
Pagi hari, sebelum memasak untuk sarapan, Keyra sudah sibuk mengepel teras. Hujan semalam mengakibatkan teras nya sedikit kotor dan becek.
Udara sejuk menyapu indra penciuman nya. Gadis itu hanya mengenakan hoodie serta celana hitam selutut yang membalut kaki putihnya. Rambut panjang nya dibiarkan tergerai indah menutupi punggung kecilnya.
“Pagi babu,” Keyra tersentak kaget. Matahari bahkan belum menampakkan diri. Namun, Rafka sudah duduk di teras rumah pemuda itu dengan kaki menyilang.
“Ngebabu nya jangan kelamaan, abis ini kita jogging." Ucap Rafka.
Keyra melanjutkan kegiatannya tanpa menjawab. Setelah selesai, Keyra lalu memeras kain pel dan menjemurnya nya di samping rumahnya. Ia juga mencuci tangan nya di kran.
Gadis itu memutar tumitnya. “Sepuluh langkah dari rumah lo itu ada Naya loh, kenapa gak ajak cewek lo aja?”
Kemudian Keyra berjalan keluar melalui gerbang sambil menguncir rambutnya. Ia menarik tudung hoodie kuning favoritnya lalu mulai berlari kecil, diikuti oleh Rafka.
“Naya ngebo lah jam segini,” Keyra melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan Rafka. Pukul 5:36 pagi dan Rafka sudah serapih ini? Aroma citrus menyeruak dari tubuh Rafka yang terbalut hoodie kuning itu.
Mana wangi banget lagi, bikin orang nyaman aja. Batin Keyra.
“Tumbenan lo dah bangun Af, ngebo lagi gih. Gue mau keliling sendiri aja,” Rafka tak mengindahkan ucapan Keyra. Pemuda itu tetap kekeuh berlari disamping Keyra.
“Gue gak suka jalan sejajar sama lo Af.. Lo tuh kek tiang listrik tau gak sih? Berasa kerdil gue,” ucap Keyra.
Tinggi gadis itu hanya sebatas dada Rafka, gadis itu lagi dan lagi minder masalah tinggi badan. “Lo ngapa sih make hoodie kuning juga? Stalker gue ya lo,” tuduh Keyra curiga.
”Ganteng gini stalker, apa kata orang?"
”Dih anak Bunda sama Ayah gini amat wujudnya,” Keyra menjeda ucapannya.
”Nana pemalu, lah elo malu-malu ‘in!”
”Tunangan lo ini.”
”Cowoknya Naya!”
”Calon suami lo!”
”Suami Naya vangke!” Keyra tak mau kalah. Ia melirik Rafka jengah.
Keduanya masih berlari kecil melewati perumahan tempat mereka tinggal. Memberi senyuman ramah saat ada beberapa orang yang mengenal dan menyapa keduanya.
Jika Rafka menebarkan senyuman lebar yang menghiasi wajah tampannya. Maka lain lagi dengan Keyra yang tersenyum paksa. Pasalnya yang menyapa keduanya merupakan Ibu-Ibu yang suka sekali menggosipi anak orang lain tanpa intropeksi diri. Sejak bayi, Keyra tinggal di perumahan Permata Hijau, maka gadis itu paham dengan kebiasaan buruk Ibu-Ibu yang merupakan tetangganya.
Keyra berhenti, Rafka juga otomatis berhenti. Keduanya tak langsung duduk di taman komplek. Keyra mengusap keringat di pelipis sambil menarik nafas panjang.
Rafka terkekeh melihat gadis itu kelelahan.
__ADS_1
Baru sepuluh menit, otw pingsan lo Ra.
”Ra lo tau kagak kalo jogging sambil ngobrol itu bisa ngurangin rasa cape,” Keyra menggeleng tanda tak tahu. Ia mengambil ponselnya yang tadi Keyra simpan di saku hoodie nya. Menekan aplikasi kamera dan membidik langit jingga di pagi hari.
Burung mungil terbang tertangkap kamera dilatar awan berwarna jingga, membuat gadis itu berdecak girang.
Keyra sedikit memutar tubuhnya menghadap Rafka, menatap pemuda itu dengan tatapan tak terbaca.
”Jadi ngobrol aja kuy!”
”GELUT AJA KITA!” Rafka berjingkat kaget, menatap Keyra horor yang sedang mengarahkan ponsel pintar nya tepat di depan wajah pemuda itu.
“Jhahaha lo harus liat ekspresi ngegemesin lo itu.” Keyra mundur menjauh, menjulurkan lidahnya mengejek Rafka yang masih terkaget-kaget dengan teriakan Keyra.
Keyra menyembunyikan ponselnya dibelakang tubuhnya saat Rafka maju mendekatinya, ia akan menyimpan gambar candit Rafka sebagai ‘aib’ pemuda itu.
“Ngepens sama gue bilang, foto berdua dong,” Rafka mengambil alih ponsel Keyra. Tangan kirinya merangkul bahu gadis itu yang sedang cemberut. Mudah sekali Rafka menggapai ponselnya.
Rafka menekan timer lima detik lantas melirik Keyra. Ketika tatapan itu bersirobok, kepala Rafka tertunduk
dan tanpa sadar bibirnya mendarat sempurna di pipi Keyra.
Keyra termangu, degupan jantungnya menggila. Sensasi aneh saat bibir basah milik Rafka menyentuh permukaan kulitnya membuat ia nyaris lemas di tempat.
Ini pertama kalinya ada seseorang yang mencium pipinya, setelah ia beranjak dewasa.
Rafka membuka kontak gadis itu, hanya terdapat 6 kontak yang lima diantaranya ia kenal. Lantas Rafka membuka aplikasi WhatsApp dan tatapan nya tertuju pada nama ‘berandalan gubluk👻💙’ yang mencuri perhatian nya. Ia menatap Keyra nanar.
“Lo cuman ngesave kontak Om Davin, Tante Reva, Friski, Ayah sama Bunda gue doang?”
Keyra mengangguk polos, kemudian berkata. ”Kan itu hape baru.”
”Ini siapa berandalan gubluk? Sat alay banget make emot segala. Photo propilnya gaada lagi, gue tebak dia burik makanya gak pasang PP,” decak Rafka sebal.
Seakan tersadar, mata Keyra membola, ia meraih ponselnya dengan keras. Namun ponsel Keyra masih berada di genggaman tangan Rafka. ”Vangke balikin!”
“Bentar, kok lo gak ngesave no gue? Oh minta di cip*ok?”
Keyra memukul bahu Rafka tanpa ampun, ia mendorong Rafka hingga pemuda itu hampir saja terjungkal ke aspal. ”Lo jangan macem-macem ya! Kontak berandalan gubluk itu elo, puas?!” Wajah Keyra
memerah menahan malu.
Rafka diam, dalam hati ia terkekeh senang. Dan langsung meralat ucapannya tadi.
Gue lupa njirrr PP gue di hapus Naya!
__ADS_1
Rafka berdeham sambil menyodorkan ponsel Keyra pada pemiliknya. Matanya mengedar mengamati taman yang mulai ramai.
”Lo tau kenapa Naruto trouble maker?” Rafka mencekal lengan Keyra, menarik gadis itu untuk duduk di kursi yang disediakan oleh penjual bubur ayam yang biasa keliling saat pagi.
”Entah,” balasnya mengedikkan bahu. Keyra sedikit menunduk, agar matanya tak bertemu pandang dengan iris coklat Rafka.
“Pak Agus, beli buburnya dua ya.”
Keyra langsung mendongak.
Kok dua doang?
“Makan disini atau bungkus Mas Rafka?”
“Bung--”
“Disini Pak,” balas Rafka. “Komplit ya sambelnya seperempat sendok aja.”
“Buat saya sambelnya banyakin Pakde," Seru Keyra begitu penjual bubur itu hendak berlalu.
“Gak boleh! Seperempat aja lo gak boleh protes!"
“Apaan sih lo? Seperempat sendok itu gaada rasanya!” Protes Keyra. ”Gue beli sendiri, jadi terserah dong mau apa.”
”Perut lo gak kuat pedes Ra!”
”Mulut gue gak bisa tanpa pedes!”
Rafka menyerah, Keyra ini keras kepala sekali.
”Ditunggu ya,” Keyra dan Rafka mengangguk kompak.
Tak berselang lama, dua mangkuk bubur disajikan didepan keduanya. Keyra jadi ingat dengan ketiga manusia yang saat ia tinggal tadi masih tertidur.
“Mereka udah makan belom ya? Gue kan belom bikin makanan,” gumamnya pelan. Namun dapat didengar oleh Rafka.
“Mereka udah gede kali bisa nyari makan sendiri,” Rafka memakan buburnya santai. Di liriknya Keyra yang sedang menekuk wajahnya sambil megaduk-aduk buburnya hingga terlihat menjijikkan di mata Rafka. ”Ngapain di aduk-aduk sih kek eek tau.”
“Berisik! Enakan juga diaduk,” serunya galak.
Galak bener.
Tandai typo
****Favorit, like n komenn'ya****
__ADS_1
gak di revisi