Keyra Naura

Keyra Naura
KN_ Makasih Keyra


__ADS_3

Kringg!


Bel pergantian jam kedua berbunyi. Ivan yang tengah mengguyur kepala seseorang dengan air bekas cucian milik Ibu kantin, kini melempar ember tersebut kebelakang tubuh Roby dengan sedikit emosi.


“Bel tuh, balik akh gue males ngebully dia, banyak kuman.”


Ivan menyemprotkan hand sanitizer ketangan nya. Raut wajahnya kentara sekali jijik melihat korbannya sedang menunduk dengan mengelap keringat disekitar wajah nya yang pias.


Rafka menggelengkan kepalanya menolak ajakan Ivan. Ia menarik dagu Roby hingga kepala pemuda itu mendongak keatas.


“Belum puas lo nyari gara-gara sama gue selama sebulan ini? Udah beban, ceroboh, tolol lagi. Sekarang lo mau coba deketin cewek gue?” Roby menggigit bibirnya mendengar nada mencemooh dari Rafka. Cowok yang humoris sekaligus supel itu mendadak menjadi galak ketika dirinya berniat mendekati sosok terdekat Rafka.


‘Hanya berniat’ dan belum benar-benar mendekati. Namun respon Rafka begitu luar binasa.


"Jangan mimpi gan!”


Plak


Tangan Rafka terhempas begitu saja, ia menatap pelaku yang berani menganggu kesenangan nya membully Roby.


“Apaan sih?”


“Lo yang apaan?!” Seru Keyra tak kalah keras. “Kenapa lo berdua bully dia tanpa sebab?” Keyra menodong Roby yang masih menunduk tak berani menatapnya. “Dia ada salah sama lo berdua? Kalo ada, bicarain baik-baik tanpa harus ngebully!”


Keyra mengulurkan tangannya ke Roby yang langsung mendongak dan dengan ragu menerima uluran tangan sang gadis. “Ma-makasih Keyra.”


“Lo kenal--”

__ADS_1


“Dia banyak salah sama gue,” potong Ivan malas. Tangannya terulur bersamaan dengan jitakan kecil mendarat dikepala Keyra.


Keyra mengerjapkan matanya tak paham.


“Salah satunya ganjen sama cewek gue,”


“Dan sekarang dia mau deketin cewek kesayangan gue. Apa kita bakalan diem, ***? Enggak!” Timpal Rafka.


“Pebinor kayak dia itu wajib di mesumin.”


“Museum-in ogeb!”


“Ahh diem lo, seterah gue lah mau ngomong apa!” Balas Ivan jumawa.


“Ngomong aja masih typo, bangga lo? Masuk TK lagi sono, kalo perlu otak lo di daur ulang biar bisa berguna buat hewan dan hewan.”


“Wah lama-lama kok lu ngelunjak ya! Gelut yok, one by one gass kita kelapangan.” Rafka menyetujui usulan Ivan yang sepertinya sangat cocok menjadi pelampiasan nya-- pengganti Roby yang cupu. “Sekalian tebar pesona lah sapa tau ada ciwi cantik kecantol buat jadi kandidat pacar gue yang kesembilan.”


“Anjer muka lo pas-pasan gitu punya cewek banyak.”


“Itu baru pacar, doi gue lebih banyak.”


“Dahlah males gue sama lo, si Kekey juga diem aja--”


“Keyra gue kemana sat?” Rafka mulai panik. Dia juga tak melihat keberadaan Roby di sekitarnya. “Jangan sampe dia di apa-apain sama si dedemit, gue gak rela shia!”


“Adanya elo yang dedemit, nah Roby si manusia purba itu valak. Buset kembar tak seiras aWok aWok lariiiii,” secepat kilat Ivan berlari melewati lorong yang sepi meninggalkan Rafka sendiri.

__ADS_1


“IPANG BANGSATT.”


LIKE, KOMEN N FAVORITNYA GAN


“Ini,” Keyra menyodorkan seragam OSIS yang baru ia beli di koperasi sekolah. Setelahnya, ia berlalu tanpa berkata lagi. Roby juga tak berniat mencegah gadis itu karena ia tak punya keberanian lebih untuk itu.


“Ma...makasih Keyra!" Teriaknya.


Keyra mengacungkan jempolnya tanpa menoleh kebelakang, “Btw kok dia bisa tau nama gue? Dahlah gak penting juga, mending balik ke kelas,” gumamnya.


Gadis itu bahkan sampai lupa jika ia sedang di hukum bersama kelima teman sekelasnya yang sekarang tengah merokok santai di rooftop.


Sesampainya di depan kelasnya, Keyra membuka pintu kelas yang tadinya tertutup dengan keras. Matanya membola sempurna begitu Pak Mawan sedang berdiri menatapnya tajam.


“Masih berani kamu kembali ke kelas tanpa melaksanakan hukuman yang tadi saya berikan?“ Keyra meneguk ludahnya gugup. “Panggil kelima teman kamu tadi, sekarang hukuman kalian berenam saya tambahkan.”


"Pftt makanya jadi cupu itu tunduk jangan belagu!"


“Ceilah dia mah murid baru tapi suka nyari sensasi, mana mau sih tunduk secara ‘kan dia itu Queen jalang.” Gadis yang sedang merapihkan rambutnya ikut bersua.


Keyra mendengar dengan jelas suara dari teman sekelasnya. Namun ia tak peduli. Baginya, yang sekarang harus ia lakukan adalah diam dan melaksanakan hukuman yang diberikan Pak Mawan.


“Ingat ucapan saya baik-baik. Sepulang sekolah, kalian berenam harus membersihkan ruangan perpus sampai bersih!”


“Mampos!” Decaknya lirih.


Tandai typo

__ADS_1


Favorit, like n comennya


__ADS_2