
Davin---- pria itu menatap intens gadis yang terbaring lemah diatas brankar dengan mata yang terbuka. Keyra meliriknya sebentar lalu tersenyum tipis.
Keyra pernah melihat pria itu saat Ervin membuat masalah yang mengharuskan Davin untuk datang ke SMP Bina Abadi. Namun sampai sekarang Keyra tak pernah tahu nama dari pria di depan nya itu.
“O-om? Om salah kamar ya?”
Davin tertegun mendengar suara lembut yang sangat mirip dengan Crystal— mommy nya.
Setelah menutup pintu ruangan itu, Davin berjalan dengan aura wibawa yang menguar mendekati Keyra. Pria tampan itu duduk di samping brankar Keyra dengan masih menatap wajah gadis itu, pupilnya yang berwarna amber serta bentuk pahatan wajahnya yang mendekati kata sempurna mengingatkan nya kembali dengan Crystal yang sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.
Namun, ada sesuatu yang membuat Davin merasa sesak di dadanya, mengapa keberadaan putrinya baru ia ketahui sekarang? Mata gadis itu sangat langka dan mengapa tidak ada kemiripan sedikit pun antara dirinya dengan Keyra— putrinya? keseluruhan wajah gadis itu hanya mirip dengan Crystal, dan bentuk tubuh Keyra menurun dari Indira.
“Tempat saya disini,” ujarnya.
“Hah?”
“Kamu dengerin saya baik-baik,“ Davin menjeda ucapan nya. “Mulai sekarang--- panggil saya dengan sebutan ‘papa’. Setelah kamu keluar dari rumah sakit, kamu pulang kerumah papa bukan mama kamu,” ujarnya.
Keyra mengernyit bingung, ia memejamkan matanya kala nyeri itu datang kembali. “Maaf om? Boleh Keyra tidur dulu? Sumpah ngantuk banget. Maaf sekali lagi kalo Keyra nggak sopan,” sahut Keyra. Dia memang mengantuk dan merasakan suhu ruangan di sekitarnya lumayan dingin. Kepala nya masih terasa nyeri dan bagian bawah matanya terasa sedikit mem bengkak.
“Boleh saya tidur di samping kamu?” Keyra melirik brankar nya yang ternyata sangat muat untuk berdua.
“M-maaf om, bukan mukhrim dan Keyra takut jadi pelakor,” ujarnya menggeleng cepat.
Davin ingin sekali tertawa mendengarnya.
“Panggil ‘papa’ Keyra! Boleh papa panggil kamu ’Queen?” tanya Davin seraya beranjak untuk merebahkan tubuhnya di samping kanan Keyra yang bebas dari selang infus.
“O-om seriusan ih.. Keyra beneran ngantuk, terserah om mau manggil apa,” Keyra pasrah saat Davin merebahkan tubuhnya di sampingnya.
Tangan kokoh itu pelan-pelan berada di pinggang Keyra dan memeluk nya erat. Keyra merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Bukan, bukan karena ia jatuh cinta kepada pria matang yang memeluknya itu. Namun entah, Keyra pun tak tau perasaan apa itu.
“Papa jelasin semuanya, anggap saja itu nyanyian tidur untuk kamu, Queen.”
Lalu, mengalirlah cerita dari mulut Davin yang sedikit di dengarkan oleh Keyra. Sekarang Keyra tahu mengapa Andri, Anggi dan juga Alisa begitu membenci nya. Ia
merupakan— anak haram yang menghancurkan keluarga mereka.
Ada satu yang Keyra pikirkan, mengapa Shahila dan Aura juga membenci nya? Bukan kah sedari dulu Shahila selalu melindunginya jika ia sedang malas melawan saat di ganggu. Begitupun dengan Aura yang biasanya menatapnya hangat pun sekarang sangat kasar padanya hingga ia terdampar di rumah sakit ini dan entah berapa hari ia dirawat.
“Queen tidur p-papa.”
__ADS_1
Davin semakin memper erat pelukan nya dengan menyentuh telapak tangan Keyra yang dingin. Ia tak menyangka mempunyai seorang anak perempuan yang sedari dulu sangat ia idam-idamkan.
Di luar ruangan, Rafka dan Friski kompak menutup mulut saat Davin memeluk Keyra. “Setau gue Om Davin itu lebih beku dari Om Gara, kok astaga mertua gue ternyata lebih perhatian dari bokap laknat gue,” ujar Rafka heboh sendiri.
“Apa gue juga harus sakit dulu biar orang tua gue peduli?” Gumam Friski tak menyadari mata pemuda di sampingnya yang memincing menatapnya.
“Lo ngomong apaan dah Ris? Orang tua lo harmonus gitu masa gak peduli sama lo?”
“Harmonis tolol! Akh lo salah denger nyet,” Ujar Friski.
Harmonis di depan orang, mereka pandai nutupin semuanya Raf...
Gue capek hidup kayak gini terus.
Gak ada yang peduli sama gue..
Rafka merotasikan matanya malas. “Salah denger gimane? Telinga gue baru di bersihin kok masa---”
Seseorang menepuk bahu Rafka dan Friski yang membuat keduanya membalikan badan. “Tante masuk dulu ya.”
“E-eh tan, kayaknya om Davin perlu waktu berdua deh sama Keyra, itu--” Rafka kembali membalikan badan nya seraya menunjuk Davin dan Keyra di balik kaca transparan.
Wanita paruh baya itu tersenyum lebar melihat nya.
Seketika Rafka mengingat bubur yang tadi ia letakan di atas meja di dekat sofa, ia terlalu terburu-buru keluar dari ruangan Keyra sehingga ia melupakan bubur nya.
“Belum tan.. Si Rafka nggak guna banget jadi babu.”
“Babu pala lo!”
“Udah, kalian berdua mending cuci muka dulu.. Tante kebawah dulu.” Setelah mengatakan itu, Reva bergegas turun untuk membeli sarapan meninggalkan Rafka dan Friski yang masih terdiam.
“Pertanyaan gue yang tadi belom dijawab oy.”
Friski bergeming, ia mendudukan dirinya di kursi tunggu yang di ikuti oleh Rafka. “Coba lo telfon nyokap Keyra lagi,” Friski mengalihkan pembicaraan yang mampu membuat Rafka langsung merogoh ponselnya.
“Nomor yang anda tuju tidak mau menjawab, silahkan periksa kembali otak anda dan jangan menganggu saya yang sedang pacaran!!! Tolong--”
“Hah siapa---”
“Menginterupsi ucapan berharga saya hukumnya bayar! Silahkan anda mengirim kan sejumlah uang ke rekening pribadi Bapak Rean Ariendra, sekarang.”
__ADS_1
“Heh! Ngapa jadi lo yang ngangkat? Dedemit! Emak gue mana woy!“ Balas Rafka ketus ketika menyadari siapa yang menjawab panggilan nya.
“Taik diem lo! Nelpon gue malah nyariin emak lo, jangan ganggu gue, gue lagi pacaran somplak!” Ujar seseorang di seberang telpon ngegas.
Rafka melirik layar ponselnya yang menampakan nama ‘Ipang kang ngegas’, pemuda itu sontak tertawa tak berdosa.
“Hehe, kayaknya layar gue eror Pang, niatnya mau nelpon emak gue, eh malah mencetnya kontak kang ngegas.”
“Syalan lo, bayar dulu--”
Tut..
Rafka langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Ia tak mau mendengar ocehan teman tukang ngegasnya lebih lanjut.
“Tolol lo,” Friski mencibir teman nya itu.
Rafka, pemuda itu meletakan jari telunjuknya di depan bibir nya yang mengerucut. “Sutt diem dulu! Gue mau nelpon emak gue.“ Ujarnya lalu menempelkan ponselnya ke telinganya.
Rafka menggigit ujung ponselnya dengan gemas.
“Gak diangkat lagi, emak gue kenapa ya?” Tanya Rafka bingung kala nomer Indira masih saja tak aktiv. Pemuda itu menyandarkan punggung nya di tembok dengan matanya yang terpejam.
“Telfon keluarganya yang lain lah bego!
“Lah males lah gue, yang waras cuman Bang Garen tapi dia lagi sibuk sama Prakerin kelas dua belas njay,” balasnya malas. Pemuda itu mengotak-atik ponselnya dengan alis yang mengerut.
“Apa-apaan nih?” Dengan penuh emosi, Rafka membanting ponselnya kelantai, pemilik nama lengkap Rafka Aryaputra Kalandra itu menatap penuh dendam kearah
handphone bermerk Black Shark 3S nya. “Sialan bat dia, berani-beraninya ngancem gue.”
Friski sendiri mengelus dadanya karena kaget mendengar cacian yang keluar dari mulut laknat Rafka, entah siapa ’dia’ yang maksud oleh teman nya itu. “Apa nya yang apa njirt?” Friski meraih handphone Rafka dan langsung terbelalak melihat layar ponsel Rafka yang syukurnya masih menyala, menampilkan seorang remaja berbeda gender yang tengah berciuman.
“Lo ciuman sama Naya?”
..
. .
....
Typo n semuanya... Hampura.
__ADS_1
Keyra and Rafka
Like comen n ratenya:V