
Happy mumet
Hidup ini sederhana, tapi kitalah yang membuatnya rumit_-
...π£π£π£...
"Jam 12 kalo ada yang mencari saya atas nama Lea Nopita, suruh langsung keruangan saya." Suaranya mengalun indah ditelinga Nia. Sejenak Nia tertegun melihat senyum tipis yang terukir dibibir Ivan.
"I-iya Pak."
"Oke makasih Nia, selasa besok kosongkan jadwal saya ya."
Nia mengangguk mengerti lalu menghela nafasnya setelah atasannya melangkah masuk kedalam ruangan yang ada di depannya.
"Lea lagi Lea lagi, siapa sih dia?" Gumam wanita itu sembari fokus mengerjakan tugasnya sebagai seorang sekertaris. "Sadar Nia sadar! Pak Ivan gak akan pernah peduli sekalipun kamu bilang cemburu di depan dia."
Sementara di dalam ruangan.
"Udah lama?" Ivan menyapa kedua temannya dengan senyum lebar ala iklan pepsodent. Ivan duduk disofa yang sudah diisi oleh Keyra dan Akhir. Pria berusia 29 tahun itu meneguk minuman diatas meja dengan santai. "Duh GM sialan itu nantangin gue," gumam Ivan sembari sedikit melonggarkan lilitan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
Keyra memandang Ivan sebal. "Udah sejam gue sama Akhir nunggu disini, tau." Ujar Keyra yang di iyakan oleh Akhir.
"Si jomblo lemot banget kek siput," timpal Akhir setengah meledek. Mata dan jarinya tetap fokus pada macbook diatas pangkuannya.
"Kek elo nggak aja." Balas Ivan. "Gue baru selesai meeting njer, sabar napa." Ivan kemudian memandang Keyra yang menjentikkan jari berkali-kali. "Kali ini siapa lagi yang ngatain lo cewek mandul?"
Bugh
"Filter dulu omongan lo!" Decak Akhir tak terima dan menatap Ivan tajam. Sementara yang ditatap tengah mengusap kepalanya yang dipukul oleh Akhir. "Ganggu kerjaan gue!"
"Buset pawang kedua lo marah, Key." Gumam Ivan meringis.
"Gue mau nanya." Keyra memandang Akhir dan Ivan serius. "Mimpi berkali-kali itu bisa kenyataan gak si?"
"Hah maksud lo?" Tanya Ivan tak mengerti.
Keyra memutar otak untuk mencari kalimat yang pas. Memang kalimat nya tadi terdengar begitu ambigu. "Misal, kalo lo mimpi Lea balikan sama lo, dan itu berkali-kali muncul di alam bawah sadar lo, itu bisa kejadian di real life gak si?"
Brak!
Ivan menggebrak meja dengan tak santai. "Bakal kejadian itu mah!" Serunya menggebu.
"Itu mah maunya elo jurik." Ucap Akhir setelah menoyor jidat Ivan. "Kamu nanya gini kenapa, Key?"
"Kimi ninyi gini kinipi, kiy." Ujar Ivan meledek. "Ama Keyra lembut amat ye bos, inget bini orang nih." Ivan merangkul bahu Keyra sambil meledek Akhir.
Ivan tau sahabatnya itu masih menyimpan rasa untuk Keyra. Dia kira setelah kembali dari Amsterdam, Akhir akan membawa gandengan dan mampu melupakan cinta monyetnya pada Keyra. Ternyata tidak, disuruh menikah dengan pilihan teman-temannya saja Akhir selalu menolak.
"Gue nanya serius." Keyra memijit pelipisnya yang berdenyut. "Dulu waktu gue kecelakaan di Magelang, gue mimpiin Hila hamil anak suami gue. Itu kenapa keulang lagi sekarang?"
Ivan terbatuk batuk mendengarnya. "Lo mimpi begituan?" Pekiknya tak percaya. "Serius Kekey?!"
Plak!
Ivan mengaduh kesakitan kala Akhir memukul jidatnya. "Doyan banget sih lo mukul gue?!"
Akhir tak acuh dengan gerutuan Ivan. "Mimpi cuman bunga tidur, Key."
"G-gue takut itu bakal jadi kenyataan."
"Hey! Mana mungkin Rafka ngehamilin Shahila sedangkan mereka gak saling deket, kan? Lagian suami kamu itu cuman cinta sama kamu, Key!" Akhir merasa Keyra sedang mengalami masalah dan pikirannya selalu negatif. Baru kali ini juga wanita itu bercerita tentang keresahan hatinya.
"Gak, mereka emang gak deket. Tapi seinget gue Hila sering buntuti Afka waktu dikampus dulu."
"Tenang Kekey, kalo Rafka curut beneran ngehamilin si Uler Keket, gue banned dia dari kehidupan!"
Akhir memukul bibir Ivan. "Lo bukannya tenangin Keyra malah nakut-nakutin!"
Ivan membalas dengan cengiran lebarnya. Ia kemudian duduk di kursi kebesaran nya dan mulai fokus dengan banyak berkas yang menumpuk diatas mejanya. "Bisa lo berdua keluar dari ruangan gue? OB otw kesini beresin kuman kuman yang kalian sebar. Calon pendamping gue mo kesini soalnya." Ivan berlagak bossy sambil tersenyum tanpa dosa.
"Ok fine kita keluar!" Final Akhir menutup macbook nya. "Key, aku ke hotel dulu ya, mau ikut?"
"Jangan Kekey!" Dengan tegas Ivan menolak sembari menyilangkan kedua tangannya kedepan. "Lo masih siang udah nge hotel aja, ngajak bini orang lagi. Gue sebagai temen budiman nya si Kekey, otw banned lo dari sini!"
"Astaghfirullahalazim Ipang! Gue kerja di hotel sebagai GM bukan tamu yang mau mantap mantap!" Tandas Akhir tak terima.
Drt drtt
Keyra memandang ponselnya yang menyala.
Ali-en
[JMG hotel, gue tunggu.]
^^^Hah?^^^
[Kesiniπ lintang nyariin aunty nya]
^^^Asik kangen sama gue:v^^^
[Jangan geer lo, cepetan kesini!!!]
Keyra memutar mata melihat balasan dari Alisa. Ia pun beranjak dan berjalan mendahului Akhir. "Gue bawa mobil sendiri, tujuan sama kek lo."
Tiba di hotel JMG, Keyra langsung turun dari mobilnya sambil matanya mengedar mencari keberadaan Kakaknya. Akhir menghampirinya, kemudian kedua orang itu berjalan beriringan mendekati sekumpulan orang yang familiar bagi keduanya.
"Aunty," Keyra membentangkan kedua tangannya memeluk gadis berkuncir kuda tersebut. "Etha Kangen!!!"
__ADS_1
"Sayangnya Aunty gak kangen Netha. Aunty kangennya sama Lintang." Netha mencebik kepada sepupunya yang berdiri melempem disampingnya.
"Aunty jahat ih, Etha aduin ya ke Mommy!" Ancam Netha dengan suara imutnya.
"Aduin aja, Aunty gak takut tuh." Keyra suka menjahili putri pertama Garen dan Naya. Lucu gemes gitu kalo ngambek.
Keyra mengandeng tangan Netha dan Lintang menuju keberadaan empat manusia yang sibuk bermesraan di lobby hotel. " Kalian ini ya, punya rumah gede malah doyan banget ke hotel. Please jangan buat bareng-bareng kek taun lalu. Gue culik juga ni dua bocah." Omel Keyra sembari berkacak pinggang. Dengan polosnya, Netha mengikuti gerak tubuh Aunty nya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Aunty jangan marah-marah nanti cepet tua."
Keyra menarik nafas sambil menunduk sedikit untuk menatap Netha. "Tha, umur kamu berapa sih? Bawel sama tinggi bat dah."
FYI : Keyra 159 cm sementara Netha 154.
Sudah tau kan setinggi apa untuk seumuran Netha yang masih sepuluh tahun? Keyra kan jadi merasa kakak adik dengan Netha.
"Aku umur 10 tahun aunty. Aku tinggi?" Netha spontan meletakan tangannya di atas kepala. "Aku memang tinggi kan? Kalo yang pendek itu Aunty Kera."
Semua terbahak terkecuali Keyra dan Lintang. Keyra langsung bersedekap dada. "Aunty gak sayang sama Netha lagi, yuk kita pulang Lintang." Keyra mengandeng tangan Lintang sambil pura-pura berjalan hendak meninggalkan lobby hotel.
Netha menahan pinggang Keyra sambil menangis kencang yang mana menarik perhatian sekitarnya. "Hiks hiks huaa Aunty jangan tinggalin Netha! Aunty harus selalu sayang sama Netha hua gak mau gak mppppht--"
Lintang membekap mulut sepupunya dengan kejam. "Jangan berisik! Suara kamu jelek kayak Aunty Nay."
"Bagus emang didikan Mama banget!" Alisa bertepuk tangan mendengarnya. Ia mendekat hendak mencium pipi putranya, namun urung kala Lintang bersuara santai.
"Suara Mama juga jelek, jangan deket-deket sama Lintang, Lintang alergi."
Alisa, Andra, Naya dan Garen terdiam membeku. Keyra sudah terbahak karena Lintang membelanya. Akhir pun terkekeh pelan melihat tawa lepas Keyra.
"Aduh kesayangan Aunty pinter banget, yuk yuk kita beli ramen ichiraku langsung di negaranya." Ujar Keyra tak merasa bersalah. Ia tau Lintang hanya bercanda tadi.
Keyra memang tak dekat dengan Alisa maupun Naya. Namun, ia sangat dekat dengan Lintang dan Netha. Mungkin kehadiran kedua bocah itu sudah ditakdirkan untuk membuat ketiga wanita yang dulunya tak dekat menjadi lebih dekat.
"Jangan lama-lama, gue juga punya suami yang harus dilayanin." Ujar Keyra dengan nada mengancam.
"Cuman sehari Key, kamu kan suka anak kecil. Jadi gak masalah dong?" Tanya Garen menaik turunkan alisnya. Ia mengecup pipi Naya hingga si empu merona. "Rafka pasti mau ngerawat Lintang sama Netha sehari."
"Lo pada udah tua ya, jangan mesra-mesraan di depan bocah napa. Gue nya jijik."
Alisa mengibaskan tangannya. "Halah kalo ada Rafka disini juga lo berdua yang paling bucin tingkat akut." Ujar Alisa memanasi. "Sini sayang Mama peluk dulu."
"Gak mau, Lintang mau nya sama Aunty aja yang cantik."
"Heh! Kamu kira Mama gak cantik?"
Andra menepuk puncak istrinya. "Jangan galak-galak ih."
"Key aku masuk dulu ya, kamu mau ikut?" Akhir bersuara saat Asistennya sudah memanggilnya.
Keyra menggeleng lalu menunjuk dua keponakan-nya dengan dagunya. "Gue tau lo sibuk, duo tuyul bisa ngerusuh pekerjaan lo, yang semangat kerjanya bor!" Ujar Keyra menyemangati. Akhir pun tersenyum dan pamit undur diri pada semuanya. "Yuk tuyul kita go go go!"
Keyra memandang Kakak ipar yang lebih muda 4 bulan darinya itu dengan kesal. "Naya, anak lo emang tuyul. Lintang sama Netha suka bat nyolong duit gue njirr!"
"Njiir tuh apa?" Tanya Netha tak mengerti sembari mengangkat tangannya tinggi tinggi. "Aunty njirr tuh apa?" Tanya Netha kala tak ada yang menjawabnya.
"Njirr itu-- mpht" Keyra membungkam mulut Lintang dengan tangannya, bocah itu langsung mengigit telapak tangannya hingga Keyra menjerit lirih. "Sorry Aunty, aku kaget." Ucap Lintang menunduk karena merasa bersalah.
"Selain tuyul, lo Vampir juga ternyata." Gumam Keyra sambil menatap telapak tangannya yang memerah. "Yaudah aing pamit, batas waktu tiga jam yak!"
Keyra hanya tertawa kecil saat semuanya menatap ia horor. Wanita itu bergegas membawa Netha dan Lintang masuk ke dalam mobilnya.
...π€π€π₯ππ£π₯...
Keyra berkedip saat Netha duduk di depan Raga yang sedang kerja kelompok dengan temannya. "Kak Raga, Etha suka sama Kakak!" Ucap Netha sembari menggeser duduknya disebelah Raga yang kosong.
Teman-teman Raga yang dominan cowok itu sedikit risih dengan sikap bocah itu. Namun mereka memilih diam sembari sesekali melirik Keyra yang mengawasi Netha.
Raga mendongak. "Kamu suka sama Kakak?" Netha mengangguk. "Kakak juga suka sama Netha."
Bocil itu tersenyum malu-malu. "Berarti kita pacaran dong?"
"Hah?"
"Kata Daddy, kalo aku sama Kak Raga saling suka, itu artinya kita pacaran!"
Keyra menepuk dahinya mendengar penuturan anak Garen itu. Ia menarik Netha untuk duduk di pangkuannya. "Netha bukan selera Kakak Raga, yang jadi seleranya Kak Raga itu Lintang, sepupu kamu."
"Astaghfirullah Kak Queen," ujar Raga frustasi. Raga memandang gadis bernama Craniella yang duduk disebelah kirinya. "Aku gak gay," bisik Raga pelan yang mana tertangkap oleh telinga Keyra.
Keyra tersenyum pada Craniella yang tersenyum datar. Sungguh cantik sekali wajah gadis muda itu. Namun kalung liontin salib yang nampak dileher Craniella sedikit menganggu pikirannya.
"Kamu pacar Raga?" Tanya Keyra memastikan.
Gadis itu menggeleng, "Eng--"
"Iya Ella pacar aku, Kak Queen." Sela Raga sambil tersenyum lebar.
Oke Keyra mengerti. Raga suka sama yang beda keyakinan. Keyra bukan berarti rasis. Ia hanya sedikit khawatir nantinya. Keduanya sudah harus siap mental jika dipisahkan oleh keadaan. Pasalnya pacaran beda agama biasanya sering ditentang banyak pihak. Dan pahitnya, mereka yang menentang justru orang terdekat.
Iya sih belum tentu keduanya menjalin hubungan yang lebih serius. Tapi melihat tatapan Raga yang mendamba gadis disampingnya membuat Keyra sedikit tahu isi hati adiknya. First love hm?
"Jadi Kakak sukanya sama Lintah?"
Seketika lamunan Keyra buyar begitu Netha tak bisa diam di pangkuan nya.
"Iyain Ga, biar diem ni bocah." Bisik Keyra pada adiknya.
__ADS_1
"Bener itu Kak? Kakak pacaran dong sama Lintah." Netha menunjuk Lintang yang duduk bersama Reva di depan layar televisi sambil memakan kue buatan Reva.
Raga mengangguk saja tanpa berniat membalas.
"Ajak temen kamu ke gazebo belakang aja, Ga. Disini gak bakal kelar tugas kamu." Raga mengangguk dan mengajak teman-temannya untuk mengikutinya ke halaman belakang.
Davin datang dengan menggendong seorang bayi setelah Netha berlari ke arah Reva untuk meminta minum.
"Aduh, aku kira itu anak Papa," goda Keyra sambil menoel gemas pipi gembul Kenzo. Balita itu menggeliat tak nyaman dan spontan Davin menepuk-nepuk pantat Kenzo.
"Dia mirip Raga waktu bayi."
"Lah? Harusnya mirip Rey dong."
Davin menggedikkan bahunya tanda tak tahu. "Papa gak pernah liat wajah Ervin waktu bayi. Kamu mau gendong?"
Keyra melongo. "Ah, nanti Kenzo nangis kalo aku yang gendong." Ujar Keyra sangsi. Dulu dia sedikit membenci Ayah Kenzo. Bisa jadi balita itu balas dendam padanya 'kan?
"Papa udah pensiun, kan? Harus Rey yang ngurus perusahaan dan Papa cukup duduk manis dirumah bareng Bunda."
"Ervin belum terlalu mampu gantiin posisi Papa, Queen. Papa cuman bantu dia dari rumah."
"Yaudah Papa sama Bunda sehat-sehat ya, aku nunggu banget kalian gendong anak aku nanti."
"Kamu gak mau coba bayi tabung?"
Keyra tersentak. "Bayi tabung?"
Keyra memalingkan muka kala Netha datang dengan menyedot susu kotak ditangan nya. "Halo Kakek Avin." sapa Netha pada Davin yang langsung memasang raut datarnya.
"Saya bukan Kakek kamu," seloroh Davin tajam.
"Pah, jangan datar datar ah nanti dimarahin Bunda."
"Iya-iya," ucap Davin memilih beranjak. Davin melirik kearah Reva yang asik mengajak Lintang bicara. "Aku tunggu diatas, kamu jangan kelamaan dibawah."
"Nenek, Nenek!' Netha berlari kearah Reva dan dengan barbar nya duduk disebelah Reva. Keyra mengikuti dari belakang. "Nek kenapa Kakek tembok gak suka sama aku dan Lintang?"
"Eh?"
Kakek tembok palalu. Keyra ingin mengumpat, namun saat mengingat Netha masih kecil dan tak mengerti pun hanya mengelus puncak kepala gadis itu.
Keyra jadi ingat dengan Indira dan Andri yang tak pernah ke Jakarta untuk meluangkan waktu menjenguk anak-anaknya. Kata Garen sih mereka berempat beserta Netha dan Lintang setahun sekali mengunjungi Indira dan Andri di Medan.
"Kan yang penting Nenek sama Aunty sayang sama kalian berdua." Ucap Keyra menenangkan.
"Gak, bohong! Tadi aunty bilang cuman sayang sama Lintang, gak sayang Etha."
"Dih baperan."
"Kamu gak boleh julid gitu, Queen." Komentar Reva halus.
Keyra tertawa lepas saat Netha yang mulai menangis sesegukan. "Becanda sayang nya Aunty. Masa iya sih Aunty gak sayang tuyul satu ini." Gemas, Keyra menarik hidung mancung Netha hingga memerah.
"Aduh sakit Aunty!"
Keyra tak mengacuhkan, ia kemudian memandang Reva. "Oh iya Bunda, Keyra boleh nginep disini bareng duo tuyul ini?"
Reva mengangguk antusias. "Tentu aja boleh. Rumah ini jadi ramai sejak kalian datang. Oh iya Queen, kamu mau belajar menimang Kenzo dulu?"
"Gak mau ah Bun, nanti Ayah nya ngamuk lagi sama aku." Tolak Keyra.
"Ervin dan Bunga beberapa jam yang lalu pergi ke Bandung buat ketemu Bian. Makanya Kenzi dititipin kesini."
Keyra ber oh-ria, ia hendak menjawab namun suara langkah kaki yang terdengar masuk kedalam rumah membuat Keyra mengatupkan mulut. "Gaada salam nya, Ca? Lo bertamu dirumah orang loh bukan di hutan." Reva menyindir halus sembari menatap sinis Ana yang sedari dulu selalu membuatnya emosi.
Cakra spontan mengucap salam sambil menyengir. "Gue mau ketemu suami lo, ada urusan." cakra mendekat ke Keyra sambil tersenyum. "Anak Ayah sehat kan?"
" Harusnya aku yang nanya gitu, Ayah udah sehat?"
Cakra mengangguk masih mempertahankan senyumannya. "Yaudah Ayah keatas dulu mau ketemu Papa kamu."
Keyra hanya diam menatap tubuh mertuanya yang perlahan mulai hilang dari pandangannya. Keyra lalu memandang Ana yang memasang wajah angkuh
"Kursi disebelah sana Tante," Keyra menunjuk sofa yang berada tak jauh dari tempat ketiganya berdiri.
Setelah semuanya duduk, Ana memandang Reva. "Gue mau bicara sama Keyra"
"Terus?"
"Berdua doang."
"Yaudah anggep aja gue gaada," dengus Reva sambil mencebik. "Oh iya Keyra, Bunda minta tolong dong bilangin ke Bibi buat bikin minuman."
"Siap Bunda, Keyra juga laper mo bikin makan dulu." Keyra tak menghiraukan tatapan tajam Ana dan berjalan ke dapur begitu saja.
Ana menggeram. Ia menggertakan giginya tanda amarahnya sudah di ujung. "Gue mau Keyra pisah sama Rafka." suaranya terdengar keras. Bahkan Ana tak sadar bahwa Davin dan Cakra sudah berdiri di undakan tangga terakhir menatap Ana tajam.
"Wait!" Reva mengangkat tangannya. "Lo apa? Lo mau nyuruh anak gue pisah sama suaminya? Emangnya Lo siapa?" Tanya Reva tak percaya.
"Sebelum lo lanjut omong kosong lo itu, gue bakal bicara semuanya. Sepuluh tahun lo nikah sama Cakra, gak bikin kita-kita nganggep lo ada, Ana. Lo cuman wanita ganjen yang gak punya urat malu ngegoda suami orang. Rini meninggal emang udah takdir. Gue gak nyalahin elo kok tentang penyebab kematian sahabat gue. Semua orang juga tahu gimana liciknya elo, dan Cakra jingan itu terjerat? Well gak heran sih cowok bodoh seperti dia nerima pesona sampah lo itu!"
Tangan Ana hampir melayang dipipi Reva jika tangan kekar seseorang tak menepis nya kasar. Ana mendongak, menatap Davin gugup.
TBC
minta sorry kalo banyak kekurangan, tau kok gaje
__ADS_1
Yes muncul semua disini:v
belom direvisi, jadi jan dibaca yak!