Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Bibit Pelakor


__ADS_3

Berhubung males kebanyakan drama, skip aja


...🐣🐣🐣...


Aku mengerjap saat merasakan gerakan pelan dari orang yang kupeluk. Perlahan-lahan kelopak mataku terbuka. Aku menatap orang yang berbaring nyaman disampingku, pria yang sudah sepuluh tahun lebih ini menemani ku dan menyandang gelar sebagai suami Queensha Keyra Naura.


Waktu berlalu dengan cepat bukan? Bahkan aku tak menyangka pernikahan ku dengan Afka sebentar lagi akan menginjak tahun kesebelas. Tak disangka, kecelakaan kecil dulu membuatku dan dia terikat dalam ikatan tali pernikahan dan mampu bertahan sampai sekarang. Aku mengelus rambut legam nya pelan.


Selagi menunggu dia bangun, aku memperhatikan jendela kamar yang terbuka lebar. Angin masuk kedalam kamarku dan menerpa kulitku tanpa ampun. Kulirik Afka sekilas, rambut suami ku itu sedikit berterbangan hingga membuat dia mengerutkan dahi. Dan tak lama kemudian kelopak matanya terbuka.


"Hae cok," sapanya serak membuat ku terkekeh pelan tanpa berniat untuk marah. Afka masih sama seperti dulu, konyol dan humoris. Sedikit dewasa semenjak usianya masuk kepala tiga.


"Semalem kata Bibi, kamu gak makan, Ra?" Tanya dia memastikan.


Aku berkedip dua kali, "Gak laper, bawaannya pengen muntah kalo makan."


"Kamu hamil?" Pekiknya keras membuat ku terkaget-kaget.


Hamil? Tentu aku menggeleng. "Baru kemarin aku selesai mens, Af."


Dia menggaruk tengkuknya sambil menyengir. "Iya lupa, baru semalem aku buka puasa." Ucap dia sembari menguap. Aku ingat semalam dia pulang larut malam dan langsung mengajak ku tempur diranjang. "Dingin," kata-nya lagi sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang naked.


Sekilas tentang Afka, dia adalah pria yang berprofesi sebagai dokter spesialis bedah dan owner bakery terbesar di Jakarta. Dia sama sekali tak meneruskan jejak Ayah Cakra yang sampai sekarang masih betah menjadi CEO di perusahanya.


Ia berambisi, yah Afka berambisi. Ia menghabiskan masa mudanya dengan tujuan bagaimana mencapai cita-citanya sebagai dokter. Aku begitu salut dengan otaknya yang dulu sedikit ku remehkan.


Dia pria jenius, sangat jenius.


Aku semakin menunduk saat kepalanya menindih perutku, dan kurasakan hembusan nafas hangat nya diperut telanjang ku. "Disini anak Papa udah mau jadi ya?"


Kulihat binar matanya tertuju padaku.


Aku berharap iya, namun aku sangsi. Sekian tahun aku dan dia mengharapkan seorang anak, namun sampai sekarang kita berdua belum diberi kesempatan untuk mempunyai momongan.


"Aku kekamar mandi dulu."


Aku beranjak dari kasur dan berlalu masuk kedalam kamar mandi. Meninggalkan Afka yang nampak masih akan bergelung dengan selimutnya.


Aku menjatuhkan tubuhku dibathup setelah mengisi air hangat dan menyalakan lilin aroma terapi. Mata ku terpejam menikmati air hangat membasahi setengah tubuhku.


Pertanyaan Afka tadi begitu sensitif ditelingaku. Mungkin dengan berendam air hangat, bisa sedikit menenangkan hati sekaligus pikiranku.


"Anak?" Gumam ku lirih.


10 tahun lebih kami dengan sabar menunggu Tuhan menitipkan kepercayaan untuk memiliki anak. Dan selama itu juga aku dan suamiku menutup mata dan telinga akibat omongan orang.


Sekarang aku takut, takut jika nanti suamiku men-talak diriku disaat hatiku sudah jatuh terlalu dalam karenanya.


Dia bilang dia cinta padaku, namun cinta bisa pupus ditelan waktu bukan?


Afka tak sempurna, namun banyak poin plus yang menjadikan dirinya sebagai tipikal suami idaman. Dia seorang dokter spesialis bedah dan wajahnya sangat enak dipandang. Jika dia menceraikan aku, sudah pasti banyak wanita diluaran sana yang mengincarnya. Kenyataan itu membuatku terpuruk. Aku yang dulunya tak peduli dengan omongan orang, kini berbanding terbalik dan suka menyalahkan diri sendiri.


Ngomong-ngomong soal anak, lima tahun yang lalu aku dan suami ku diberi saran oleh Bunda Reva. Beliau menyarankan kami agar mengadopsi seorang anak kecil untuk 'memancing'. Tapi Afka tak mau, dia bilang :


"Gak perlu Bun, aku sama istri aku lagi menikmati masa berdua aja. Nanti kalo udah dikasih ya terima gak bakal nolak."


Padahal aku tahu, hati kecilnya sangat menginginkan seorang anak. Terlihat jelas sekali saat kami mengikuti reuni Traavo dan alumni SMK. Suami ku selalu memandang anak-anak temannya dengan tatapan berbinar.


Pintu kamar mandi transparan itu tergeser kesamping, menampilkan sosok Afka yang hanya mengenakan celana boxer nya, sedang menguap sembari berjalan kearahku. Aku memejamkan mataku begitu dia ikut masuk kedalam bathup.


"Lagi?" Tanya dia ambigu. Aku menatap sorot gair*h dimatanya.

__ADS_1


Astaga!


Aku menahan tangannya yang sudah menjalar kemana-mana. "Kamu ada jadwal operasi jam 9, jangan macam-macam!" Dia tak menghiraukan dan terus meremas apa yang bisa diremas. "Afka..."


"Kita mandi bareng."


Aku memutar mata. "Gak bisa, aku juga harus masak buat sarapan."


Aku memilih menyudahi acara berendamku. Dan langsung bangun tanpa mengenakan sehelai benang pun. Ku sambar handuk dan kulilit kan ke tubuh ku yang ramping. Lalu aku keluar dari kamar mandi meninggalkan Afka sendiri.


"Anyink murahan banget ini burung!"


Aku terkekeh mendengar umpatan nya. Ku ambil blouse hitam sebatas lutut dan langsung memakainya. Aku menghias diri didepan cermin sambil menguncir rapih rambut panjangku.


Kemudian aku bergegas menuju dapur untuk memasak sesuatu.


Semenjak Afka menjadi dokter spesialis bedah, rumah yang dulunya hanya satu lantai ini sudah diperbesar dan kini menjadi 3 lantai. Aku merasa kesepian, sungguh. Karena adik ipar ku sudah tak lagi tinggal disini karena Nana sudah menjadi istri dari Rivan Aditama.


Kabarnya sekarang, Nana sedang mengandung buah cintanya dengan Rivan, membuat ku bahagia sekaligus iri.


Ah bolehkah aku iri? Nana dan Rivan baru menikah 6 bulan yang lalu, dan sudah diberi momongan.


Sedangkan aku?


Aku mengusap ujung mataku yang berair ketika menyadari ada salah satu pembantu ku disini.


"Saya sudah buat spagetti. Kalo Nyonya ingin sesuatu, biar saya buatkan." Ucap Bi Asri sambil mendekati wastafel dan mencuci tangannya disana. "Nyonya sama Tuan mau sarapan apa?"


Aku mengambil beberapa butir telur dari lemari pendingin, lalu menoleh pada Bi Asri dan menggeleng pelan. "Cuman bikin omelet Bi, biar aku aja."


"Udah bertahun-tahun nikah, mandul kali Nyonya Keyra nya."


Aku mendengar bisik-bisik keras itu yang berasal dari pintu dapur. Aku menoleh kebelakang, kedua anak Bi Asri sedang memandang ku hina dan pura-pura mengerjakan pekerjaan mereka seperti menyapu dan membersihkan ruangan.


Bi Asri sudah memandang tajam kedua anaknya, mereka lima tahun lebih muda dari ku dan bahasanya terdengar sangat kasar.


"Kalo aku yang jadi istri Tuan Rafka, dia pasti bahagia!"


"Haha mana mungkin! Dia pasti akan memilih aku dibanding kamu!"


Lagi dan lagi keduanya berhasil memancing amarahku. "Kalian disini kerja digaji bukan untuk menggosip kan sesuatu!" Tegur ku keras. "Jangan lancang kalo ngomong! Saya bukan orang yang baik dan bisa saja menendang kalian berdua dari sini!"


Ani dan Ane si kembar tak identik itu langsung menundukkan kepala dan meminta maaf padaku. Tapi ku tahu bibir keduanya komat kamit mengumpati nama ku. Jelas sekali kedatangan kedua gadis muda itu selalu bisa membuat ku naik darah.


Ganjen,


Sok polos,


Dan yang terakhir suka menghina ku.


Mereka tak tahu? Aku bisa memantau kegiatan para pekerja dirumah ini dari layar CCTV. Dasar bodoh, bergosip ria di lingkungan rumahku? Bibit-bibit pelakor memang tak punya rasa malu.


"Maafkan anak-anak saya ya, Nyonya. Saya janji akan lebih mengingatkan kedua anak saya untuk menjaga batasan." Ucap Bi Asri dan hanya kubalas dengan anggukan.


Aku melanjutkan kegiatan memasak ku. Setelah selesai, ku dudukan bokong ku di kursi sambil menunggu kedatangan suamiku.


Aku teringat ucapan Ani tadi, apa aku memang benar wanita mandul? Memang selama ini aku tak pernah memeriksakan diri ke dokter, karena aku takut jika praduga orang-orang disekitarku benar. Aku wanita mandul!


 


Kurasakan pelipis dan bibir ku basah akibat ulah seseorang. Afka dengan cengiran khas lebarnya menyapa permukaan kulit ku, aku pun langsung menyodorkan piring berisi omelet padanya.

__ADS_1


"Aku izin mau ketemu Akhir sama Ipang, boleh?"


Afka menghentikan kunyahan nya dan mengangguk tanpa memandangku. "Akhirat masih jomblo, Ra? Dia dulu di Amsterdam masa gak nemu cewek yang pas?"


"Katanya mau fokus kuliah." Ucapku seadanya. "Sebulan yang lalu sih dia cerita ke aku kalo pernah putus nyambung sama Shahila. Entah kenapa mereka bisa jadian," aku menyantap omelet ku dengan khidmat. Tak mendapat balasan dari Afka, aku mendongak.


Otot leher Afka nampak menegang, aku bingung, mengapa reaksinya begitu?


"Kenapa?" Tanyaku padanya.


"Gapapa."


"Yaudah sana gih ke rumah sakit, aku izin ya ke kantornya Ipang."


Afka tak bersuara, sampai beberapa menit kemudian dia berkata.


"Kamu gak pernah jenguk Pak Tua itu ‘kan?"


Aku memandangnya dengan alis tertaut. "Pernah. Ayah Cakra kepengen ketemu anak dan menantu perempuan nya."


"Naura--"


"Bunda di alam sana gak seneng liat anak kebanggaannya gini, Afka. Jenguk Ayah ya? Kasian dia kangen sama kamu."


Afka tak menjawab melainkan membantu ku berdiri. Ia memintaku untuk merapihkan dasinya, aku pun menurut. "Jaz putih kamu dipake pas udah dirumah sakit aja ok? Aku pergi dulu bye," ku kecup pipinya yang tirus dan berlalu meninggalkan Afka yang tersenyum aneh.


Author POV


"Kamu gak kepengen punya anak ya Ra makanya minum pil KB?" Rahang Rafka mengeras menatap kepergian sang istri. Ia sedari tadi berusaha menjaga emosinya didepan Keyra agar tak terjadi cekcok seperti dulu.


Tadi setelah Keyra pergi kedapur, Rafka menemukan sebotol pil pencegah kehamilan di laci meja nakas kamarnya. Jadi selama ini hanya dirinya sendiri yang mengharapkan kehadiran seorang anak sementara istrinya tidak?


"Bertahun-tahun usaha aku kamu sia-siain Ra! Kamu tega ngebunuh calon anak kita dengan pil si@lan itu!"


Rafka jadi meragukan perasaan Keyra padanya. Ah iya Rafka sampai lupa, jika selama membina rumah tangga dengan Keyra, istrinya itu tak pernah mengucapkan kata cinta atau sayang padanya. Hanya Rafka yang sering mengatakan kata-kata tersebut.


Rafka memanggil kedua anak Bi Asri dengan datar. "Setelah istri saya pulang, jangan biarkan dia melakukan apapun. Masak makanan yang lebih sehat dari sebelumnya. "


Kedua pembantu itu mengangguk kalem. Wajah Ani dan Ane sudah memerah mendengar suara Rafka yang sedikit ketus. Setelah majikannya berlalu, kedua wanita itu berjingkrak jingkrak kesenangan.


" Yes kita berhasil Kak!" Ani berseru girang. "Mas Rafka mengira Keyra yang nyimpen haha!"


Sungguh pembantu tak tau diri. Keduanya memang menguping dari balik pintu dapur. Mereka senang karena rencana licik mereka berjalan lancar.


Membuat Rafka membenci Keyra, apalagi?


Bi Asri menatap kedua putrinya dari kejauhan dengan sendu. Ia ingin melarang rencana kedua anaknya, namun dirinya juga ingin salah satu anak kembarnya merasakan bahagia. Dengan menikahi Rafka yang sejak dulu keluarganya sudah terpandang.


Lagian orang seperti Rafka pasti butuh calon penerus, sedangkan istrinya sama sekali tak bisa memberikan momongan. Tak salah kan jika Bi Asri berharap?


Ciri-ciri orang munafik.


Ane mengulas senyum licik, "Semoga beneran di minum itu pil KB, biar gak hamil anak calon suami gue!"


**TBC


tandai typo n bertele-tele


like comen favorit


thx**

__ADS_1


__ADS_2