarnya karena takut ada yang melihat keduanya berada di ruangan yang sama.
“Lo kebiasaan banget tidur dikamar gue, kamar lo emang kebanjiran sampe lo ngungsi kesini?” Keyra menarik tangan Rafka agar cowok itu bangkit dari ranjangnya. Tapi bukannya bangkit, Rafka malah menarik Keyra hingga gadis itu juga terlentang di atas kasur. “Kita tuh musuhan ya dari kecil! Gaada yang namanya musuhan itu deket-deket kek gini!”
“Napa sih? Dari kecil juga kita sering tidur bareng kalo gue pengen,” Rafka memiringkan badannya hingga menghadap Keyra yang tengah menatapnya.
Duh otak gue trapeling! Batin Keyra.
“Sekarang kita dah gede Afka!” Cetus Keyra sewot. “Lo ngomong ‘pengen’ gitu ambigu tau!”
__ADS_1
Tok tok
Rafka mengetuk kepala Keyra seperti mengetuk pintu saja, “Ini di dalem ada jin mesumnya?”
“Keluar dong, gue pengen tau lo cakep apa burik.”
“Dih apaan absurd bat lo.”
Keduanya sama-sama diam, menikmati suasana yang sepi sembari menatap langit-langit kamar. Hujan deras turun begitu saja membasahi bumi.
“Lo gak bilang nginep disini?"
“Emangnya lo siapa gue?”
“Majikan dong, masa lo lupa?!”
“Lupa dong, masa harus di inget?!”
Rafka gatal ingin mengarungi Keyra dan membuang gadis itu ke jurang, Lama-lama gadis ini begitu menyebalkan.
“Gimana kabar cowok yang lo bully sama Ipang? Dia gak kenapa-kenapa ‘kan?”
“Gue mau balik.”
Lo belum jawab pertanyaan gue shia! Dighosting pas lagi gini ternyata gak enak.
Keyra mencekal tangan Rafka yang akan kembali melompat dari jendela, ia menarik kasar lengan cowok itu sambil membuka pintu kamar yang terkunci, lalu menuruni anak tangga dengan pelan. Sebelum benar-benar keluar, ia menyalakan lampu supaya tak gelap.
“Ngapain make lewat pintu sih? Kelamaan Ra.”
Keyra membuka kunci pintu utama lalu mendorong punggung Rafka agar keluar dari rumahnya.
“Itu kalo lo selamat. Tapi kalo jatuh? Isi kepala lo bisa keluar woee gue bayanginnya aja udah merinding.”
“Lo khawatir sama gue?"
“Gak!”
“Cie cie gue tau kok lo khawatir sama gue.”
Keyra mati-matian menutupi rona di kedua pipinya, ia membuang muka kesamping dimana rumah Rafka berada. “Bang Friski sama lainnya mana? Kok gaada suaranya?"
Hujan masih turun, tapi Keyra tak peduli jika Rafka akan kehujanan.
“Mati kali,”
“Serius.”
“Malam minggu kalo lo lupa,” Rafka menatap Keyra intens. “Gue yang lupa kalo lo ‘kan jomblo gak pernah keluar pas malming, beuh ngenes bat temen gue ini.” Ia mengacak rambut Keyra dengan memasang raut menyebalkan.
“Fix gue besok mau nyari cowok yang gak burik kek lo, awas aja gue pamer ntar!”
Brakk!
Keyra menutup pintu keras, meninggalkan Rafka yang terkekeh keras.
“Dasar jones.”
TBC
Tandai typo, tandai pengetikan terlalu bertele-tele. Aing butuh krisan nya :v
Like, comen n Favorit dong:v
masih lanjut tapi...
MAU HIATUS SEBULAN:V
__ADS_1
see you kawand!