Keyra Naura

Keyra Naura
Badmood


__ADS_3

^^^Me :^^^


^^^Mbak Keyra, aku mau ketemu, boleh minta alamatnya?^^^


Mbak Keyra :


xxxx


Starbucks aja, malam ini, deal?


^^^Me :^^^


^^^gak bisa malam ini mbak. Aku udah janji kalo keluar siang doang.^^^


Ani kemudian menaruh ponselnya di ranjangnya. Ia menarik nafas secara perlahan lalu senyumnya mengembang ketika mengingat kedua majikannya tengah baby moon ke Italia. Itu artinya, selama 3 hari kedepan, ia hanya berdua saja dirumah ini dengan Erosi yang memang masih tinggal bersama Kakaknya.


Ani beranjak sambil merapihkan rambutnya yang berantakan. Tujuannya saat ini adalah dapur, senyum dibibirnya tak pernah luntur walau ia merasakan rahangnya keram.


Ia mulai meracik kopi hitam dengan sedikit gula kesukaan sang pujaan hati. Sebentar lagi Erosi pasti akan keluar dari kamarnya karena merasa lapar. Ani pun berinisiatif membuat cemilan yang cocok disajikan bersama kopi panas.


Klek


Betul tebakannya, Erosi keluar dari kamar setelah 5 menit dirinya berkutat didapur. Ani tersenyum cerah sembari menaruh sosis dan nugget goreng nya diatas meja.


"Mas Erosi, ini Ani gorengin sosis sama bikinin kopi buat temen malemnya." Ucap Ani tersenyum cerah.


"Makasih, Ani. Tau aja saya pengen nyemil."


"Kopinya enak gak Mas?" Tanya Ani penuh harap ketika Erosi menyesap kopi buatannya.


Erosi mengangkat jempolnya. "Seperti biasa, buatan kamu gak pernah mengecewakan saya, Ani."


Ani tersenyum malu-malu sembari menyibak rambut panjangnya kebelakang. Erosi yang melihat itu sedikit risih karena asisten rumah tangga Kakaknya itu masih berdiri dan tak berniat duduk maupun pergi.


"Kamu duduk aja disini, temenin saya."


"Iya Mas," sahut Ani menurut dan duduk disamping Erosi.


"Oh iya Ani, kamu kenal Keyra dari kapan?"


Ani memutar mata untuk mengingat pertemuan pertamanya dengan Keyra, sang mantan majikan. "Dari Ani umur 23 tahun, Mas. Mbak Keyra itu mantan majikan Ani."


"Umur kamu sekarang berapa?"


"29 tahun, mau masuk kepala tiga nanti bulan Januari," jawab Ani.


Erosi sejenak menganga mendengar jawaban dari Ani. "Kamu hampir kepala tiga tapi mukanya seimut ini?" Tanpa sadar, Erosi mencubit pipi tembam milik Ani. "Aku kira kamu masih anak kuliahan loh, An."


Ketika Erosi nampak mengagumi wajah cantik dan imut Ani, maka lain lagi dengan Ani yang sedang menenangkan degupan jantungnya yang menggila akibat sentuhan dari Erosi.


"M-mas, jangan pegang-pegang pipinya Ani."


"Lah kenapa? Pipi kamu kenyel gini minta digigit." Ujar Erosi sembari bersiap menggigit pipi tembam Ani. Namun wanita itu langsung menghindar sambil tertawa canggung. Terlihat sekali wajahnya yang pucat dan Erosi malah tertawa melihat kegugupan sang ART.

__ADS_1


Dia selalu menganggap Ani sebagai temannya. Karena hanya dengan Ani, ia bisa merasakan sebuah kenyamanan yang dulu pernah ia rasakan ketika bersama sahabat perempuan-nya. Ya, teman. Dan Keyra lah yang mampu menaklukkan hatinya.


Itu pikiran Erosi.


Erosi itu jomblo akut. Semasa sekolah sampai sekarang, pria berparas tampan itu tak pernah merasakan apa itu pacaran. Dia hanya beberapa kali berdekatan dengan kaum wanita dengan status sebagai teman maupun sahabat.


Orangtuanya melarang keras ia berpacaran karena dapat mempengaruhi nilai akademis putra bungsunya. Makanya sampai sekarang, pria itu tak bisa membedakan mana yang cinta dan mana yang suka.


Cinta dan suka, dua kata itu berbeda bukan?


"Kamu dari desa kan ya An?" Ani mengangguk mengiyakan. Pipinya masih terasa panas akibat ulah sang majikan. "Belom pernah menikah sekalipun?"


Ani menggeleng. "Kriteria Ani itu tinggi, Mas. Makanya masih jomblo sampe sekarang hehe," cengir Ani sembari menggaruk tengkuknya salah tingkah.


"Bukannya perempuan umur segitu udah di tagih kapan nikah ya, An? Gapapa dong kriteria kamu tinggi, orang kamunya aja udah cantik, serbaguna lagi."


"Mas Erosi gak mau gitu nikahin Ani?"


"Heh?"


...🐤🐣🐥...


20:20


"Nat, jangan pernah sekalipun lo berniat pacaran sama Lheo, gue gak suka."


"Lo jealous? Cie Linlintang jealous nih ye."


"Najis. Lheo itu brngsk, dan Aunty Naya udah nitipin lo sama gue."


Natha badmood. Ia yang biasanya cerewet pun mendadak menjadi pendiam. Kalo boleh jujur, ia menyukai Lintang sebagai perempuan ke lelaki bukan sekedar sepupu. Lintang itu heroin baginya. Walaupun mulut sepupunya itu sering ketus dan suka julid padanya, Natha tetap suka.


"Cari do'i yang perhatian dan gak toxic kayak cewek gue. Cari dah Lea versi cowok," ucap Lintang datar membuat perasaan Natha semakin buruk.


"Bicit lo! Ogah gue nyari cowok yang sejenis kek cewek lo. Sok alim sok polos padahal aslinya muna!"


"NATHA!"


_____


Keyra mengernyit saat kedua keponakannya memeluk dirinya secara bergantian. Ada yang aneh, raut wajah Natha yang biasanya ceria kini berubah masam. Ia pun menggiring keduanya ke meja makan yang sudah ramai.


Milan, Daniel, Tiffany dan Kannika sudah selesai makan malam dari sejam yang lalu. Mereka masih duduk di kursi karena sedang menyantap pudding buatan Keyra.


"Tante, Milan mau lagi."


Natha sontak menoleh memandang Milan intens. "Milan kok manggil Aunty Kera, Tante sih? Dia kan Mama kamu."


"Kamu siapa?"


"Aku ini Kakak kamu tau! Masa gak kenal sih?"


Milan menggeleng lalu menatap Keyra. "Tante, aku gak kenal Kakak itu. Dia siapa?"

__ADS_1


"Kak Natha itu Kakak kamu, Milan."


Milan hanya berohria. Ia pun menyodorkan telapak tangannya pada Keyra. Kode agar sang pengasuh mau memberinya puding lagi.


"Pudding nya besok lagi. Milan, Daniel, Tiffa sama Nika main dulu diruang bermain ya? Jangan langsung tidur."


Keempatnya mengangguk menuruti ucapan Keyra dengan Tiffany dan Kannika yang berlari cepat menuju ruangan khusus bermain yang dibuat Akhir untuk putrinya.


"Kenapa Milan manggil Aunty Kera itu Tante? Terus siapa dia?" Tanya Natha sembari memandang kearah Mark. "Ganteng banget," celetuknya lagi yang mana mendapat tatapan menusuk dari Lintang.


"Dia Om Mark. Aunty sampe lupa ngenalin dia ke kalian." Mark hanya tersenyum merespon Keyra.


"Om Mark yang udah ngebantu Aunty tercinta kalian. Jadi cium tangan dulu sekarang," timpal Akhir.


"Sawadikap."


Natha langsung terpesona dengan ucapan lembut namun tegas milik Mark. "Mirip bias aku. Orang Korea ya?"


Awal melotot. "Dia orang Thailand. Semua aja kamu samain sama idola kamu itu."


"Biarin ihhh, Aunty Awal mah syirik mulu sama Natha."


Setengah jam mereka berbincang sampai Awal dan Akhir memutuskan untuk mendekati anak-anak dan menyuruh mereka untuk tidur karena hari semakin malam.


Lintang pun menyeret Natha yang tak mau pulang dan menyisakan Keyra dan Mark saja di ruang keluarga.


Dipintu utama, kedua keponakan Keyra itu bertemu dengan Rafka. Natha menyapanya sembari mengernyit. "Om Rafka ngapain kesini?"


"Ketemu Aunty kalian." Jawab Rafka. "Kalo--"


Belum sempat Rafka menyelesaikan ucapannya, Lintang sudah menarik kembali tangan Natha dan masuk mobil.


Rafka menggedik acuh lalu ia pun masuk kedalam rumah Akhir sembari bersiul tenang. Kakinya yang baru berpijak diruang tamu, sontak memandang dua orang manusia yang duduk disana dengan kesal.


"Naura.."


Sementara disisi lain, Ivan menampilkan raut memelasnya ketika sang istri tiba-tiba menyeret koper miliknya dengan ekspresi ingin muntah. Pria itu ketakutan karena Bulan baru tadi membuka amplop yang sengaja ditaruh didepan pintu oleh Robby.


"Yang ini kan rumah aku."


"Rumah kamu kan rumah aku juga, Mas."


"Iya sih," Ivan menggaruk tengkuknya. "Tapi napa aku harus diusir?" Tanya Ivan. "Kamu marah soal foto itu yah? Itu kan cuman masalalu sayang, aku udah gak gitu kok!"


Bulan mendelik. "Aku gak bahas itu ya, Mas! Aku cuman enek liat wajah kamu tiap hari. Jadi lebih baik selama seminggu ini, kamu ngungsi ke apart dulu."


"Yah tapi yang,... aku gak bisa jauh dari kamu sama kembar!"


"Mas dengerin aku!" Raut Bulan langsung serius sembari menggambar abstrak didada sang suami dengan jarinya. "Dede bayinya gak mau liat kamu dulu. Jadi turutin ya?"


Dahi Ivan berkerut dalam. "Kembar emang udah bisa ngomong gitu?"


"Ish bukan itu!" Kesal Bulan. "Aku hamil mas."

__ADS_1


Belom direvisi:v


like, favorit n komen


__ADS_2