Keyra Naura

Keyra Naura
KN_Meng-drama


__ADS_3

...Diam dibilang pengecut, melawan dibilang bipolar, mau lo apa?...


...-.-...


“Ini kapan berhenti bacotnya sih tu kepsek?” Tanya Ivan sambil menggerutu. “Panas bat njer.”


Saat ini, Rafka, Ivan, dan Bian


sedang dihukum oleh guru piket yang mengetahui keterlambatan ke-tiga pemuda itu. Meskipun hanya terlambat lima menit, mereka harus rela berdiri di atas bengkel Otomotif yang otomatis membuat terik matahari yang panas, terasa menyengat ke kulit masing-masing.


“Nunggu ajal kali,” sahut Rafka tanpa dosa.


“Lo berisik makin panas nyet,” celetuk Bian yang kesal mendengar keluhan teman satunya itu.


Ivan menggelengkan kepalanya heboh. “Gilaaaaa!”


“Kali ini apalagi?” Tanya Rafka.


“Kuis Fisika sama PMSM gue gimana cokk? Gila gurunya killer bat kek Tante gue,” kata Ivan.


“PMSM apaan?”


“Gini nih kalo tulang belakang diganti sama pipa rucika... Tululnya mengalir sampe jauh,” cibir Ivan pada Rafka. “Pemeliharaan Mesin Kendaraan Motor.”


Rafka ber-oh ria. ”Semoga pas kuis, Ipang gelagapan kek orang maling daleman ketangkep basah. Amin...”


“Amin,”


Ivan melayangkan tatapan sewotnya pada Bian dan teman sekelas Rafka yang juga terkena hukuman. Mereka serentak ‘mengamini’ ucapan Rafka dengan wajah yang dibuat serius.


Pemuda itu memutar mata. "Dahlah ngambek, mentang-mentang gue TSM sendiri disini,” kelakarnya.


“Dih cowok kok baperan kamu, Van.” Celetuk Arsha. Dia juga telat, karena biasanya dia dan teman se santrinya lebih sering datang terlambat dibandingkan tepat waktu.


“Cowok juga manusia,” seru Ivan membela diri.


Rafka mengusap wajahnya yang panas sambil menatap Ivan. “Pindah TKR aja cokk, mapel Sasis, mantep!"


“HAH SOSIS?”


Alvin yang sedang memberi petuah kepada anak didik-nya, kini menatap kesal ke arah suara dimana banyak pemuda yang sedang dihukum --dengan berdiri diatas bengkel Otomotif yang panasnya luar biasa.


“Ini jam sekolah, Rafka. Otak kamu SOSIS mulu ha? ” Ujar Alvin menekankan kata ‘sosis’ dibantu pengeras suara.


“SAYA IVAN PAK, BUKAN CURUT!"


Alvin mendelik, "Berani kamu sama saya?"


Ivan yang hendak menjawab, namun urung saat Bian menahan tangannya. “Udah gue bilang, jangan berisik!” Tekan Bian yang posisinya disebelah Ivan. “Mau cepet kelar 'kan? Diem, biar tu kepsek selesai-in ceramahnya.”


S


K


I


P


:V


Keyra menaruh seragam OSIS-nya


di loker dan langsung menguncinya. Saat ini loker sudah sepi, teman-teman sekelasnya juga sudah berganti pakaian sejak tadi.


“Ah ngeselin banget!" Suara cempreng seseorang menggema di lorong loker yang sepi.

__ADS_1


Otot leher Keyra terasa sedikit tegang begitu menyadari ada gerombolan gadis yang empat diantaranya sangat ia kenal sedang berjalan mendekati loker. Keyra membetulkan pakaiannya dan bergegas meninggalkan lorong loker.


“Sha, masa gue tadi ketemu anak haram yang hidupnya suka jadi pelakor.”


“Hm, terus?” Shahila nampak tak berminat. Lirikan matanya sekilas tertuju pada Keyra yang tiba-tiba menghentikan laju langkahnya.


“Gila caper banget kayak Tante-Tante butuh belaian.”


“Yang lo maksud siapa, Ra?” Tanya Akila penasaran.


Aura menaruh seragam OSIS-nya sambil menggedik acuh. “Ada deh, lo pasti enek liat wajah sok kecakepan-nya.”


Sementara Naya dan Lia menyapa Keyra yang hanya membalas sapaan keduanya singkat. Aura, Akila, dan Rindu turut berjalan mendekati Keyra.


“Kamu kelas berapa, Key?” Tanya Naya penasaran.


“Sepuluh,” balas Keyra seadanya.


“Dijawab yang bener dong!” Seru Lia.


Ya bener gue kelas sepuluh ‘kan nyet? Batin Keyra.


“Ini siapa?” Tanya Rindu.


“Namanya Keyra, anak baru.” Jawab Naya. “Kamu pindah kesini kapan?"


“Kapan-kapan,” Keyra menjawab santai. Lain lagi dengan raut Naya yang terlihat sudah emosi.


Nah ayo keluarin emosi lu, Nay. Munafik itu gak enak, jadi diri sendiri aja awokawok.


Aura menatap Keyra tak suka, “nih yang gue omongin tadi. Lihat kan? Mukanya ngeselin, ditanyain serius, malah jawab gitu.”


Akila menganggukkan kepalanya pertanda paham. “Setau gue anak baru di angkatan kita, cuman Keyra cupu itu deh.”


Gadis itu menelisik tubuh Keyra.


Ketat?


Keyra menunduk, mengamati pakaian yang dikenakannya. Ini pemberian dari Abangnya, menurut nya juga sangat pas ditubuhnya.


“Sayangnya gak, minggir!"


Tubuh Keyra hampir saja terjungkal kebelakang saat ada yang mendorong bahunya. Ia memandang Aura tanpa minat. “Gue gaada urusan sama lo ya,” ucap Keyra.


Aura berdecak, ia maju mendekati Keyra untuk mengikis jarak. “Oh tentu ada! Ngapain lo sekolah di Andromeda? Mau jadi pelakor lagi lo disini? Cukup gue dan Naya yang jadi korban, orang lain jangan!”


Cih meng-drama.


Keyra memijit pelipisnya kuat-kuat, mendadak rasa mual menyerangnya saat hidungnya mencium bau parfum Aura yang membuat perutnya bergejolak. Bukan berarti Keyra sedang hamil, memang jika tengah menstruasi, hidung Keyra lebih sensitif dari biasanya.


“Terserah gue lah mau sekolah dimana aja. Hak-hak gue! Urusan-nya sama lo apa? Korban? Pelakor?” Alis Keyra naik sebelah. “Masih pagi, gak usah drama!”


“Sialan,” tangan Aura terulur menjambak rambut Keyra kuat. “Lo itu pelakor yang harus dimusnahin!”


“Aww,” mata Keyra memerah. sungguh jambakan Aura terlalu kuat hingga rasanya kulit kepalanya hampir terlepas.


Sementara teman-teman Aura hanya menonton saja tanpa berniat melerai. Bahkan Akila dan Rindu diam-diam memotret Aura yang wajahnya sudah emosi sambil tertawa penuh kemenangan melihat Keyra yang merintih kesakitan.


“Terlalu pengecut itu lo, Keyra Naura.”


Cukup!


“Lo salah nyari lawan!” Keyra mencekal tangan Aura yang masih menarik rambutnya. Lalu dengan gerakan super cepat, ia menjepit kedua tangan Aura, membawanya kebelakang tubuh gadis itu.


Ia sengaja mengunci pergerakan Aura agar gadis itu tak lagi lancang menarik kuat rambutnya.

__ADS_1


“ARGH SAKIT ANJING, LEPASIN!”


“Lo ngomong sama sapa dah? Gaada guguk disini, nyet.” Ucap Keyra terlampau santai. “Btw bau parfum lo bikin gue enek,” tambahnya.


Aura hendak menginjak kaki Keyra, namun Keyra yang menyadari itu langsung menekan betis Aura dengan lututnya.


“Key tolong lepasin Aura, dia cuman bercanda sama kamu, jangan diambil hati.” Ujar Naya memohon.


Keyra hanya terkekeh sambil mengeratkan cengkraman nya begitu Aura semakin memberontak.


“Baperan sih lo Key. Queen Traavo kok gini?”


“Lo diem, gak usah bawa-bawa Traavo!” Tukas Keyra tajam hingga membuat nyali Lia menciut.


“Dan lagi,” Keyra menatap Naya remeh. “Lo dari tadi berdiri disini, ngeliat ni cewek nge jambak gue bahkan ngatain gue pelakor. Dari kecil lo tau gue Nay, pendendam dan gak mau kalah kalo udah diusik!”


Pandangan Keyra tertuju pada Shahila yang hanya diam. “Hila, cuman karena gue anak haram, lo ngejauhin gue gitu?” Melihat anggukan dari Shahila, Keyra tersenyum pahit. Kemudian wajahnya berubah lebih datar. “Ok.”


Aura, Shahila, Naya, Lia, Rindu dan Akila merupakan anak kelas X Akuntansi 1 yang sangat akrab saat di sekolah, pertemanan keenamnya pun bisa membuat orang-orang disekitarnya merasa iri. Namun mereka bagai orang asing jika sedang berada diluar lingkungan sekolah.


Biasa, teman musiman, xixixi:v


“Apa? Lo semua mau bully gue? Keroyokan satu banding enem hm? Maju aja, paling kalo gue lecet, kalian bakal gue tonjok.” Ujar Keyra.


Mereka bergedik ngeri, “Ok tapi lepasin Aura dulu!” Pinta Akila.


Keyra terkekeh, “See? Lo liat temen-temen lo itu, cuman diem dan ngebacot nyuruh gue lepasin lo ‘kan? Harusnya mereka ngotak, disini sepi banget, gampang kalo mau nindas gue rame-rame. Dan lagi, gue lebih kecil dari lo semua, kok gak berani maju?” Terang Keyra setengah mengejek.


Aura menggeram, “Diem jalang!”


“Gila psikopat, cocoknya lo masuk ke rumah sakit jiwa bukan Andromeda!" Seru Akila.


“Oh masaaa?”


"Lepasin gue anak haram! Gue injek juga ya lo!” Ancam Aura.


Keyra menganggukan kepala sok polos. “Bilang dulu kalo gue cantik dan kalem.”


“LO ANAK HARAM BANGS-- ARGGHH!” Aura memekik kesakitan kala Keyra semakin menguatkan cengkraman nya.


“Lu kira gue bakalan diem pas ditindas?” Tanya Keyra. “Dikira jambakan lo tadi gak kuat apa? Kuku lo yang tajem kek punya setan aja, masih kerasa dikulit kepala gue!”


"Lo gak punya hati nurani ya! Lepasin Aura woi!”


“Ini temen lo?” Keyra menikmati raut kesakitan Aura yang masih berada di cengkraman nya. “Nih ambil,” Keyra mendorong Aura hingga menabrak tubuh depan Akila.


Bruk!


Keyra menepuk kedua tangannya beberapa kali sambil memutar tumitnya hendak meninggalkan tempat itu.


“Walau cuman melintir, mayan lahh bikin bosen gue ilang, thanks ya!”


“GILA LO BIPOLAR!”


TBC


Gak nge-feel


Tandai typo


By the way, suka keyra yang gini gak?


Ahsudahlah.


__ADS_1



See you*


__ADS_2