Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Perebut?


__ADS_3

“Dih rumit banget.”


Keyra membalikan badannya, ia bisa melihat ada 10 remaja berpakaian rapih tengah berdiri menghadapnya dengan Afka yang paling menonjol, memakai kemeja berwarna biru laut yang coraknya mirip dengan gaunnya.


Keyra heran, mengapa ada Zee, Adel dan satu orang gadis yang tak asing baginya. Keyra menepuk ujung lututnya yang kotor akibat pasir lalu ia berdiri dengan menggenggam tangan Raga yang seperti nya mulai mengantuk.


“Kalian ngapain disini?” Tanya Keyra saat ia dan Raga sudah berdiri di depan sepuluh remaja yang ia kenali itu.


“Cewek feminim gini yang jadi Queen Traavo? Gue kek gak asing sama wajah lo.” Masih sama, nada bicara gadis itu masih sinis kepada Keyra.


Keyra tak peduli dengan Adel, ia memilih memandang Akhir. “Akhirat, lo bawa mobil? Nitip Raga dong, harus bawa dia pulang ke rumah. Kalo sampe ni bocah lecet sedikitpun, urusannya sama Papa,” ancam Keyra membuat Akhir tersedak ludahnya sendiri, bagaimana gadis itu bisa tahu dirinya membawa mobil?


Akhir tak ambil pusing, ia menarik Raga kedalam gendongannya, bocah itu memang mengantuk. Sekarang ini jam menunjukkan pukul 21:32 WIB. Biasanya Raga terlelap di jam 9 malam.


Setelah keduanya berlalu, tangan Keyra terulur menjabat tangan Adel dan Zee secara bergantian. “Gue Keyra, cewek yang di bully dan di sebut pelacur waktu istirahat di kantin SMK, salam kenal.”


Terlihat bahwa Adel dan Zee terkejut, Keyra hanya menatap gadis satunya lagi yang sepertinya sangat lengket dengan Ivan. “Lo Lia?”


Si empu lantas melirik Keyra,


Keyra yang pas SD kurus itu? Xianjiirr.


Lumayan bisa di manfaatin kalo gue temenan ma dia!


Lia memasang senyum riangnya, ia menjabat tangan Keyra lalu memeluk Keyra sebentar. “Ho'oh gue Lia, keyyyy. Sejak lulus SD, gue coba buat temenan sama lo loh, tapi lo nya lengket banget sama Aura dan Hila, padahal temenan ma lo kan asik, seru gitu.”


Keyra mencibir dalam hati, seru apanya? Berteman sama gue tuh sumber penderitaan tau!


Keyra terkekeh dalam hati ketika Lia kembali menempel pada Ivan. Suka kah?


Kini tatapan gadis itu teralihkan pada teman-teman cowoknya. Tumben sekali mereka hanya diam dan memandangnya. Pikirnya.


“Ini kenapa pada diem-dieman doang? Gue ngikut Akhirat ajalah, dingin tau!” Keluh nya.


“Heh enak aja, kita udah nungguin lo berjam-jam, tapi balesan lo gini?” Ucap Adel ngegas.


“Ya emang gue nyuruh kalian nungguin gue, disini? Woe, gue tau mau dibawa kesini aja, kagak!"


“Mana laper lagi!” Sambungnya.


“Makan tuh pasir! Kek gembel aja lo.”


"Udah sih ngapa jadi ri--”


“Diam!” Bentak Keyra dan Adel kompak, memotong ucapan Rafka yang langsung berdecak dan mengambil alih lengan Keyra. Ia menyentil kening gadis itu pelan.


“Gini nih kalo bawa cewe lain, mereka tuh ribet, gampang emosi kalo ketemu sejenisnya. Udah gue bilang cukup kita-kita aja yang kasih kejutan ke Keyra!”


Kejutan apaan emangnya?


“Kok lo jadi nyalahin kita bertiga sih, Pang?


“Kan harusnya tadi kalian juga gak maksa buat ikut! Gue udah sabar ya liat perdebatan kalian yang bikin kuping gue hampir katarak!” Kini Friski angkat suara, ia setuju dengan ucapan Ivan tadi. Memang ya, cewek itu berisik!


“Gaje banget lo pada, salah lo juga sih Del yang nyari gara-gara terus,” timpal Rivan.

__ADS_1


Bian menghela nafasnya lelah, “pulang aja sono lo pada.”


“Dih semua aja nyalahin kita bertiga! Bye, kita pergi aja.” Adel yang ngambek pun menarik kuat lengan Zee dan Lia hingga keduanya meringis.


Adel sialan!


“Ini kenapa sih kita disini? Bingung gue ama kalian, aneh.” Ungkap Keyra.


“Mau rayain ultah lo dong!”


Keyra mengernyitkan dahinya, “ultah? Ini bulan apaan emang? Lo semua pada mabok makanya ngelantur hah?! Gue mau pulang aja, ayok anterin gue!” Keyra menatap keenam pemuda di depannya dengan tatapan nelangsa. Ayolah, dia tak bisa pulang jika hanya mengandalkan seorang Ervin.


“Ultah lo yang ke lima belas, Key, lo mau pulang? nanti, setelah kita rayain di dalem resort Omah-nya Bian.”


Gadis bermata amber itu langsung melepaskan genggaman tangan Rafka pada lengannya. Ia menghela napasnya kesal, “jadi ini alesan lo minta gue buat ikut Rey, Af?”


Rafka tak mengangguk dan tak menggeleng, pemuda itu hanya diam tak bersuara.


“Kalian ngerencanain ultah gue yang ke 15 tahun kek gini? Di pantai? Dan lo Rey, kalo niat awal lo bawa gue tuh kesini, kenapa gak titipin Raga ke Bunda sama Papa? Dia masih bocah 7 tahun, fisiknya gak sekuat kita-kita. Lo bawa ketempat ginian pas malem? Ngotak anjing!”


“Heh ngomongnya!” Rafka mencubit pipi Keyra keras, wajah gadis itu pucat. Keyra melirik dengan sengit, “apa?!”


“Itu pun ultah gue dah lewat lima bulan yang lalu.. Kalian ngingetin gue sama kecelakaan waktu itu, lagian tanggung banget bentar lagi ultah gue yang ke 16.”


“Gue, b•e•n•c•i sama kalian!” Tekannya datar.


Haiss


“Key!” Raut mereka mendadak kaku.


“Padahal kita dulu gak sedeket ini, tapi kalian yang paling peduli sama gue. J-jujur, gue seneng banget kalian mau temenan sama gue yang pembawa sial ini.”


Semua nya menghela napasnya lega. Mereka kira, Keyra betulan membenci mereka. Raut yang tadinya lega, kini berubah panik saat melihat keyra limbung dan langsung jatuh kepelukan Rafka.


Rafka menepuk pipi Keyra yang terasa amat dingin, wajah pias gadis itu semakin membuatnya panik.


“Ini kenapa?”


“Bawa kerumah sakit terdekat cepetan!” Rafka menggendong tubuh mungil Keyra mengikuti jejak Friski menuju mobilnya. Setelah dirinya masuk dengan membawa Keyra kedalam pelukannya, Friski melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Shh,” suara ringisan kecil itu terdengar di mobil yang hening, Friski memperlambat laju mobilnya seraya sesekali melirik kebelakang.


Nampak Keyra yang berusaha bangkit sembari memegang kepalanya yang terasa sakit, Rafka yang memangku gadis itu langsung mengelus kepala Keyra pelan.


“Key lo gapapa? Sumpah gue gak tau kalo akhirnya bakal begini, maafin kita semua...” Ujar Friski.


“Lo kira gue selemah itu? Bawa gue pulang aja, ngantuk banget sumpah. ” Keyra masih merasakan pening, gadis itu juga kedinginan. “Bang matiin AC nya dong, dingin.” Friski langsung mematikan AC mobilnya. Sementara, Rafka mengecup punggung tangan Keyra yang dingin.


“A-apaan sih? Jauh-jauh lo!”


“Bacot, diem!”


★★★★★


3 hari kemudian

__ADS_1


Keyra tengah mengenakan rambut palsu serta memakai kacamata bulatnya. Ia sudah siap berangkat sekolah, namun kali ini ia ingin sendiri. Tanpa Ervin, Rafka atau siapapun itu yang biasa membonceng nya ke SMK.


“Pagi semua.”


Keyra sampai di meja makan, dimana Davin, Reva dan Raga tengah memakan sarapan dengan lahap.


“Pagi Kak Queen,”


“Pagi juga sayang.”


Keyra menaruh bekal yang Reva siapkan kedalam ranselnya. Ia duduk sambil memasukan sepotong sandwich kedalam mulutnya.


“Pah, hari ini Keyra bawa motor sendiri, boleh gak?”


Davin menyeka ujung bibirnya dengan tisu, pria itu menggeleng tanda protes. “Kamu sama Papa aja, Papa juga mau ke sekolah kamu, ada urusan.”


Yah, yah gue kan mau sendiri..


Reva membenarkan seragam yang dikenakan Raga sambil melirik Keyra. “Cuman rambut sama kacamata doang yang kamu pakai, Key?


“Sengaja, Bun. Keyra gak nyaman pake tahi lalat hehe.”


“Ada-ada aja kamu ini. Harusnya hari ini kamu jangan sekolah dulu, kejadian tiga hari yang lalu bikin Bunda jantungan tau! Anak-anak Bunda kok pada bandel ya?” Davin melirik istrinya itu tak mengerti, namun ia memilih menjadi pendengar obrolan istri dan anaknya itu.


Yang di maksud ‘anak-anak’ oleh Reva adalah Rafka dan yang lain. Waktu itu dia saja terkejut melihat keadaan putrinya yang cukup mengenaskan. Dengan wajah pias serta gaun yang kotor akibat pasir putih.


Untung saja Davin masih berada di hotel. Jika lelaki itu juga melihat keadaan Keyra semalam, pasti Davin tak akan mengijinkan untuk Keyra keluar malam lagi.


“Bun, jangan dibahas lagi please..”


Keyra begitu heran dengan Reva yang memang sudah tiga hari ini selalu membahas kejadian tempo hari.


“Bahas apa?”


Keyra meneguk salivanya gugup, ia memandang Reva sambil menggelengkan kepalanya berharap Bunda nya itu tak memberitahukan kejadian waktu itu pada Papanya. “Eh anu..”


“Ayo berangkat!” Seru Raga girang. Bocah itu lantas mencium pipi Reva. “Oh ya Bunda, anak haram itu apa ya?”


"Uhuk uhuk, ”


“Astaga!”


Setelah meneguk minuman yang disodorkan oleh Reva, Keyra meneguknya dengan rakus.


“Udah siang, sana berangkat akh Bunda mau siap-siap kerumah temen Bunda,” Reva mengalihkan pembicaraan, ia menggiring suami dan anaknya menuju pintu rumah utama mansion itu, dirinya lantas membalikan badannya yang langsung tegang saat iris matanya bertemu dengan iris kelam Ervin.


Pemuda itu berjalan menghampiri Reva, ia berhenti di samping Reva yang seperti patung. “Apakah anda masih bisa tersenyum diatas penderitaan Bunda saya?”


“Perebut!” Ervin melengos begitu saja tanpa memperdulikan ucapannya yang sangat menusuk Ibu sambungnya itu.


“Pe-perebut?”


LIKE COMEN N FAVORITNYA:V


Tandai typo, gak direvisi,

__ADS_1


oke gak dapet feel-nya sama sekali, dahlah:v**


__ADS_2