
Pukul 7 pagi di hari senin, Friski masih betah tertidur dengan posisi duduk di kursi samping brankar Keyra terbaring. Ia hanya berdua diruangan itu dengan Keyra, semua teman nya sudah pulang sedari tadi sementara Rafka turun ke bawah untuk membeli bubur.
Gadis yang terbaring itu mengerjapkan kedua matanya susah payah seraya mengernyit. Keyra melirik ke kanan dan kiri nya, matanya memindai dinding berwarna putih dengan bau khas obat-obatan yang menyeruak di indera penciumannya.
Apakah ada yang menolongnya setelah ia tertabrak? Pikirnya.
Tenggorokan Keyra pun terasa kering dan lengan lemah gadis itu tak sengaja menyenggol kepala seseorang yang membuat si pemilik kepala tersebut terlonjak.
“Astagfirullah Kekey sayang udah bangun!“
Friski?
“A-aus B-bang,” ujarnya terbata-bata.
Friski yang sigap pun langsung mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas nakas dan menyerahkannya pada Keyra. Namun ia bingung, mana bisa Keyra meminum langsung dari gelasnya. Pikirnya.
“Lewat bibir gue aja ya? Nggak nyentuh dan bibir gue wangi kok,” ujarnya menyakinkan. Matanya mengerjap polos yang membuat Keyra gemas ingin menggamparnya.
Namun apalah daya? Dia baru sadar dan seluruh tubuhnya terasa lemas.
Keyra terkekeh lemah seraya mengangguk kecil, lagi pula gadis itu tidak jijik dan ingin sekali minum walau harus lewat bibir milik Friski.
Friski langsung meminum air itu tanpa meneguknya, ia hendak mendekati wajah Keyra namun urung saat sebuah tangan menarik kerah nya yang membuat ia menoleh dan spontan menyembur air minuman yang berada di mulutnya ke wajah cowok itu.
Rafka, cowok itu mengelap wajahnya yang basah dengan tangan nya. Ia mendelik kesal pada Friski yang menyembur wajah tampan nya, ”Lo jangan nyari kesempatan dong! Bisa kan manggil suster buat bantu Keyra minum?“ Delik Rafka tajam.
“Keyra butuh minum sekarang juga! Kalo manggil suster lama,” balas Friski kesal. Ia menaruh kembali gelas yang tadi ia pegang di atas nakas, matanya ikut mendelik menatap Rafka.
Rafka menyilangkan kedua tangan nya di depan
dada, “Pake mulut lo gitu? Lo nggak sadar di mulut lo itu ada jutaan kuman yang berkembang biak?”
“Wah ngajak baku hantam! Mulut gue tuh udah wangi nggak ada bakteri,” Friski menoyor kening Rafka gemas.
“Wangi bau buangke! Sini baku hantam, gue jabanin!” Ujar Rafka berlagak jumawa.
“P-pencetin tombol Nurse Call, c-cepetan!” Titah Keyra yang jengah melihat perdebatan kedua cowok itu.
Rafka langsung menekan tombol di sisi brankar sembari menggaruk tengkuknya salah tingkah. “Ya sorry.”
Dua orang perawat langsung datang dan mata keduanya membola melihat Keyra yang sudah sadar dari koma nya.
“M-minum S-sus,” ujar Keyra begitu keduanya sudah berdiri di samping brankar nya.
__ADS_1
Lalu Rafka dan Friski di persilahkan untuk keluar karena Keyra harus di cek kondisinya terlebih dahulu. Bersamaan dengan itu, Dokter khusus yang menangani Keyra masuk kedalam ruangan VIP tersebut.
Rafka memilih menghubungi nomer Davin dan juga Indira untuk segera datang ke rumah sakit. Namun nomer mama angkatnya itu tidak dapat di hubungi, berbeda dengan Davin yang langsung terjawab di deringan kedua.
“Iya om, alhamdulillah Keyra udah silum-- siuman. Dokter lagi periksa kok, tapi jangan hubungi yang lain dulu ya om?! Cukup om sama tante Reva aja yang kesini, nah iya si bocil jangan di ajak. Hm? Yawoh om makasih loh, calon mantu om ini emang yang paling ganteng dan gak pernah congkak, gak kayak Friski. Jangan lupa nanti om gosok jidat Ervin biar ilang setannya, ya! Nanti kalo Keyra udah tinggal sama om, masa om mau Keyra di gangguin setan nya Ervin?” Ujar Rafka panjang lebar.
Sementara di tempat Davin berada. Pria itu hanya diam mendengarkan ocehan tunangan anak nya itu.
Terlalu berisik, pikirnya. Mungkin ia akan mem blacklist Rafka dari daftar calon menantunya. Bodoamat dengan ayah cowok itu yang merupakan teman lamanya. Pria itu langsung memutuskan sambungan secara sepihak, ia beranjak keluar dari kantornya menuju tempat dimana istrinya berada.
Di tempat Rafka dan Friski menghembuskan nafas, kedua cowok itu nampak berdebat kembali dengan mengacuhkan keberadaan sekitar yang menatap keduanya kesal.
Bagaimana tidak kesal? Mereka berdiri saling mengutarakan argumen dengan nada yang tinggi.
“Ngapain lo bawa-bawa nama gue, jerapah China! Gue tau kok lo tuh ngepens berat sama gue.”
Rafka mengabaikan gerutuan teman nya tersebut,
“Lo jangan telpon yang lain nya Ris, bisa jadi mereka bolos lagi dan gue nggak--”
“Halah kayak lo kagak bolos aja,” potong Friski cepat.
“Diem dulu seton! Biarin Keyra sama bokap nya dulu, lo paham kan?”
“Kagak gan,” sahutnya lugas. Cowok itu lalu duduk di kursi tunggu dengan kaki yang menyilang.
“Selama sebulan lo pacaran, lo cinta sama Naya kagak?” Tanya Friski.
Rafka bergeming, cowok itu kembali memainkan ponselnya tanpa berniat membalas pertanyaan teman nya itu.
Dua orang yang mereka kenali berjalan kearah mereka dengan langkah yang berwibawa. Rafka melirik lalu cowok itu berdiri dan menyambut keduanya. “Malam papa mama,” sapa Rafka hangat. Berbeda dengan Reva yang tertawa, Davin menanggapi Rafka dengan mengadiahkan tatapan mautnya pada Rafka yang tercengir lebar.
“Mata kamu perlu di periksa ke Dokter THT,” ujar Davin
dengan raut datarnya.
“Sayang yang bener ih!” Reva mencubit dagu suaminya gemas.
“Om, Tante. Cuman mau bilang kalo Friski itu phobia ke-uwuan,” kata Friski pelan yang dibalas kekehan dari Reva.
“Masih jam segini, sana kalian kesekolah,”
Rafka melirik Davin, “jam segini nggak bisa Om!”
__ADS_1
Cklek..
Pintu ruangan terbuka menampakan Dokter Rangga yang keluar di ikuti dua orang Suster tadi, Dokter itu menyapa Davin dan Reva hangat lalu menjelaskan keadaan Keyra.
Davin hanya me-respon dengan anggukan yang sepertinya sudah tak sabar untuk masuk kedalam ruangan putrinya. “Sudah Dok? Kami percaya semuanya pada pihak rumah sakit ini, sekarang bolehkan kami untuk menjenguk putri kami?” Tanya Reva.
“Silahkan bu, jika berkenan, salah satu dari kalian bisa ikut keruangan saya? Ada sesuatu yang harus saya sampaikan secara pribadi.”
Reva meremas lengan Davin, “kamu masuk, aku yang bakalan ngikut keruangan dokter Rangga. Pelan-pelan kalo mau ngomong sama Keyra jangan nge-gas.”
Lalu, Reva mengikuti langkah Rangga menuju keruangan salah satu Dokter terbaik di rumah sakit itu. Sesampainya didalam, Reva dipersilahkan untuk duduk berhadapan dengan Rangga. “Jadi begini bu, setelah melakukan pemeriksaan. Nona Keyra Alhamdulillah keadaanya baik-baik saja, namun...” Dokter Rangga menjeda ucapannya, “Nona Keyra mengidap penyakit cluster headache,” ujarnya.
“Penyakit apa itu Dok?” Tanya Reva dengan dahi Mengerut.
“Sakit kepala cluster adalah sakit kepala menyiksa pada satu sisi kepala dan sering terasa hingga ke mata. Sakit kepala primer tipe ini termasuk jarang. Saat serangan sakit kepala cluster datang, rasa sakit biasanya bersifat tetap, intensif, dan tidak berdenyut. Rasa sakit umumnya terasa jauh di dalam kepala atau di sekitar mata dan dapat berpindah ke bagian dahi atau pelipis.”
“Penyebab nya karena cuaca panas atau suhu udara yang ekstrem juga setres.”
Reva mencerna ucapan Dokter Rangga dengan mata yang berkaca-kaca, “bagaimana bisa? Lalu bagaimana dengan pengobatannya Dok?”
Dokter Rangga kembali menjelaskan semuanya dengan nada yang tenang. “Sakit kepala cluster bukanlah penyakit fatal. Namun, nyeri kepala hebat tersebut dapat memengaruhi kegiatan sehari-hari Nona Keyra dan menurunkan kualitas hidup nya. Obat anti nyeri seperti parasetamol tidak efektif untuk penyakit ini karena bekerja lambat. Obat yang dapat digunakan untuk sakit kepala cluster suntikan sumatriptan, semprotan melalui hidung berisi sumatriptan atau suntikan sumatripta zolmitriptan
dan terapi oksigen.”
“Apa tidak ada cara lain Dok?” Reva takut jika anak tirinya tak suka dengan pengobatan tersebut.
“Bisa bu, seperti meminum teh jahe,
melakukan terapi pernapasan dalam atau deep breathing exercise, mengonsumsi makanan tinggi magnesium, seperti kacang almond dan alpukat.
Mengonsumsi makanan kaya vitamin B2, misalnya bayam, jamur, dan yoghurt.
Mengoleskan minyak esensial, seperti minyak mint atau eukaliptus yang dicampur dengan minyak kelapa ke dahi dan pelipis.” Ujar nya menjelaskan.
Reva menghembuskan napasnya lega, “terimakasih Dok. Saya permisi,” Reva tersenyum lalu berlalu setelah Dokter itu membalasnya.
.
.
.
Tet tettt
__ADS_1
Salah, hampura...
Thank's