Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Ervin


__ADS_3

Dengan langkah yang tergopoh-gopoh, Indira berlari keluar dari ruang rawat Keyra. Gadis itu sudah koma selama enam bulan lebih dan Davin--- Pria itu sudah tau semuanya tentang keberadaan putri kandungnya yang selama ini tak ia ketahui.


Bahkan Keyra sudah dipindahkan dari kota Magelang ke Jakarta. Davin yang memindahkan semuanya agar gampang memantau kondisi putri tidurnya itu.


Banyak yang shock mendengar penjelasan dari Reva dan Indira waktu itu. Terutama Ervin sendiri, cowok berkulit putih itu menatap tampilan dirinya di depan cermin toilet.


Cowok itu tak menyangka jika dia ternyata menyukai adik tirinya sendiri. Ia bahkan menjadi pribadi yang sedikit berbeda dengan memacari banyak wanita. Tujuan nya hanya satu, menghilangkan perasaan nya pada Keyra yang malah semakin membuncah seiring bertambah nya waktu.


Cklek...


Ervin keluar dari kamar mandi tempat Kerya di rawat dengan rambut yang dibiarkan basah membasahi lantai itu.


Cowok itu duduk di kursi samping brankar Keyra dengan tangan yang menggenggam tangan mungil itu.


“Belum gue tenang karena tau lo sama Rafka udah tunangan.... Kata bokap, lo saudara gue, dan gue nggak terima itu semua Key.” ujarnya melirih.


“Lo kalo denger pasti geli. Gue aja jijik ngomong panjang lebar kayak gini,” sambungnya.


Ervin merenung seraya menatap wajah adik tirinya itu, tangan nya terulur mengusap dagu gadis itu.


“Kok bisa gue suka sama elo yang jutek sama kerempeng ini?” Tanya Ervin.


Memang dari awal Keyra tak pernah berbicara ramah dengan nya, namun saat Keyra tengah bersama kedua mantan sahabatnya itu, Ervin akan diam-diam mengamati wajah gadis itu yang memerah karena menahan tawanya.


Menurut Ervin, Keyra itu cantik dan menarik walaupun kerempeng, canda kerempeng.


“Ngapain lo pegang-pegang tangannya si Kekey, Vin?” Ervin spontan melepas tangan nya dan langsung menghadap kearah pintu.


“Cuma ngetes, siapa tau udah gak nafas lagi,” katanya Beralibi.


Rivan hanya ber oh ria sementara Rafka sedikit curiga dengan cowok itu. “Lo mau aja dibodohin si Ervin! Mana ada ngecek napas di tangan bukan di idung,” Rafka mengeplak kepala Rivan gemas. “Lah si iya baru sadar gue, bege banget sih lo.”


Friski memilih duduk di kursi samping Keyra saat Ervin beranjak dan duduk di sofa. “Cepet sembuh dong Keyra nya abang... Kalo lo nggak bangun, kasian para monyet yang kagak ada pawangnya.”


Diruangan itu hanya ada Rafka, Ervin, Friski, Ivan dan juga Rivan. Sementara yang lain masih sibuk dengan klub basket mereka di SMK.


Fyi: mereka sudah menginjak jenjang SMK dan bersekolah di tempat yang sama dengan Friski.


“Mentang-mentang udah punya cewe, jadi sombong ya gan,”


Friski hanya melirik sekilas Rivan yang menyindir dirinya.

__ADS_1


“Iya gan, mana ceweknya udah cantik, bohay lagi. ” ujar Ivan menimpali.


Rivan menoyor jidat Ivan, “bohay mulu pikirkan lo gan, inget ya Ipang otak mesum, nggak semua orang suka sama yang bohay,” katanya ngegas.


“Halah, kayak lo kagak suka yang bohay aja. Gue tahu tujuan lo macarin cewe-cewe yang lebih dewasa karena mereka bohay kan?”


.


Rivan gelagapan, “ya nggak gitu! Gue mah yang penting kagak kerempeng kayak si Kekey.”


“Gak ada bedanya boneka mampang!”


“Rumah sakit bukan pasar,” sindir Ervin.


“Yang bilang pasar siapa gan? ”


Rafka, cowok itu sedari tadi hanya diam menatap dari jauh dua jari Keyra yang nampak bergerak. Ia tak ingin terlalu berharap akan itu, karena 3 bulan yang lalu jari Keyra juga seperti itu namun tak ada perubahan sama sekali.


“Key, biarin gue cerita semua kegiatan kita sehari-hari di SMK. Nanti lo mau masuk ke SMK kan bareng kita? Lo pasti ngakak liat tampang Rafka yang sekarang sangar bat sama orang. Gue jijik sumpah liat tampang para


monyet ini sok cool padahal mah bobroknya nauzubillah,”


kekeh Friski seraya mengusap wajah tirus Keyra. Ia melirik Ervin sekilas, “noh abang tiri lo juga beda, udah punya mantan banyak loh Key, lo ketinggalan banyak berita!”


“Tampangnya sih emang datar, sekali ngegoda cewek mirip bat kayak gigolo,” sambung Rivan.


Ivan melirik Rivan seraya menaikan satu alisnya, “emang lo tahu gimana gigolo ngegoda? Akh iya gue lupa, lo kan gigolo


penggoda wanita tua,” Ivan mencibir.


“Gelut terus, gelut terus sampe mampus lo pada, gue keluar dulu,” pamit Rafka yang langsung keluar dari ruangan itu.


★★★


Davin, Reva, Indira, Cakra, Rini, Rafka serta teman-teman nya bolak-balik secara bergantian untuk menjaga dan mengajak Keyra berbicara yang di respon baik oleh Keyra, kadang mata gadis yang kelopak matanya tertutup itu mengeluarkan air mata dan jarinya sering bergerak.


Seperti sekarang ini, Davin dan Reva masuk kedalam ruangan Keyra yang ramai. Pria itu berjalan terlebih dahulu mendahului istrinya, teman-teman Rafka yang ingin memberikan waktu untuk keluarga itu pun memilih keluar dari ruangan kecuali Ervin yang masih duduk di sofa, mengacuhkan keberadaan kedua orang tuanya itu.


“Ervin, bunda udah masakin ayam kecap kesukaan kamu, dimakan ya?” ujar Reva seraya mengangkat paper bag yang berisi makanan pada Ervin.


“Masakan anda tidak enak, jangan sebut diri anda itu ‘Bunda’ di depan saya,” ungkapnya seraya berdiri.

__ADS_1


Mata Davin menajam, rahangnya mengeras. “Kamu saja tidak pernah memakan masakan istri papa, mengapa berbicara seperti itu Ervin? Dia bunda kamu! Papa selama ini diam melihat kamu mengabaikan Reva bukan berarti kamu bisa--”


Reva mengusap bahu Davin untuk meredakan emosi pria itu. “Udah Vin, nggak baik ngebentak anak sendiri. Apalagi di depan Keyra yang bisa dengar semua bentakan kamu, inget, jangan pernah kamu ribut diruangan ini.”


Ervin memalingkan wajahnya ke sembarang arah, cowok itu mengusap wajahnya kasar lalu berlalu keluar dari ruangan itu mengikuti jejak teman-temannya.


“Udah gapapa, Ervin beku juga salah kamu yang jarang kasih perhatian langsung ke dia, percaya sama aku kalo Ervin pasti bisa seperti dulu lagi,” ujar Reva.


“Aku sibuk Rev, jarang dirumah juga karena males ketemu Syila. Sekarang bawaannya pengen pulang terus,” ujarnya datar.


“Bisa aja jawabnya,” cibir Reva namun pipinya merona.


Astaga Reva lupa jika usia nya sudah berkepala empat!


“Kamu tahu Vin? Kalo Ervin seperti itu karena kamu yang kelihatan nya nggak peduli sama dia, sementara sama Raga? Kamu sering ngasih perhatian tepat di depan Ervin.“


“Aku tanya, pernah kamu meluk Ervin seperti yang kamu lakuin ke Raga?”


Davin menggeleng, “dia udah besar Reva, dan dia nggak butuh semua itu,” ujar Davin yakin.


“Kamu salah..” Reva menjeda ucapan nya, “semua anak itu butuh kasih sayang dari orang tuanya, kamu yang kayak gini malah nampak nggak peduli sama Ervin, dia juga anak kamu, Vin. Usia, cewek ataupun cowok sama aja mikirnya kalo perlakuan kamu itu berbeda. Segera mungkin kamu minta maaf sama dia dan keluarin unek-unek kamu buat Ervin.”


Davin mengangguk. Pria itu lalu menarik tangan Reva untuk mendekati brankar Keyra terbaring, Davin langsung mengecup kening gadis itu seraya tersenyum,


“Now quickly wake up, sayangnya papa. Keluarga kita nungguin kamu pulang,” bisiknya tepat di telinga Keyra.


Reva tersenyum haru melihat nya, wanita itu mengusap punggung tangan Keyra seraya berkata, “bangun sayang... Semua orang sayang sama kamu dan nungguin kamu.” ujarnya lembut.


££££££


.


.


habis~


T y p o


n


salah kata.. Hampura.

__ADS_1


Thanks|。・・)っ♡I like u♪(。・・。)ノ♡ Looove u!( ͡ಥ ͜ʖ ͡ಥ)


__ADS_2