Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Gabut


__ADS_3

Lima hari sudah Keyra dirawat dalam keadaan sadar. Gadis itu kadang mengeluh mengenai kepalanya yang sering berdenyut nyeri dan bagian tubuhnya yang semakin kurus.


Rafka dan teman-temannya yang datang setiap hari memenuhi ruangan rawat Keyra, gadis itu ingin mengusir mereka pun percuma, mereka tak akan pernah mau di usir dan Keyra pun terhibur dengan gurauan mereka.


Ada dua yang Keyra pikirkan, dimanakah abang tirinya berada? Apakah dirinya tak akan di terima baik oleh Ervin?


Dan kemana perginya mama nya? Keyra terakhir melihat wajah ayu sang mama nya saat dirinya akan berangkat untuk study tour. Setiap dirinya bertanya kepada Garen, namun jawaban pria itu hanya,


“Mama sama Papa 2 tahun bakalan netep di kota Medan, Dek. Di Jakarta cuman ada Abang sama Alisa doang. Kamu jangan lupa buat mampir ya?”


Sedikit terkejut memang mamanya pergi disaat dirinya tengah masanya pemulihan. Apakah Pa- Andri yang tak mau lagi berhubungan dengan nya? Keyra tak tahu.


“Dua hari lagi baru lo bisa pulang,” Friski mengusap kepala Keyra dengan sayang. Lamunan Keyra pun buyar saat itu juga.


“Gue ketinggalan kelas ya Bang?” Tanya Keyra seraya melirik Friski yang duduk di samping brankarnya.


Friski tidak terkejut lagi saat Keyra memanggilnya dengan sebutan ‘abang’. Yah, antara senang dan kecewa saat Keyra benar-benar menganggapnya hanya seorang kakak, dan tidak lebih.


“Lo sekarang kelas sepuluh! Semangat dong buat sembuh, banyak jurusan yang nunggu buat lo pilih,” katanya menyemangati.


“Marketing ada nggak? Atau jurusan yang berhubungan sama filem atau nggak modeling. Gue pengen jadi aktris,” ungkap Keyra.


“Lo udah jadi aktris kali.”


“Aktris Kekey,” Rivan menimpali ucapan Rafka, keduanya beserta Ivan duduk di bawah yang sudah dilapisi permadani.


“Nama gue Keyra bukan Kekey, stop dong! Capek nih.”


“Lanjut bacotnya nanti pas di sekolah aja, udah malem dan lo Key-- tidur cepetan!” Titah Ivan yang jengah melihat perdebatan mereka.


Abian mengangguk setuju, “atau lo mau ke kamar mandi dulu? Gue anterin.”


Keyra mengangguk, “iya.” Abian hendak berdiri untuk mendekati Keyra namun urung kala Rafka menendang kaki nya keras.


Friski yang duduk di samping brankar Keyra pun mendengus, “Ada gue napa minta tolong Ian dah,” protes Friski setengah kesal, sementara Keyra tertawa pelan mendengarnya.


“Inget status,” kata Rafka tajam.


“Inget status,” balas Abian santai.


Rafka mendengus, ia beranjak berdiri mendekati brankar sisi kanan Keyra dan memapah gadis itu dengan selang infus di tangan kirinya. “Masuk, tutup pintu. Atau mau gue bantuin?” Tanya nya jahil.


“Jangan mau Kekey! Lo bisa di grepe-grepe sama si curut,” Rivan bersua mengompori.


“Mana bibirnya udah nggak suci lagi Key, dan bukan elo yang nodain wahahaha.” Sahut Ivan tertawa dengan melempar tas kosong besar milik Keyra tepat di wajah tampan Rafka.

__ADS_1


“Hooh Key. Rafka depan nya aja sok alim, padahal mah brengsekknya keterlaluan,” Timpal Friski tak mau kalah.


“Udah punya tunangan masih aja suka sama orang. Kalo gue jadi elo mending batalin tunangan sejak dini.”


Friski memilih duduk di samping Abian dan menepuk pundak pemuda itu, “Wow Bravo! Bener noh kata Ian. Sini jadi tunangan gue aja, sekaligus Ibu dari anak-anak kita nanti.” Ungkap Friski menatap mengejek Rafka yang masih terdiam di depan pintu yang tertutup, tangan pemuda itu terkepal.


“Saran kalian diterima baik,” teriak Keyra dari dalam kamar mandi. Seisi ruangan itu tertawa terkecuali Rafka yang kesal.


“Sialan, gue makan juga lo pada.”


Ivan berdecih, Rivan menatap mengejek, Abian dan Friski mengidikan bahunya acuh. “Insyaf nak, jangan jadi kanibal.” Kata Rivan sok menasehati.


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan wajah Keyra yang jauh lebih fresh dari tadi, gadis itu berjalan mendekati brankar dengan di bantu oleh Rafka.


“Tidur lo,” kata Rafka yang diangguki oleh Keyra. Setelah merebahkan tubuh Keyra di brankar, Rafka duduk kembali di atas permadani, tangan nya memukul kepala Ivan dan Rivan kesal.


“Mana tadi yang ngomporin hubungan gue sama Kekey? Mau gue jitak berjama'ah hah?”


“Bacot.” Umpat Rivan.


“Saling terikat tapi hati kalian kagak?” Tanya Ivan seraya


berdecih.


“Terserah dong, yang penting gue punya tunangan kagak kek kalian apalagi Ian--- sang jomblo abadi.” Nada mengejek meluncur dari bibir Rafka kepada Abian.


Keyra menatap kelima pemuda yang masih asik berdebat. Gadis itu memandang Ivan dan Rafka lama, Keyra masih ingat jelas akan kejadian itu.


Dimana dirinya di kejar-kejar oleh Anggi dan juga Alisa yang sepertinya hendak membunuhnya, lalu Ivan datang dan menusuk nya seraya berkata yang menurut Keyra aneh. Kemudian Andri memukuli nya yang di tonton langsung oleh Mama nya yang tidak peduli akan keadaan nya. Hingga Rafka datang bak pangeran pembawa bencana akan fakta Shahila-- mantan sahabatnya yang hamil karena Rafka.


Namun kejadian waktu itu menurut Keyra memang hanya lah sekedar mimpi, buktinya Ivan terlihat bahagia tanpa beban saat berdebat dengan teman-teman nya.


Begitupun dengan Rafka, Keyra tak akan pernah percaya musuh masa kecil yang sekaligus adalah tunangan nya itu akan berbuat sebejat itu, Keyra percaya pada Rafka.


Keyra merasakan sesuatu yang nyeri di dalam sana.


Namun, mengapa rasa sakit saat itu jelas terasa nyata?


Kelopak mata gadis ber pupil amber itu perlahan menutup bersamaan dengan seorang pemuda yang masuk kedalam ruangan itu. “Mati?” Celetuk pemuda itu tiba-tiba dengan duduk di samping Friski.


“Buset apanya yang mati?” Tanya Rafka menatap heran pemuda itu.


“Hooh, lo kemana aja Vin? Kesini kalo diatas jam sepuluh terus lagi,” Ervin bergeming menatap tubuh kurus yang terbaring di atas brankar. “Keyra.”


Rafka, Rivan, Ivan dan Friski menutup mulut mereka tak percaya.

__ADS_1


“Astagfirullah.”


“Astaga.”


“Gubluk.”


“Bumi sudah tua wahai anak muda.” Cetus Friski.


“Mantan gue ngerepotin,” ujar Ervin mengabaikan tatapan horor teman-teman nya itu.


“Bisa nggak sih ngomong yang jelas? Tadi lo ngomong Keyra mati, sekarang mantan lo ngerepotin. Baku hantam ayok!” Desis Ivan kesal.


“Makanya kalo nggak mau di repotin jangan punya mantan,” kata Rivan. “Kalo pacar minta putus, ancem aja pake aib dia awokawok.”


“Gue yang mutusin seton,” Ervin menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, matanya masih tajam menatap intens Keyra yang tertidur pulas.


“Mantan lo berapa Vin? Capek gue liat mantan gerombol lo di SMK.”


Ervin hanya menggidikan bahunya acuh merespon pertanyaan dari Friski, “Sekelas anak akuntansi 6 itu mantan Ervin semua oy! Belum anak kelas lain,” ujar Rivan heboh.


“Perasaan lo dari SMP 11 12 sama si Ian, napa pas SMK jadi pucekboi sama kek Ipang dah.”


Ivan yang namanya di bawa-bawa pun memukul kepala Rafka kesal. “Addaw, napa jadi gue anzay?!” Pekik Rafka tak terima.


“Lo ngewakilin Friski buat gue pukul!” Friski tertawa nista sementara Rafka mendengus.


“Tujuan lo jadi pucekboi gadungan itu apaan sih Vin? Kepo tingkat kuadrat gue sumpah,” Rafka menilisik mata tajam Ervin yang menatap Keyra. “Lo suka sama Keyra? Adek lo sendiri?” Tanya nya tak percaya.


“Gabut,” ujarnya santai. “Gak.” Singkat dan padat, itu lah jawaban dari seorang Ervin.


“Gue nanya panjang lebar, nah dia ngejawab dua kata doang buset,” cibir Rafka.


.


.


.


Typo maaappppp!


.......


Gaje OY!


Jangan lupa like n comen nya kakak cakep;V

__ADS_1


Thanks....


__ADS_2