Keyra Naura

Keyra Naura
Kang Bulshit


__ADS_3

Dirasa mobil yang ia tumpangi berhenti bergerak, kelopak mata Keyra lantas terbuka. Wanita itu menatap sekeliling, lingkungan disekitarnya nampak tak asing baginya. Diluar masih hujan walupun hanya rintik saja, udara tetap saja terasa dingin.


"Apart kamu?"


Rafka mengangguk pelan dan melepas seat belt-nya lalu menoleh kearah Keyra. "Aku gak akan ngapa ngapain kamu kok, Ra. Kecuali kamu yang mau. Mana bisa aku nolak." Ucapnya terkekeh ringan.


Seketika itu ingatan Keyra terlempar pada kejadian 5 minggu yang lalu. Dimana ia diprkosa oleh Rafka di salah satu unit apartemen ini. Wanita itu melamun sampai tak menyadari Rafka yang sudah berdiri di sampingnya, tengah bersiap menggendong Milan yang sudah terlelap.


"Jangan kebanyakan ngelamun. Masuk, Ra."


Keyra semakin termenung memandang punggung Rafka yang menggendong Milan. Wanita itu beranjak sembari membenarkan tatanan rambutnya yang berantakan.


Tiba di apartemen Rafka, ia melihat pria itu sedang membaringkan Milan di atas ranjang yang semakin membuatnya teringat kejadian tempo lalu. Keyra mendengkus kesal menunggu Rafka kembali dari kamar.


Matanya mengedar mengamati apartemen Rafka yang tertata rapi dan terkesan maskulin. Wanita itu merunduk dan mengambil sebuah figura berisi foto seorang wanita tengah dirangkul oleh pria bersetelan dokter lengkap.


Keyra tersenyum tipis memandang foto tersebut. Foto dirinya dengan Rafka setelah pria itu resmi menjadi dokter di salah satu rumah sakit ternama di Ibu kota. Namun, foto itu diabadikan dirumah Rafka yang sengaja direnovasi besar-besaran untuk Keyra.


Tak lama senyuman itu berubah dingin dan Keyra langsung terkekeh miris. Ia menaruh figura itu ditempat semula begitu sadar ada Rafka yang sedang mengamatinya.


"Milan tidur. Kamu gak mau tidur juga?"


Keyra tak menjawab. Dan diamnya Keyra, membuat Rafka langsung mendekati Keyra dan mendorong pelan bahu wanita itu agar duduk disofa.


"Akhir-akhir ini, kamu ngerasa gejala hamil, Ra?"


"Tau darimana?"


Mata Rafka sontak membola. "Jadi kamu beneran hamil?" Ujarnya kaget. 'Gue kira Akhirat boongin gue. Rafka gblok! Anak itu ada disaat hubungan lo sama Naura gak sah!'


Keyra mengangguk sekenanya. "Iya kali," jawab Keyra santai. Lain lagi dengan jantungnya yang sudah berdebar mendengar pertanyaan Rafka. Ia kembali mengingat jadwal menstruasi nya dan seketika wanita itu terpekik dalam hati.


'Masa sih sekali doang langsung hamil? Buset mana gak minum pil KB lagi, aku kira--' Keyra yang masih membatin langsung terdiam kala Rafka menggengam satu tangannya dan menciumnya lama.


"Kalo gitu gaada alesan buat kamu nolak. Bayi kita butuh aku."


Pletak!


"Aduh!"


Setelah memukul tangan Rafka, Keyra beringsut mundur sembari memandang Rafka remeh. "Ini bukan anak kamu. Ini anak Mark, calon suami ku!"


Awalnya Rafka terdiam dengan rahang mengetat. Namun tak berselang lama, pria itu terkekeh miring lalu mendekati Keyra dan menaikan dagu Keyra dengan telunjuknya.


"Kamu kira aku bakal tertipu lagi kek dulu? Milan anak aku, tapi kamu akui dulu sebagai anak Akhir. Dan, aku tau kamu gak semurah itu, sayang.."

__ADS_1


"Tau apa kamu soal aku sekarang?!"


Rafka masih menatapnya sebelum bunyi lain terdengar. Keyra menyentuh perutnya lalu memalingkan muka. Pipinya benar-benar memanas sekarang. Rasanya wanita itu ingin menjerit saat ini juga. Kenapa perutnya harus berbunyi disaat seperti ini?


"Anak kita butuh asupan."


Keyra melotot kesal. "Aku gak hamil!"


"Cacing kamu butuh asupan," ralat Rafka tak ingin berdebat lagi.


Tidak ada pilihan lain, tak ada kata-kata yang sempat terucap. Keyra hanya bisa mengangguk pasrah saat rafka menarik tangannya menuju dapur.


"Masakin aku."


"Yang laper itu aku!"


Dengan kepala sedikit dimiringkan, Rafka memandang Keyra lama. "Aku gak bisa masak. Masakin aku sayang."


"Lama-lama minta digorok ya lo!"


"Ngomong lagi."


"Lo minta banget digorok ya!"


Keyra sontak gelagapan ketika Rafka melangkah maju. Ia reflek mengambil langkah mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. "Jangan macem-macem Afka! Kita--"" Tangan Rafka menyentuh tengkuk Keyra hingga ucapan wanita itu terhenti. Menunduk, Rafka menyentuh hidung Keyra dengan hidungnya. Bibir mereka perlahan menyatu.


Semakin lama Rafka semakin kurangajar. Keyra pun dengn kuat menggigit bibir bawah Rafka hingga berdarah ketika napasnya mulai terputus-putus.


"A-aku--"


Rafka tak membiarkan Keyra berkata lagi, iapun bergerak mundur dan menghampiri lemari dingin. Tangannya mengobrak-abrik isi kulkas tersebut yang pastinya sudah diisi oleh orang suruhannya.


Rafka berdeham lalu menyodorkan bahan makanan yang ia inginkan untuk Keyra masak.


"Sayur? Daging? Afka, aku gak suka! Mual deket-deket daging," Keyra menepis tangan Rafka lalu berlari kecil menuju kamar dimana Milan berada. Tak mendengar kekehan ringan Rafka yang masih memandang punggungnya.


Keyra duduk di tepi kasur sembari berusaha menenangkan perutnya yang terus-terusan berbunyi. Ia saat ini ingin makan telur gulung dibumbui saos pedas. Bahkan tingkat kelaparan nya semakin menjadi mengingat itu.


Lumayan lama ia berada dikamar itu dengan mulut terbungkam. Matanya selalu fokus memandang jendela kamar yang terbuka, menampilkan langit malam yang masih meneteskan air hujan.


Tangannya ia selipkan ditubuh atas Milan yang tertutup selimut. Matanya mulai berat dan hendak tertidur dengan memeluk putranya. Namun bunyi pintu yang terbuka membuat Keyra kembali terjaga.


Ia menoleh kebelakang dan mendapati Rafka tengah berjalan kearah sofa dengan membawa sebuah baki. "Makan, Ra. Aku pesenin kesukaan kamu."


Keyra beranjak dan mendekati sang mantan suami. Ia menatap lapar pada apa yang dibawa pria itu. Tak perlu malu-malu, ia masuk kedalam kamar mandi dan mencuci wajah dan tangannya. Keyra kembali dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya.

__ADS_1


Wanita itu mulai memakan udang saus tiram dengan lahap dan tak menyadari senyuman Rafka yang merekah. Sekarang prioritas Keyra adalah, perutnya kenyang.


"Yang beli, gak kamu tawari makan, Ra?"


Keyra mendongak menatap Rafka. Lalu ia kembali menunduk kecil untuk mengamati udangnya yang sudah tandas. "Abis," balasnya sedikit merasa bersalah. Keyra pun menyodorkan piring lain berisi salad kepada Rafka. "Dokter harus makan yang sehat. Itu buat kamu."


Karena gemas, Rafka seketika mencubit pipi Keyra yang lumayan berisi tak seperti dulu. "Makin cantik pas hamil."


Keyra sontak tersedak minumannya mendengar ucapan Rafka. "Ja-jangan salah sangka! Aku gak hamil, Af. Tadi cuman becanda doang." Ucapnya cepat setelah Rafka membantu menepuk tengkuknya. "Yang gejala hamil itu, kamu salah. Itu karena lambung sama cluster aku kambuh, jadi jangan banyak berharap!"


"Iya-iya aku percaya."


Keyra bernapas lega di iringi senyuman manisnya membuat Rafka tertegun melihat senyuman itu kembali.


"Cantik, jangan nikah sama yang lain ya? Sama aku aja."


Senyuman datar Keyra layangkan pada Rafka. "Nikah sama kamu, aku dapet apa?"


"Dapet kegantengan aku."


"Mark lebih ganteng."


"Kepuasan di ranjang. Kamu bisa dapet itu setiap waktu."


Keyra mendeliki Rafka. "Mark lebih macho, lebih bisa ngasih aku kepuasan dibanding kamu."


"Ngomong sekali lagi!"


Lagi-lagi Keyra mendapatkan nada ancaman dari sang mantan. Ketika ia beranjak dari sofa, tangan Rafka menahannya. Bibir Keyra komat kamit ketika mata Rafka berubah tajam dan dingin.


"Kita bicara dikamar sebelah. Aku gak mau Milan bangun karena kita ribut disini."


Seketika Keyra memandang Milan yang terbaring diatas ranjang. "Apa karena kamu tau Tio itu bukan anak kamu, Milan langsung dapet perhatian, hm?" Ucap Keyra membuat Rafka berhenti bergerak.


"Dari dulu, aku selalu perhatiin Milan walau dia ga sadar. Kamu tau rasanya liat dia ngerengek minta perhatian? Aku sakit, Naura. Dia selalu ngingetin semua tentang kamu." Ujar Rafka mendesis pelan. "Dan waktu aku kerumah Akhirat, aku lebih sakit lagi pas tau Milan manggil kamu Tante bukan Mama."


"Gak cape ya jadi Kang bulshit, Af?" Tanya Keyra berlagak tak percaya. "Aku gak mungkin maksa Milan manggil aku 'Mama' Af.. Gak mungkin dia percaya kalo orang asing ini adalah orang yang pernah melahirkan dia."


"Nikah yuk, biar dia bisa manggil kamu Mama." Balas Rafka dengan candaan garingnya.


"Just die! Why can't you?!" (Mati saja! Kenapa kamu gak mati-mati?!) Ucap Keyra terdengar kejam. Bukannya marah, Rafka malah tertawa sembari memukul pelan puncak kepala Keyra


"Biarin aku tebus kesalahan aku dulu, Ra. Ngebahagiain kamu sama Milan sampai ajal yang jemput aku." Ucap Rafka mantap. Tak ada keraguan sedikitpun dari suara dan matanya. Dan entah mengapa, air mata Keyra langsung turun membasahi pipi mendengarnya.


Mereka tak sadar, ada Milan yang mendengar perbincangan keduanya hingga akhir dengan mata terpejam erat.

__ADS_1


Bantu karya ku dngn like, comen n favorit. Terima kasih


__ADS_2