
Tringgg
Bunyi bel istirahat pertama berbunyi, Keyra keluar dari kelasnya menuju kantin Akuntansi. Ia mendekati stand mi ayam dan memesan es teh manis pada si penjual.
Baru saja ia duduk, seorang pemuda yang tak asing baginya pun ikut duduk didepannya. Keyra mengerjap bingung. "Te-tempat lain kosong, bo-boleh aku du-duduk disini?" Ucap Roby tergagap.
Mata Keyra mengedar ke sekeliling, memang sudah penuh, namun ada satu meja yang kosong dan Keyra tau mengapa Roby memilih duduk dengannya. Itu meja seniornya yang sok berkuasa di Andromeda.
"Gapapa," ucap Keyra singkat. Ia kembali fokus memakan mi ayamnya dan tak sadar jika pemuda dihadapannya tengah memperhatikan nya intens.
"Ka-kamu pu-punya pacar, Ke-keyra?"
Keyra menggeleng sebagai jawaban. "Gak usah gugup gitu," ucapnya kemudian.
Roby tersenyum meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Emm kalo Rafka siapa kamu?"
"Temen."
"Ohh," nampak sekali jika Roby tersenyum senang mendengar ucapan langsung dari Keyra. "Ti-tipa ideal kamu, seperti apa?"
"Lo itu ikut klub jurnalistik? Nanya mulu perasaan," ujar Keyra.
Roby menggeleng polos sambil tersenyum, " Aku gak ikut eskul apa-apa."
"Wih kita sama," ucap Keyra tiba-tiba. Ia senang ada orang yang sama sepertinya, tak mengikuti ekstrakulikuler apapun. "Btw lo kelas sepuluh 'kan?"
"Aku kelas sebelas," Ujar Roby.
Keyra melotot, "Lo yang waktu itu dibully Afka sama Ipang 'kan?" Tanya Keyra sedikit memajukan wajahnya. Melihat Roby yang mengangguk, Keyra jadi mengelus dada mengingat perlakuan Rafka dan Ivan yang pernah membully pemuda didepannya ini. "Gila tu duo curut ngebully Kakak kelasnya sendiri," gumam Keyra pelan sambil mengaduk-aduk mi ayamnya tanpa minat.
Keyra memandang Roby lagi. "Lo ada masalah apa sama mereka?"
"Mereka--"
"Roby, dicariin seseorang di toilet." Potong seseorang yang baru datang. Keyra melirik orang tersebut sambil memincing. "Eh ada Queen," ucap Reska tersenyum manis namun dibalas dengan delikan tajam dari Keyra.
Keyra itu alergi dengan Reska yang selalu cari perhatian dengannya saat berada di markas Traavo, Keyra yang tak pernah didekati cowok dengan cara yang agresif seperti Reska pun menjadi merinding saat didekat pemuda itu.
__ADS_1
"Geli gue dengernya," ketus Keyra. Ia lalu memandang Roby yang nampak gugup meninggalkan kantin, diikuti Reska dibelakangnya.
Sepuluh menit Keyra duduk dikantin sambil memainkan ponselnya saat mi nya sudah habis. Ia kemudian beranjak dari duduknya saat Bu Giva, mengatakan di grup kelas jika ulangan dilakukan hari ini juga karena guru itu sudah sembuh dari sakitnya.
Astaga, Keyra bahkan tak mempelajari materi yang diberikan guru tersebut. Mampus Keyra, sudah dipastikan jika nilai ulangan dadakan Akuntansi Keuangan nya akan jeblok.
★★★★★
"Baik ulangan berakhir, kumpulkan kertas tadi diatas meja dan silahkan ambil handphone kalian masing-masing." Ucap Ibu Giva sambil berdiri merapihkan buku dan ponselnya. Ia memandang anak didiknya yang satu persatu mulai maju untuk mengambil ponsel yang tadi ia sita. "Pak Jimmy bilang besok kalian harus mempersiapkan diri dengan belajar materi minggu lalu. Semangat!"
"Oke Bu!"
Guru itu pun berlalu meninggalkan kelas 11 AKL 3 hingga kelas mulai ricuh.
"Buset gue gak nyatet lagi," gumam Keyra. "Lo punya catetan minggu lalu kagak, Za?"
Riza yang sedang memainkan ponselnya pun melirik Keyra. "Buku Praktikum gue dari kelas sepuluh, kosong Key."
"Oke," Keyra memang tak bisa mengharapkan seorang Riza Ardifala. Ia pun berdiri dari duduknya dan berlalu menuju perpustakaan.
★★★★★
Keyra yang sedang mencari buku paket Praktikum Akuntansi pun terlonjak mendengar suara tersebut. Keyra melirik meja yang berada di dekat pintu, kosong. Itu tandanya penjaga perpus tengah keluar. Keyra keluar dari perpustakaan menuju toilet pria yang berada tepat disamping perpustakaan.
Sementara di dalam toilet, Rafka mencukur habis rambut Roby dengan gunting nya. Sengaja, Rafka menggores pipi pemuda itu hingga membuat Roby meringis.
Rafka yang sekarang seperti psikopat yang haus akan darah. "Gue benci lo, Roby." Ucap Rafka dingin. Keyra yang baru tiba didepan pintu toilet pun terpaku mendengar suara Rafka yang berbeda.
Roby tersentak. "Ta-tapi aku sa-salah apa?"
"Mama lo pelakor, dan elo? Mau coba-coba deketin cewek gue? Gak akan gue biarin!"
"Mama aku bukan pelakor! Dia wanita baik sangat baik!" Bentak Roby mulai berani saat Rafka menyinggung Mama nya. Namun sedetik kemudian Roby kembali menunduk. "A-aku gak deketin Na-naya, Rafka."
Rafka tak menggubris, ia memilih menatap Ivan yang berdiri dibelakangnya sambil menggenggam
sebuah plastik hitam ditangan-nya. "Pang, lempar."
__ADS_1
Ivan meraih beberapa kodok kecil yang menjadi kelemahan Roby dan melemparnya tepat diwajah dan baju depan pemuda itu. Roby yang takut pun langsung masuk ke dalam bilik toilet. "ARRR PERGI-PERGI!"
"Kunci," Ivan merasa jadi babu Rafka. Ingin protes namun melihat wajah Rafka yang memerah membuat ia langsung mengunci pintu tadi.
Rafka memandang keatas dengan nanar. "Lo tanya Mama lo itu, ada cewek baik yang rela ngangkang di depan suami orang? Lo terlalu naif, Roby." Tegasnya datar.
Keyra tak mengerti maksud Rafka, begitupun dengan Roby. Gadis itu menunggu Rafka dan Ivan didepan toilet sambil mencerna ucapan Rafka tadi.
Keyra menahan tangan Rafka yang baru saja keluar dari toilet bersama Ivan. "Lo kenapa bully dia lagi? Apa maksud ucapan lo tadi, Af?"
Rafka menautkan tangannya disela jari jemari Keyra. "Lo gak perlu tau," ucapnya. "Ikut gue, kalo lo disini terus, gue tau lo bakal nolongin dia."
"Sono sono pada pacaran, gue mau nyari ciwi dulu babayy." Ivan tanpa dosa berjalan ditengah-tengah Keyra dan Rafka sehingga tautan keduanya terlepas. "Bukan muhrim woee," teriak Ivan sebelum tubuhnya hilang dari pandangan Keyra begitu ia membelokkan langkahnya.
Keyra menepis tangan Rafka yang kembali menggenggamnya. "Roby gimana?
" Gue yang bantu,"
"ANJIRT," pekik Keyra dan Rafka melihat Bian yang berdiri di belakang keduanya. "Kek setan lo, Yan."
"Gue yang bantu Roby," Ujar Bian lagi yang membuat Rafka menggeram.
"Enak aja, gak boleh ada yang bantu dia!"
Bian bersedekap dada, "Jadi lo mau Keyra yang bantu Roby?" Seringai Bian muncul menghiasi wajahnya.
Keyra mengerutkan dahinya saat Rafka dengan tak sabarnya menarik tangannya pergi meninggalkan Bian sendiri. Sementara Bian ditempatnya hanya bisa menghela nafas melihat Rafka yang semakin menempel pada Keyra.
"Dasar tsundere."
TBC
tandai typo
tandai gak nyambung sama part sebelum-nya, w kelamaan hiatus.
T E R I M A K A S I H
__ADS_1
Like comen n favorit-nya
See you