
❦ untuk mu ( ͡°〓 ͡°)
.
.
3 hari kemudian.
"Cex ph̀x dæ neīy l læ̂w c̄hạn ca khidt̄hụng khuṇ s̄emx mæ̀ ca dūlæ reā xỳāng dī xỳā lụ̄m dūlæ s̄uk̄hp̣hāph læ̂wk lạb mā!"
"(Sampai jumpa Phao. Daniel dan aku akan selalu merindukanmu. Mae pasti bisa menjaga kami dengan baik. Jangan lupa jaga kesehatanmu dan kembalilah!)" Ucap Kannika penuh semangat sembari terus menggelayuti lengan Keyra.
Pagi ini juga Mark akan kembali ke Negara asalnya dengan menitipkan kedua anak kembarnya pada Keyra. Hanya 3 tahun, ia janji hanya selama 3 tahun ia jauh dari anak-anaknya.
Keputusannya sudah bulat apalagi melihat kedua anaknya yang lebih dekat dengan Keyra dibanding dirinya. Mark tahu betapa menyedihkan-nya Kannika dan Daniel saat jauh dari wanita itu.
Awalnya Mark ingin kembali ke Thailand 2 hari yang lalu. Tapi Karena Kannika yang merengek meminta waktu lebih, akhirnya pria itu menurut dan tinggal 2 hari lebih lama di Jakarta.
"Berjanjilah!" Ucap Kannika lagi.
Mark tersenyum mengacak-acak rambut putrinya. "Kenapa jadi Phao yang harus kembali?"
"Karena Nika mau tinggal bersama Mae Keyra saja."
"Tidak bisa seperti itu, sayang."
"Phao, segeralah masuk." Tegur Daniel pada sang Ayah yang masih bercengkrama ria dengan adik kembarnya. "Naai Akhir sudah menunggu," ucapnya lagi sembari menunjuk Akhir yang berada didalam mobil dengan dagunya.
"Aku dan Daniel tak bisa mengantarmu kebandara karena kami harus ke sekolah yang baru." Cengir Kannika lebar. "Dan Phao harus janji, setiap malam jangan lupa menghubungi kami!"
Mark mengangguk lalu mengusap rambut kedua anaknya secara bergantian. "Jangan menyusahkan Mae Keyra dan Khun Awal. Kalian harus menuruti mereka, ok?"
Kedua anaknya mengangguk. Mark baru bisa tersenyum lega ketika menyadari Keyra yang tersenyum tulus kearahnya. "Tunggu aku kembali. Aku pasti akan membawa dia menemui kalian semua," ucap Mark lalu masuk kedalam mobil setelah berpamitan dengan penghuni rumah itu.
Ia ke bandara hanya berdua dengan Akhir karena hari ini memang anak-anaknya akan bersekolah ditempat yang sama dengan Milan.
Sekolah baru juga untuk Milan tepatnya. Keyra dan Awal yang mengurus semuanya. Ketika Milan, Kannika dan Daniel sudah siap dengan seragam baru mereka, Keyra dan Milan pun menggiring ketiganya masuk kedalam mobil lantas meninggalkan rumah yang sudah sepi.
...🐤🐣🐥...
Tiffany berlari kecil mengelilingi komplek bersama Oca-- istri Degra yang otomatis adalah Bibinya. Ia tengah menemani sang Bibi menghirup udara pagi sambil mencari makan untuk sarapan paginya dengan sang Bibi.
Pagi tadi, tiba-tiba Degra datang ke rumah dan langsung menculiknya kerumah pria itu.
Alasan Degra menculik bocah itu cukup simple. Karena, istrinya tengah ngidam dan ingin ber-keliling komplek bersama keponakannya yang gemoy itu.
"Ante, Tifa mau ecklim!!"
"Eskrim?" Tiffany mengangguk antusias sembari masih menunjuk stand eskrim yang ada disekitar komplek itu. "Gak boleh dong, sayang. Kan kamu belom makan," ucap Oca membuat Tiffany cemberut.
"Tifa pengen ecklim!"
__ADS_1
"Sarapan dulu sayang. Beli bubur yuk?"
"Ayo beli bubul!" Tiffany menarik tangan sang Bibi lalu dirinya duduk di kursi yang disediakan oleh si penjual bubur ayam. "Mamang, Tifa mau bubul!"
"Anj kaget!" Sontak mata Tiffany berkaca-kaca mendapat bentakan dari penjual bubur yang ternyata masih sangat muda. "Aduh adik kecil jangan nangis dong. Om cuman kaget tadi!"
"Tifa sayang, nangisnya dirumah aja ya? Kan katanya pengen eskrim, kita makan bubur dulu." Ucap Oca sembari menepuk puncak kepala Tiffany.
"Aduh Mbak, maaf ya? Saya beneran kaget tadi, makanya gak sadar udah ngebentak adeknya."
"Gapapa Mas, saya maklum. Saya pesen buburnya dua ya."
Sang penjual mengangguk dan mulai membuat pesanan Oca. Tiffany langsung berlari mendekati stand eskrim meninggalkan Oca yang gelagapan.
"TIFA JANGAN LARI-LARI!" Teriak wanita itu lalu beranjak dan berjalan tergesa-gesa kearah Tiffany. Oca langsung tersenyum lega ketika Tiffany sudah tiba di stand eskrim tersebut tanpa lecet sedikitpun.
"Haft Tifa! Jangan lari-lari gitu, Tante bisa jantungan, sayang." Nasihat Oca ketika ia sudah berdiri didekat Tiffany yang sibuk menjilat eskrimnya. "Kamu belom sarapan, Tifa."
Tiffany hanya cengengesan tanpa membalas nasihat sang Bibi. "Ante bayar ecklimmya ya? Aku mo pulang, mo ketemu Bang Milan," ucap Tiffany dengan pipi memanas karena mengingat Milan. Tak menyadari raut wajah Oca yang tengah menahan kesakitan diarea perutnya.
"B-bentar sayang." ucapnya dengan tergagap. Oca meraih dompetnya dan mengeluarkan selembar uang kertas berwarna biru lalu menyodorkan uang tersebut pada si penjual.
Belum sempat penjual itu menyodorkan uang kembalian, Tiffany sudah menarik tangannya untuk meninggalkan area taman. "Mbak, tolong uang kembaliannya buat penjual bubur itu ya!" Pinta Oca dengan berteriak yang langsung diangguki oleh penjual es krim itu.
(Paansih gaje, plak!)
...🐤🐣🐥...
Keyra masuk kedalam kafe yang letaknya berada tepat didepan sekolah anaknya. Ia sendiri karena Awal sudah pulang sedari tadi. Sebab wanita itu harus tiba di butik nya yang tengah dibanjiri customer.
^^^Me :^^^
Ani :
udah gak si mbk. pekerjaan ani semuanya udah selesai.
kenapa ya mbak? mau ketemu skrng?
^^^Me :^^^
^^^Iya.^^^
^^^📍send location^^^
^^^Disini, An, saya tunggu.^^^
Keyra menaruh ponselnya diatas meja. Memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya. Tak lama, pelayan tersebut kembali sembari membawa nampan berisi lemon tea nya serta nachos.
Ia tiba-tiba teringat ucapan pria yang mengaku sebagai Robby 2 hari yang lalu.
"Jangan bodoh, Key. Rafka udah nge-hianati kamu dan juga gak peduli sama Milan. Apa kamu mau kembali sama cowok bi*dap kek dia?"
__ADS_1
"Anda siapa sih?" Bentak Keyra sembari menyentak tangan yang sudah lancang mencengkram lengannya. "Anda lebih bi*dap karena gak punya etika!"
Robby terkekeh lalu duduk di kursi taman yang nampak ramai. "Gak inget? Aku Robby. Orang yang pernah kamu tolong dari bullyan Rafka sama Ivan 17 tahun yang lalu."
"Gak inget," sahut Keyra pendek. Ia pun langsung bergegas mendekati Kannika dan Tiffany yang tengah mengejar kucing namun tangan Robby menahannya.
"Jauhin Rafka,... atau Shahila bakal ngelakuin kejahatan sama kamu," ucap Robby lagi yang dianggap angin lalu oleh Keyra.
"Key?"
Lamunan Keyra buyar ketika tangan seseorang menyentuh pundaknya. Wanita itu mendongak untuk mencari tahu siapa pemilik tangan tersebut. "Hila?"
Shahila tersenyum datar lalu duduk didepan Keyra. "Gue mau ngomong sama lo."
"Ngomong aja."
"Jauhin Tio sama Robby."
Keyra mengerutkan alis kemudian tersenyum miring. "Kenal mereka aja kagak."
"Pokoknya jauhin mereka, Key! Mereka bisa nekat kalo ketemu sama lo!"
"Bodo lah bodo. Urusannya sama lo apa?"
"Otak mereka miring, seriusan. Jaga juga anak lo itu," ucap Shahila tegas.
Keyra sedikit terkejut mendengar nada Shahila yang serius. Namun ia tak bisa percaya begitu saja pada wanita yang pernah menyandang pelakor di hubungannya dengan Rafka.
"Dan juga, kembalilah sama Rafka, Key. Gue gak tau kenapa lo masih hidup sementara dulu Dokter bilang lo udah mati setelah melahirkan Milan. Tapi yang pasti, waktu itu Rafka terpukul banget."
"Emang gue kelihatan peduli?"
"Keyra!" Bentak Shahila menarik perhatian setempat. "Gue bakal bawa anak gue ke Jepang. Tempat Ayah kandungnya berada."
"Hah?" Keyra melongo, mencerna kembali ucapan Shahila yang terasa membingungkan. "A-anak lo bukan anak Afka?"
Shahila menggeleng lalu tersenyum miris. "Sejujurnya, Rafka itu bodoh. Anak itu ada sehari sebelum gue ngejebak Rafka."
"Ohh," respon dari Keyra membuat Shahila kesal. "Tapi akhirnya kalian ML kan? Gue kecewa sama lo. Tapi gue lebih kecewa sama diri gue sendiri, Hila."
"Ini salah gue, Key. Salah gue yang terlalu obsesi sama Rafka. Gue gak terima lo yang dapetin dia. Sementara gue? Gue masih cinta sama dia sampai sekarang. Dan selama 6 tahun ini gue sadar, gue bodoh banget."
"Bagus deh kalo sadar, lo tuh begoo!" Ucap Keyra mendapat pelototan sinis dari Shahila.
"Nek lamp--- lampion ngapain disini?" Ani yang baru tiba langsung tergagap melihat tatapan tak suka dari Shahila.
"Harusnya gue yang bilang gitu! Ngapain lo disini Ane?"
Ani mendelik. "Aku Ani bukan Ane isssh!"
"Ohhh lo si naif itu," ucap Shahila lalu bangkit dan memandang Keyra tajam. "Inget, lo harus balik sama Rafka! Dia itu laki terbaik yang gak pantes lo abaikan."
__ADS_1
Cih, terbaik?
.