Keyra Naura

Keyra Naura
KN_Rafka Kenapa?


__ADS_3

Tinn!


Bian meng-klakson satu kali saat Rafka menghentikan motornya di depan gerobak bakso. Ia membuka kaca helmnya. “Gue balik, ada urusan. Lo jagain keyra, lecet auto santet.”


“Iye-iye nyet, sono balik.”


“Bye Bi, ati-ati dijalan,” Keyra melambaikan tangannya. Sebelum benar-benar pergi, Bian menyempatkan diri untuk tersenyum tipis sambil mengedipkan matanya ke Keyra. Yang mana mampu membuat Rafka panas dingin. “Gue suka lo, tetep ngejomblo sampe lulus SMK, ok?”


Keyra terkekeh, “Berjanda mulu lo, Bi. Liat nanti aja..”


Yaelah pleaseee ati, stopp jangan baper! Kenapa Bian jadi berubah sih? Afka juga tadi aneh banget.


Setelah Bian melajukan motornya, Keyra dan Rafka duduk di kursi yang disediakan oleh si penjual. “Bang, pesen bakso nya dua. Yang satu gak pake bawang, yang satunya pake.”


“Siap, pedes atau enggak nih?”


“Enggak Bang,” ujar Rafka. Penjual itu lalu membuat pesanan keduanya.


Keyra merasa dejavu, ia melirik Rafka dalam.


"Afka.. pengen pedes.”


Jujur, Keyra itu maniak rasa pedas. Walaupun benar kata Rafka jika perutnya tak akan kuat menerima sesuatu yang pedas. Keyra tetaplah Keyra, si manusia kepala batu. Menurut Keyra, ‘kalau makan gak ada rasa pedes, gak nikmat, rasanya hambar.’


"No!” Seru Rafka cepat. “Lo dari pagi cuman makan bubur ya. Tadi harusnya sebelum ketemu geng Sok Setia itu, lo makan dulu. Tapi apa? Ngeyel gak mau makan. PMS artinya darah lo kebuang ‘kan? Pantesan muka lo pucet kek mayit, makan aja enggak!”


“Ya maap.”


Keyra seperti anak kecil yang baru saja di nasehati oleh Ibu-nya, ia pun mengangguk anggukan kepala pelan. “Tapi tapi..”


“Please kali ini dengerin gue, Ra.” Nadanya terdengar frustasi, baru kali ini Keyra melihat ekspresi Rafka yang seperti itu. “Bunda bilang, cewek kalo lagi PMS harus makan teratur dan ngehindarin yang pedes sama es. Lo setiap PMS, nyeri banget ‘kan?”


Keyra mengernyit, bagaimana Rafka bisa tahu? Ia mulai menstruasi semenjak kelas 1 SMP, gadis itu tak pernah bercerita tentang keluhan nyeri-nya saat menstruasi pada siapapun. “Lo tau darimana?”


“Gue dari kecil belajar ilmu psikolog sama Abangnya Bunda.” Ujar Rafka sambil menatap kedalam pupil amber Keyra. “Diliat dari segi manapun, lo keliatan tersiksa banget pas PMS. Jadi ikutin saran gue, demi kesehatan lo, Ra.”


Keyra terdiam, otaknya mencerna ucapan Rafka. “Lo merhatiin gue dari dulu?” Sayangnya, kalimat itu hanya Keyra ucapkan dalam hati.


Tak lama, si penjual bakso meletakan pesanan keduanya dimeja. Setelahnya, ia kembali ke gerobaknya untuk membuat pesanan pembeli yang lain.


Keduanya makan dengan hening. Keyra merasa ada yang aneh dengan hatinya, rasanya tak nyaman. Rafka yang biasanya bawel, kini menjadi pendiam. Keyra pun bingung harus membuka obrolan atau tidak.

__ADS_1


LIKE, COMEN N FAVORITNYA


follow akun ku juga, gak maksa...


Kesialan menimpa Rafka dan Keyra. Baru beberapa meter motor Rafka melaju, suara ban kempes membuat keduanya tersentak. Ternyata tiga buah paku menancap ban belakang motor Rafka. Untung saja ada sebuah bengkel yang hanya berjarak lima meter dari sini, akhirnya Rafka mendorong motornya dengan didampingi Keyra menuju bengkel yang nampak masih ramai.


Keyra duduk di kursi panjang yang bersebelahan dengan seorang wanita berpakaian nyentrik dan make-up yang terasa memenuhi wajah itu.


“Aloo Eneng, itu Mas pacar ya?”


Keyra mengerjapkan matanya, ia melirik wanita itu dengan alis terangkat. “Nanya saya ya Mbak?”


“Ihh panggil eike Gi-na!” Seru Gina lantang, yang mana menarik perhatian orang-orang disekitarnya.


“Owhh oke Kak Gina,” balas Keyra ramah. sejujurnya ia sedikit takut melihat wajah Gina yang dari dekat ternyata lumayan seram, Keyra melirik Rafka yang baru duduk disampingnya. “Af, tukeran tempat duduk.”


“Hm,” balasnya cuek.


Ini kenapa sih mata gue rasanya berair? Lihat Afka yang berubah cuek gini kok ati gue sakit yak? Keyra diam-diam mengusap sudut matanya yang berair. Ia kemudian bertukar tempat duduk dengan Rafka.


“Ihhh ganteng buanget, Mas kenalin Mas, eike Gi-na.” Ucap Gina menjulurkan tangannya kearah Rafka.


“Yailah si bencong berulah, jauh-jauh lu.”


“Eike Gina bukan bencong ya ih,” Rafka menggeser duduknya mendekati Keyra begitu Gina memukul dadanya dengan gerakan menggoda. “Najis, nama lu Gino ‘kan bukan Gina?” Secara sengaja, Rafka merangkul pinggang Keyra hingga gadis itu diam membeku.


Ih kok siganteng tau sih nama eike dulu? Batin Gina.


“Enggak eike itu Gina bukan Gino!” Ujar Gina menggebu-gebu. “Mas ganteng tangannya jangan nakal dong.. Sini sama eike aja kalo mau peluk.”


“Gue udah meluk pacar gue, males amat sama lo.”


Blussh


Keyra berusaha melepaskan rangkulan Rafka, namun sia-sia, tenaga Rafka jauh lebih kuat dibanding dirinya.


Tenang Keyra tenang, Afka cuman mau bikin Mbak Gina gak nge-ganggu lagi.


*****


Keyra memejamkan matanya sambil memegang punggung Rafka saat kepalanya terasa pusing. Di jam satu pagi, ia dan Rafka baru saja tiba di depan pekarangan rumahnya.

__ADS_1


Tadi tak sengaja, Rafka menabrak seekor kucing Anggora di tengah jalan. Pemilik kucing itu tak terima dan menyeret kedua remaja itu ke klinik hewan yang jaraknya lumayan jauh dari TKP.


Parahnya lagi, setelah kucing bernama Anoa itu diobati, yang membayar biaya pengobatan nya adalah si pemilik kucing.


Terus apa gunanya si majikan Anoa meminta keduanya untuk ikut? Apa enggak kesel?


“Apes banget kita hari ini Af,” Keyra memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia menghela nafasnya begitu Rafka kembali mengacuhkan nya.


“Gue masuk ya,” gadis itu membalikkan badannya sambil melangkah memasuki rumahnya yang sudah gelap. Langkahnya terhenti begitu melihat Andra yang terburu-buru keluar dari rumahnya dengan sedikit berkeringat, seperti baru saja bertemu hantu.


“Bang Andra mau kemana?”


“Er.. Gue mau pulang Key.” Tanpa berucap lagi, Andra berlalu memasuki mobilnya, meninggalkan perkarangan rumah Keyra dengan kecepatan tinggi.


Keyra hanya mengangkat bahu acuh, ia masuk kedalam rumahnya yang sudah gelap. Setelah menutup pintu dan menguncinya, ia berjalan hendak menaiki anak tangga. Namun urung, saat suara yang terasa familiar menegurnya.


“Jam 1 pagi baru pulang, ngejalang lo?”


“Lah lo ngapain jam 1 pagi belom tidur? Nungguin jalang pulang?” Balas Keyra tak kalah ketus. “Duh gabut amat Mbak.”


“Lo seharian sama Rafka heh? Sadar diri, dia tuh cuman buat gue! Kalaupun Rafka itu tunangan lo dan pacarnya Naya, dia itu tetep jodoh gue!"


Keyra terkekeh pelan. “Aku peduli apa wahai Kak Alisa yang cantiknya kebangetan?”


“You are a bit*ch!”


“Oh I see,” Keyra menipiskan bibirnya. “But, you are more than a bitc*h!”


“AWok aWok, jurusnya Ipang, lariii!” Keyra terbahak melihat ekspresi Alisa yang suram. Ia masuk kedalam kamar dan langsung membersihkan diri di kamar mandi. Ia lantas menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang sambil memegang perut datarnya yang terasa melilit.


Bayangan wajah cuek Rafka melintas begitu saja di otak Keyra, gadis itu pun hanya bisa mendengus keras.


“Kenapa sekarang otak gue isinya elo semua? Stop wandering in my mind, Afka!” Keyra menonjok gulingnya sambil membayangkan jika guling itu adalah Rafka, musuhnya, yang sekarang menjadi temannya.


TBC


tandai typo


like comen n favoritnya


jan sider, jan plagiat.

__ADS_1


see you!


__ADS_2