Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Epilog


__ADS_3

Kita beda alam, tapi mengapa aku masih merasa bahwa kamu ada didekat ku?


...🐤🐣🐥...


Hujan mengguyur lebat seakan tahu apa yang sedang Rafka rasakan saat ini. Dia berdiri disamping kuburan Keyra yang bersisihan dengan makam orang tua dan adiknya. Rafka menarik nafas panjang


sebelum menjatuhkan tubuhnya disamping nisan Keyra.


Ini sudah 3 minggu semenjak Keyra berbeda alam dengannya. Namun, perasaan akan kehilangan Keyra masih terasa di raga dan jiwa Rafka. Pria itu memandang kosong ke cincin pernikahannya yang sampai sekarang masih melekat di jari manisnya.


"Hai, Naura." Sapa Rafka tersenyum lama. "Andai aku bisa memutar waktu. Hal yang pertama aku lakukan adalah, memanjakan kamu seperti yang biasa aku lakuin sebelum masalah itu datang. Menunggu kamu dengan sabar tanpa tergoda dengan wanita lain. Mungkin kalo aku gak tergoda, kita sekarang masih sama-sama dan melewati masa pertumbuhan anak kita, kan? Aku menyesal Naura. Menyesal karena udah bicara omong kosong waktu itu. Belasan tahun aku gak pernah ngerasa bosen sama kamu, kamu itu candu yang bisa bikin aku tergila-gila."


Rafka tersenyum lagi, air matanya turun begitu teringat masa-masa indahnya dengan Keyra. Wanita itu berbeda dari perempuan yang pernah Rafka temui. Keyra Naura, wanita yang sering penyakitan namun selalu ditutupi dengan sifat tak acuhnya. Keyra benci rumah sakit, makanya Rafka tak pernah mengajak istrinya ikut ke tempat kerjanya.


"Netha nyariin kamu terus, Ra. Dia dan Lintang bahkan sampai sakit saat tau Aunty yang mereka sayang udah pergi selama-lamanya. Semua kehilangan kamu, sayang."


Rafka beruntung memiliki Keyra, apalagi istrinya itu sama mencintai dirinya sejak masih menginjak bangku SMK. Rafka kira cintanya bertepuk sebelah tangan. Perasaan takut kehilangan sering menghantuinya, takut jika Keyra meninggalkannya dan memilih lelaki lain yang wanita itu cintai.


Rafka beruntung sekaligus hancur! Ia bodoh, benar-benar bodoh sampai menghancurkan sumber kebahagiannya sendiri.


Penyesalan benar datang diakhir. Rafka memandang makam mertuanya dengan kepala tertunduk.


"Bunda, Papa, maaf. Maaf udah nyakitin Naura terlalu dalam. Maafin Rafka juga udah bikin Naura melewati masa kehamilannya tanpa Rafka. Rafka pengecut yang gak bisa apa-apa. Maaf udah ngecewain Bunda Reva, Papa Davin dan Bunda Rini. Boleh Rafka ikut kalian?"


"Jangan kekanakan."


Rafka mendongak menatap seseorang yang memayungi dirinya dengan mata menyipit. "Anak gue mana?"


"Sama Awal. Lo gak becus jadi suami ataupun Ayah, Rafka." Ujar Akhir datar. Tatapannya yang tajam menghunus mata sendu Rafka. "Gue yang bakal asuh Milan. Dia gaakan bahagia kalo tinggal sama pria yang jadi sumber kesengsaraan Mamanya."


"Milan?"


Pertanyaan Rafka tak digubris Akhir. "Jangan merasa paling tersakiti didepan makam mereka. Ikut gue," Akhir menarik tangan Rafka menuju mobilnya berada.


Didalam mobil, Shahila sudah menunggu kedatangan keduanya. Ia menggeram sambil menggertakkan gigi mendengar tangisan anaknya yang tak kunjung reda.


"Diem!" Desis-nya yang mana mampu membuat bayi berusia sebulan itu semakin menangis kencang.


Saat Rafka dan Akhir masuk mobil, raut wajah Shahila sudah selembut sutra sambil tangannya bergerak menepuk pantat Tio pelan. Kedua pria itu tak peduli dengan keberadaan Shahila yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.


Akhir menurunkan Shahila didepan rumah wanita itu yang langsung turun dan berusaha mengajak Rafka untuk ikut. Namun Rafka memilih diam dan Akhir pun kembali melajukan mobilnya menuju komplek perumahan-nya.


...🐥🐣🐤...


"Ini?" Rafka mengerutkan alisnya kala Akhir menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.


"Buka, gue mau ketemu Milan dulu." Akhir lalu meninggalkan kamar yang dulu ditempati oleh Keyra. Ia tak kuat jika harus berlama-lama dikamar itu.


Rafka membuka amplop berisi kertas berwarna biru tersebut sambil duduk di sofa kamar itu. "Naura," gumamnya sembari tersenyum tipis.


Dari Naura untuk Afka


Hai, Afka kan? Tulisan aku gak nyasar di orang lain kan? Duh baru awal aja udah norak gini.


Rafka terkekeh membaca se-barit kalimat yang Keyra tuangkan dalam tulisan.


Kalau kamu baca surat ini, berarti aku udah beda alam sama kamu. Kamu di Bumi, sementara aku di Mars awokawok. Gimana kabarmu? Pasti bahagia ya bersama anak dan calon istri kamu itu.


Ngerasa apes nggak sih bertahun-tahun nikah sama aku? Aku, perempuan kepala batu yang gak bisa apa-apa. Rahim aku lemah, beda sama Shahila yang sehat. Sementara aku? Sakit af... Kamu percaya gak kalo anak yang aku kandung ini anak kamu? Ahh, pastinya gak percaya ya?


Tapi yang harus kamu percaya itu, aku cinta sama kamu, bisa dibilang aku ini budak cinta kamu hahha makasih ya udah jadi suami yang baik untuk aku. Aku salut sama kamu tau, kamu itu gak pernah main kasar sama perempuan, jadi keliatan manly nya.


Dada aku sesek nulis ini Af,,, andai waktu bisa diputer balik, aku milih buat gak cinta sama kamu. Ternyata cinta sepihak itu sakit banget ya? Berjuang sendiri dalam diam.


Boleh aku minta tolong? Kali ini aku maksa.... Tolong rawat anak aku dengan baik, walau aku belum tau wujudnya gimana, aku mohon sama kamu afka...


Nama dia Milan Dikava Vihor. Kepo ya kenapa marga Akhir yang kesemat? Dia yang minta, heran deh ngebet banget sama anak ki-- aku.


Dahi Rafka mengkerut dalam. “Milan Dikava Vihor?"


Milan


Dikava

__ADS_1


Vihor.


Kombinasi nama yang bagus bukan? Kata orang, jatuh cinta tanpa melihat wujud orang tersebut itu hal yang gak biasa. Tapi kini aku merasakan nya. Mencintai Milan disaat dia bahkan belum lahir di dunia ini.


Aku labil ya? Setelah kejadian itu, aku positif hamil. Milih nyembunyiin kenyataan ini dari kamu. Tapi sekarang? Malah ngemis-ngemis biar kamu bisa merawat Milan.


Cupu juga ya aku? Gak ngomong langsung tapi cuma berani lewat tulisan. Ya kalo lewat langsung gimana bisa? Kita aja udah berbulan-bulan gak ketemu. Jujur, Naura kangen afka.


"I'm miss you so much, Ra." Gumam Rafka.


Kisah kita telah usai, kisah yang kuanggap selalu ada cinta di dalamnya, ternyata hanya kepura-puraan dari kamu. Kenapa semenjak awal menikah kamu begitu perhatian sama aku? Harusnya waktu itu kamu gak perlu ngelakuin omong kosong kek gitu, karena semua itu hanya sebatas dusta. Sakit af, aku paling benci sama yang namanya kebohongan. Dan ternyata orang yang aku cinta malah ngelakuin kebohongan itu semenjak awal menikah.


Ah sudahlah, jijik nulis melankolis gini. Bukan aku banget!


ILY :V


Tertanda, Keyra Naura.


“Cup cup cup, Helen udah malem ayo bobo.”


Rafka berjalan mendekati Awal yang sedang menggendong Milan sambil menepuk pelan pantat bayi itu. "Ayo sayang, Helen jangan nangis ya."


“Dia Milan bukan Helen,” ketus Rafka. Tangannya terjulur mengambil alih Milan dari gendongan Awal.


"Heh gak sopan banget lo sama Kakel!"


Rafka memandang sinis. "Udah lulus dari dulu kali Mbak bro. Senioritas seumur hidup, heh?" Rafka memutar mata malas. "Sono lo balik."


"Ini rumah Akhir kalo lo lupa," ucap Awal sinis.


Rafka tak acuh dengan Awal. Ia merebut dot bayi


berisi susu formula yang digenggam Awal lalu menggendong Milan masuk kedalam kamar Keyra.


Anaknya masih menangis. Rafka menaruh Milan diatas kasur lalu memandangnya lama. Mata bayi itu juga ikut menatapnya dengan berkaca-kaca. Ia menghela nafasnya sebelum ikut berbaring disamping Milan dengan posisi menyamping menghadap bayi itu.


Rafka pelan-pelan menyumpal mulut Milan dengan dot bayi. Lalu tangannya yang bebas mengusap ujung mata Milan yang berair. "Cengeng." Sambil tersenyum tipis, Rafka mengamati wajah Milan. Mata bayi itu berwarna amber seperti Mama nya, hidungnya yang mancung bak prosotan mengingatkan Rafka akan foto masa kecilnya.


"Naura, kamu pergi setelah melahirkan bayi seperti dia? Milan perpaduan kita, Ra. Penyesalan aku semakin besar, kali ini aku gak bisa ikhlas ngelepas kamu." Rafka tanpa malu menangis didepan bayinya yang mengerjap polos. Rafka menaruh dot bayi diatas nakas lalu bergerak pelan memeluk Milan.


Tangan mungil itu beberapa kali menyentuh dagu dan pipi Rafka. Rafka memundurkan wajahnya karena merasa geli dengan tangan mungil itu. Pria itu memegang kedua tangan Milan lalu tersenyum pedih.


"Boleh Papa jujur? Semenjak kamu hadir, orang yang Papa cinta pergi dari dunia ini. Papa gak jamin bisa sayangin kamu."


Rafka ingat, jika semua ini terjadi karena kesalahannya yang fatal. Namun bayi kecil tak bersalah itu malah terkena imbasnya.


Enam tahun berlalu


“Papa, kenapa nama belakang aku Vihor bukan Kalandra?”


“Kepo,” balas Rafka.


Bibir Milan mengerucut lucu.


“Terus Tante cakep yang dipajang di kamar Papa itu siapa?” Tanya Milan lagi.


Rafka kali ini diam membatu. Matanya bertubrukan dengan iris amber Milan yang mengingatkan dirinya akan mantan istri tercintanya. Rafka memilih mengacuhkan Milan dan berlalu begitu saja.


“Papa kenapa gak perduli? Apa Papa gak sayang sama Milan?” Wajah Milan nampak murung. Ia duduk di undakan tangga dengan lutut yang ditekuk. "Kenapa Milan punya empat orang tua tapi temen-temen Milan cuman punya dua?"


Dugh


"SAKIT!" Bentak Milan lalu menatap tajam Tio yang menggiring bola kedalam rumah bersama teman-temannya. "Keluar! Ini rumah bukan lapangan bola, kalian punya otak gak sih?!"


"KENA SANDAL AJA KESAKITAN, CEMEN," ledek Tio balas berteriak. "Ayo temen-temen kita belakang aja, kelamaan disini bikin virus lembek nya Milan nular loh."


Teman-teman Tio tertawa remeh sembari mengikuti langkah Tio menuju ke halaman belakang.


Milan semakin menundukkan wajahnya lalu menangis keras. "Aku gak lembek aku gak lembek!"


Akhir yang baru datang dengan menggendong gadis berusia 4 tahun itu mendekati Milan yang berteriak.


"Hey, son. Kamu kenapa?"

__ADS_1


Milan mendongak memandang Akhir dengan berbinar. "Milan boleh bobo dirumah Daddy selamanya? Milan gak betah sama Papa-- aduh!" Milan memekik ketika Tiffany mencakar pipinya. "Tifa gak boleh nakal sama Abang!" Tegur Milan sambil berdiri memandang Tiffany garang.


Tiffany cekikikan lalu menubruk dada Milan dan memeluknya. "Abang jan malah yahhh!"


"Berasa ngedes@h anak gue," decak Akhir menatap kedua anaknya sambil geleng-geleng kepala. "Milan mau tidur dirumah Daddy? Izin dulu sama Papa."


"Gak mau gak mau!" Gelengan keras dari Milan seketika membuat Akhir terkesiap. "Milan gak mau izin sama dia. Milan juga gak mau punya Papa, Milan cuman mau Daddy sama Mommy aja!"


"Daddy, sebenarnya orangtua Milan itu siapa?"


Akhir menarik pelan tangan Milan dan Tiffany, membawa keduanya masuk ke mobil.


"Orangtua Milan itu ada banyak, keren kan?"


Milan menggeleng, "enggak. Milan mau orangtua Milan dua aja, biar normal kayak temen-temen Milan."




“Rafka, dulu dirumah sakit, kamu minta kesempatan kedua kan? Tapi kenapa pas aku kasih kamu *second chance*, kamu malah gak peduli sama anak kita?"



Rafka merasa asing, “Ra, panggil Afka jangan Rafka!”



Keyra menatap sinis, “Apa bedanya emang? Dulu kamu ngehianatin aku karena udah bertahun-tahun kita gak punya anak. Lalu selepasnya, kamu acuhin anak kamu sendiri! Nyesel aku ngasih kesempatan kedua. Mulai detik ini, Milan resmi tinggal sama aku. Oh iya kamu gak bakalan protes, dia ada aja kamu gak bakalan peduli!”



“Naura!" Bentak Rafka keras. “Aku gak bermaksud ngacuhin anak kita! Lihat Milan sama aja membuka luka lama, Ra. ”



Keyra tak peduli, ia tetep memutar tumit dan melangkah jauh meninggalkan Rafka sendiri.



“Naura, *please*, *don't go away*!"



"NAURA!"



Rafka terbangun dari mimpinya dengan keadaan terduduk. Nafasnya terengah-engah, ia melirik Shahila yang tidur dengan membelakanginya. Bahu istri tak dianggapnya itu bergetar, Rafka tetap tak peduli. Ia memandang foto Keyra yang terpajang di dinding kamarnya.



“Aku salah kah Ra? Naura, sumpah Demi apa aku rindu sama kamu. Udah enam tahun kamu pergi tapi rasanya kamu masih ada disekitar sini.”



...**TAMAT**...



mampos lu nyesel:v



nggak ngefeel



kalo keyra masih idup, sama akhir gitu? kasian dong akhir gue jodohnya si janda🐤



belom direpisi ancur udah;!!!!

__ADS_1



Keyra masih idup kagak sih?


__ADS_2