
Keyra menumpukan dagu diatas kepala Rafka yang masih betah memeluk tubuhnya. Ia menghirup dalam aroma sampo serta wangi tubuh Rafka yang berkeringat. Dia menyukai aroma ini. Aroma tubuh sang mantan yang memabukkan. "Aku capek, Af."
Ia kemudian memeluk leher Rafka sehingga pria itu langsung mendongak menatapnya. "Kapan drama ini berakhir? Kalo kamu terus-terusan begini, aku gak bisa nolak lagi."
"Dulu dan sekarang, masih tentang kamu. Aku beneran capek, Af. Capek terus cinta sama cowok lknat bin biadap kek kamu!Kenangan yang pernah kamu ukir, gak bisa aku ilangin. Dan jawaban aku tentang tadi, aku mau, Afka."
Rafka termenung tak percaya.
"Tapi satu yang harus kamu camkan diotak dan hati kamu, sekali lagi kamu ngulangin kesalahan yang sama, aku pergi dan gak akan egois buat bertahan sama kamu." Rafka bersorak senang dalam hati. Pelukannya pada pinggang Keyra semakin erat diiringi senyuman lebar yang menghiasi wajah rupawan nya. "Satu lagi, kalo kamu udah gak suka sama aku, bilang."
"Aku gak bisa janji kek dulu lagi, Naura. Yang perlu kamu tau, i'm glad. Dan maaf untuk aku yang gak bisa jagain kalian."
Rafka memundurkan wajahnya lalu mencium kening Keyra sembari tangannya bergerak aktif mengelus perut Keyra yang masih rata. "Makasih sayang." Baru saja ia hendak menyambar bibir wanitanya, suara pintu yang terbuka berhasil mengurungkan niat Rafka.
"Papa," panggil Milan lalu berdiri di samping Papa nya yang masih duduk. Rafka beranjak kemudian menuntun putranya untuk duduk dikursi. "Mulai sekarang panggil Tante Keyra--"
"Mama!" Sahut Milan. Tanpa menunggu jawaban, Milan pun memeluk leher Keyra sembari menangis lirih. "Mama," panggilnya lagi.
"Milan sayang sama Mama. Mama jangan pergi lagi."
Keyra tergugu. Lain lagi dengan Rafka yang sedang mengacungkan jempol pada Ivan yang berdiri diambang pintu. Pria itu tersenyum tulus. Senang rasanya melihat kedua temannya kembali bersama. Dulu dia memang menjauhi Rafka karena pria itu sudah menyakiti satu-satunya teman perempuan yang dimilikinya dengan kejam.
Namun, melihat Rafka yang terpuruk karena kepergian Keyra waktu itu, membuat rasa iba perlahan menghampirinya. Ivan sangat kasihan pada Rafka yang benar-benar tak mempunyai gairah hidup bahkan beberapa kali ia menciduk temannya mengkonsumsi obat tidur dengan dosis tinggi.
Ivan tertawa pelan kemudian bergegas meninggalkan rumah sakit.
"Ini beneran Mama Milan, kan, Pa?"
Rafka mengangguk kuat. "Jangan bikin Mama nangis, nak. Nanti adek kamu ikutan sedih," ucap Rafka mengelus surai putranya. Ia berusaha untuk membiasakan diri memberikan kasih sayang pada Milan secara terang-terangan. Rafka tak mau lagi karena sifat sok cueknya, berakibat dirinya harus berjauhan dari Keyra dan Milan.
"Adek?" Milan mendongak memandang Keyra yang ternyata sedang menggigit bibir menahan tangis. "Milan ada salah sama Mama? Milan janji kok abis ini, setiap Mama masakin Milan sayur, Milan bakal makan sayur itu biar Mama seneng. Dan Milan gak akan cuekin Tifa sama Nika lagi kalo mereka ajak Milan main. Itu kan mau Mama? Jadi Mama jangan sedih..." Ujar Milan panjang lebar.
...★★★★★...
8 bulan berlalu, kehidupan Keyra bersama putranya berubah normal layaknya Ibu dan anak. Ia dengan Rafka pun sudah menikah seminggu setelah penculikan itu terjadi.
Perutnya yang sudah berusia 9 bulan suka sekali menendang kuat hingga ia dibuat kewalahan. Keyra kini tinggal dirumah minimalis namun mewah yang Rafka beli sebelum akad nikah itu terjadi. Rumah ini jauh lebih nyaman dibanding rumah yang dulu diberi Rini kepadanya dan Rafka.
Rumah mereka jaraknya tak teralu jauh dengan rumah Akhir. Sehingga Tiffany, Kannika serta Daniel sering berkunjung kerumahnya.
Rafka tentu tak membiarkan kedua anak Mark tinggal dirumahnya. Karena mereka suka sekali menggangu kebersamaan dirinya dengan Keyra. Sehingga, Daniel dan Kannika menetap dirumah Akhir sampai waktunya sang Ayah tiba untuk menjemput mereka.
Milan duduk disamping sang Mama yang tengah membaca novel horor-komedi sambil sesekali tertawa tak jelas. "Mama gak takut?" Tanya Milan setelah melongok cover novel yang dipegang Mamanya.
Keyra mengangkat wajah sembari sesekali mengelus perutnya. "Takut sih. Cuman penasaran aja, sayang."
Sifat Milan yang dulunya introvert, sekarang sedikit berkembang dengan sering menebarkan senyuman manisnya pada orang-orang yang dikenalnya.
Namun itu tak berlaku pada Tiffany dan Kannika. Dua gadis cilik itu bagai parasit yang terus menempeli dirinya kemanapun ia berada. Milan betulan risih dengan sifat kedua gadis tersebut. Kadang dirinya berlindung pada Daniel yang sudah ia anggap sebagai kakak kandung.
Entah apa salahnya pada Tiffany dan Kannika, sampai keduanya selalu mengikuti dirinya bak bodyguard yang senantiasa menjaga Tuan-nya.
Tangan Milan menyentuh perut besar Keyra. Dirinya berdecak kagum begitu tendangan dari dalam perut sang Mama, terasa kuat dan mengagetkan nya.
"Adik Milan cowok ya Ma?"
Keyra menggeleng. "Perempuan sayang."
"Pasti dia kalem kayak Mama," ucap Milan yakin. "Aku mau dia jauh-jauh dari Nika sama Tifa biar gak bar-bar, ya, Ma?!"
"Loh tapi mereka kan saudara kamu, masa gak boleh deket-deket sih sama adek?" Bagi Keyra, Tiffany, Kannika serta Daniel adalah anaknya. Dia tentu sangat menyayangi mereka tanpa syarat.
__ADS_1
"Gak!" Ucap Milan keras. "Adek aku cuman yang ada diperut Mama. Tifa sama Nika itu bukan adekku!"
Keyra menghela napas sebelum mendekap putranya dengan sayang. "Mereka lucu loh, sayang."
'Lucu darimana?!'
...🐤🐣🐥...
Rafka dibuat merinding saat Keyra mendekatkan wajah ke ceruk lehernya dan mengendus nya disana. Aroma parfum khas Rafka menusuk indra penciuman nya. Keyra mendadak mual. Apalagi perutnya semakin menendang kuat dan membuat dirinya memekik kesakitan.
Dulu sewaktu ia mengandung Milan, tendangan anaknya itu tak sekuat sekarang. Keyra reflek berpegangan pada bahu Rafka dan meremas jaz putih yang dikenakan sang suami. "Kayaknya aku mau lahiran."
"Aku panggil dokter dulu." Rafka hendak berlalu dari ruang bersalin. Tadinya ia sedang membantu wanitanya ke kamar mandi sekalian cuci muka. Namun saat hendak kembali kebankar, Keyra malah menahannya dan mengajak Rafka untuk bercinta dikamar mandi.
Keyra memang sedikit tak waras semenjak kandungannya memasuki bulan ke-6. Posesif, agresif dan aneh. Namun herannya, Rafka malah suka dengan sifat Keyra yang sekarang. Ia merasa dicintai begitu besar oleh Keyra, walau terkadang dirinya dibuat geleng-geleng melihat cara makan Keyra yang berubah bar-bar.
"Y-yang bener aja! Ada tombol disamping bankar, gunanya apa sih?!"
Rafka meringis lalu menggendong Keyra ala bridal menuju bankar. Belum sempat ia menekan tombol nurse call, pintu ruangan dibuka dan dokter Airin diikuti para suster, memasuki ruangan itu.
Dokter Airin mengkode para suster untuk mempersiapkan semuanya. Ia juga menyuruh Rafka membantu sang istri rebahan di atas bankar.
"Operasi dok. Saya gak mau istri saya melahirkan secara normal."
"Heh? Saya gak mau operasi! Lakukan dok, saya udah siap." Ucap Keyra memandang dokter Airin penuh ancaman.
Rafka mendeliki Keyra. Mendadak ia teringat kejadian 7 tahun yang lalu dimana Keyra dinyatakan meninggal setelah melahirkan Milan. Ia tak mau kejadian itu terulang kembali dan dirinya benar-benar tak siap kehilangan istrinya.
Pikiran negatif mulai menghampiri Rafka saat dokter Airin lebih memilih ucapan Keyra. Pria itu memilih memejamkan mata sembari menggengam kuat tangan sang istri yang sedang mengejan keras. Percuma juga Rafka menolak keinginan Keyra yang otak dan hatinya lebih batu dibanding dengannya.
Suara bayi terdengar memekakkan telinga hingga mata Rafka langsung terbuka lebar. Kakinya melemas melihat bayi itu sudah keluar dari perut istrinya. Ia bersyukur berkali-kali saat persalinan ini berjalan lancar.
Setelah sang bayi dimandikan oleh suster, bayi cantik bermata coklat indah itu diserahkan ke Rafka untuk digendong dan di-adzani. Rafka menerimanya dengan senang hati kemudian mulai mengumandangkan adzan di telinga kanan dan menyerukan iqamah di telinga kiri anaknya yang baru lahir.
Tak mudah bagi Rafka untuk menyanggupi masa ngidamnya Keyra. Segala tantangan selama hamil 9 bulan usai sudah, wajah yang selama ini dinanti-nanti pun akhirnya bisa sepuasnya dipandangi.
"Karmila Regina Kalandra."
Keyra yang masih merasa lemas pun mendongak menatap suami. "Bukannya udah fix Mikayla ya, Mas?"
Rafka menggeleng sembari bibirnya maju menyentuh pipi lembut putrinya. "Setelah liat wajah anak kita, aku langsung kepikiran nama itu, Ra. Lemah lembut dan sabar. Liat wajahnya aja adem banget," ungkap Rafka lalu memberikan bayinya pada Keyra untuk disusui.
"Sehari nginep di RS, gapapa kan, Ra? Aku udah siapin ruang rawat ternyaman buat kalian."
Keyra lantas menggeleng. "Gak mau. Aku sama Mila juga sehat-sehat aja, kita langsung pulang."
"Besok sore kita pulang. Nurut," titah Rafka tak mau dibantah. Kemudian menyuruh suster untuk memindahkan Keyra keruang rawat yang sudah ia siapkan seminggu sebelum Keyra melahirkan.
Terdengar berlebihan. Namun yang Rafka pedulikan hanyalah, kenyamanan sang istri dan putri cantiknya.
...🐥🐣🐤...
2 hari berlalu, Keyra bersandar dikepala ranjang sembari memangku Mila yang masih menyusu. Setelah tau anaknya mulai terlelap, ia menaruh Mila di box bayi dengan pelan. Belitan dipinggang nya membuat Keyra menoleh. Rafka memeluknya dari belakang, sembari meraih tengkuk dan mencium bibirnya.
"Kangen.."
"Aku gak."
"Jahat bener sama suami."
"Biarin," sahut Keyra.
Rafka bukannya marah, malah semakin mengikis jarak dengan Keyra. Ia tertawa ringan. "Jadwal kamu m€sumnya, setiap jam berapa?"
__ADS_1
Keyra tersedak ludahnya sendiri. "Gaada aku mesom! Ayolah tangannya dikondisikan, Mas! Ada Tifa sama kembar disini."
Mendengar nama ketiganya disebut, Rafka jadi memutar mata jengah dan mendadak badmood. "Yang, usir anaknya Mark sama Akhir napa! Aku bener-bener pengen jitak pala mereka satu-satu sekarang. Berani banget tidur dikamar ini dan ngusir aku," omel Rafka kesal.
Dirinya dibuat naik darah akibat Akhir menitipkan Tiffany dan anak kembar Mark dirumahnya selama 2 hari. Rafka kan ingin berduaan dengan Keyra, tanpa gangguan siapapun. Namun apa jadi, dua gadis cilik super cerewet itu selalu mengusik kenyamanannya.
Pintu yang terbuka membuatnya menoleh, ada Milan disana dengan..
..Kedua gadis yang baru saja dighibahi-nya
Rafka mendengkus jengkel.
"ALO SEMUANYA TIFA KAMBEK! YANG KANGEN MALI MELAPAT!"
"HALO JUGA SEMUA! KANNIKA YANG CANTIK DAN NARAK INI DATANG KEMBALI. SAWADDIKA!"
Keyra menghela napas lalu dengan lembut menyuruh keduanya duduk disofa dan tak berisik. Putri nya baru saja tertidur dan mendengar teriakan Tiffany serta Kannika, sontak membangunkan gadis cilik itu yang kini tengah menangis kencang.
Rafka dan Milan kontan menatap dua gadis tersebut dengan tajam. Mereka benci saat ada yang menggangu kenyamanan anggota keluarganya yang baru hadir.
"Bibi, Bibi! Sini aku fotoin aja dedeknya biar diem. Mila, cekrek!" Tiffany yang dasarnya membawa kamera di lehernya, langsung mendekati Keyra dan mengarahkan lensa kameranya kearah Karmila.
Milan mendelik lalu menarik kerah baju Tiffany dengan cepat. "Ngapain Tifa bawa kamera segala? Emang tau cara pakenya?" Selidik Milan lalu merampas kamera Tiffany. Dia memberikan kamera tersebut pada Papa-nya. "Sita aja, Pa. Mila kasian masih bayi, gak boleh difoto!"
Melihat Tiffany yang berubah murung, Kannika tersenyum cerah mendekati Milan lalu menyodorkan burger yang tadi dibelinya pada Milan. "Kamu belum makan--"
"Udah," interupsi Milan cepat.
Keyra menggeleng pelan melihat interaksi ketiganya. Di liriknya sang suami yang menggenggam tangannya dengan erat. Keyra tersenyum tipis lalu mencuri ciuman dipipi sang suami. "Aku gak nyangka, kita bakal kek gini lagi, ditambah Milan sama Mila. Jadi Mas, kalo kamu mau hancurin aku, siap-siap aja aset berharga kamu itu, aku sunat lagi!"
Rafka mengusap kelopak matanya dan memandang Keyra tajam penuh perasaan. "Kalo suatu saat nanti, aku kek dulu lagi, jangan khawatir sayang. Kamu boleh pergi bawa semua yang aku punya. Harta dan anak-anak. Semuanya udah atas nama kalian bertiga. Aku miskin sayang," kata Rafka membalas Keyra dengan ciuman di kening.
"Maaf aku ngungkit ini lagi. Aku udah banyak kehilangan, Mas. Aku gak mau kehilangan kamu. Katain aja kalo aku bucin, aku terima. Karena emang itu faktanya," ungkap Keyra datar.
"Astaghfirullah, Naura! Aku geli sumpah denger kamu bucin gitu," Rafka terbahak pelan mengalihkan atensi ketiga human kecil yang sedang duduk disofa sambil sesekali berdebat. "Makasih udah terima aku lagi, Naura. Makasih buat semuanya,.... aku bener-bener bukan cowok yang pinter ngerangkai kata-kata romantis buat kamu. Maaf karena suami kamu bentuknya gini, bukan tipe kamu banget."
"Kata siapa?" Alis Keyra naik sebelah. Keyra tersenyum memandang wajah Rafka. "Kamu lupa? Aku suka kamu dari kita masih SMK, Af. Inget, kita udah tua, jangan jadi Abg lagi, sekarang waktunya kamu nganter anak-anak kerumah Akhir."
"Gak perlu lah, mereka bisa pulang sama supir. Aku gak mau ninggalin kalian bertiga doang, sayang."
...🐥🐣🐤...
Cinta itu buta. Istilah itu memang tepat untuk orang-orang yang sedang kasmaran tanpa memandang kesalahan orang yang ia cinta.
Keyra mencintai Rafka. Walau ia pernah dibuat sejatuh-jatuhnya oleh pria itu. Otak wanita itu berpikir cepat, jika saat itu ia kembali menolak Rafka, apa ia akan menjanda seumur hidupnya?
Awalnya Keyra ragu menerima Rafka. Namun melihat kesungguhan Rafka untuk dirinya, membuat hati kecilnya tersentuh. Keyra menyentuh hidung mungil putrinya yang masih tertidur pulas. Ia bangkit dan bergerak menuju Milan serta Rafka yang ketiduran di atas sofa. Wanita itu menepuk pelan pipi sang suami kemudian membisikkan sesuatu.
"Bangun..."
.....
Adek bayinya bobo:v
Bener-bener, blank... Gue tuh bingung tau ngetik kalimat yang ngefeel tuh gimana. susah banget namatin ni novel
tandai typo, masih berantakan tpi lngsung pub:v. like comen n favoritnya
__ADS_1
LANJUT!