
“Yo bro, pakabar nih calon besan?” Cakra-- si pria absurd yang mengenakan jaz formal berwarna silver itu menjabat tangan Gara dan juga Davin yang berdiri dengan di dampingi para istrinya.
Kedua pria yang pernah menjadi tembok berjalan itu langsung memutar mata. “Sorry bro, bungsu gue udah di jodohin sama anaknya Rio. ”
“Anak lo juga udah gue blacklist dari daftar calon menantu idaman, gak ada besan-besanan!”
Cakra tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban dari Gara dan Davin. Keduanya benar-benar suka sekali menistakannya sedari dulu. Kenapa harus di blacklist? Anaknya itu tampan dan kalem, walau sedikit tak waras, jelas turunan dari nya!
“Bujuk buset, kita ini temenan ‘kan? Jangan jadi anjing dan babi lah teman, sial--” pria itu memekik pelan saat istrinya tiba-tiba mencubit pinggangnya. “Tempat umum Ca! Kamera nyorot kita semua, jangan asal ngumpat.” Ujar Rini pelan, senyumnya pun terus tersungging.
Mampu membuat Cakra terbungkam di tempat.
Yailah bini gue serem amat!
“Ini ruangan khusus buat Bapak-Bapak Antranos kok, Rin. Mau jungkir balik di tengah-tengah juga gak akan ada paparazzi yang rekam." Balas Rhea santai. Wanita itu melirik suaminya sekilas. “Bentar lagi acaranya mulai, kamu gabung dulu sama yang lain, Gih. Baru abis itu kita keluar, ok?” Gara mengangguk mengerti, lantas ia berjalan di ikuti kedua sohibnya --mendekati kerumunan yang kebanyakan seangkatan nya sewaktu SMA dulu.
Adnan yang baru saja datang pun langsung bergabung dan bercengkrama dengan yang lain, di ruangan itu memang benar hanya ada mantan anggota Antranos dan juga pendamping mereka.
“Lo kok gemukan, Rhe? Hamil lagi kah?” Ujar Reva dengan menutup mulutnya tak percaya. “Inget Rhe kalo lo itu punya cucu dua, gak mungkin ‘kan nanti ada yang manggil lo ‘Nenek’ sama ‘Mommy’ di waktu yang bersamaan?”
“Hooh Rhe lo hamil lagi? Buset anak lo banyak amat, udah 5 ‘kan anjirr.”
Cakra yang tengah asyik bercengkrama dengan teman-teman lamanya pun melirik istrinya sinis.
Nyuruh gue buat jangan ngumpat, diri sendiri malah ngumpat, dasar betina tua!
“Sembarangan! Lo kali tuh yang hamil, sadar gak sih pipi lo berdua tuh kek ikan kembung, aaa bakpao lebih tepatnya haha” Rhea mencubit kedua pipi sahabat lamanya dengan gemas yang dibalas pelototan tajam dari Reva dan Rini. Seluruh manusia yang berada di ruangan itu sepertinya tak ingat lagi dengan umur masing-masing.
__ADS_1
“Anak-anak kenapa belum pada nyampe ya?” Tiba-tiba Reva ingat dengan ketiga anaknya yang sampai sekarang tak kunjung nampak batang hidungnya di dalam ruangan itu.
“Ilang kali,” seru Davin santai saat mendengar ucapan istrinya.
Reva menatap suaminya kesal. “Huss ucapan itu doa, kamu beneran mau anak-anak hilang?"
“Dih, ilang satu, gampang di buat lagi kali, Mbaknya.” Celetuk Adnan sekenanya.
“Nah setuju!”
“Hey kalian pikir gampang apa punya anak lagi di usia hampir setengah abad? Enak di kalian, gak enak di kita sama anak-anak, pinter!” Celetuk Rini tajam tapi tak diindahkan oleh keempat pria berusia 44 tahun itu.
“Yaudah gampangnya aja kita nyari yang muda. Iye kagak Vin, Gar?” Davin dan Gara memilih membuka obrolan baru tanpa memedulikan ucapan Cakra yang pastinya membuat Reva, Rhea dan Rini murka. Cakra jadi panik sendiri melihat tatapan tajam yang dilayangkan istrinya itu. “Iyain dong woee! Maapin A'a Cakra lah Neng Rini.”
“Haeee para senior!” Sapa Alvin yang baru datang dengan tangan yang menggenggam erat jemari milik Laras --sang pujaan hati.
“Widih bujang lapuk dateng bawa siapa tuh, ” Cakra mengedipkan matanya pada wanita yang berdiri sejajar dengan Alvin.
Sementara Arvin membawa bayi mungil di gendongannya dengan tangan yang terus mengelus pelan puncak kepala bayi berusia tujuh bulan itu. “Adudu duda anak dua ini kenapa masih betah sendiri? Cari Mama baru buat kedua anak lo gih. Gak kasian ke Jihan sama Kelvina? Itu burung juga butuh sa--”
“Jihan sama Vina gak butuh Mama baru!” Potong Jihan cepat. “Kalo Papa mau cari Mama baru buat kita berdua, silahkan, gak ada yang larang. Asal Papa mau nyerahin kita berdua ke Mama Ira!"
“JIHAN MAU SAMA MAMA!”
Seketika hening, sang pemilik acara pun hanya diam tanpa mau repot-repot mengurus keributan yang dibuat oleh anak dari keponakan istrinya itu.
“Gak boleh!”
__ADS_1
“Gak boleh? Kalo gitu kenapa Papa gak balikan aja sama Mama? Biar gaada orang asing lagi yang nyuruh Papa buat cari Mama baru untuk kita berdua!” Sindir Jihan telak. Sementara yang disindir hanya mengerucut kan bibirnya malas.
Dasar bocil durjana!
Rahang Arvin mengeras, giginya bergemelatuk. Ingin sekali pria tempramen itu mengamuk jika tak ingat ada buah hatinya yang kini tengah tersenyum, menatapnya dengan tangan yang diangkat tinggi-tinggi seperti ingin menggapai wajahnya.
“Kamu mau buat Papa marah untuk kesekian kalinya, Jihan?” Suara Arvin sangat dingin. Rhea langsung maju mengambil alih Kelvina dari tangan keponakannya itu. “Thank Aunty,” ujar Arvin tulus.
Rhea hanya mengangguk dan pamit undur diri dengan membawa Kelvina dengan ditemani Reva dan juga Rini.
“Jihan gak pernah bikin Papa marah! Kenapa Papa jadi gini? Apa tante genit itu yang ngaruhin Papa ha?
“Jihan!” Bentak Arvin keras.
Gadis berusia 16 tahun itu kini memegang dadanya yang terasa sesak, kepalanya berdenyut keras, kakinya terasa lemas untuk berpijak.
“Bang lo tau 'kan Jihan itu gampang ke serang panik kalo nyangkut urusan ‘Mama baru'?” Cakra menggeleng tanda tak tahu. Seingat dia, Jihan itu merupakan gadis yang manja dan jarang berinteraksi dengan sekitarnya. Jika keduanya bertemu, Cakra akan menggoda Jihan untuk mempunyai ‘Ibu sambung' dan respon Jihan biasa saja. Kenapa sekarang menjadi berlebihan sekali?
Kini Alvin melirik saudara kembarnya sinis. “Dan lo lebih tau Vin kalo Jihan gak suka dibentak!”
Alvin membawa Jihan ke dalam gendongannya, ia langsung keluar dari ruangan itu dengan Laras yang mengikuti nya. Sementara Arvin hanya terdiam menatap punggung kembarannya yang mulai menjauh. Tangan pria itu terkepal erat.
Terlalu manja ckck!
TBC
[Jangan sider, jangan plagiat, dan jangan lupa tambahin Favorit yak.. Penyemangat gue di itu soal nya.. aa ga ada yang baca:v]
__ADS_1