
Ivan menyenderkan punggungnya di depan kelas 12 Akuntansi 3 sambil matanya celingak celinguk mengintai siswi di kelas itu yang menurutnya cocok untuk menjadi mangsa selanjutnya.
Ia menahan lengan gadis yang baru keluar dari dalam kelas. Lalu memulai aksi-nya. "Ikan hiu kejedot batu,” ucap Ivan.
Gadis tersebut mengerjap mendapati sang playboy cap kebo tengah menahan tangannya. “Mata hiu nya sliwer ya Van, makanya bisa sampai kejedot batu?” Ucapnya polos.
“Yoi dia sliweran,” balas Ivan sekenanya sambil tangannya bermain di rambut sang gadis. "Di dunia ini cuman A‘a doang yang matanya gak sliwer.”
“Masa sih?”
“Iya buktinya A'a gak sliwer mencintaimu.” Seketika pipi cewek yang digombali Ivan merona. “Mau yakan jadi cewek A‘a?”
“Duh bisa aja kamu Van,” ucapnya malu-malu. “Iya aku mau jadi pacar kamu.”
“Jangan panggil Ivan dong, kita 'kan udah pacaran. Abis lulus SMK, aku nikahin kamu.” Ujar Ivan sok serius. Sang gadis yang bernama Stefi itu tersenyum genit.
Rafka dan Rivan berjalan masuk ke kelas Keyra sambil melirik Ivan malas. Sementara Arsha sendiri memilih duduk di kursi panjang yang berada di depan kelas 12 Akuntansi sambil memandang Ivan.
"Lea mau dikemanain Van?" Tanya Arsha sambil membetulkan letak peci-nya begitu matanya menangkap seorang gadis yang tadi ia sebut, sedang berjalan melewati dirinya. "Kamu baik-baik aja Lea?"
Lea berhenti sebentar sambil tersenyum pada Arsha. "Gapapa, aku permisi dulu." Lantas, pacar Ivan itu berlalu tanpa berkata lagi.
“Dah modaar aja modar,” ucap Rafka sambil mendudukan diri di kursi sebelah Keyra yang sedang mem-fokuskan pandangannya pada novel. "Istirahat woi," teriak pemuda itu tepat di samping telinga Keyra.
"Bentar," balas Keyra.
Rivan melempar buku entah milik siapa tepat mengenai pinggang Ivan. "Jenis kek Ipang kalo mati gimana, Ar?" Tanya Rivan pada Arsha yang langsung memiringkan kepala seolah tengah berpikir.
“Tukang gombal sama PHP-in cewek itu azabnya pedih, bisa guling-guling kejurang sama matinya ditimpuk pake batu bata.” Gurau Arsha sambil tersenyum tanpa dosa.
Ivan terhenyak, menulikan pendengarannya begitu temannya yang lain ikut menghujat. Ia menggenggam tangan Stefi hingga sang empu kembali blushing. “Kamu hari ini diet ya, gausah jajan di kantin dulu?
Duit kamu buat jajan Buntelan ini aja,” Ivan menunjuk Aina yang notabene adalah sahabat Stefi.
“Nih liat lemak di perut kamu keliatan ampe ngembung gitu.” Stefi spontan melepaskan genggaman tangan Ivan, ia menekan bagian perutnya yang tertutupi oleh roknya dengan tatapan tak percaya.
“Iya sayang aku harus diet! Tapi kok kamu jahat banget sampe ngatain aku ngembung,” bibir Stefi tertekuk tanda cemberut.
Ivan si playboy yang punya banyak trik meluluhkan wanita pun bersua tenang.
“Cewek itu suka cowok yang jujur ‘kan? Aku baik loh ngomong gitu ke kamu, sekalian ngehindarin kamu dari virus berbahaya para cecurut, sana gih,” usir Ivan halus.
Stefi dan Aina pun berlalu dengan langkah yang penuh makian dari Aina untuk Ivan.
“Ar, lo bantu ngimamin yak, si Ipang otw jadi mayat.” Ujar Rafka sedikit berteriak, menganggu konsentrasi Keyra saja. Gadis itu menutup novelnya sambil menatap Rafka tanpa suara.
“Oke, tapi kamu yang ngekafanin dia. Sepertinya nanti walaupun Ipang udah meninggal, badan dia gerak-gerak terus gak mau diem.”
“Astaghfirullahaladzim berdosa kau Akang Santri!” Pekik Rivan dramatis, Ivan pun mengangkat dagunya sombong ketika Rivan nampak membelanya.
Kemudian Ivan berkata. “Arsha udah terkontaminasi sama si Rafka jadi gitu, julid betttt.”
“Heh? Yang ada gue yang udah diracuni sama pikiran lo itu, Arsha dari bocil juga udah julid.” Ujar Rivan menerangkan.
"Gue ke toilet," pamit Keyra pada teman-temannya yang berdebat. "Lo pada ke kantin duluan aja."
******
Srekk
Tangan Keyra ditarik kuat oleh seseorang, ia membalikan badannya dan kepalanya spontan langsung membentur
tembok toilet. Keyra memegang keningnya yang sakit dan langsung menatap tajam si pelaku. Belum juga ia bersuara, orang tersebut kembali berulah.
Brughh
Tubuh Keyra terhempas ke lantai begitu Aura mendorongnya kuat. “Buka topeng lo itu, gak usah sok lemah di depan kita berlima,” sinis nya.
Keyra menghela jengah sambil menepuk-nepuk pahanya, ia duduk bersandar dengan kaki selonjoran, menghiraukan keberadaan Aura, Shahila, Aqila, Rindu dan Lia yang sedang bertolak pinggang.
“Bangun lo jal@ng!”
“Duh jal@ng kok teriak jal@ng,” balasnya tenang. Ia menguap sambil mengusap matanya yang nampak berair. “Ngantuk gue, sana lo pada keluar, gue gak suka digangguin pas tidur.” Dusta Keyra tampak keberatan, dengan kehadiran Aura yang tak pernah mau berdamai dengannya.
__ADS_1
Aura dan teman-temannya nampak geram melihat reaksi Keyra yang nampak biasa saja.
Aura berjongkok dan menarik kuat rambut Keyra. Keyra hanya menepis tangan gadis itu. "Gak etis banget dari kelas sepuluh beraninya jambak doang." Cibir Keyra sembari terkekeh. Tentu saja untuk mengejek Aura.
"Gunting," Akila tersenyum sambil menyerahkan sebuah gunting pada Aura. "Pegangin," Bak seorang pembantu, Akila dan Lia langsung mengangguk sembari menarik tangan Keyra hingga si empu langsung berdiri.
Aura berdiri dibelakang tubuh Keyra sambil menyeringai. Aura kembali menjambak rambut Keyra. Dan tanpa menunggu lama lagi, ia langsung menggunting rambut panjang gadis itu.
Sreeek
Keyra merasa jambakan Aura pada rambutnya mengendur. Matanya membulat sempurna begitu rambutnya dipotong tinggal sebahu oleh Aura.
Kesabaran Keyra habis, ia menyikut perut Akila dan Lia lalu Keyra membalikan tubuhnya dan langsung menampar pipi Aura hingga bunyi 'plak' yang nampak menggema di toilet.
Aura memegang pipinya yang panas sembari menatap Keyra nyalang.
"Lo!"
"Sekarang gantian gue," ucap Shahila yang langsung berdiri didepan Keyra sambil mendorong bahu gadis itu. Ia memandang Keyra sinis hingga Keyra mengerutkan dahi.
Tumben gak diem aja.
"Rafka itu milik gue! Liat aja, gue bakal bikin dia tunduk. Dan elo--" Shahila menunjuk Keyra dengan telunjuk-nya. "Gak bisa kecentilan sama Rafka lagi!"
Keyra tertawa mendengar penuturan Shahila. "Sifat lo udah 11 12 sama Aura, Hila. Lo naksir Afka? Heh--"
"IYA GUE NAKSIR DIA! Gue naksir Rafka dari SMP dan elo selalu aja kegatelan sama Rafka! Dia sampe nggak nyadar dengan keberadaan gue yang selalu merhatiin dia."
Keyra tertegun sejenak. Ia menatap manik Shahila dengan ekspresi dingin.
"Lo gak bisa milikin Afka, Hila." Bisik Keyra kemudian berlalu dari toilet, dan melupakan soal rambutnya yang berantakan akibat ulah Aura.
"LIAT AJA NANTI!"
Keyra tak menjawab dan memilih naik keatas rooftop untuk tidur disana sampai jam pelajaran terakhir selesai. Ia mengirimkan pesan pada Rafka dan teman-temannya yang mungkin akan mengkhawatirkan dirinya.
——————————
"Naik taksi ke Kota Tua,” ujar Ivan bernada.
“Kagak gue mau nyinden,” cetus nya sewot. “Diem elah gue mo pantun di ganggu ae lu pantat panci.”
“Yaudah sok atuh dilanjut.”
“Pantun ini teruntuk Mas Rafka yang sedang galau merana.”
Rafka mengerutkan keningnya mendengar penuturan Ivan. Memang dia sedang galau? Tentu tydakk!
Eh, iya Rafka sedang galau.
“Cuakeep, pantun lu keren juga." Ivan gregetan, ia menabok kepala Akhir sadis. “Baru pembukaan, belom pantun sebenernya bambang!"
Akhir diam tak membalas. Temannya ini jika diladeni malah semakin menjadi. “Nah gitu kek anteng."
“Bacotan tak bermutu.” Decak Akhir tak senang. Niat hati ingin menjernihkan pikirannya dan bertemu dengan Keyra. Akhir tak pernah menyangka akan semakin stress mendengar suara Ivan.
"Cewek gue udah pulang kan?"
Rafka melirik Akhir begitupun Ivan dan Rivan. Lantas mengangguk kompak.
“Naik taksi ke kota tua,” Ivan merapatkan duduknya dengan Rafka. Ia merangkul pundak pemuda itu. "Jangan kebanyakan basa basi,”
“Langsung aja bawa ke KUA.” Ucap Ivan kemudian berbisik. "Janur kuning belum melengkung loh Mas Rafka."
Ceklek
“Buset, ngegey di markas.” Keyra menutup kembali pintu markas Traavo lalu berjalan masuk kedalam ruangan, mengacuhkan tatapan kaget teman-temannya.
“Etdah buset, rambut lo kemana?” Pekik Ivan kaget.
Rivan pun tak kalah terkejut melihat kondisi Keyra sekarang.
"Key rambut kamu kenapa?" Akhir menarik Keyra untuk duduk di sampingnya. Namun Keyra menolak dan langsung duduk disofa single.
__ADS_1
“Masih ada ditempatnya,” balasnya acuh.
Rafka memandang Keyra dalam. Matanya menangkap noda darah di kening Keyra. Ia langsung berlari menuju dapur untuk mengambil kotak P3K yang ada dilaci dapur. Tak lama kemudian, pemuda itu kembali dengan kotak P3K ditangannya.
Akhir hendak mengambil alih kotak tersebut. Namun, Rafka sudah berjongkok didepan Keyra dan mulai mengobati kening gadis itu.
Keyra menunduk, hingga matanya bisa melihat wajah Rafka yang fokus membersihkan lukanya dengan sarat akan khawatir.
Pacar orang yang indah untuk dilihat
"Gak usah nunduk, gue jongkok juga bisa ngobatin jidat lo." Ucap Rafka
"Dih secara gak langsung lo body shaming!"
Keyra menahan tangan Rafka yang akan menempelkan kain kasa ke keningnya. "Jangan diperban, luka kecil gini kok."
Rafka bersikukuh memperban kening Keyra yang terluka. Setelah selesai, ia lantas berdiri dan menaruh kotak tadi diatas meja.
"Yang pacarnya Kekey itu Akhirat atau Rafka curut sih?" Ivan yang duduk dengan bertopang dagu itu bertanya sekaligus menyindir hubungan antara Keyra, Rafka dan Akhir.
"Gue lah, napa lo iri sama--"
Akhir melihat layar ponselnya yang menyala. Ada panggilan dari sang Mama yang langsung ia angkat.
"Kenapa Mam?"
"Kamu pulang sekarang, Mama mau ngenalin kamu sama calon Papa kamu, sayang."
Akhir terdiam, ia melirik Keyra yang juga menatapnya lalu mengangguk. "Iya, 20 menit lagi Akhir sampai."
"Mama tunggu."
Lalu Mama nya memutuskan sambungan secara sepihak. Akhir berdiri didekat Keyra lalu mengelus puncak kepala gadis itu. "Maaf gak bisa nganterin kamu ke salon. Maaf banget," ujar Akhir.
"Dih sok romantis," bisik Ivan pada Rivan.
Keyra mengangguk. "Gapapa, gue bisa sendiri."
"Kamu hutang penjelasan sama kita-kita soal rambut kamu itu," Keyra diam tak berniat membalas. "Udah sore mending bareng Rafka aja, aku pulang dulu bye Key."
"Sono pada pulang, gue nginep di markas hari ini." Ujar Ivan merebahkan tubuhnya di kasur kecil yang ada didepan televisi.
"Gue juga, males ketemu Abang syalan gue." Timpal Rivan yang kemudian memejamkan matanya.
Rafka menarik tangan Keyra. "Nyari salon, abis itu anterin gue ke supermarket."
★★★★
Naya duduk di tepi ranjangnya sambil meraih ponselnya yang berada diatas nakas.
Akila
^^^Aki, aku tadi udah diizinin kan? sakit:(^^^
[Udah dong, gowes Nay!😉]
Kemudian gadis itu membuka room chatnya dengan Rafka, lalu mengetikan sesuatu disana.
^^^Bisa kesini pulang sekolah? aku sakit😥 dan ibu masih di surabaya jenguk Budhe Sri^^^
15:45
[Gue lagi sama Kekey di supermarket.]
Mata Naya berbinar, kesempatan!
^^^Kamu kesini sama Keyra aja ya? Aku gapapa kok nunggu kalian.^^^
[Oke]
“Maafin aku, Keyra. Kalo Kak Garen mau misahin kamu sama Rafka, biar aku yang persatuin kalian." Gumam Naya tersenyum sambil membereskan pakaiannya kedalam tas besar. Keputusannya sudah bulat, bahwa ia akan pindah kerumah Bibinya setelah melakukan sesuatu untuk Keyra dan Rafka.
TBC
__ADS_1
tobat lu nay:v
a diganti @ , disensor terus sih:v