
"Keyra, boleh pinjem Rafkanya?"
Langkah Keyra dan Rafka sontak terhenti, keduanya kompak memandang Akhir yang berdiri diambang pintu markas.
"Boleh, mau bicara? Gue pulang dulu ya," ucap Keyra yang tau situasi. Keyra kemudian kembali berjalan menuju gerbang berniat meninggalkan pelataran markas.
Baru selangkah ia berjalan, Rafka sudah menahan tangannya. "Udah malem, rumah kita jauh dari sini. Mau pulang sama siapa?"
"Mau pesen taksi online aja." Ucap Keyra sembari sedikit mengangkat ponselnya di depan Rafka.
Rafka merebut ponsel yang digenggam oleh Keyra. "Ikut aja."
"Iya kamu ikut aja, Key. Kita ke tempat makan langganan aku, sekalian ngisi perut."
Akhir sebenarnya ingin berbicara empat mata dengan Rafka. Namun mengingat ini sudah malam, ia pun memutuskan mengajak kedua pengantin baru itu ke restauran langganan nya.
Disinilah mereka sekarang, duduk sambil menyantap makanan yang tadi dipesan oleh Akhir. Mereka makan dengan hening, sambil sesekali Akhir melirik Keyra yang fokus memakan soupe a l’oignon nya hingga tandas. Wanita itu nampak cemberut dan Akhir langsung menegurnya.
"Kenapa? Gak enak?"
Keyra menggeleng, "Enak, cuman gue kaga kenyang dibawa kesini. Kirain langganan lo itu pecel lele pinggir jalanan," Keyra memandang mangkuk kosong di depannya kesal.
Rafka serta Akhir terkekeh tanpa berniat membalas.
Setelah selesai, ketiganya
berbincang mengenai kepindahan mendadak Akhir ke Amsterdam. Pemuda itu beralasan bahwa Papa kandungnya kangen dengan dirinya dan meminta Akhir untuk kuliah di Amsterdam. Keyra dan Rafka pun mengangguk mengerti.
"Terus gimana sama Mama lo?" Tanya Rafka.
Mendadak, raut Akhir berubah suram. Pemuda itu diam hingga beberapa menit kemudian, dia berkata. "Kali ini gue mau ngomong serius, please jangan benci gue setelah ini." Akhir memandang Rafka dan Keyra bergantian.
"Ayah lo selingkuh..."
Mata Keyra sontak melotot saking terkejutnya. Ayah Cakra, selingkuh?
Keyra memandang raut wajah Rafka yang nampak biasa saja. Namun, setelah pandangannya tertuju pada tangan sang suami, tangan itu terkepal erat.
Rafka memandang Keyra, "Aku mau bicara berdua dulu sama Akhir. Kamu gapapa kan pindah dulu?"
Keyra mengangguk tanpa suara. Ia bergegas menuju meja kosong yang berada di bagian paling pojok.
Rafka kemudian menatap Akhir serius.
__ADS_1
"Gue udah tau, dia emang lelaki bjingan yang udah ngehianati Bunda gue." Ucap Rafka tanpa ekspresi. "Gue benci Ayah gue, gue benci j@lang dia dan keluarga j@lang itu!" Rafka berkata lirih namun penuh penegasan. Sorot mata yang biasanya teduh itu berganti tajam.
"J@lang yang lo sebut itu Mama gue Raf!" Memang sebutan itu cocok untuk Mamanya. Namun, Akhir sangat menyayangi Mama nya dan tak akan tinggal diam jika ada yang menghina sang Mama.
Rafka tertawa lirih, "Lo adiknya Roby si cupu itu?"
Dahi Akhir mengerut tak paham. "Maksud lo?"
"Jangan sok bodoh lo anjing!"
"Gue gak ngerti Rafka!"
Nafas Rafka tersengal, ia menetralkan emosinya. Rafka mengingat jika Ana, Mama Akhir bukanlah sekertaris Cakra.
"Lo inget temen seangkatan lo yang dulu gue bully bareng Ipang?" Akhir mengangguk. "Gue bully dia karena benci sama nyokap dia yang sok suci! Mama nya Roby sekertaris Ayah gue, dan apa lo tau? Dia goda pria syalan itu demi duit! Rela ngehancurin keluarga gue didepan mata kepala gue anjing!"
Rafka ingat saat ingin memberikan berkas Ayah-nya yang tertinggal di rumah. Pemuda itu menyapa resepsionis dan menanyakan keberadaan Ayahnya. Saat kedua resepsionis itu membalasnya, Rafka langsung naik ke lantai 15 yang tak lain adalah ruangan sang Ayah.
Dia melirik meja sekertaris Ayah nya yang kosong, lalu Rafka melangkah ke ruangan Cakra. Baru saja ia ingin membuka pintu di depannya, suara des@han diiringi suara menggoda di dalam ruangan menghentikan tangannya di handle pintu. Rafka sedikit membuka pintu dan dengan perlahan mencoba mengintip.
"Pak istri anda tak akan tau, saya bisa memuaskan h@srat Bapak. Dan sebagai imbalannya, Bapak memberi uang yang saya butuhkan untuk anak saya."
"Yakin? Tapi kedepannya saya minta kamu tetap profesional saat bekerja. Saya ini hypers*k, saya takut kamu kewalahan menghadapi saya."
Wanita yang tak lain adalah Rahma sekertaris Cakra itu pun mengangguk sembari menggigit bibir bawahnya berniat untuk menggoda. "Yah pasti, daripada Bapak selalu gonta-ganti menyewa wanita malam, mendingan sama saya haha."
Ayah yang selalu dibanggakan nya ternyata seorang penikmat j@lang j@lang diluaran sana. Rafka tau kebusukan sang Ayah di umurnya yang baru menginjak usia 16 tahun.
Pemuda itu benar-benar kecewa dan benci dengan Cakra.
Rafka membalikkan badannya dan langsung menaruh map berwarna hijau tersebut diatas meja sekertaris Ayah-nya. Rafka menarik nafas sebelum turun ke bawah untuk mengambil motornya dan memilih pulang.
Rafka tiba dirumahnya, ia masuk kedalam begitu memarkirkan motornya dengan sembarangan.
Hiks hiks
Rafka meneguk ludahnya kasar. Ia berjalan pelan menghampiri kamar Bundanya. Pemuda itu membuka pintu dengan sepelan mungkin. Melihat Rini yang sedang menekuk lututnya dengan bahu bergetar, hati Rafka bagai di tusuk ribuan shuriken, eh belati!
Rafka melangkah mendekati Bunda nya dan memeluk leher Rini dari belakang. Rini yang tersentak pun langsung menghapus air matanya.
"Bunda jangan sedih, Rafka janji gak nakal lagi."
Rini merasakan pundaknya basah, wanita itu membalikan badannya dan memeluk Rafka dengan sayang. "Kamu nakal juga gapapa, sayang. Asal jangan lewatin batas! Bunda emang sedih karena bakery Bunda jarang ada yang beli," dusta Rini sambil terkekeh.
__ADS_1
Rafka mendongak, "Bunda ngajarin Rafka biar gak bohong, kok Bunda sendiri yang bohong?" Ujar Rafka sambil mengusap air mata sang Bunda dengan ibu jarinya. "Bunda mau jadi dokter lagi biar gak kesepian dirumah? Rafka dukung! Rafka hari ini bolos demi nemenin Bunda tau."
Rini spontan menjitak jidat putranya. "Bunda cuman suruh kamu nganterin berkas ke Aspri Ayah kamu ya, kok jadi bolos?!"
Rafka tak menggubris, kemudian ia berucap emosi. "Bun, Ayah udah jahat sama Bunda. Dia juga jahat ke Rafka sama Nana, kenapa Bunda bertahan?"
Rini melongo, semenit kemudian wanita itu terkesiap. "Ka--kamu,"
"Bunda pisah ya sama Ayah? Rafka rela kok gak punya Ayah lagi asalkan Bunda gak disakitin sama siapapun! Jujur ke Rafka, Bunda pasti tau kan maksud Rafka?"
Rini tergugu, ia memeluk Rafka lebih erat dari sebelumnya. "Bunda gak bisa sayang, biarin Bunda kayak gini." Rafka tak menjawab lagi melainkan membalas pelukan sang Bunda dengan tak kalah erat.
Sejak saat itu Rafka mencari tahu tentang sekertaris Ayah nya dengan bantuan Zayn selaku asisten sang Ayah.
Ingat dengan Roby? Pemuda itu anak dari Rahma sang sekertaris Cakra. Rafka membenci semua hal yang berhubungan dengan Rahma, makanya ia selalu membully Roby dan mempermalukan pemuda itu di SMK Andromeda.
(Anggep aja diatas flashback:v)
Balik ke sekarang
Rafka mengusap kasar matanya yang memerah, ia tak akan memalukan diri sendiri di tempat umum. "Bunda tau, tapi adek gue gak tau. Dan bodohnya Cakra syalan kegoda sama *@***** itu!"
"Gue herannya gini, kenapa Bunda milih bertahan? Gue rela kok gak punya Ayah.. Kakek Bisma juga udah nyerahin seluruh hartanya buat Bunda, jadi kalaupun Bunda milih pisah, hidup Bunda akan lebih tenang dari sebelumnya." Tambah Rafka dengan nada yang kentara frustasi.
"Raf, mungkin Bunda lo gak mau pisah karena Nana. Adek lo baru mau kelas sebelas kan? Gue tahu Nana lengket banget sama Om Cakra. Apa jadinya nanti kalo Tante Rini memilih cerai?" Akhir kembali melanjutkan ucapannya. "Gue yakin dia bakalan sedih, Raf. Seorang Ayah itu cinta pertama putrinya."
"Gue tendang dia ke Thailand buat nemuin idolanya juga bakalan kesenengan tu anak." Dengus Rafka pada akhirnya.
"Oke back to topic, sorry.. Mama gue juga jadi perusak rumah tangga orang tua lo. Malam sebelum lo sama Keyra nikah, Mama gue sama Ayah lo nikah siri, Raf."
Rafka memandang Keyra yang juga sedang menatapnya, istrinya itu sepertinya sudah mengantuk. Rafka lalu menepuk punggung Akhir sambil beranjak. "Gapapa, gue gak marah sama siapapun. Itu bisa jadi alesan yang kuat buat Bunda minta cerai ke dia. Thanks udah jujur, gue harap lo bisa nemuin cewek di Amsterdam." Rafka lalu berbisik sebelum mendekati Keyra. "Pengganti istri gue."
Akhir hanya bisa tersenyum kecut sekaligus bernafas lega. Ia janji akan menghilangkan perasaannya untuk Keyra, demi Rafka dan juga demi dirinya sendiri.
"Amsterdam, I'm coming!"
TBC
tandai typo
like comen. n. favoritnya
males amat ngetik ini, drama bet(。>_<。)
__ADS_1
thx