
Seorang gadis terus berlari menghindari dua orang wanita berbeda usia yang tengah mengejarnya. Gadis itu bersembunyi disebuah kandang ayam besar yang membuat ia langsung menutup hidungnya dengan tangan nya. Matanya terpejam, bahunya bergetar pertanda takut. Iya, gadis itu takut jika dua orang wanita tadi menemukannya. Keduanya membawa senjata tajam dan juga tikus mati yang merupakan salah satu phobianya.
Keyra, gadis itu tersentak kaget saat seseorang memeluknya dari belakang, ia tak ingin menoleh karena perasaan takut itu masih ada. “Jangan takut, ini gue--- Ipang lo,” Keyra mendadak membalikan badan nya menghadap sosok itu. Gadis itu kemudian memeluk tubuh Ivan erat, “tolongin gue Pang! Tadi tante Anggi sama Lisa mau bunuh gue huhu,”
tangis gadis itu akhirnya pecah.
“Sutt, demi apa gue nggak suka liat lo nangis! Semuanya pasti baik baik aja setelah lo---” Ivan menjeda ucaan nya, “mati!” ujarnya bersamaan dengan sebuah pisau yang menusuk tepat di jantung Keyra.
“Lo bodoh Keyra! Jangan terlalu percaya sama orang terdekat lo.. Gue lakuin ini karena nggak mau lo jadi milik siapa pun! Tunggu gue di alam sana-- Keyra sayang,” Ivan menatap darah yang membasahi baju putih Keyra, lalu pria itu meninggalkan Keyra sendiri.
Mata Keyra terpejam. Namun, sebuah tangan menampar pipinya keras mampu membuat matanya kembali terjaga. Matanya menyipit mendapati dirinya sudah berdiri lemah di atas permadani rumah nya.
“P-papa?”
Plak...
Lagi, Andri menampar pipi Keyra keras. Pria dewasa itu lalu mencambuk punggung Keyra dengan gespernya, Keyra hanya diam di perlakukan seperti itu. Baginya melawan pun percuma, tubuhnya sudah lemah saat Ivan menusuk nya tadi.
“Kamu itu anak pembawa sial yang seharusnya mati!”
Mata Keyra menangkap wajah Indira yang sama sekali tak berniat untuk menolongnya. Perlahan, gadis itu kembali menangis tanpa suara.
“Semua kekacauan ini karena kamu Keyra!” Andri mencambuk tanpa ampun punggung rapuh milik Keyra.
“Om Andri, cukup!”
Keyra tau suara siapa itu, ia memilih memejamkan matanya saat seseorang memeluk tubuh kurus nya. “Maafin gue yang udah ngehianatin elo, Ra. Sumpah gue cinta sama lo, bukan sama Naya ataupun Shahila.”
Keyra terkekeh seraya menahan rasa sakitnya yang semakin bertambah.
Ada apa ini? Tadi Ivan menusuk nya, lalu Andri yang menampar dan mencambuknya yang disaksikan langsung oleh Indira. Sekarang Rafka berkhianat? Memang siapa Rafka bagi dirinya? Hanya sebatas tunangan yang terpaksa bukan?
Yang Keyra ingat terakhir saat ia bertengkar dengan kedua sahabatnya, dan tubuhnya tertabrak sebuah mobil. Mengapa dia berada disini sekarang?
“Bener kata Aura sama papa, Keyra pantes mati! Sekarang tampar gue Afka, tampar gue sampe mati!” tekan Keyra.
Rafka menggeleng kuat, “gue cinta sama lo Ra!”
Keyra terkekeh sinis, “Afka, Afka. Masih bocah aja ngomongin cinta, tadi lo bilang kalo lo itu berkhianat bukan? Lo cinta sama gue tapi lo sendiri yang berkhianat!”
__ADS_1
“Kita hampir lulus SMK! Jangan gini sama gue Ra...”
“Tampar gue Afka! Biarin gue mati biar populasi parasit kayak gue berkurang di rumah ini! Gue nggak guna, nggak ada yang peduli kalo gue mati!” Pekik Keyra pilu.
“Gue, gue peduli! Om Davin dan keluarganya sangat peduli sama lo, Keyra! Jangan biarin lo rusak di keluarga ini yang udah rusak dari awal,” ujar Rafka tepat sasaran.
Dahi Keyra mengerut, ia sepertinya pernah mendengar nama itu.
“Rafka---- aku hamil anak kamu,” Keyra dan Rafka menoleh, menatap seorang gadis yang berdiri di ambang pintu dengan mengusap perutnya yang sedikit membesar. Shahila, mantan sahabatnya.
Keyra menenguk saliva nya kasar. Ia tak salah lihat dan dengar bukan jika Rafka berbuat semenjijikan itu?
Keyra menggigit bibir bawah nya seraya menghapus air matanya yang sedari tadi mengalir tak mau berhenti.
“Lo cinta sama gue tapi berani ngelakuin hal bejat itu sama dia Afka?”
“Brengsekk ya Af. Tunangan nya sama gue, pacaran nya sama Naya, tapi mantan sahabat gue hamil karena lo?”
Keyra tak kuat lagi, gadis itu berlari lemah keluar dari rumah itu mendekati jalanan besar di dekat rumahnya.
“Ra, astaga itu---”
Ada apa dengan nya setelah tertabrak mobil saat masih di kota orang? Mengapa bisa ia sampai di rumahnya dengan keadaan mengenaskan seperti ini?
Gadis itu menoleh kebelakang saat sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Keyra semakin berjalan minggir menghindari mobil sedan itu, namun entah mengapa mobil itu malah mendekatinya dan langsung menabrak tubuh nya yang lemah.
Ini kah akhirnya? Bayangan keluarganya yang tak pernah akur
terngiang di kepalanya. Mungkin memang benar jika ia mati, semua orang akan bahagia.
Pengemudi mobil itu turun dengan gaya angkuhnya.
“Udah di tabrak berkali-kali pun nggak mati juga ya kamu! Dasar anak pembawa sial,“ sentaknya kasar.
Keyra berdiri untuk menatap orang yang menabraknya itu.
“Tenang tante, Keyra kalo mati pasti buat kalian seneng kan? Sini tabrak Keyra lagi,” kekeh Keyra yang malah membuat wanita di depan nya itu semakin emosi. Anggi, wanita itu menjambak rambut panjang Keyra, kemudian Anggi kembali masuk kedalam mobil nya dan melakukan apa yang di ucapkan Keyra tadi.
“Lagian kenapa sih tante Anggi, papa Andri, sama Ipang nggak bareng-bareng aja bunuh Keyra nya? Kalo gini kan lama.”
__ADS_1
“Keyra mati, tante di penjara. Mama sama papa senang hahaha,” tawa Keyra menggema di jalanan yang sepi itu.
Keyra merasakan tangan nya di genggam erat oleh seseorang, namun saat ia menoleh ke kanan dan kiri, tak ada siapa pun yang menggenggam tangan nya. Gadis itu juga merasakan setetes air mata yang jatuh ke pipinya.
Tubuh kurus Keyra kembali dihantam oleh mobil Anggi hingga gadis itu terpental jauh dari tempat kejadian. Keyra menengadah kan kepala dan tangan nya keatas, di langit nampak awan yang menghitam bersamaan dengan tetesan air hujan yang turun membasahi wajahnya, gadis itu meringis menahan sakit.
Mobil Anggi melaju meninggalkan tempat Keyra terbaring sendiri.
“Keyra emang nggak berguna.”
“Terimakasih karena mama sama papa mau ngerawat anak pembawa sial ini sampe segede ini.”
“Bang Garen.. Maafin Keyra yang sekarang jadi cengeng, Alisa memang adik abang yang nggak pernah jadi orang bodoh kayak Keyra. Kenapa adik bang Garen selalu benci sama Keyra? Keyra adik bang Garen sama Alisa juga kan?”
“Friski, Rivan. Kalian berdua udah gue anggep abang sendiri. Walaupun sikap gue jutek sama kalian, tapi tetep aja kalian yang terbaik....”
“Duo beku sedikit cair,” Keyra memegang keningnya yang terasa sakit. “Sikap kalian sering bikin orang sakit hati, jangan ampe karma datengnya ke anak lo berdua.”
Keyra meneteskan air matanya yang tercampur dengan air hujan.
“Ipang... Lo nusuk gue itu pasti nggak sadar kan? Gue tau lo orangnya ngegasan tapi nggak mungkin juga ngebunuh gue.”
“D-dan Rafka, sikap nyebelin lo bakalan gue inget terus, kayaknya iya deh kalo gue suka bahkan cinta sama lo. Haha gila ya? Masa gue cinta sama orang nyebelin kayak lo, yawoh, bawang nya banyak amat dimata gue, nangis mulu huhu..”
Tubuh Keyra memang rapuh, namun bibirnya seakan ingin terus melontarkan isi hatinya. Ia pun tak mengerti mengapa jalan di sekitarnya sangat sepi? Akh, mungkin memang sudah takdirnya ia harus pergi diusianya yang sebentar lagi menginjak 15 tahun...
“Selamat tinggal semuanya, Keyra sayang kalian. Minus tante Anggi,” ucapnya pedih.
Kelopak mata Keyra perlahan menutup sempurna bersamaan dengan detak jantungnya yang berhenti berdetak.
.
.
.
Nggak bisa bikin yang sedih n ngakak huhuhu...
Typo sama penempatan kata kagak jelas... Hampura..
__ADS_1