
Yang gak suka alurnya drama, pengetikan nya kasar. bisa skip kan? Gue ngetik ini pake otak n butuh kouta, jan suka lapor" gaje deh:v
...🔥🔥🔥...
"Lan, kembar colay jauh dari aku, demam gak?"
Bulan diseberang sana kontan mengernyit mendapat pertanyaan dari sang suami. "Kembar colay maksud kamu siapa, Mas?'
"Aduh kamu sebagai Ibu gimana sih masa anak sendiri gak paham." Ivan berjalan menuju kaca transparan yang menampakkan pemandangan kota dari lantai tertinggi gedung perusahaan-nya. "Clarissa sama Claritta, sayang. Mereka masih demam apa enggak?"
"Enggak kok. Kamu kenapa nanya gitu?"
Ivan berdeham. "Aku mau ajak Keyra nemuin anak kita."
"Lah ngapain?" Suara Bulan mulai naik satu oktaf. "Mantan Mas Rafka itu selingkuhan kamu ya?!" Tuduh wanita itu keras.
"Iya, dia selingkuhan aku," dusta Ivan.
Ivan mengernyit ketika terdengar suara tangisan tertahan dari sang istri. "Hiks Mas Ivan kok jujur banget sih? Gimana nasibnya sikembar? Aku gak bisa ngurus mereka sendirian. Kalo kamu mau terusin perselingkuhan kalian, ceraikan aku dulu Mas."
Respon dari Bulan membuat Ivan kelabakan. Pria itu hendak menyangkal dan berujar jika ucapannya tadi hanya candaan, namun Bulan semakin histeris.
"Kenapa Mas Ivan harus selingkuh pas aku udah cinta-cintanya? Apa kamu dendam sama aku karena pernah nolak kamu ditempat umum? Mas aku gak bisa diginiin, huaaa..."
"Yang jangan nangis dong. Aku cuman becanda tadi," sangkal Ivan ketika tangisan sang istri semakin keras. "Keyra sama aku dari SMP cuman temenen, sayang. Lagian sekarang aku udah punya 3 bidadari, jadi buat apa selingkuh?"
"TIGA? SELINGKUHAN MANA LAGI YANG KAMU PUNYA, MAS?"
"Astaga," desah Ivan pasrah. Ia tak menyangka, istrinya yang dulu seringkali menolaknya, akan se-histeris ini ketika tahu dirinya selingkuh. Padahal dirinya kan hanya bercanda dan tak akan bisa berpaling dari Bulan, sang istri tercinta. "Bulan, Rita sama Risa, mereka bidadari aku, sayang. Jealous nih?"
Tut
"Lah?" Ivan memandang ponselnya lalu terbahak-bahak. "Lucu banget sih kalo kegep cemburu. Ah jadi kangen muka dia," kikik Ivan geli.
Suara pintu yang diketuk mengalihkan atensinya. Ivan pun duduk di kursi kebesarannya sembari mempersilahkan sang pengetuk pintu untuk masuk.
"Selamat siang, Pak?"
"Siang, ada apa Pak manager?"
Pria itu mendongak kemudian tersenyum kecut. "Saya mau bicara sesuatu yang pribadi dengan Bapak."
"Loh? Masih jam kerja loh, Pak,.. Pak Robby bukan?'
"Iya, gue Robby. Kakak kelas yang dulu pernah lo bully di SMK Andromeda."
Brak!
"WHAT?"
Robby menaruh sebuah amplop coklat diatas meja Ivan. "Silahkan lo buka dan setelah itu, turuti semua kemauan gue."
Ivan melongo hebat, memandang pria yang mengaku sebagai korban bullyan-nya dulu. Tampan, bertubuh tegap serta sepasang mata tajam yang kini sedang memandangnya nyalang.
__ADS_1
Sebelum membuka amplop pemberian Robby, Ivan mengerjap beberapa kali. Lalu matanya membola ketika tahu isi amplop itu.
Ada 10 foto. Dan itu semua tentang dirinya bersama...
"Lo dapet ini semua darimana?"
Robby terkekeh-kekeh. "Gak penting asal itu darimana. Yang gue mau, elo yang terhormat ini mau membantu gue menjauhkan Keyra dari Rafka. Semua permasalahan mereka, gue tau."
"NANI?"
—–——–—
"Keyra,"
"Naura."
Baru saja Keyra keluar dari mobil nya, suara Erosi dan Rafka yang bersahutan langsung menyambutnya di teras.
Keyra masuk kedalam rumah tanpa memedulikan tiga orang pria yang masih diluar. Wanita itu melangkah cepat menuju kamarnya yang terletak di lantai dasar. Disana, sudah ada empat orang anak kecil yang sedang rebahan diatas kasur dengan mata terpejam.
Cuaca hari ini memang terik membuat keempatnya mudah terlelap. Apalagi tadi mereka bermain bersama dengan Tiffany dan Kannika yang tak henti-hentinya berbicara walau tak digubris oleh Milan dan Daniel.
Keyra menguap pertanda ia juga mengantuk. Namun wanita itu menggelengkan kepala berkali-kali lalu mengusap wajahnya kasar. "Gak boleh tidur siang, nanti malem gak bisa tidur," batinnya bermonolog.
Cukup lama ia duduk sembari memandang wajah tenang mereka. Keyra bangkit kemudian bergerak menuju tempat dimana ketiga pria tadi berada. "Erosi, bisa ngomong bentar?"
Rafka mendelik tak terima. Enak saja, ia juga menunggu Keyra dari sejam yang lalu. Dan sekarang malah Erosi yang diajak bicara? Rafka tidak terima kawan!
"Ero," Rafka menepuk bahu Erosi sembari tersenyum masam. "Pasien lo udah nungguin, gue aja yang wakilin ngomong sama dia."
"Anjirr," umpat Rafka kesal. Mata coklatnya bertemu pandang dengan manik hazel milik Mark. "Sapa nya Keyra lo?"
Mark sejenak terdiam mencerna ucapan Rafka. "Ah, saya Mark."
"Gue gak nanya nama lo bangsul!" Sembur nya langsung. Namun tak lama raut wajah Rafka berubah menyadari nama pria tersebut. "Eh Mark? Lo pengganti gue, hah?"
Rafka menelisik penampilan Mark dan paras pria itu. Sial, pantesan Keyra oleng darinya. Ternyata pengganti dirinya saja setampan ini. "Jangan suka Keyra, dia jorok bat, seminggu sekali baru mandi."
"Kamu bicara apa?" Tanya Mark sedikit tak mengerti dengan ucapan pria asing di depannya. "Jangan suka Keyra? Kenapa?"
"Kan udah gue jelasin, woi. Dia jorok."
"Oooh," Mark ber-ohria.
"Inget ya, jangan suka dia! Awas lo kalo sampe deketin dia lagi!"
Mark terkekeh tanpa membalas lagi. Ia pun membiarkan Rafka yang melangkah ke pintu utama dan menyender disana. Telinganya ia pasang baik-baik mencoba menguping pembicaraan Keyra dan Erosi diteras.
"Apa semua ini karena Bang Rafka?"
Rafka mengernyit ketika namanya disebut-sebut. Entah mengapa, giginya bergemelatuk mendengar jawaban Keyra selanjutnya.
"Bukan."
__ADS_1
"Jujur itu indah, Key. Kamu kalo gamon, gapapa kok."
Rafka menyembulkan kepalanya sedikit agar bisa melihat ekspresi mantan istrinya. Namun nihil, ia tak dapat melihat wajah Keyra karena posisinya wanita itu yang membelakangi dirinya.
Sementara Erosi mendongak sebentar menyadari keberadaan Rafka. Ia pun tersenyum tipis.
"Bang Rafka udah cerai sama Shahila. Jangan bilang kamu nolak aku, alesannya beneran karena dia?"
Jantung Rafka berdebar menunggu jawaban Keyra.
"Dih apaan?" Rafka sekejap menahan napas. "Kalaupun iya, berarti aku bodoh."
"Bodoh?" Ulang Erosi yang diangguki Keyra. "Bodoh karena Bang Rafka pernah nyelingkuhin kamu?"
Keyra terkekeh pelan. "Emang itu. Tapi aku lebih bodoh lagi karna masih cinta sama cowok yang udah pernah selingkuhin aku."
Erosi diam, Keyra juga terdiam karena sadar dirinya telah kelepasan berbicara. "Aku liat, Bang Rafka masih cinta sama kamu. Kenapa gak terima aja?"
"Terima ya? Kenapa kamu bicara gini seolah mau jadi mak comblang antara aku dan dia? Bukannya kamu suka sama aku?"
Erosi tertawa lepas. "Awal pernah bilang kalo orang yang pernah selingkuh itu bak penyakit yang bisa kambuh kapan aja. Ada benernya sih ucapan dia. Cuman, bukannya semua orang berhak punya kesempatan kedua buat perbaiki kesalahannya?" Ucap Erosi.
"Aku suka kamu, tentu. Makanya aku mau ambil hati kamu secara perlahan. Soal permasalahan kamu sama Bang Rafka, semua pilihan ada sama kamu, Key. Terima atau tolak, itu bener-bener hak kamu."
Keyra tersenyum terharu. "Kamu gak perlu repot-repot kek gitu, Ero. Stop dari sekarang dan temui wanita yang benar-benar kamu cinta. Aku ini cuman cewek bodoh yang bahkan bisa segampang ini nolak cowok sebaik kamu."
"Kuy jadi pinter. Kamu terima aku, kita gas ke KUA!"
Rafka mengepalkan tangannya kuat-kuat saat Keyra dibuat tertawa oleh Erosi.
'Bakal aku buktiin ke kamu, Naura.'
...
"Bodo anjink!"
Robby tersenyum miring. " Ok, foto ini bakal gue sebar ke istri lo."
"Heh! Baru jadi GM disini aja lo dah belagu banget ya?! Saking gak lakunya apa lo sampe mau misahin dua human yang saling cinta?"
"Kalo lo gak mau lakuin itu. Berarti elo rela berkorban dong? Rumah tangga lo dan istri lo yang akan kena imbasnya." Ucap Robby sambil menggedik acuh.
Ivan menggebrak mejanya tak santai. Sedari dulu, dirinya memang merupakan manusia yang gampang terpancing emosi dan tukang ngegas. Di liriknya Robby dengan sinis. "Itu masalalu gue, Babi! Jadi buat apa sih lo ngasih foto begituan ke bini gue? Lo kira dia bakal marah hanya karena foto itu?"
"Kita liat aja gimana reaksi istri lo setelah liat foto ini," ujar Robby. Menggoyangkan 2 lembar foto ditangannya sembari tersenyum miring.
Ivan mengepalkan kedua tangannya erat. Ia tahu betul bagaimana tabiat Istrinya yang suka mengungkit-ungkit kesalahan dirinya barang sekecilpun.
Robby didepannya sangat berbeda sekali dengan Robby 17 tahun yang lalu. Dan Ivan tak menyangka, orang yang dulu suka ia bully hanya karena masalah sepele, kini sudah bertransformasi menjadi bom waktu yang kapan saja bisa meledak.
"Gini, gue bos lo. Mana ada sih bos nurutin kemauan kacung? Lo mau gue tendang dari sini?"
"Depak aja gue dari perusahaan lo ini. Sebagai gantinya, rumah tangga lo hancur, Ivan."
__ADS_1
tndai typo, like, favorit, komen