
Cintai dia tanpa berlebihan. Sederhana, tapi gak pudar.
★★★★★
"Bangun."
Rafka terbangun merasakan tangan lembut Keyra menyentuh tengkuknya. Ia menguap lebar kemudian memandang wajah pucat sang istri yang nampak kelelahan. Rafka yang mengerti langsung menggendong dan membawa tubuh putranya ke atas ranjang.
Sekilas Rafka melirik jam dinding. Waktu hampir menunjukan pukul 1 dini. Itu artinya ia dan Milan tertidur di sofa hampir 2 jam lamanya. Pria itu merenggangkan otot-otot nya yang terasa kaku kemudian beralih menatap Keyra.
Rafka menyentuh pipi Keyra yang dingin. Bibirnya bergerak mengecup puncak kepala Keyra. "Istirahat. Udah malem, Ra."
"Kita ke kamar Milan aja," ajak Keyra. Meraih tangan besar Rafka dan membawanya kekamar sebelah. Keyra terlebih dahulu membersihkan diri sebelum kemudian ia ikut bergabung bersama Rafka. Tangan Keyra menelusup masuk untuk memeluk erat tubuh suaminya yang hangat.
"Cie yang makin tua, mau minta apa?" Ucap Keyra. Tangannya yang lentik, bergerak membuat pola abstrak di dada bidang Rafka.
Rafka tersenyum tanpa membuka matanya. Pria itu membalas pelukan sang istri tak kalah kuat. "Aku mau kamu..."
"Besok aja, Mas. Ngantukk banget sumpah," ujar Keyra cepat membuat Rafka terkekeh. "Aku mau kamu tutup aurat. Bukan bercinta, woi!" Dahi Keyra berkerut dalam sembari mencerna ucapan sang suami. "Dari dulu, liat kamu berhijab dan tanpa paksaan itu, keinginan aku yang paling dalam."
Dalam dekapan Rafka, Keyra membeku lama. Pikirannya mulai ber-kecabang memikirkan perkataan sang suami. Karena baru kali ini, Rafka memintanya untuk menutup aurat.
"Tanpa dipaksa," ulang Rafka sambil mengelus surai coklat Keyra. "Pelan pelan pasti bisa, Ra. Nutup aurat itu kewajiban buat kita."
Keyra mengangguk kaku. "Kasih aku waktu buat hijrah dan istiqomah, Mas. Kata orang, hijrah itu mudah, dan yang susah itu istiqomah nya. Aku takut kalo udah berhijab, malah gak istiqomah." Ujar Keyra sangsi. Pikiran negatif mulai menghampirinya. Keyra betulan takut jika nanti ia sudah berhijab, malah buka-tutup didepan umum alias didepan yang bukan muhrimnya.
"Buang pikiran negatif kamu itu, Ra. Cintai proses hijrah dan istiqamah kamu nanti. Insha'allah, kamu istiqomah," balas Rafka mantap. Ia mengusap punggung Keyra, memberikan sensasi nyaman pada istrinya.
"Kamu kenapa tiba-tiba minta aku nutup aurat, Mas?" Tanya Keyra penasaran sembari menguap. Ia hanya bisa tertidur saat Karmila sudah terlelap dengan nyaman.
Keyra sedikit kaget ketika harus bangun malam saat putrinya menangis kencang ingin menyusu. Karena dulu sewaktu ia melahirkan Milan, Akhir langsung membawanya ke Thailand tanpa ia sempat melihat dan merawat putra sulungnya.
"Kamu mau tau?" Keyra mengangguk pelan. "Sebrngsk-brngsk nya cowok, mereka pasti akan milih cewek yang bisa jaga aurat dari pandangan yang bukan muhrimnya. Begitu juga dengan aku, Ra. Satu helai rambut kamu yang dilihat bukan muhrim kamu, balasannya 70 ribu tahun di neraka dan bisa menarik Papa Davin, Raga, aku dan Milan didalamnya."
"Sefatal itu?" Tangan Keyra bergetar mendengar itu.
Rafka mengangguk. Menarik nafasnya yang mulai memberat. "Maaf karena aku baru tahu itu semua, Ra. Kita bisa sama-sama belajar memperbaiki diri dari sebelumnya."
__ADS_1
"Aku juga mau berubah," tambah Rafka terdengar getir. Keyra tertegun saat Rafka menangis di pundaknya. "Aku gak mau Ra anak-anak kita nasibnya kek aku dulu. Dari kecil jarang diajari solat apalagi ngaji. Ayah sibuk ngurus perusahaannya, sementara keluarga aku yang lain, lebih mengajarkan aku tentang ilmu kedokteran, bukan agama."
Mulut Keyra terbungkam.
"Kecuali Bunda,... dia satu-satunya orang yang setia mengajari aku tentang manners, kedokteran sekaligus ilmu agama. Tapi dasarnya dulu bandel, aku suka bantah ucapan Bunda, Ra. Dan sekarang, rasanya nyesek banget.."
Air mata Rafka semakin turun deras membasahi leher Keyra. Isakan pria itu tak terdengar namun bahu yang bergetar, mampu membuat Keyra ikutan menangis. Rafka benar-benar mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini tak diketahui oleh Keyra.
Rafka tak cengeng, Keyra tau itu. Semua orang berhak menangis untuk melupakan emosinya. Pria itu menangis karena mengingat tanggung jawab di hadapan Tuhannya begitu besar. Dia menjadi tonggak penyangga dalam rumah tangga, menjaga serta melindungi istri dan anaknya.
Rafka mengusap kasar air matanya lalu menunduk untuk mencium bibir Keyra agar wanita itu berhenti menangis. "Maaf Naura. Aku terlalu cinta sama kamu melebihi pencipta kita. Menghalalkan segala cara biar kamu jadi milik aku, lagi. Walau cara itu salah besar dan termasuk zina. Dulu aku gak nyesel, tapi sekarang beda lagi. Aku takut anak kita kena imbasnya karena kelakuan bngsat ku dulu."
Bahu Rafka ia tepuk pelan, mata sembab Keyra membuktikan jika ia ikutan menangis mengingat dosanya.
"Mas, jangan mencintai manusia melebihi penciptanya. Dan aku udah maafin kamu waktu itu." ungkap Keyra setengah terisak. "Jangan bilang gitu lagi! Milan sama Mila--"
Ucapan Keyra terpotong saat Rafka menjatuhkan bibir di keningnya. "Sederhana tapi gak pudar? Babe i'm trying," ujar Rafka. "Kita bisa didik mereka dari dini."
★★★★★
Keyra memandang cermin sambil membetulkan pashmina berwarna nude yang senada dengan gamis simple-nya. Tarikan dari belakang, membuat Keyra menoleh.
"Alo Mama,..." sapa Karmila riang.
Terhitung sudah 3 tahun umur putri bungsunya. Kelakuan Karmila benar-benar tak sekalem wajahnya. Sifatnya hampir sama dengan Kannika dan Tiffany yang bar-bar dan tidak bisa untuk tidak berisik setiap harinya.
"Mama yok beli esklim!"
Keyra merunduk, menyamakan tinggi badannya dengan Karmila. "Nunggu Papa sama Bang Milan, ya. Kamu sini pake bedak dulu," ujar Keyra lembut. Bergerak mengambil bedak bayi di meja riasnya. Namun tangan mungil Karmila malah menyentak bedak itu hingga terpelanting ke lantai.
"No, no! Mila ndak suka ma bedak, bau!!!"
Keyra tertawa lalu menggendong Karmila saat deru mesin mobil suaminya terdengar dari halaman depan. Wanita itu mendadak meringis kecil saat tangan anaknya menarik jilbab yang dikenakannya. "Mama ni apa? Napa Mama make ni mulu?" Cerocos Karmila. Dia memang sangat cerewet dan hiperaktif, berbeda sekali dengan sifat Abangnya yang super kalem.
"Jilbab."
"Jibab?"
__ADS_1
"Jilbab, sayang," ralat Keyra sembari menyentuh hidung Karmila yang mancung. "Mila mau pake juga?"
Karmila mengangguk, tak lama ia menggeleng. "Ndak ah. Libet make jibab, nanti Mila gelahh!"
"Enggak kok. Kalo Mila biasa make ini, Mila pasti suka, gak akan kepanasan."
Karmila nampak menimbang nimbang saat Keyra membawanya ke teras. Sang Mama menurunkan dirinya didepan mobil Papanya yang baru tiba bersama Milan. "Yadah, Mila mau make jibab!"
Keyra dibuat takjub. Begitu pula dengan sang suami dan putra sulungnya. "Sekalang mana jibab Mila?"
"Kita beli dulu sayang," ujar Keyra kemudian menuntun Karmila duduk dikursi samping kemudi.
Milan yang duduk dikursi belakang, lantas menoleh kearah Keyra. "Mama duduk dibelakang sama Milan," Keyra mengangguk begitu Milan bersuara.
Tin tin!
Bunyi klakson itu sedikit mengejutkan Keyra serta Rafka yang masih berdiri disamping mobil. Karmila pelakunya. Bocah itu tersenyum lima jari sembari mengibaskan rambut hitamnya kebelakang. "Mama, Papa! Mila mau aji."
Kedua orang tuanya sontak mengernyitkan dahi. "Maksud Mila, dia mau ngaji, Ma, Pa." Terang si sulung yang paham dengan ucapan sang adik. "Milan juga mau belajar ngaji." Ucapan Milan kali ini kembali membuat orangtuanya terkejut.
3 tahun belakangan ini, Milan sering mendengar kedua orangtuanya melantunkan ayat suci yang indah untuk didengar. Walau saat sang Mama mengajaknya mengaji, Milan selalu menolak dengan dalih mengantuk.
Sebenarnya Milan hanya tak tau harus memulai dari mana. Ia bingung dengan perubahan kedua orangtuanya. Pertama kali melihat sang Mama mengenakan jilbab pun Milan hanya bisa terbengong-bengong tanpa bisa bertanya apapun.
Mamanya jauh lebih cantik dengan penutup kepala tersebut dan hanya memoles kan wajah dengan make-up tipis.
Keyra melirik Rafka meminta bantuan. Ia berbisik lirih, "Cariin guru ngaji buat mereka ya, Mas. Kalo anak kita beneran mau belajar tanpa dipaksa, alhamdulillah banget."
Rafka mengangguk, mengajak sang istri untuk masuk kedalam mobil. "Besok Papa bawain guru ngaji buat kalian berdua."
"Kenapa gak Mama sama Papa aja yang ajarin?"
Keyra melirik Rafka lalu tersenyum tipis. "Kita juga masih belajar, nak."
Milan mengangguk pelan tanpa bertanya lagi. Selama perjalanan menuju bandara, Karmila tak bisa diam dan selalu memandang keluar jendela sembari bertanya pada Papanya hal yang tidak ia ketahui.
Mobil tersebut sampai dibandara selama hampir menempuh 40 menit perjalanan. Rafka meraih tubuh Karmila dan meng-gendongnya. Tangan satunya yang bebas, bergerak menautkan jemarinya pada jemari Keyra yang lembut.
__ADS_1
TBC