Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Beban


__ADS_3

“Pah, Bun. Boleh Queen tinggal di kontrakan aja?” Keyra memandang Davin dan juga Reva secara bergantian, matanya bergerak liar memindai isi mansion Davin yang masih asri, udaranya pun nampak sangat sejuk saat dirinya sudah menapaki lantai di ruang tamu.


Gadis itu sudah pulang dari rumah sakit dengan diantar teman-teman Rafka dan juga Garen. Terkecuali Ervin yang sampai sekarang tak pernah menampakan wujudnya di depan Keyra.


Davin dan Reva mengerutkan alis mereka bingung, “kontrakan gimana sayang? Kamu nggak mau tinggal sama keluarga kita?”


Keyra menggeleng cepat merespon ucapan wanita paruh baya itu, gadis itu lalu dibantu Reva untuk duduk di sofa di dekat Davin. “Bukan gitu Bunda, Queen nggak mau nantinya Rey sama Raga risih sama keberadaan Queen disini,” ungkapnya jujur.


Rey-- panggilan kesayangan dari Mommy dulu. Pikir Davin.


“Rey? Oh Ervin... Ervin pasti nya maklumin. Kalo untuk Raga, adik kamu satu itu malah pengen punya kakak perempuan! Kamu istirahat aja ya? Tidur lebih cepet biar cepet pulih. Raga lagi di rumah Omah jadi maklumin kalo rumah ini sepi.”


Keyra bergeming, tangan nya memegang kening nya yang berdenyut dan Keyra merasakan jika beberapa hari ini ia lebih mudah merasakan lelah.


Memakluminya? Keyra pikir tidak akan mungkin pemuda itu akan memaklumi keberadan nya.


“Iya Bun, makasih buat semuanya. Maafin Queen yang udah ngerepotin kalian berdua,” Keyra tersenyum membalas ucapan Reva. Gadis itu masih canggung dengan tatapan mata Davin yang selalu menatapnya intens, mampu membuat ia kikuk sendiri.


“Kayak sama siapa aja kamu, mau di kamar lantai berapa? Bareng Raga sama Ervin atau lantai atas?”


“Bareng Raga sama Rey aja Bunda, biar Queen bisa cepet akur sama mereka berdua,” balas Keyra.


“Sini Papa gendong,” celetuk Davin tiba tiba yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan antara istri dan putrinya. Pria itu mulai beranjak dan mengangkat Keyra kedalam gendongannya, kemudian menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamar anak-anaknya berada.


Di tempatnya, Reva hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Semua senang dengan kehadiran kamu Queen. Bunda hanya takut Ervin membenci kamu sama seperti yang dia lakukan ke Raga.”


***


“Turunin Queen, Pah.”


Davin mendudukan tubuh Keyra di atas kasur. Tangan nya sibuk mencari sesuatu di balik jas kerjanya.


“Ini,“ pria dewasa itu menyodorkan sebuah smartphone berlogo apel di gigit berwarna biru kepada Keyra.


Gadis itu menerimanya dengan alis menukik, “Queen masih punya ponsel kok. Jadi mending buat Rey aja,” tolak Keyra halus.


“Yakin? Mana coba ponsel kamu,” tanya Davin menantang.


Keyra memutar bola matanya ke kiri, beberapa menit ia bergeming mencoba mengingat kembali dimana letak ponselnya. Telunjuknya mengetuk dagunya pelan.


“Gue minjem hape lo buat hubungin emak gue Key, lo kesana dulu gih.”


Keyra seketika menepuk jidatnya kala mengingat bahwa Friski lah yang meminjam ponselnya di saat dirinya baru menuruni anak tangga di Borobudur.


“Gak tau, Pah. Mungkin di jual sama Bang Friski,” sahut Keyra tercengir lebar. Matanya menatap smartphone pemberian Papanya itu, senyum nya tiba-tiba terbit bersamaan dengan tubuh Davin yang sedikit termundur kebelakang saat Keyra memeluknya erat.


“Papa tau aja kalo Queen suka warna biru.” Ujar Keyra dengan mata berbinar.


Davin menepuk puncak kepala Keyra yang berada di dada nya, ia menghela sedikit.


“Kenan.”


Keyra mengurai pelukan nya dan matanya menatap Papa nya itu heran. “Kenan siapa Pah?”


“Asisten pribadi Papa.”


“Lah terus?”


“Dia yang milih itu buat kamu,”


“Oh..”


“Sampein makasih aku buat Om Kenan, Pah. Keyra suka sama ponselnya,” ujar Keyra. Dari nadanya ia sedikit kecewa karena bukan Papa nya yang membelikan smartphone itu secara langsung.


Keyra tertawa dalam hati. “Gblok lo Key! Papa kan orang sibuk,” batin nya.

__ADS_1


“Iya.”


Hening beberapa menit. Keyra bingung, sungguh gadis itu binggung. Ingin mengusir Papa nya secara halus atau membuka obrolan biasa seperti hal nya anak kepada Ayahnya


“E-em boleh Queen tanya?” Keyra bersua ragu.


“Apa?”


“Queen beneran lulus SMP? Bukan nya Queen nggak sampe nyelesaiin semester dua ya Pah?”


Davin terdiam sejenak, “Tidur! Semua nya udah Papa atur untuk sekolah baru kamu. Yang lain nggak usah kamu pikirin,” Davin memajukan wajahnya, pria itu mendaratkan bibirnya di kening Keyra singkat. Setelah mengusap rambut coklat milik Keyra, Davin berlalu meninggalkan kamar putrinya.


Setelah Papanya pergi dari kamar barunya, Keyra merebahkan tubuhnya di atas kasur king size dengan mata yang memandang kearah langit-langit kamarnya.


Minggu depan ia akan bersekolah di tempat yang sama dengan Rafka


dan juga teman-teman nya yang lain. Jurusan pun sudah ia pilih, dan Keyra terpaksa masuk ke dalam jurusan Akuntansi.


“Kata Bunda, gue koma lebih dari enam bulan, harusnya kan gue nggak dapet ijazah. Ini kenapa bisa masuk SMK?” Tanya Keyra entah pada siapa.


“Positif thinking aja, mungkin guru nya kasian sama gue.”


Gadis itu membuka smartphone pemberian Davin, jarinya mengotak atik isi ponsel itu. Mulutnya terbuka sedikit mendapati isi ponsel barunya sudah banyak sekali aplikasi yang tidak ia ketahui.


“Lah aplikasi apaan ini? Jangan bilang ini ulah Om Kenan itu.”


“Hape seken kah? Covernya cakep, dalemnya udah ternoda, oh my god!” Jerit Keyra kesal.


Saat membuka aplikasi WhatsApp, lagi dan lagi mulut Keyra terbuka. “Gc apaan itu anjirrr? Ini kayaknya hape anaknya Om Kenan dah.”


Banyak sekali Group chat yang berisikan tentang tugas anak akuntansi kelas sepuluh yang membuat Keyra mengernyit.


“Ini anaknya Om Kenan seangkatan sama gue? Kok bisa Bapaknya seenak jidat ngasih hape yang isinya penting-penting ke anak atasannya? GILA!”


Papa


Tidur! Semuanya sudah Kenan isi di ponsel kamu, Queen.


Kalo kamu nggak suka sama hpnya, nanti blng Papa y!


Keyra melongo melihat isi pesan itu, “jadi ini bukan hape seken? Tapi hape yang udah di isi? Njirr gue aja belom masuk sekolah kok udah ada Grup chat nya?”


Gadis itu mengetik sesuatu di room chat nya dengan Davin.


^^^Queen suka kok, Pah. Selamat malam Papa, sampein pesan buat Bunda kalo Queen mau punya adek lagi!^^^


^^^Semangat Papa!^^^


Tak sampai dua detik. Davin sudah membalas chat nya.


Papa


Siap!


Keyra terkikik geli, Papa nya ternyata sepatuh itu. Atau memang Papanya yang ingin mempunyai anak kembali?


Keyra hanya berharap selama ia bernafas, ia bisa bersama dan bahagia selalu dengan keluarganya. Walaupun tanpa Mama kandungnya.


Selama seminggu ia dirawat, Keyra tahu bahwa Davin dan Reva sangat memperhatikan nya. Bahkan keduanya rela meninggalkan pekerjaan penting mereka hanya untuk menemaninya.


“Em, tentang Bunda Reva. Kok dia nggak segalak yang diceritain di novel sama filem ya? Malah lebih perhatian dibanding Mama.”


Gadis cantik itu meletakan ponselnya di atas nakas, tangan nya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Lo bodoh Keyra! Jangan terlalu percaya sama orang terdekat lo.. Gue lakuin ini karena nggak mau lo jadi milik siapa pun! Tunggu gue di alam sana-- Keyra sayang.”

__ADS_1


“Semua kekacauan ini karena kamu Keyra!”


“Gue cinta sama lo Ra!”


“Rafka, aku hamil anak kamu.”


“Dasar anak pembawa sial.”


“Pergi anjiir! Jangan ngerusak indra penciuman gue!” Keyra menjerit lirih.


“Eh? Indra pendengar gue njirr!” Sambung gadis itu kesal. Keyra kesal karena mimpi aneh waktu itu terus menerus menghantui pikiran nya.


“Aish. Kok jadi keinget waktu itu?” Keyra menutup kelopak matanya berusaha mengusir suara yang mungkin ghaib itu.


“Kejadian itu kok kerasa jelas banget? Akhir-akhir ini juga gue mimpi itu terus,” Keyra bermonolog dengan jari jemarinya yang menekan pelipisnya kuat.


“Itu mimpi apa ramalan sih?” Keyra menggelengkan kepalanya keras. Mana mungkin kejadian itu merupakan ramalan.


Cklek...


Pintu kamarnya terbuka, menampilkan seorang pemuda gagah bertubuh jakun yang berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap. Tatapan nya datar menatap satu objek di depan nya yang masih asyik menekan pelipisnya kuat-kuat.


“Gila jangan di sini! Rumah ini gak nerima orang gila!” Ujar Ervin datar bin dingin.


Keyra membuka kelopak matanya, matanya melirik Ervin yang berdiri di pintu kamarnya.


“Wah baru nongol lo Rey. Lo pengen gue keluar kagak? Kalo iya, ayok dah anterin gue ke kontrakan yang ada di deket jembatan. Tapi nanti bayarin ya? Soalnya gue nggak punya duit buat bayar sewa nya. Jangan kan buat nyewa, buat beli telur gulung aja gue nggak bisa.” Cerocos gadis itu dengan nada sedih yang di buat-buat.


Keyra menghempaskan rasa gengsi nya di depan Abang tirinya itu. Jika dulu ia akan bersikap galak di depan Ervin, karena menurut Keyra sifat angkuh yang menguar dari diri Ervin itu pantang untuk di lembuti.


“Eh gue baru sadar, gue nggak punya saudara kandung yah? Adanya tiri semua, ngenes banget idup gue,” ujar Keyra menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Dalam diam Ervin memandang Keyra dengan bibir yang terkulum, ia menahan senyum melihat Keyra yang begitu cepat dalam bicara. Menurutnya Keyra itu sangat menggemaskan, seperti wujud kucing yang kabur karena di siram air bekas cuci piring.


Biadab!


Namun di mata Keyra, wajah Ervin masih sama, datar dan dingin. Hanya bibir pemuda itu yang terkulum, entah karena apa. Tidak ada perubahan dalam wajah tampan tanpa cela itu.


“Ngapain lo? Kalo nggak mau bayarin sewa kontrakan gue, mending sono cari cewek, dasar embloo!” Ujar Keyra tak berkaca.


Tak tahu saja jika Abang tirinya itu mempunyai mantan lebih banyak dari Ivan si playboy mesum.


“Lo beban,” setelah mengatakan itu, Ervin langsung menutup pintu kamar Keyra keras. Hingga membuat si empu kamar terkejut.


“Kalo mau ngatain ya tinggal ngatain, nggak usah pake banting pintu segala!” Gerutu gadis itu. Matanya melirik layar ponselnya yang menyala.


Alisnya menukik, siapa gerangan yang mengirimnya pesan. Apa mungkin smartphone ini sebenernya memang seken? Pikirnya.


Fix ini mah hape seken!


.


.


.


Tett


T y p o


B e r t e b a r a n


Like, fav n comen nya kakak cakep:V


T E R I M A K A S I H.

__ADS_1


__ADS_2