
Happy Reading....
Empat belas💧
Brak....
Andri--- pria paruh baya itu menggebrak meja kerjanya dengan mata yang menyala. “Mama kamu pergi menemui Keyra dengan si brengsekk itu?” tanya Andri pada anak sulung-nya.
Garen mengangguk mengiyakan. “Salah Papa sendiri yang nggak mau nganterin Mama ke rumah sakit tempat Keyra di rawat, dia kritis dan Papa malah ngelarang Mama buat ketempat anak nya? Keyra juga anak Papa kali,” balas Garen ketus.
“Papa nggak nganterin Mama kamu ke rumah sakit bukan berarti Mama kamu seenak nya pergi dengan lelaki brengsekk itu! Dia bukan anak Papa, dan kamu tau itu, Garen.” ungkap nya.
“Pa, yang salah itu mama sama om Davin, bukan Keyra! Kalo Papa nggak mau ngakuin Keyra, kasih tau yang sebenernya sama om Davin. Dia perlu tau semuanya,” ujar Garen.
Andri terdiam mencerna ucapan anak sulungnya itu, “nggak! Kalo Davin tau Mama kamu punya anak hasil perbuatan mereka dulu, dia dengan gampang ngambil semua milik Papa,” cetus nya.
“Ah terserah! Ngomong sama Papa itu ibarat ngomong sama batu,” sarkas nya dan beranjak untuk keluar dari ruangan kerja Papa nya itu.
Di luar, Garen mencoba menghubungi teman lama nya yang langsung tersambung. “Ndra, adek gue sekarang gimana keadaan nya?” tanya nya.
“Aduh, gue udah pulang duluan buat mastiin siswa siswi lain nya nyampe sekolah. Sorry ya, Ren.” ungkap orang di seberang sana penuh sesal.
“It's ok,” balas nya.
“Sekali lagi, sorry Ren. Jangan coret gue dari list calon adek ipar lo, oke?!”
Garen tertawa tanpa membalas ucapan dari Andra. Pria itu langsung memutuskan sambungan secara sepihak.
( ꈍЗꈍ) mua╭👄
Davin kembali bersama Indira dengan langkah saling ber-iringan. Semburat keceriaan tersirat jelas dari wanita berusia 47 tahun itu, Indira langsung memeluk tubuh Rafka yang sudah ia anggap anak sedari kecil, “Bisa kan Ma? Keyra pasti sembuh kan?” tanya Rafka penuh harap.
Indira mengangguk. “Alhamdulillah darah mereka cocok,” wanita itu semakin tersenyum lebar. “Insha Allah, kita berdoa aja semoga Keyra bisa melewati masa kritisnya setelah transfusi darah itu di lakukan. Dan---” Indira menoleh kearah Davin, “sekali lagi saya ber-terima kasih banyak atas bantuan Bapak,” sambung nya.
“Saya belum mendonorkan darah saya. Jadi, mengapa kamu berterimakasih?” tanya nya seraya menaikan satu alisnya.
Indira tersenyum canggung, “Bapak sudah ditunggu didalam sama Dokter,” ujar nya mengalihkan pembicaraan.
Davin langsung masuk kedalam ruang UGD tanpa berkata apa pun.
__ADS_1
Rafka menyenggol lengan Ervin. “Heh, Vin. Bokap lo ngapa bikin suasana akward bat sih? Persis bener kek elo.”
Ervin melirik sekilas tanpa berniat sedikit pun untuk menjawab.
Tiba-tiba tangan wanita paruh baya itu menggengam tangan milik Ervin seraya berkata, “maafin Tante buat semua, ya Ervin,” ujar Indira.
Alis Ervin mengkerut, sejak kapan Mama dari Keyra itu mengenal nya? Pikir nya, “maaf buat apa Tante?”
Indira menatap netra milik Ervin yang sama tajam nya dengan milik Davin dan juga Syila, “maafin Tante yang tanpa sengaja udah ngehancurin keluarga kalian,” Indira ingin mengatakan itu, namun ia tak ingin masa lalu nya dengan Davin semakin memperparah keadaan.
“Maaf udah gangguin pekerjaan Papa kamu,” katanya.
Ervin mengangguk saja, “gapapa Tante, Papa saya juga pastinya senang bisa membantu orang lain,” sahutnya sopan.
Indira ingin menangis saja melihat raut datar milik Ervin. Seandai nya 15 tahun yang lalu ia dan Davin tidak terjebak oleh rekan bisnis pria itu, mungkin sekarang keluarga Ervin masih lengkap dan Keyra tak akan semenderita ini karena ulah Andri yang tak terima dengan kelahiran Keyra.
Di dalam ruangan UGD, Davin merebahkan tubuhnya di brankar yang tak jauh dari Keyra, pria dewasa itu menoleh menatap Keyra yang terbaring lemah dengan wajah yang pucat pasi dibalik masker oksigen.
Darah segar mengalir dari balik selang yang menandakan darah Davin diambil, pria dewasa itu semakin menatap intens wajah Keyra. Setelah jarum transfusi darah di lepas dari lengan Davin dan di lap dengan kapas, Davin langsung berdiri.
“Dokter...” Dokter itu menoleh menatap Davin, “Iya kenapa pak?”
Dokter itu tersenyum seraya mengangguk, “baik pak, pasien akan di pindahkan terlebih dahulu, silahkan anda mengkonsumsi bubur yang sudah di sediakan oleh rumah sakit.” ujar Dokter itu.
Pria itu langsung keluar dengan menampilkan wajah datarnya.
“Yawoh muka pucet,” kaget Rafka tepat di depan wajah Davin. Memang cowok itu kukuh untuk berdiri menunggu di depan ruangan UGD.
“Rafka yang sopan!”
“Maafkan anak saya pak, dan terimakasih karena telah bersedia mendonorkan darah anda untuk putri saya,” sambung Indira sedikit membungkuk kan badan nya.
“Kamu, ikut saya ke bawah.” Titah Davin melirik sekilas Indira. Pria itu berjalan mendahului Indira.
“E-eh? Baik pak... Rafka, mama nanti kesini lagi,” ujarnya mengikuti langkah Davin.
Pintu UGD terbuka lebar dengan brankar tempat Keyra terbaring yang didorong oleh dua suster keluar menuju ruang rawat inap.
“Astaga pucet bat kayak Thea,” ujar Rafka heboh.
__ADS_1
“Lo kira Keyra vampir apa?!” sentak Abian galak.
Reno yang geram pun menarik telinga keduanya,
“Saya gulung juga kalian kalo masih debat, cepetan ikutin Ervin! Dia lebih gercep dari pada kalian tenyata,”
Reno tau dari tatapan ketiga anak didiknya itu, mereka mencintai gadis yang sama. Wajar saja jika salah satu dari ketiganya tak menyatakan perasaan nya secara langsung karena mereka masih ABG a.k.a Anak Baru Gede.
Mungkin jika mereka sudah memasuki jenjang SMA, ketiganya akan saling berebut gadis itu.
***
Di dalam ruangan nomer 71. Nampak seorang gadis yang terbaring lemah dengan beberapa luka di kening, lengan dan lutut nya yang tertutup oleh perban. Di kursi samping brankar, seorang pemuda dengan keadaan kusut masih setia menatap wajah pucat gadis itu.
“Rafka, kamu sama temen kamu apa sebaiknya pulang aja sama Pak Reno? Mama bisa kok disini jagain Keyra sendiri, lagian banyak suster juga.” Indira, wanita itu duduk di sofa ruangan itu seraya menatap Rafka. Disampingnya ada Abian dan Ervin yang nampak terlelap karena telah berada diruangan itu lebih dari dua jam.
“Gapapa Rafka disini aja, kalo Ervin sama si Ian mah lebih suka di sini dibanding rumahnya,” ujar Rafka menyakinkan. “Om Davin kemana mah? Masih betah di luar?” Tanya Rafka.
“Om Davin ada kerjaan, dia udah pulang dari tadi.”
“Eh iya, kenapa bukan om Andri yang kesini? kenapa malah papa nya Ervin? Om Andri nggak mau bagi darahnya buat Keyra?”
“Ra-rafka,” tenggorokan Indira terasa gatal, wanita itu memilih membuang mukanya. “Dia lagi di luar kota sayang, dan--”
“Om Davin bukan nya lebih sibuk? Rafka tau sesibuk apa om Davin, bahkan dia lebih sibuk dari Ayah Cakra! Kenapa buat anaknya, Om Andri kayaknya susah banget? Kalo nggak ada Om Davin, Keyra bakalan mati Mah!” Bentak Rafka tanpa sadar.
Rafka mendesis. “Maafin Rafka yang udah bentak mama,” sambungnya.
“Gapapa sayang, tapi boleh mama nggak jawab pertanyaan kamu?” Rafka hanya mengangguk mengiyakan.
.
.
.
Tet tett tettt
Typo n salah kata, hampura....
__ADS_1
Thank's