
“KAK QUEEN AYOK KITA BERANGKAT!”
Di lantai dua, Keyra yang sedang berjalan sontak berjingkat kaget mendengar teriakan Raga, bocah itu benar-benar membuatnya hampir jantungan. “BANG EL JUGA MANA!”
“Sebentar Raga,” Keyra bodoh lagi, dia menjawab dengan suara yang rendah. Sedangkan Raga saat ini sedang duduk bersama Davin dan juga Reva di sofa ruang tamu.
Keyra bahkan tak menyadari kehadiran orang yang biasa di sebut ‘manusia tembok’ oleh dirinya yang kini tengah berdiri di belakang tubuhnya dengan jarak 1 meter.
“Be noisy,”
“E-eh rambut gue anjimm!” Keyra memutar tubuhnya dan langsung menghempaskan lengan kiri Ervin yang tiba-tiba menarik rambutnya dengan ekspresi emm jijik?
Apa-apaan ini miskah?!
“Ekspresi songong lo itu kok kek ilfeel bat ama gue? Heh Bang Reynard ku sayang, gue mandi dah 3 kali ya hari ini! Jam dua belas malem mandi kembang, mau sekolah pake sabun sebotol, dan baru ini mandi lagi.” Keyra melotot garang ke Ervin yang dalam diam hanya terkekeh senang. “Bau gue wangi, muka cakep. Gak kek elo, udah burik, bau eek lagi iyuuh!” Udahlah, Keyra hanya ingin menyombongkan diri di depan Kakak tiri nya yang begitu menyebalkan itu
“Bacot.”
Gadis pemilik nama lengkap Queensha Keyra Naura itu menarik nafas panjang sebelum kembali berucap. “Akutuh gak bacot yak Akak, cuman menyeruakan isi hati aja yang meronta-ronta ingin menggampar seorang Ervin Reynard Gandawari.” Cibir Keyra dengan nada yang dibuat alay dan menyebalkan.
Mata yang tadi nya santai-santai saja kini nampak memerah menahan amarah, Keyra menyelam kedalam iris kelam Ervin untuk mencari tahu, kenapa pria itu seperti menahan gejolak amarah?
Tiga menit keduanya saling terdiam, tak ada yang berniat bicara lagi. Sepertinya mata merupakan perantara lisan mereka.
“KAK WOY KAK, RAGA LAPER MAU MAKAN DI SANA, JANGAN KELAMAAN ATAU KITA TINGGAL!” Dasar Raga ini, dia seperti bukan anak sultan saja. Lapar? Ya tinggal makan!
Bagus kalo di tinggal awokawok!
“Kuy Bang kita akur dulu buat malam ini,” Keyra mengapit lengan Ervin dengan menampilkan senyum lima jari. Namun wajah ceria itu langsung memberenggut kala Ervin menghempaskan tangan nya sedikit kasar.
Bukan karena jijik, tapi karena tindakan Keyra tak baik untuk kesehatan jantungnya yang jedag jedug tak karuan.
Sial lo Key!
__ADS_1
“Wah ngajak baku hantam!”
Ervin mengalihkan pandangan nya ke sembarang arah, ia menyugar rambut legam nya kebelakang tanpa menghiraukan seruan Keyra.
“Hilih berasa ngomong sama tembok, dahlah,” ujar Keyra seraya berjalan meningalkan Ervin sendiri, beberapa saat ia menolehkan pandangan nya kebelakang untuk melihat raut wajah sang Kakak tiri.
Astagfirullah punya Abang, gini amat..
★Like, Comen n Favoritnya★
“Bunda, Queen berangkat sama Rey aja, ya? Mau ngerasain malem-malem naik motor soalnya.” Semuanya sudah berdiri di depan pintu, Mang Jono yang merupakan seorang satpam di mansion itu pun sudah membukakan gerbang-- mempersilahkan mobil Davin untuk lewat.
Raga mendongak menatap Keyra dan Ervin secara bergantian, matanya berbinar terang.
“Raga juga mau naik motor, gak mao naik mobil!!” Seru anak kecil itu seraya menolehkan pandangan nya kearah Davin. Pria dewasa itu sekarang tengah menatap ketiga anak nya tanpa ekspresi. “Boleh ya Bunda, Papa?” Tanya bocah itu penuh harap.
“Bo--”
“Gak bisa! Angin malam itu gak baik, be obedient!” Titah nya tegas.
“Tapi Papa, Raga mau beli telur gulung dulu di depan sekolah Raga, boleh ya?!”
Lah lah, 'kan telur gulung nya gak jualan malem-malem Raga!
Keyra melirik adik tiri nya itu penuh selidik. Sementara yang di lirik hanya mengedipkan sebelah matanya kearah Keyra.
“Telur gulung?”
Raga mengangguk mengiyakan pertanyaan Davin.
“Nanti pulang minta ke Bibi, request telurnya di gulung.” Ujarnya santai tanpa beban.
“Ihhh Papa!” Protes Keyra dan Raga kompak. “Raga mau yang di depan sekolah, rasanya maknyuss!”
__ADS_1
“Raga!”
“Pah udahlah, jangan suka melarang keinginan anak-anak,” jika di depan anak-anaknya, Reva tak akan memanggil Davin dengan namanya.
“Astaga, ok, tapi ambil jaket kalian di mobil!” Davin yang gemas dengan anak istrinya pun mengusap kepala ketiganya secara bergantian. Ia lalu menoleh menatap putra sulung nya.
“Jaga kedua adik kamu, Ervin!”
Ervin hanya berdeham tanpa mau menoleh ke arah Papa nya. Ia sedikit iri dengan kedeketan Papa dengan kedua adik tiri nya.
“Aaa makasih Papa, Bunda.” keduanya memeluk Davin dan Reva secara bergantian, lalu mereka mengambil jaket yang sudah di siap kan oleh Reva dan memakainya.
Sementara Ervin, pemuda itu memilih memakai helm lalu menaiki motornya dengan di ikuti oleh Keyra dan Raga yang begitu antusias menaiki motor sport sang Kakak.
Uhuyyy untung gue make celana pendek, aman gak akan ada yang liat! Gumam Keyra sambil memeluk tubuh adiknya.
“Raga peluk Bang El ayok, Kakak takut jatuh nih kalo Raga mundur banget.”
Sebenarnya alasan Keyra meminta Raga memeluk Ervin itu agar hubungan dingin Kakak ber-Adik itu membaik. Ingatan Keyra berputar saat ia bertemu pertama kali dengan Raga. Bocah itu menangis dan mengadu pada Rafka jika Ervin tak jua menjemputnya hingga berjam-jam lama nya.
“T-tapi Bang El--”
“Cepetan!” Suara Ervin begitu dingin menyela ucapan Raga.
Bocah itu dengan ragu memeluk pinggang Kakak tiri nya. Keyra yang melihat itu pun bersorak dalam hati.
“Maen misi-misi an keknya seru, oke, yang pertama buat ni berdua baik dulu!” Batinnya senang. Keyra menghirup udara di malam hari dengan mata terpejam, tak menyadari jika Ervin memantau nya lewat kaca spion.
T B C : V
Butuh krisan, kebanyakan typo n bertele-tele kan;b
Like, comen, n Favorit nya akak:v
__ADS_1
[Jangan sider, jangan plagiat, jangan lupa makan ya:v]