
****Gj****
mls
berhrp bisa end
.
.
.
"Apapun yang terbaik buat lo, gue dukung, Key." Ujar Ivan sembari menepuk pundak Keyra. "Perasaan lo masih stuck di Rafka? Acc dia jadi suami lo lagi. Jangan sampai Rafka beneran bisa moveon dari lo, dan bisa gue tebak lah ending-nya, lo yang bakal nyesel."
Ivan menjitak pelan kening Keyra ketika menyadari ke terdiam-an wanita itu. "Realistis aja sih, gue sebagai temen lo berdua, gak suka salah satu dari kalian itu munafik. Cukup si Curut aja yang nyesel pernah selingkuhin lo. Dan lo jangan sampe gitu, penyesalan itu rasanya hampa, Key."
Keyra diam. Wanita itu mengakui kisahnya yang terlalu berbelit dan ia juga munafik. Keyra rindu masa-masa sebelum penghianatan itu terjadi. Ia rindu mantan suaminya, orangtua serta adiknya yang sudah tiada.
Sudah bertahun-tahun berlalu namun wanita itu masih suka berandai-andai tentang Rafka. Berandai jika Rafka tak menyelingkuhi dirinya, mungkin kini ia, Rafka dan Milan sedang hidup bahagia layaknya keluarga kecil pada umumnya.
"Kalo lo gak mau kembali sama Rafka, gue bisa cariin pengganti buat lo." Melihat Keyra yang akan protes, Ivan kembali berkata. "Jangan salah, temen bujang gue kebanyakn cogan, dan tentunya sultan. Mereka lebih tertarik sama janda malah," bisik Ivan kemudian tertawa keras.
"Ipang bacot!"
Ivan meredakan tawanya. "Gue denger-denger, lo sama dia ML lagi, ya? 6 tahun coy akhirnya burungnya Rafka curut masuk sangkar juga."
"Gue cekik lo, ya!" Decak Keyra kesal.
Wanita itu sedikit heran dengan kalimat Ivan yang seolah menegaskan jika Rafka, tak pernah melakukan hubungan suami istri selama 6 tahun dengan siapapun. Bukankah pria itu sudah menikah dengan Shahila? Pikirannya berkecamuk.
"Lo jangan ngadi-ngadi, Pang. Afka punya istri, dan dia juga pria normal, mana mungkin gak pernah gituan."
"Gituan gimana maksud lo?" Tanya Ivan memasang muka polos sembari menaik turunkan alisnya menggoda.
"IPANG VANGKE!"
Ivan terbahak-bahak. Rasanya sudah lama sekali tawanya tak seluwes ini. Ia jadi merindukan teman-temannya yang lain. Yang selalu bisa membuatnya terhibur tanpa dibuat-buat walau harus rela adu bacot setiap hari.
'Travo, gue kangen!!'
Namun beberapa saat kemudian, tawa serta senyumnya menghilang berganti muram saat otaknya memikirkan sesuatu. Wajah pria itu kembali serius.
"Tante Ana gila sejak Om Cakra meninggal, Key. Dan katanya, pihak rumah sakit jiwa lagi nyari Tante Ana yang kabur. Lo tau kan orang sakit jiwa tuh gimana? Mereka bakal nekat, dan ngelakuin sesuatu diluar nalar kita. Gue saranin lo ati-ati kalo lagi diluar. Gak ada yang tahu kedepannya gimana."
Keyra sedikit bergidik ngeri mendengar penjelasan Ivan. Ia pun mengangguk mengerti dan akan berhati-hati kedepannya. "Lo tau gimana sikap Tante Ana sama anak gue?"
Ivan diam sejenak kemudian mengangguk. "Dia baik banget sama Milan. Tapi...."
"Tapi apa? Gak usah sok sokan bikin penasaran, dah, alay tau!" Dengus Keyra pelan.
"Dia selalu nganggep Milan itu anak lo sama Akhirat. Bahkan, Tante Ana lebih sayang sama Milan dibanding sama Tiffany yang notabene cucu kandungnya sendiri." Ujarnya membuat Keyra cukup kaget.
"Kok bisa sih njirr?"
"Satu alesannya... Tante Ana, wants grand-sons not grand-daughter."
...🐥🐣🐤...
Keesokannya, Mark dan kedua anaknya tiba di bandara pukul 1 siang. Mereka dijemput oleh Akhir dan dibawa langsung kerumah pria itu sambil bercakap ringan. Sekilas tentang Mark, dokter spesialis ginjal yang membantu Keyra selama berada di Thailand.
__ADS_1
Paras pria blasteran Thai-Belgia itu sungguh memikat. Keyra pun pernah terpesona akan paras rupawan dan attitude-nya.
Terpesona bukan berarti suka apalagi cinta. Dibanding dengan Rafka, Mark memang lebih unggul dari segala hal. Keyra akui itu. Makanya duda dua orang anak itu sangat digilai orang-orang di negaranya.
Mark dan putra-putrinya sudah akrab dengan keluarga Akhir. Bahkan, Akhir dan Mark memutuskan untuk menjodohkan Daniel dengan Tiffany sejak dini. Awal jelas menentang perjodohan itu. Bukan apa, putrinya itu sangat cerewet dan menyebalkan. Berbanding terbalik dengan sifat Daniel yang pendiam dan jarang bersua.
Wanita itu hanya takut jika Daniel tertekan dan depresot dengan sifat putri semata wayangnya yang bar-bar.
Saat ini mereka semua sedang makan bersama dengan sesekali mengobrol. Akhir yang biasanya sibuk pun meluangkan waktunya untuk menemani orang yang pernah membantu Keyra itu. Pandangan Mark terus tertuju pada Milan yang minta disuapi oleh Keyra, Mark terkekeh pelan.
"Mae!"
Keyra sontak menghentikan aktifitasnya menyuapi Milan, lalu memandang gadis cilik itu. "Ya, Nika?"
"Siapa dia?" Kannika bertanya dengan aksen Indo nya yang khas. "Khun law kha," kagumnya dengan terus memandang Milan penuh minat. "Sawaddi Kha," lanjutnya lagi sembari menundukkan kepala berkali-kali.
Milan hanya menaikkan alisnya. Tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kannika.
"Dia anak Mae." Ekspresi wajah Milan langsung berubah mendengar sahutan dari Mark. Namun bocah cilik itu hanya diam karena tak tahu harus berekspresi seperti apa.
Keyra mengangguk menanggapi ucapan Mark yang mewakilkan. Duda dua anak itu memang mengajari putra-putrinya untuk memanggil Keyra dengan sebutan 'Mae' yang artinya 'Mama'. Keyra jelas tersipu saat itu, namun hati dan jiwanya malah teringat akan Milan dan Rafka.
Ya namanya perasaan, kan gak bisa dipaksakan. Mau seganteng, semapan maupun sesempurna nya Mark, kalo hati sudah memilih dan menetapkan Rafka sebagai pemiliknya, Keyra bisa apa?
Keduanya memang dekat, sampai-sampai orang disekitarnya mengira keduanya memiliki hubungan lebih dari 'pasien dan dokter'.
Padahal tidak. Keduanya memang murni hanya sebatas pasien dan dokternya. Walau Mark diam-diam selalu menganggap Keyra adiknya. Sosok adik yang pernah dicintainya sepenuh hati. Tak ada yang tahu karena pria itu memendamnya sendiri.
Setelah melihat Keyra 6 tahun lalu di atas bankar, Mark seperti melihat sosok adik tirinya di diri Keyra. Sifat dan bentuk paras mereka hampir mirip. Yeah, you know lah. Mark menganggap Keyra sebagai pelampiasannya.
UNTUNG KEYRA KAGAK BAPER!
"Papa gula?"
Spontan, Awal menepuk jidat Tiffany pelan. Bisa-bisanya anaknya itu berkata begitu kepada tamunya. Awal tentu malu, dan langsung memandang Tiffany horor. "Ah Mark, Tiffany cuman becanda tadi. Kalian mau istirahat sekarang?"
"No No! Mommy gimana cih! Kan balu makan, ndak boleh langsung bobo nanti jadi gemuk!'
"Eh siapa yang ngajarin?"
"Om Kele Cama Aunty Ulan."
Awal manggut-manggut sembari tersenyum meringis. Iya juga ya, orang baru selesai makan, malah ia suruh istirahat. Awal sesat!
Mereka memilih berpindah ke ruang keluarga agar bisa berbincang lebih leluasa. Rumah itu nampak ramai dengan ke cerewet-an Tiffany dan Kannika. Sementara Keyra lebih banyak diam setelah pertemuannya dengan Ivan semalam. Wanita itu hanya bisa tersenyum kala Tiffany dan Kannika caper pada Milan yang sedang bermain PlayStation bersama Daniel.
Mark mendekat dan duduk disebelah Keyra. "Mau menemani ku beli baju?"
"Kamu gak bawa baju? Koper itu--"
"Tidak. Itu pakaian anak-anak."
"Yaudah ayo," Keyra berdiri diikuti oleh Mark yang kemudian bergegas ke kamar tamu untuk mengambil dompetnya. Pandangan Keyra terpaku pada Milan yang sekilas tersenyum kecil padanya. "Kita keluar dulu, ya. Milan jangan lupa, vitamin-nya di minum. Daniel juga, main game-nya jangan Lama-lama abis itu langsung tidur, oke?"
Milan dan Daniel hanya mengangguk mengiyakan membuat Keyra tersenyum puas.
(Note : Kalo katanya baku, berarti pake bahasa TThai)
Keyra dan Mark tiba di pusat perbelanjaan pukul 14:15. Mereka berjalan ber-iringan menuju stand yang menyediakan pakaian khusus pria. Wanita itu memilih diam memandang Mark yang mengambil tiga set pakaian dan langsung menuju kasir tanpa mencoba pilihannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Baru saja pria itu hendak mendekati Keyra, seorang wanita berpakaian glamour menabrak bahunya hingga wanita itu terjatuh diatas lantai yang dingin. Mark menunduk sebentar lalu mengulurkan tangannya kepada wanita tersebut yang langsung bangun dan marah-marah.
"Kamu tuh ya punya mata gak sih?! Jalan tuh pake mata!" Matanya yang tadinya melotot, kini berubah lembut ketika menyadari paras rupawan yang dimiliki orang yang ditabrak nya.
Mark diam lalu mengalihkan pandangan-nya ke Keyra. "Maaf," ucapnya tegas tanpa menatap sang lawan bicara.
Cukup lama wanita tadi memandang Mark kagum namun tak lama kemudian ia langsung berkacak pinggang. "Ah kan! Gara-gara kamu saya jadi gak mood beliin suami saya baju." Cerocosnya lagi.
'Dih, pake nyalahin orang lain segala lagi,' batin Keyra kesal.
"Shahila," wanita yang dipanggil Shahila itu menoleh keasal suara. Raut terkejut sangat kentara sekali ketika Shahila tahu siapa yang memanggilnya. "Mark gak salah, lo aja yang gak punya mata sampe nabrak badan segede dia." Julid Keyra kemudian menarik tangan Mark untuk meninggalkan area stand pakaian.
"Ke-Keyra?"
Lupakan akan Shahila yang terkejut melihat Keyra. Saat ini, Keyra dan Mark memutuskan duduk disalah satu kafe yang berada di mall itu. Sebenarnya Keyra ingin pulang, memastikan jika anaknya sudah meminum vitamin yang dibelinya. Namun, Mark menahannya dengan dalih ingin membicarakan tentang kesehatan Keyra sekarang.
"Aku udah gapapa, Mark. Sesuai saran kamu, semua yang masuk ke perut aku itu makanan sehat."
Mark mengangguk sembari menyesap americano nya. "Ucapan aku sebelum kamu balik ke Jakarta, terima atau tidak?"
"Maaf, aku gak bisa Mark." Ucap Keyra langsung. Wajahnya nampak pucat akibat tak enak menolak orang sebaik Mark.
"Tidak usah tegang begitu mukanya," Mark tersenyum tipis membuat Keyra rileks seketika. "Besok aku pulang. Tapi, aku boleh minta satu permintaan?"
"Apapun, asal aku sanggup, permintaan apa?"
"Daniel dan Kannika, izinkan anak aku tinggal bersama kalian selama 3 tahun. Aku tahu mereka kesepian saat aku berada di rumah sakit. Khīy̒ r̀ā dị̂ h̄ịm?"
Keyra mengangguk antusias namun tak lama ia langsung mengerutkan dahi. "Berpisah dengan anak selama bertahun-tahun itu gak enak, Mark. Apa kamu gak mau berpikir ulang?"
Mark menggeleng tegas. "Kamu ingat cerita ku tentang Mae mereka? Aku ingin memperjuangkan cinta pertama ku, dan dialah orangnya."
Keyra hanya bisa mengatupkan mulut lalu mengangguk. "Aku ingat, kejarlah dia, Mark. Niel sama Nika butuh sosok Ibu seperti wanita mu itu. Aku harap kamu selalu bahagia disana," ucap Keyra tulus.
"Haft, mengejar dia susah, Keyra. Hilang ingatan total itu sangat menganggu. Apalagi Pâw ku sendiri selalu menghalangi ku untuk bertemu dengan Natcha."
Perjalanan kisah Mark dan Natcha memang complex. Mereka merupakan saudara tiri yang saling mencintai hingga mempunyai anak kembar hasil cinta terlarang keduanya.
Mark dan Natcha memilih menikah, walau tanpa restu orang-tua yang menentang keras hubungan mereka. Namun malangnya, diusia anak kembar mereka yang baru menginjak 1 tahun, Natcha mengalami kecelakaan berat dan membuat wanita itu amnesia total. Sehingga tragedi itu dijadikan Ayah Mark untuk mengambil Natcha kembali.
Mungkin ini karma akibat melawan restu orang-tua. Mark terpukul dengan itu. Ia selalu meminta bahkan menurunkan harga dirinya didepan orangtuanya, agar Ayah kandung serta Ibu tirinya merestui ia dengan Natcha untuk bersama.
Namun nihil, bahkan orangtuanya seperti tak punya perasaan saat ia dan anak kembarnya menyambangi rumah keluarga besar Astochia. Daniel dan Kannika juga tak dianggap walau mereka cucu kandung Marwin dan Adele.
Oleh sebab itu juga Mark memilih menitipkan kedua anaknya dirumah Akhir ketika ia akan berjuang mendapatkan sosok Natcha kembali. Ia tau tabiat Ayah nya yang keras dan julid kepada orang-orang yang dianggapnya sebagai parasit. Anak kembarnya pasti semakin membenci sang Kakek.
Keyra jelas merasa iba dengan kisah cinta dokter yang pernah menolongnya itu. Yang bisa ia lakukan adalah menjaga serta menyayangi Daniel dan Kannika dengan sepenuh hati.
Satu yang tak Keyra tau, dia pernah menjadi pelampiasan seorang Mark SI BAIK HATI.
TBC
apanseh gaje
gak mau berbelit tapi bkin kisah yang berbelit n gaje, dasar aku🐣
bentar lagi end kok, yang baca pasti mumet sama ketikan w yang absurd
favorit, like
__ADS_1