Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Sycho


__ADS_3

SMK Andromeda,


7:15


“Pftt, hahaha gue nggak bisa buat stop ngakak, Ra.” Rafka memarkirkan motornya di tempat parkir SMK Andromeda dengan menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Sedari di depan gerbang, banyak yang menatap motor sport itu penasaran, tepatnya penasaran dengan orang berpenampilan culun yang duduk di atas motor Rafka.


Di tempat parkir sudah ramai, bahkan anggota paskibra serta petugas upacara yang lainnya sudah siap di tepi lapangan yang berjarak tak jauh dari tempat parkir, disana juga ada Naya dan Shahila, menatap Keyra dan Rafka miris.


“Siapa, Raf? Kamu mau duain aku lagi? Apa Keyra enggak cukup? Ini cewek yang jauh di bawah aku, kamu embat juga?” Batin Naya.


“Tawa kamu natural, Raf. Enggak kek biasanya,” gumam Shahila pelan.


Di tempatnya, Keyra memukul bahu Rafka keras, “lo jangan malu-maluin, gue! Jantung gue jedag jedug nih njjirr gegara lu ketawa sendiri,” celetuk Keyra.


Rafka menangkap tangan mungil Keyra, “harusnya kan gue yang bilang gitu! Mana ada cogan kek gue, mau deket-deket bahkan boncengin cewek culun bin jelek kek elo,” ujarnya sarkas.


Keyra tak tersinggung, karena itu memang lah kenyataannya. “Lo kan pas nganterin gue beli wig sama lainnya, dah tau, terus kenapa masih mau jemput gue, ha?”


“Karna gue ganteng, baik hati dan tidak congkak!” Rafka menyugar rambut legam sedikit kemerahnya kebelakang.


Keyra menggeram kesal, “astaga Afka, lo narsis banget tau kagak?!” Ujarnya, tangan gadis itu terulur membenarkan letak kacamatanya sendiri.


“Ahaha, gue bukan narsis, itu emang kenyataan nya wleek,” Rafka menjulurkan lidahnya, mengejek Keyra.


“Ra, lo kagak mau ketemu Bang Alvin dulu?”


“Bang Alvin?”


“Lah dia ponakan nya Aunty Rhea, kepsek bobrok tiada tanding,” ujar Rafka.


“Ya gue mana tau siapa Bang Alvin itu, terus napa lu panggil dia ‘Bang’ bukan ‘Pak?'’ Gue kira dia itu Babang tamvan,” balas Keyra kesal.


Bunyi ketukan di mikrofon membuat Keyra dan Rafka berlari cepat ke ruangan kepsek, “Af, mana? Buruan itu upacara bentar lagi mulai!”


“Lah gue aja baru sekolah disini dua bulan, bingung lah cokk!”


“Argghh Afka kagak guna!”


Dari arah belakang, seorang pria yang memakai kemeja di baluti jas datang dengan menenteng sebuah tote bag beserta kacamata hitam yang melekat menutupi matanya, pria itu tetap percaya diri walaupun membawa tote bag itu yang berwarna pink, entah apa isinya.


“BANG ALVIN!” Teriak Rafka tiba-tiba, untungnya koridor kelas sepuluh tengah sepi, karena semua murid nya sudah berada di lapangan untuk mengikuti upacara bendera.


Keyra mengamati pria yang baru saja melewati kedua nya, “ganteng banget yawoh aki-aki.”


“Aki-aki mbah mu!” Balas Rafka sewot, melihat tatapan berbinar Keyra di balik kacamata bulatnya, Rafka tak suka.

__ADS_1


“Gue Arvin,” ujar pria itu yang langsung berbelok, menaiki anak tangga menuju lantai 2.


“Astaga pantesan tembok berjalan! Lagian apa si Jihan sakit lagi?” Gumam Rafka.


“Afka dimana? Gue harus nyari ruangan kepsek dulu, lagian kenapa enggak ada yang inisiatif ngasih tau kelas gue sih?” Dumel Keyra.


Menurut Keyra, Papanya mending memberi informasi kelasnya, dibanding memberi sebuah kartu kredit yang sepertinya tak akan ia gunakan.


“Lah gue baru inget njer, itu kita kelewatan,” Rafka spontan menarik tangan Keyra dan berbalik badan, keduanya sedikit berlari dengan kepala sedikit tertunduk.


Setelah sampai di depan pintu kayu bercat putih bertulis ‘kepala sekolah,’ Rafka memimpin masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


“Lo kalo bukan anaknya Bang Cakra, dah gue tebas lo, Raf.”


Itu suara pertama yang Keyra dengar, gadis itu bergidik ngeri mendengar candaan yang keluar dari kepala sekolah barunya yang memang sangatlah mirip dengan pria berkacamata tadi.


Tampan, tapi scyho!


Alvin sepertinya baru menyadari keberadaan Keyra, pria itu langsung berdeham dan menegakkan badannya.


“Buset manusia purba,” gumam pria itu yang dibalas gelak tawa dari Rafka. Keyra hanya mendengkus tanpa mau membalas, gadis itu tak mengenal pria di depannya, apalagi jabatan Alvin merupakan kepala sekolahnya. Jadi, apa Keyra berani ngamuk-ngamuk? Tentu saja tidak!


“Silahkan duduk dulu,” ajak Alvin ramah, tapi matanya melotot pada Rafka yang seenak jidat nya memakan cemilan kesukaannya di meja.


“Intro!”


“Hah? Intro?”


“Eh maksud saya, nama kamu?” Tanya Alvin berusaha stay cool.


“Keyra Naura, Pak.”


BRAK!


“KAMU ANAKNYA BANG DAVIN?”


Dengan kikuk, Keyra membalas dengan anggukan.


Kalo gini, nyesel banget pake ginian, Papa bisa malu di depan orang kenalannya, huhuhu.


“BIASA AJA DONG, INGET JABATAN!”


“Pftt haha astaga, perut gue saket,” Alvin memegang perutnya, “fake nerd, girl? Gue udah tau muka lo dari Bang Davin, pfft jadi keinget laras,” ujar Alvin dengan tertawa keras.


“Maaf, Pak, ruang kelas saya dimana?”

__ADS_1


“Jangan formal sama gue, panggil aja Bang Alvin.”


“Maaf sekali lagi Pak, ini sekolah bukan pangkalan ojek yang mengharuskan saya memanggil Bapak dengan sebutan ‘Abang.’ Jadi, ruang kelas saya dimana?” Tanya Keyra tak sabar, gadis itu tak mau dijadikan bahan lawakan oleh Rafka dan juga Alvin.


“Dahlah Bang, dia,” Rafka menunjuk Keyra dengan dagunya, “akan bobrok pada waktunya. Gc lah kasih tau kelasnya,” ujar Rafka.


Alvin masih berusaha menahan tawanya, pria itu memilih meraih ponselnya, mencari informasi di dalam ponsel pintarnya.


“Anda berada di ruang kelas X AKUNTANSI 1, 2, 3.”


“Ha?”


“Mohon maaf, Pak. Boleh tau kelas saya itu sepuluh akuntansi 1, 2 atau tiga?” Keyra jadi gregetan sendiri dengan kepala sekolahnya yang absurd.


“Kamu pilih mana?”


Brak!


“PAK!”


Keyra menggebrak meja hingga membuat Rafka dan Alvin tertawa. Aneh memang, bukan nya marah, keduanya malah tertawa.


“Saya suka gaya mu, kamu mirip banget waktu Bang Davin ngamuk, hahaha.”


Astaga, kepsek gue gila!


“Oke, maaf ya kedua anak ku tercintah! Tadi saya cuman nyari hiburan di pagi buta yang membosankan ini,”


“Kagak nanya!” Batin Keyra dan Rafka.


“Akh kagak asik,” gumam Alvin pelan melihat kedua anak didiknya dalam mode serius. “Kamu berada di kelas sepuluh akuntansi 3, mari-mari kita jemur dulu, bentar lagi upacara dimulai.”


Keyra dan Rafka ikutan beranjak, saat sudah berada di lapangan, Rafka dengan gampangnya menarik tas Keyra dan menaruhnya di belakang barisan anak otomotif. Banyak yang menatap Keyra sinis, gadis itu pun mengabaikan nya, untuk apa menatap balik? Kenal saja tidak!


.


.


.


TBC SAYANG:V


Ampe lupa, gue kan jomblo


Favorit, like n comen ya

__ADS_1


__ADS_2