Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Sok iye


__ADS_3

“Lo ciuman sama Naya?” Tanya Friski tajam. Ia tak percaya teman bobroknya itu berani berpacaran dengan sangat liar.


Semua teman nya memang mempunyai otak yang mesum, namun tak ada yang berani untuk berbuat lebih, pengecualian untuk Ivan mungkin. Tapi untuk masalah berpacaran liar seperti yang dilakukan oleh dua insan yang ada di layar ponsel milik Rafka, Friski sedikit ragu jika itu adalah teman bobrok nya.


“Nggak gblok!” Sergah Rafka cepat, “waktu itu gerombolan nya duo mak lampir tambah si Lisong sang leluhur lampir ngebully dia, dan gue mau lindungin tapi malah ada orang yang dorong gue ampe bibir kita hampir nyatu.. Di foto itu emang keliatan nya gue sama Naya kek lagi ciuman, lo tau kan gue orang nya kek gimana? Dan sejak saat itu Naya makin banyak yang bully, gue yang kasian ya mau nggak mau jadiin dia pacar lah,” jelas Rafka tegas. Matanya nampak ber-api yang menandakan ia tengah serius dan emosi.


Fyi: Alisa dua kali terkena kasus yang mengharuskan ia tinggal kelas dan di depak dari SMA 77 yang sekarang menjadi anak SMK yang sama dengan mereka.


“Sekarang gue tanya,” Friski menatap Rafka serius.


“Status lo sekarang apa?”


“Manusia,” jawab Rafka cepat.


“Maks---”


“Manusia terganteng di muka bumi ini!” Sambung Rafka tak memedulikan raut wajah Friski yang memerah menahan emosi.


Friski mendengus kesal, pemuda itu menjitak kepala Rafka kasar. “Serius gue nyet,” decaknya sebal.


“Jangan serius, serius. Saya masih kecil om,” ujar Rafka seraya meletakan tangan nya di depan dadanya dengan matanya yang mengerjap sok polos.


“RAFKA ANJING!”


Rafka terbahak, ia menepuk pundak Friski tiga kali seraya tersenyum memamerkan gigi rapihnya. “Yodah silahkan bertanya jigong kodok.”


Friski lagi-lagi mendengus, “Lo suka sama Keyra?” Tanya nya akhirnya.


“Nggak!”


“Lo cinta sama Keyra?”


Rafka mengangguk, namun jawaban nya.. “Nggak budek!”


“Oh, berarti Keyra-nya buat gue ya?”


“Ng-- sono gue nggak peduli! Mau Keyra sama elo kek, sama Ian atau yang lain kek. Gue nggak peduli!” Sahut Rafka ngegas.


“Kalo gue mati? Terus lo bakalan jaga Keyra?” Tanya Friski lagi.


“Keyra bakalan gue buang ke panti jompo! Akh yang gampang aja, gue buang ajalah dia ke laut. Pahala kan bisa ngasih daging bocil ke ikan ganas?” Tanya Rafka tanpa beban.


Friski hanya menggelengkan kepalanya pelan, padahal sebenarnya dirinya sangat serius menanyakan hal tersebut. Namun jawaban Rafka sungguh menggundang untuk di hajat.


“Lo suka sama Naya?”


“Ya jelas dong! Cewe cantik udah gitu tinggi mana mungkin gue nggak suka? Ya walaupun rada ogeb sama kerempeng tapi tetep aja gue suka.” Ujar Rafka sedikit mencibir.


“Gue mencium bau-bau kang nista sedang berdusta nih, Raf. Baiknya gimana?” Friski bertanya seraya menaik turunkan alis tebalnya yang indah.


Matanya yang berwarna hitam legam dan suaranya yang nampak tak bersemangat seperti dulu, Friski sedih Keyra-nya terlalu lama menjadi sesosok yang memerani seorang putri tertidur, walau pun kini Keyra sudah siuman, belum tentu dirinya dapat bebas bertemu seperti dulu jika Friski tak bersama teman-teman nya.

__ADS_1


Karena Friski tau siapa ayah kandung Keyra, orang yang sangat posesif terhadap orang-orang di sekitarnya.


Mau tahu kenapa Friski bisa tahu? Tatapan mata Davin menyorotkan kehawatiran yang berlebihan jika mengenai tentang keluarganya. Sebenarnya Ervin —teman nya tidak peka jika menyangkut itu dan selalu menganggap papa nya sendiri tidak memedulikan dirinya, sehingga sifat tertutup dan dingin Ervin mulai terbentuk sejak kecil.


“Lo cuman kasian sama dia bor,” sambung Friski santai.


Rafka bergeming, dia memang menyukai Naya, bukan sekedar kasihan. Mengapa teman se tongkrongan nya itu tidak percaya padanya? Jari nya meremas ponsel yang sudah berada di tangan nya. “Hi, hi apa yang bikin dag dig dug?” Tanya Rafka mengalihkan topik pembicaraan.


Yang ditanya pun hanya mengedikkan bahunya acuh, “gue nanya seriusan seton.”


“Setan nggak salah kok lo bawa-bawa?”


Friski, pemuda itu menendang kaki Rafka kesal. Matanya di rotasikan, “anjing lo.”


“Tadi setan, sekarang anjing. Mau lo apa sih babi?”


Tap.. Tap.. Tap


Derap langkah kaki terdengar menggema di lorong rumah sakit, kedua pemuda yang tadinya masih berdebat pun menatap ketiga pemuda yang dikenalnya masih mengenakan seragam sekolah.


“Ngapain lo pada kesini?” Tanya Rafka saat teman teman nya sudah mengambil posisi duduk di samping nya.


Abian melirik santai, “bosen gue di SMK.” Balasnya yang diangguki oleh Ivan dan juga Rivan. “Cecan nya pada lomba buset,” timpal Ivan kesal.


“Gimana keadaan adek ipar gue?” Rivan hendak mengintip melalui kaca transparan ruangan Keyra namun urung saat tangan Rafka mencekal lengan nya.


“Adek ipar lo mati,” sahut Friski malas. Namun melihat ekspresi teman-teman nya yang kaget mampu membuatnya tertawa terbahak.


Rivan menarik kerah Friski, “gila lo ya! Temen mati malah di ketawain! Kalo lo mati, gue ketawain juga taik!”


Rivan, Ivan, dan juga Abian menghela nafasnya lega.


Friski bukan nya marah malah tertawa, “gue mati, seriusan ya lo ketawa? Awas aja lo malah nangis di depan nisan gue nanti, secara kan gue paling ganteng sama paling tua ya?” kekehnya.


“Njirt, ini mata gue ada bawangnya ya? Kok mewek,” ujar Rivan tak percaya.


Rafka, Friski, Abian dan Ivan tertawa mendengarnya. “Jaga ucapan lo, Pan. Gimana pun juga Priski orang yang pantes kita hormatin, paling tua? Jelas. Dia yang berdiriin Traavo cok,” ungkap Rafka bijak.


“Tumben lo bijak bor, nggak nyangka sumpah. Kita dari TK bareng mulu, bosen akh sama kalian terus,” timpal Ivan sok malas.


Padahal dalam hatinya ia bersyukur bisa berteman dengan Rafka dan lain nya, walaupun suka mengumpat dan seorang troublemaker. Mereka saling menjaga satu sama lain, adu bacot bahkan adu otot menjadikan pertemanan mereka tak monoton.


Andai dulu dirinya merusak dengan merebut Keyra dari Rafka, mungkin ia akan kesepian lagi, dan lagi saat keluarga keduanya itu menjauh darinya.


“Ye, gue juga. Dari orok ketemu elo terus cok. Gue yang polos terus lo nodai sama pikiran lo yang mesum. Hua emakk! Rivan anak mu ini ternistakan,” Rivan berkata heboh.


“Gue yang ganteng, nyimak.”


“Gue yang pinter, diem.”


“Paan sih lo berdua? Sok iye,” kata Friski membalas ucapan Rafka dan juga Abian.

__ADS_1


“Au, betewe Ervin mana? Kalian tinggalin lagi?” Tanya Rafka ketika menyadari salah satu teman nya tak ada. Wajar sih mereka tak menyadari ketiadaan seorang Ervin, jika sedang bersama pun pemuda itu hanya mengeluarkan sepatah kata, dan itupun di jawab jika memang penting.


Susah memang berteman dengan orang yang irit berbicara seperti Ervin, namun kekoplakan Rafka, Friski, Ivan dan juga Rivan menutupi semuanya.


“Biasa ngepet dulu buat makan kita nanti,” balas Ivan.


“Nuyul kali, ngepet mah malem-malem gblok!” Seru Rafka tak terima.


“Paham bat dah lo Raf, kebiasaan nuyul lo?” Cerca Rivan.


“Pan, Ervin mana? Beneran kalian tinggal?” Tanya Friski akhirnya yang tak mau mendengarkan perdebatan tak berujung kedua teman nya itu.


Ivan mengidikan bahunya acuh, “Gue bukan emaknya, jadi kagak tau lah.”


Friski merotasikan matanya, “Gue nanya Ripan bukan Ipang, kambing congek!”


Ivan meringis sementara Rivan tertawa nista, “paan? Orang kita yang ditinggal kok, dia nyari mangsa selanjutnya kali,” ujarnya.


“Gue heran, sejak masuk SMK napa Ervin jadi pucekboi ya? Mentang-mentang ganteng, tapi gantengan gue.” Rafka menyugar rambut legamnya kebalakang.


Sontak Friski, Abian, Ivan dan Rivan menatap Rafka jijik. “Muntah mendadak gue, yawoh pede banget jadi orang.”


Tiba-tiba Reva datang dengan dua plastik yang berada di genggamannya.


“Loh kalian udah pulang? Bolos ya?“ Tanya Reva, menatap jahil kelima pemuda yang lebih tepatnya Abian, Rivan dan juga Ivan yang masih mengenakan seragam sekolahnya.


“Tante sendiri kok lama banget perasaan,” Rafka bertanya balik, mengalihkan pembicaraan.


Reva tertawa renyah, “Tadi ketemu tante Rhea di kantin, jadinya ngobrol sebentar dulu,” Katanya.


Rafka mencibir dalam hati.


Sebentar apaan? Gumamnya dalam hati.


“Untungnya Tante beli banyak makanan buat kalian.”


“Tante masuk dulu ya? Keyra baru sadar, jadi kalian ngejenguknya nanti setelah om Davin sama tante, ok?” Sambung wanita paruh baya itu.


“Ok Tante,” sahut Rafka dan Friski kompak.


Reva masuk kedalam ruangan setelah menyerahkan dua bungkusan plastik tadi kepada Rafka dan juga Friski yang paling dekat dengan dirinya.


Teman teman nya melirik Rafka dan Friski bengis, “ANJING LO BERDUA!”


.


.


.


Salah kata, nggak mudeng, hampura...

__ADS_1


Thanks...


Lanjut atau kagak?


__ADS_2