
"Ca, didik istri lo. Gue bisa matahin tangannya kalo dia lancang ganggu ketenangan keluarga gue."
Cakra menghela napasnya panjang. Ia di musuhi oleh semua orang. Mulai dari sahabat, kedua anaknya serta teman mantan istrinya. "Kita omongin nanti, Vin. Gue ada perlu sama lo," ujar Cakra memelas.
Davin tanpa kata masuk kedalam ruang kerjanya yang ada di lantai paling dasar di rumahnya, diikuti Cakra dibelakangnya.
Netha memperhatikan wajah Ana. "Nenek, Mak Lampir ini temen Nenek?"
"WHAT?"
"Gak usah teriak kalo gak ngerasa." Ujar Reva memutar mata.
Ana diam tak berkutik namun tatapannya yang tajam menghunus mata bening Netha. "Nek, Mak Lampir nya teriak," Netha tertawa. Merasa lucu dengan wajah menor Ana.
Reva hanya terkekeh. "Kamu mau temenin Kenzo?"
"Dedek bayi yang digendong Kakek tembok tadi? Enggak ah nanti Etha dimarahin."
Keyra kembali dengan membawa sepiring mi goreng ditangannya. Saking laparnya, ia sampai lupa dengan pesanan Reva yang menyuruhnya untuk bilang ke pelayan di rumahnya. "Oh iya Bun, aku lupa ngasih tau Bibi buat bikin minuman."
"Gak perlu," ujar Ana dengan tangan yang sengaja di kibaskan ke bagian lehernya. "Panas dan gerah saya disini."
"Panas Tante? Mungkin Tante belum mandi makanya gerah." Celetuk Keyra sekenanya.
"Saya mertua kamu, kenapa lancang sekali hah?"
"Oh maaf ya Tante, Ibu mertua saya itu orang yang sudah melahirkan suami saya, bukan wanita perebut seperti anda!"
Terserah dibilang tak sopan, Keyra muak dengan keberadaan Ana disekeliling nya. Wanita itu selalu saja mencari cara untuk memisahkan dirinya dengan Rafka.
Keyra tentu saja mendengar teriakan Ana yang memintanya untuk berpisah dengan Rafka. Oh tidak bisa! Keyra mencintai Rafka, sangat. Tak mungkin dirinya melepaskan sang suami begitu saja. "Tan, seperti nya Tante gak punya alesan lagi kan buat duduk dirumah ini? Tante pasti mau ketemu temen-temen sosialita Tante itu. Gimana kalo sekarang aja perginya?"
Ana emosi. Ia menggebrak meja dan kemudian berlalu begitu saja dari rumah itu. "Mak Lampir nya kenapa Aunty?"
Keyra menarik tangan Netha dan Lintang untuk duduk di sampingnya "Buka mulut aaa--"
Netha dan Lintang menggeleng. "Gak boleh makan mi, katanya bikin otak gak encer lagi."
"Hey kata siapa? Ayok makan, enak tau." Anggap saja Keyra setan yang menggoda kedua keponakan nya untuk makan mi instan. Dan dengan polosnya kedua bocah itu membuka mulut menerima suapan Keyra hingga mi tersebut tandas tak tersisa. "Tapi kalo makan sebulan sekali aja, sono minta ke Bibi, suruh bikin lagi."
Keyra mengamati punggung Netha dan Lintang yang menuju dapur. "Ketagihan kan lo pada."
****
5 minggu kemudian
Keyra melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Sudah pukul 11 malam dan suaminya tak kunjung pulang. Wanita itu bergerak menaiki undakan tangga sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Ia memasuki kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Keyra menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Matanya panas dan berkaca-kaca, kelopak mata wanita itu perlahan menutup, namun tak lama terbuka lagi saat Keyra merasakan pipinya basah.
__ADS_1
Berulang kali Keyra menutup matanya agar bisa tertidur. Namun air mata yang terus turun saat ia menutup kelopak matanya, membuat Keyra tak nyaman.
“Feeling gue kok gak enak, kenapa air mata gue gak bisa berhenti sih?” Keyra mengusap kasar air matanya. Ia mengantuk, sungguh. Namun air matanya tak kunjung berhenti membuat ia inisiatif membuka ponselnya dan kembali menghubungi Rafka.
Keyra ingin mengetahui keberadaan dan keadaan suaminya. Berkali-kali ia menghubungi nomor suaminya namun hanya operator yang menjawab.
Afka
[Af, kamu dimana?]
[Pasiennya banyak sampe lembur ya?]
Centang satu, dan entah mengapa Keyra kembali menangis. Ia merasa dejavu, sebulan yang lalu Keyra juga seperti ini, tak bisa tidur dan Rafka belum pulang dari rumah sakit.
Keyra menggulir layar ponselnya hingga jarinya menekan kontak Ivan dan Akhir, mengirim pesan kepada keduanya menanyakan keberadaan suaminya. Namun tak ada yang membalas, Keyra merasa ibu jarinya bergetar, air matanya kembali turun tanpa sebab. Keyra sesegukan, ia kesulitan bernafas karena hidungnya tersumbat akibat ia yang terus menangis.
“G-gue kenapa sih? Tidur Key, positif thinking aja kalo semuanya bakal baik baik aja.”
Entah mengapa Keyra merasa sangat lemas, ia meletakan ponselnya di samping kepalanya. “Kalo gue besok gak bisa bangun, gimana?”
...*****...
“Aku hamil anak kamu.”
Rafka yang awalnya begitu mendambakan seorang anak, kini hanya merespon “Oh,” dan langsung melempar jas kedokteran nya ke sofa.
Rafka merasa itu pertanyaan yang tak perlu dijawab, ia menghisap putung rokoknya tanpa memedulikan Shahila yang duduk disamping nya.
“Kamu kok ngerokok sih? Aku kan lagi hamil!” Sentak Shahila.
Rafka sekilas melirik Shahila tanpa minat. “Lo tinggal pindah, gue gak suka di suruh suruh sama orang yang bukan istri dan Bunda gue!”
Shahila tertawa mengejek. Ia yang dulunya begitu pendiam dan bisa mengendalikan emosinya, kini menjadi Shahila yang agresif dan tak tahu malu karena obsesinya pada Rafka.
“Istri kamu yang gak bisa ngasih kamu keturunan itu? Aku sekarang lagi hamil, dan kamu harus tanggung-jawab!”
Rafka membenarkan ucapan Shahila walau hati kecilnya tak terima dengan itu semua.
“Oke.”
Semenjak Rini meninggal, kepribadian Rafka memang jauh berbeda. Rafka yang dulu hangat, ceria dan selalu menyapa orang terlebih dahulu, kini menjadi dingin dan tak peduli dengan lingkungan nya.
Pria itu menjadi pribadi Rafka yang seperti dulu hanya didepan Keyra, istrinya. Yang ditempat lain sedang tertidur dengan air mata yang terus mengalir.
Keesokannya, Keyra menghirup napas dengan rakus kala kelopak matanya terbuka. Keyra merasa bagian matanya sakit dan ibu jarinya kembali bergetar.
“Hai,” Keyra menyapa serak. Matanya yang sembab menatap Rafka yang terbaring disampingnya tengah membelit pinggangnya. “Kamu semalem kemana? Nomer kamu juga gak aktif.”
Rafka semakin mengeratkan pelukannya sambil terkekeh. “Aku mampir ke kantor Pak Tua dulu setelah pulang dari rumah sakit. Ponsel aku lowbat, Ra.”
__ADS_1
Keyra mengerjap, “Kamu udah baikan sama Ayah? Alhamdulillah. Walaupun Ayah udah ngelakuin kesalahan yang fatal, tapi pasti Bunda disana pengen kamu akur sama Ayah.”
“Siapa yang bilang baikan? Ra, Ayah yang udah bikin Bunda meninggal!”
Keyra menggeleng. “Bunda meninggal karena udah takdir. Ayah Cakra emang salah udah selingkuhin Bunda, tapi dengan kamu musuhin Ayah, apa Bunda disana seneng?”
Rafka diam.
"Kenapa ya cinta gak ngejamin seseorang bakal setia?"
"Maksud kamu?"
"Hm, Ayah Cakra cinta sama Bunda Rini 'kan? Artinya aku sadar, kalo cinta aja gak cukup untuk membangun sebuah hubungan tanpa adanya penghianatan."
Rafka membeku, kepalanya menelusup masuk ke ceruk leher Keyra. Menghirup dalam-dalam aroma istrinya dengan mata tertutup. “Mata kamu sembab kenapa?”
“Nangis, semalem ngantuk banget tapi susah tidur, Af.. Air mata aku juga gak bisa berhenti padahal aku gak baca novel atau drama sad, kok bisa ya? Perasaan aku gak enak banget, menurut kamu aku kenapa?”
Deg
Apa harus hari ini juga? Dengan alesan apa aku ngelepas kamu?
“Ka-kamu mungkin kecapean aja, Ra. Istirahat yang banyak maka-nya, jangan keseringan begadang liatin drama-drama alay itu.”
Keyra memutar mata malas. “Sejak aku nikah sama kamu, kamu selalu sita hape sama laptop aku ya kalo pas malem! Gimana bisa nonton?” Ucap Keyra sinis. “Semalem aku udah ngantuk banget Af, kamu belum pulang dan aku sendiri dirumah. Berkali-kali aku coba biar tidur, tapi susah banget.”
"Tenangin pikiran kamu, sayang." Pelukan Rafka terasa hangat untuk Keyra. Wanita itu tersenyum menepis semua pikiran buruknya. "Kamu belum isi, Ra?"
Keyra tertawa canggung. Ia ingat sudah seminggu dirinya telat datang bulan. Namun, ia tak mau berharap lebih karena biasanya, jadwal menstruasi nya memang tak beraturan. "Belum, mungkin belum dikasih kepercayaan."
"Kamu cinta gak sih sama aku, Ra?" Tanya Rafka tiba-tiba.
Keyra tak bergeming, ia malu jika harus mengakuinya secara langsung didepan Rafka. Dan diamnya Keyra membuat Rafka berspekulasi jika istrinya tak mencintai dirinya.
"Pil KB itu penyebab kamu belum hamil sampai sekarang, Ra? Kamu gak pengen punya anak sama aku?"
Cengkraman kuat di bahunya membuat Keyra mengernyitkan dahi. Sedikit meringis kala Rafka semakin menguatkan cengkraman nya. "Pil KB? Kamu nuduh aku minum pil gituan?" Keyra sontak memukul dada Rafka berkali-kali. "Atas dasar apa kamu ngomong gitu, Af? Apa karena aku belum hamil juga jadinya kamu nuduh gitu?"
"Gak, aku becanda doang tadi," elak Rafka. "Hari ini aku lembur lagi gantiin junior aku dirumah sakit, kamu dirumah aja oke?”
Keyra tanpa ragu mengangguk. Ia melepaskan lilitan tangan Rafka dari pinggangnya dan beranjak untuk menyiapkan keperluan Rafka.
Rafka memandang Keyra tanpa berkedip, apa ia siap kehilangan Keyra?
TBC
tandai typo
kekey, afka. jingan lu berdua:v
__ADS_1