
...Keyra's POV...
Hai, masih ingat dengan ku? Aku Queensha Keyra Naura. Anak kedua dari Gabriela Davin Gandawari dan juga Indira Sefila.
Eh? Aku anak kedua apa anak ketiga, ya? Akh aku bingung, silsilah ku dengan dua orang itu sungguh rumit. Papa Davin mempunyai 3 orang anak, begitu juga dengan Mama Indira.
Keduanya tak pernah menikah. Jadi aku tau kalau aku itu anak yang lahir tak di sengaja. Lebih tepatnya anak haram, mungkin?
Boleh jujur, ucapan Aura tentang aku yang perusak dan anak haram, mampu membuat ku kena mental. Itu memang kenyataannya, tapi mengapa mulut mantan sahabat ku itu tak bisa di filter? Sampai sekarang pun, Aura, Akila an juga Shahila selalu mencibir ku dengan panggilan ‘Anak Haram’
Dasar mereka ini, untung aku selalu mempunyai pelindung yang suka menemani ku disaat keterpurukan. Enam cowok trouble maker yang tak pernah ku sangka begitu peduli dengan ku. Haish mereka ini, aku jadi mempunyai keinginan untuk menjadikan keenamnya kekasih ku saja.
Jiwa pakgirl ku meronta-ronta, helep meee!
Haha percaya diri sekali aku, walaupun aku tahu Bian menyukai ku, tak mungkin kan teman ku yang lain juga menyukai ku sebagai pria ke wanita?
Oke, lupakan pasal mereka.
Aku yang sekarang sangat menyayangi keluarga baruku. Bunda Reva, Papa Davin dan juga Raga.
Rey enggak ya, dia menyebalkan soalnya hehe.
Entah mengapa, aku semakin membenci Rey semenjak dia selalu mencari gara-gara denganku. Awalnya aku biasa saja, bahkan jarang merespon. Cowok itu makin tua makin menjadi.
Sialan. Kalau ingat Rey, rasanya aku ingin menelempeng muka sok datar dan kegantengnya itu.
Tak terasa, setahun sudah berlalu semenjak kejadian dimana Afka dan juga Ipang yang membully cowo gendut berpipi cuby. Cowok bernama Roby itu pindah sekolah karena usulan dari Bian. Bian merasa kasian melihat keadaan Roby yang sepertinya hampir gila karena Afka dan Ipang. Ku akui kedua teman ku waktu itu memang keterlaluan.
Bian juga yang merekomendasikan sekolah terbaik di Bandung, SMK Cakrawala. Biaya nya pun Bian yang tanggung.
Ku tahu jika Bian itu baik, tapi tumben sekali cowok itu membantu orang sampai segitunya. Apakah Bian gay? Dia menyukai Roby? Itu yang aku curigai selama ini. Pasalnya, semua temannya sudah mempunyai kekasih, cuman dia sendiri yang dari dulu menjadi single terhormat.
Jadi, apakah pernyataan cintanya dulu hanya untuk mengelabui saja? Agar banyak orang tak tahu jika dia seorang gay.
Oh no, idola ku!
Ngomong-ngomong, sampai sekarang aku tak mempunyai teman perempuan pengganti Aura dan Shahila. Maksud ku, teman dekat atau biasa disebut ‘sahabat’.
__ADS_1
Banyak perempuan di Andromeda yang terlihat membenci ku. Kalian tau apa yang membuat aku terkekeh sekaligus emosi? Aku disebut pelakor, cewek congkak dan juga cewek tak punya malu. Parahnya, aku di caci maki oleh pacar teman-temanku. Hanya karena aku dekat dengan kekasih mereka.
Huh dasar cewek posesif!
Mereka tak tahu saja jika aku itu susah sekali membuka obrolan dengan orang baru, kadang pun aku risih saat ada yang berbicara denganku hanya untuk mencari informasi tentang teman-teman cowok ku.
Mereka pikir aku itu apaan?
Setahun itu juga aku tak pernah bertemu dan mendengar suara Mama Indira dan juga Om Andri. Dua orang itu bagaikan hilang di telan bumi, apa ucapan Om Andri waktu itu benar? Jika Papa Davin yang sudah mengasingkan keduanya di kota Medan?
Bahkan Om Andri menyinggung Papa yang memenjarakan Tante Anggi, tentu saja aku tak peduli, itu urusan Papaku. Mungkin saja Tante Anggi berbuat kriminal dan Papa membantu pihak kepolisian menyerahkan Tante Anggi, bisa jadi ‘kan?
Kembali ke masa sekarang. Saat ini, aku tengah terduduk manis dengan seorang cowok, emm, tampan? Cowok yang dulu aku benci hanya karena sifatnya yang menyebalkan. Siapa sangka cowok itu yang berhasil memporak-porandakan hati ku ini.
Dulu aku kira yang aku cinta itu Abian, si cowok hitam manis dengan otak yang paling cerdas di antara teman-teman nya. Namun setelah setahun lebih aku berteman baik dengan Afka, Bian, Ipang, Ripan, Rey, Akhir dan Bang Friski. Bian menurut ku hanya idola saja, orang yang selalu ku kagumi.
Dan hati sialan ku ini malah memilih Afka sebagai pemiliknya.
Harusnya aku mencintai Bian kan? Dia cowok single, cowok tanpa pawang. Sementara Afka? Dia memang tunangan ku, tapi Afka juga mempunyai seorang kekasih yang dulunya merupakan tetanggaku. Naya namanya.
Aku tak menyangka hubungan keduanya langgeng. Mungkin jika nanti hubungan keduanya terus berlanjut, aku akan meminta maaf kepada Ayah Cakra dan juga Bunda Rini sekaligus meminta keduanya untuk membatalkan rencana mereka. Walau aku mencintai tunangan ku, namun dianya enggak, yang kulakukan nanti hanya melepaskan status itu. Semoga bisa!
“Imbang,” ucapnya santai.
Aku memasang mimik sedih saat mataku menangkap sebuah lebam di area pelipis dan dagunya. Kenapa akhir-akhir ini Afka suka sekali mendapatkan lebam di area wajahnya?
Afka sepertinya menyadari perubahan raut wajahku, dia mengacak rambutku sekilas. “Lo pengen banget ya si Ian menang? Anjer lah, andai gue yang ikut lomba, menang pasti tuh.” Dia berlagak congkak sambil terkekeh.
Aku terdiam sejenak, mengapa cowok di sampingku masih saja tak peka? Ingin sekali ku rangkum wajahnya yang tampan itu. Namun aku gengsi. Afka juga orang-nya sangat menyebalkan jika ada yang menghawatirkan dirinya.
“Hilih, Bian yang otaknya diatas rata-rata aja seimbang lawan Cakrawala, gimana elo yang otaknya dibawah rata-rata? Yang ada belum start juga lo udah kalah dulu,” cibir ku pelan. “Af beli jajan yok, sambil nunggu Bian keluar. Yang laain mana coba? Kok kita kesini berdua doang?” Tanyaku penasaran.
Dia menggedikan bahunya acuh, tangannya terulur menyelipkan beberapa anak rambutku kebelakang telinga. Ku yakin rona di pipiku sudah menjalar hingga daun telingaku. “Friski doang yang kesini. Lo tau ‘kan kalo yang lain sibuk sama eskul, kita doang yang
Gabut.”
“Hidih yang gabut lo doang kali.” Ucapku. "Bang Friski besok mulai prakerin 'kan?"
__ADS_1
Afka terkekeh lalu mengangguk.
“Ra, lo tau kagak?”
“Nggak.”
Afka memajukan wajahnya ke wajahku, aku yang gugup pun mengalihkan pandanganku kedepan, mataku bergerak liar tanpa melirik Afka kembali.
“Ra~”
“Apaan?” Tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku ke dia. Ku dengar dia berdecak pelan. Aku heran, mengapa bau mulut nya yang beraroma mint itu menyeruak hingga tercium oleh hidungku? Bulu kuduk ku pun rasanya sudah berdiri.
“Naura~”
“Apaan si--mphh” mataku membulat sempurna, begitupun dengan Afka. Saat aku menoleh, tak sengaja bibir ku mendarat sempurna di bibirnya. Aku yang shock pun segera bergeser sampai mentok di ujung kursi. Kaki ku gemeteran, sialan, apa ini?!
Jantung ku berdebar kencang, aku menggigit bibir bawah ku yang tadi dengan lancang nya mencium bibir Rafka. Walaupun sekilas, ku yakin tadi bukan sekedar kecupan.
Jingan sekali! Semoga cowok di samping ku ini tak mendengar debaran jantung ku yang menggila.
Lima menit hening, baru kali ini aku berada di situasi canggung saat bersamanya.
Apa yang harus ku lakukan woi?
Decitan kursi membuat ku melirik kesamping, Afka tiba-tiba beranjak dari duduknya. Ku lihat sekarang wajahnya biasa saja, bahkan terkesan biasa.
Seperti tak terjadi apapun antara aku dan dia. Dia menatap ku sebentar, lalu berkata. “Kata lo mau jajan ‘kan? Gue beliin sate kodok dulu deh, ati-ati disini lo bocil!” Tanpa mendengar jawabanku, Afka langsung berlalu begitu saja meninggalkan ku sendiri.
“Hah?Jajan? Sate kodok? Sialan!” Kesal ku menatap punggung tegapnya yang perlahan menjauh menyeberangi jalan raya. Motor Afka memang tadi sudah dititipkan ke Guru Andromeda yang ada di dalam SMK Cakrawala.
“Aaa Afka saraleo!” Teriakku dalam hati
...Keyra's POV end...
TBC
Tandai typo, gaje
__ADS_1
LIKE COMEN N FAVORIT NYA