
"Mama.."
Degh
Keyra menoleh cepat kearah Milan yang memanggilnya dengan sebutan 'Mama'. Jantung wanita itu berdegup kencang lalu ia melepaskan pelukan Rafka yang terasa menyiksanya. Ia mulai menunduk menyamakan tingginya dengan Milan yang tengah memandang dirinya dengan berkaca-kaca.
"Kamu tadi manggil apa?"
Demi apapun, Keyra senang bukan main. Walau perkataan Milan selanjutnya, berhasil memudarkan senyumnya.
"Ah anu,...maksud Milan, Tante gapapa?"
Keyra terkekeh lembut. "Gapapa kok, yuk pulang."
Rafka menyerahkan kunci mobilnya pada Keyra. "Kalian masuk mobil dulu. Nanti aku nyusul," ucap Rafka kemudian masuk kedalam rumah, berniat menemui kedua pelaku penculikan Keyra.
"Wow," gumam pria itu saat sudah tiba di depan pintu yang terbuka lebar. Ia menciduk adegan tak senonoh yang dilakukan oleh Robby dan Ane. Keduanya langsung menjauhkan diri dengan gelagapan.
"Kamu j-jangan salah paham!" Ucap Ane sambil membenarkan letak kancingnya yang terbuka.
Rafka menaikan satu alis, tak mengerti dengan Ane. "Maksud kalian nyulik bini gue tuh apa?'' Tanya Rafka langsung.
"Bini?" Sahut Robby dan Ane kompak. "Kita nyulik mantan kamu, bukan istri kamu," tambah Ane kesal.
Rafka mendengkus. "Ok kalo gak dijawab. Siap-siap aja lo berdua gue tendang ke penjara. Gue gak mau tau, penculikan sarap ini bakal gue tuntut!"
"Tapi Keyra gapapa, kan?!"
"Penculikan tetep harus dipidana."
Robby dan Ane saling lirik. Layaknya orang ber-telepati, keduanya serempak mendekati Rafka dengan menyeringai menggoda. Rafka dibuat ngeri dan langsung mendorong kuat tubuh kekar Robby yang mendekat. Dorongan Rafka mengakibatkan Robby terjerembab bersama dengan Ane yang tak siap menahan bobot tubuh pria itu.
Rafka terbahak melihat posisi tersebut. "Lo kok jahat banget sih njim?!" Ujar Robby.
"Serah gue lah."
"Padahal gue suka sama lo."
Mata Rafka kontan membola lebar. Dirinya sampai tak sadar mundur dua langkah saat Robby berdiri dengan menuntun Ane yang kesakitan ke sofa. "Bener kata Robby. Kamu kok jahat sih dorong kita? Disini kan gaada ranjang. Kalo mau, ayo dorong aku ke kamar sebelah. Kita nganuh."
"Najis lo berdua! Gue berasa bocah polos yang otw dinodai sama kaum mesom. Cabut dah," Rafka berlalu pergi karena perasaannya mendadak tak enak. Dan benar saja, saat diluar, ia mendapati seorang wanita tua yang sedang menarik Milan dari dekapan Keyra.
"WOI!"
Ana, Ibunda dari Akhir yang sudah mendekam dirumah sakit jiwa selama 3 tahun tersebut, langsung mendorong Keyra yang lengah hingga wanita berumur 34 tahun itu, terjatuh diatas kerikil tajam. Keyra meringis kesakitan sembari memegang perutnya yang terasa lebih sakit dibanding bagian tubuhnya yang lain.
__ADS_1
"Milan.." Panggil Keyra pelan. Putranya sedang menangis tanpa suara karena takut dengan wanita yang pernah mengaku sebagai Neneknya. Milan memandang Keyra berkaca-kaca.
"Cucuku harus bersamaku!" Bentak Ana menghentikan langkah Rafka yang ingin mendekat. "Ah kalian Keyra dan Rafka yah? Aku izinkan kalian bersama dengan bahagia, asalkan Milan terus bersama ku!"
"Jangan gila lo anjjirr!"
"Dia emang udah gila," timpal Robby yang baru keluar dari dalam rumah. Rafka tak memedulikan ucapan Robby, yang sekarang Rafka lakukan adalah menggendong Keyra dan membawa wanita itu kedalam mobilnya. 'Kenapa bisa wanita tua itu disini?' batin Rafka berkecamuk. Matanya yang tadi tajam, kini berubah terbelalak melihat darah yang mengaliri betis Keyra.
Setelah meletakkan Keyra didalam mobil, Rafka menoleh kebelakang sembari menggertakan gigi. "Jangan sampai wanita tua itu bawa Milan dari sini. Gue percaya lo orang baik yang mau bantuin kita," ucap Rafka sebelum masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Lo kira gue orang baik?" Gumam Robby pelan. Ia mendekati Milan yang masih menangis dipelukan paksa Ana.
Ana nampak mengedarkan pandangan dengan raut kebingungan, kukunya yang tajam tanpa sengaja menancap di kulit lengan Milan hingga berdarah.
"N-nenek..."
Ana tersenyum cerah. Pipi Milan yang sedikit tembam, menjadi sasaran empuk untuk dicium olehnya. "Ayuk ikut Nenek kerumah Kakek," ucap Ana riang. Kakinya yang pendek bergerak meninggalkan rumah Ane yang jauh dari keramaian penduduk. Namun tangan besar Robby menahan lengannya. Ana menoleh kebelakang lalu tertawa girang.
"CAKRA!"
Robby melongo, lalu tak lama bereaksi heboh. "WHAT?!"
Ana melepaskan tangannya pada lengan Milan, lalu dirinya menghamburkan diri kepelukan Robby sambil berkaca-kaca. "Kamu kemana aja? Aku gapapa kok hidup miskin bareng kamu. Tapi pliiiss, jangan tinggalin aku huhu..."
Ana betulan berhalunisasi. Ah lebih tepatnya sudah gila tingkat dewa. Ia menganggap Robby adalah mantan suaminya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dikecup nya dagu Robby berkali-kali hingga ia melupakan Milan yang sudah kabur meninggalkan tempat tersebut.
Sementara disisi Rafka, pria itu mendorong bankar yang diisi oleh Keyra dengan dibantu beberapa suster menuju ruang UGD. Pria itu sudah menghubungi rekan kerjanya yang berbidang di spesialis kandungan. Rafka sudah menebak apa yang terjadi pada Keyra walau hatinya menolak keras jika Keyra tengah mengandung dan sekarang, janinnya tengan diambang kematian.
Ia juga tahu seberapa keras dorongan Ana disaat Keyra tengah lengah. Rafka benar-benar benci pada mantan Ibu tirinya itu. Ia menghubungi nomer Ivan berniat meminta bantuan. Meminta pria itu agar mau menjemput putranya yang belum pasti keadaannya.
Pikiran Rafka kacau.
"Dokter Rafka."
Rafka mendongak memandang orang yang memanggilnya. "Gimana dengan calon istri saya, Dok?"
"Pasien mengalami keguguran, dok."
Rafka mengangguk lesu. "Terimakasih, Dokter Airin. Saya permisi masuk dulu," ucap Rafka kemudian masuk kedalam ruang UGD. Meninggalkan dokter Airin yang masih membuka mulut berniat melanjutkan ucapannya.
"Tapi.." pintu UGD yang tertutup membuat dokter wanita tersebut menghela napas. "Belum juga dipindahin keruang rawat. Dokter Rafka keliatan cinta banget sama calonnya," ucap dokter Airin manggut-manggut. Tak lama ia menepuk jidat. "Astaga! Maen masuk aja, kan belom dijelasin rinci nya."
Dokter itu kemudian berbalik badan, lalu pelan-pelan masuk kedalam ruangan tersebut.
Didalam ruang UGD, mata Keyra terbuka lebar menatap Rafka yang berjalan mendekatinya dengan langkah tegas namun tatapan pria itu terlihat sendu. "Sayang..."
__ADS_1
"Don't call me dear, Af!"
"Sweetie.."
"Najis."
"Darling..."
"Geli," decak Keyra sebal. Perut bagian bawahnya terasa sakit sekali dan ia merasa kehilangan sesuatu. Keyra menatap kosong kedepan. Ia melamun beberapa menit kemudian memandang tajam wanita yang berdiri diambang pintu dengan pakaian khas dokter yang melekat ditubuhnya. "Saya sakit apa?"
"Anda keguguran."
"Oh.."
Rafka menoleh cepat dengan raut tak percaya. 'oh doang?'
"Berapa bulan dok, dia ada?" Keyra gagal menahan getaran saat menanyakan pertanyaan itu.
"Perkiraan saya, 4 minggu, Bu. Dan puji syukur, anak Ibu yang lain masih bisa diselamatkan."
"Maksudnya dok?" Tanya Rafka cepat.
"Sebenarnya calon dokter Rafka ini tengah mengandung janin kembar. Namun hanya satu yang bisa terselamatkan." Terang dokter Airin. "Saya permisi dulu," pamitnya kemudian bergegas meninggalkan ruangan tersebut hendak menghibah ria bersama rekan kerjanya. Membahas tentang kejadian ini yang pastinya bisa membuat gempar seisi rumah sakit.
Keyra mengelus perutnya sembari memejamkan mata menahan tangis. Sedari dokter Airin menjelaskan jika dirinya keguguran, detik itu juga wanita itu langsung menangis dalam hati.
Isakan kecil mulai keluar dari sela bibirnya saat ia tak bisa menahan tangisannya lebih lanjut. Kelopak mata Keyra terbuka diiringi air mata yang turun membasahi pipi. "Milan, bawa dia kesini." Ucapnya dengan sesegukan.
Rafka bergegas menghubungi Ivan. Butuh waktu beberapa menit untuk Ivan menjawab panggilannya.
"Anak gue gimana?"
"Udah sama gue. Gila aja sih gue muter-muter nyari area perumahan Ane yang sepi. Dan gue malah nemu Milan ditengah jalan. Mana ada preman yang gelagatnya kek penculik anak lagi. Untung gue gercep gak kek lo lola." Rafka mendengkus lega tanpa memedulikan ucapan Ivan yang terlihat jelas menghinanya. "Utang budi lo ke gue. Inget balas budi ya kawannnd!"
"Ya," balas Rafka singkat.
"Etdah! Gue rela ninggalin meeting demi nemuin anak lo, dan balasannya cuman 'ya' doang? Kesurupan jinnya Epin lo makanya gitu?"
"Kalandra Hospital, bawa Milan kesini. Tolong bantu gue dulu bor," ucap Rafka memelas sembari melirik Keyra dalam.
"Okkkee. Tapi gantinya, bikinin bini gue rujak khas Bandung. Dia ngidam pengen elo yang buatin," terdengar Ivan mendengkus jengkel saat mengatakan itu. "Bikinnya langsung dirumah gue."
"Sip," jawab Rafka lalu memutuskan sambungan telepon. Kakinya bergerak ke kursi di samping bankar lalu duduk disana. "Udah lama aku siapin pernikahan kita, Naura. You want right?" Tanya Rafka memeluk erat pinggang Keyra.
"Tapi minta sorry, Naura. Pilihan kamu cuman ada dua. Iya atau mau."
__ADS_1