
Warning, part gaje, serius:v
Happy Reading!
...Jika perempuan lain akan merasa bahagia saat dinyanyikan sebuah lagu oleh pria tampan. Reaksi ku malah sebaliknya, tertekan dan kenak mental:v...
...-Keyra yang depresot-...
Keyra's POV
Bodoh amat dibilang gila dan bipolar. Memang begini sifatku, kadang diam tak melawan, dan hari ini aku menumpahkan semua emosi ku pada Aura dan teman-temannya.
Namanya juga emosi, kadang harus diluapkan, kadang juga harus dilupakan.
Sama seperti perasaan.
Kalian pilih mana?
Meluapkan
Atau
Melupakan?
Sebisa mungkin setelah kejadian ini,
aku akan menghindari yang namanya keributan dengan Aura, Naya dan sekutunya. Malas rasanya jika harus menumbalkan rambutku untuk dijambak oleh Aura yang bar-bar.
Aku berjalan melewati koridor Akuntansi menuju lapangan luas yang bisa memuat ribuan orang disana. Letaknya berada tepat didepan gedung jurusan TKR.
Ku amati lingkungan sekolah ku yang sangat WOW. Di Andromeda sama saja seperti sekolah lain, bedanya disini peraturan nya tak terlalu ketat. Makanya banyak cowok cewek bengal yang ber-sekolah disini.
Meskipun begitu, banyak juga murid berprestasi yang suka mencetak juara saat mengikuti Olimpiade tingkat Provinsi bahkan Nasional. Namun yang sangat disayangkan, murid berprestasi yang ada di Andromeda memiliki sifat pemalas dan sering menolak jika ditawarkan untuk mengikuti lomba- lomba.
Ada beberapa tempat rahasia yang berada disekolah ini. Contohnya gudang, tembok belakang yang merupakan jalan pintas para siswa-siswi untuk mabal menuju pada sebuah warung besar yang berada tepat dibelakang sekolah.
Guru, Satpam, ketua OSIS bahkan siswa-siswi banyak yang tak mengetahui keadaan tembok itu yang sengaja dirusak oleh leluhur terdahulu yang suka melanggar aturan, guna melancarkan aksi nya untuk membolos.
Itu yang kutahu dari Bang Friski.
Pandanganku tertuju pada lima kelas yang berjejer dibawah Jurusan Teknik Komputer Jaringan,
yaitu kelas anak Teknik Sipil yang hanya ditempati satu kelas saja, dan empat kelas lainnya kosong. Karena minimnya peminat untuk masuk ke jurusan tersebut yang eksistensi nya masih diragukan oleh masyarakat.
Memang jurusan tersebut tidak menarik bagi siswa Andromeda. Disisi lain justru berpeluang besar untuk menyerap tenaga kelulusan.
Saat sedang melewati kelas Otomotif, kaki ku otomatis berhenti melangkah saat ada kaki yang terjulur menghalangi jalanku.
Ini kenapa dari tadi gue di cegat terus sih? Gerutu ku dalam hati.
“Anak Akuntansi ya?” Cowok yang memakai wearpack berwarna abu-abu tua khas anak Teknik itu bertanya pada ku.
Dia sedang duduk di depan pintu kelas dengan kepala menyender, temannya yang juga duduk di sampingnya pun hanya fokus pada ponsel masing-masing.
Enak banget free class. Batinku berucap.
“Anak Otomotif ya?” Tanyaku balik.
Kulihat dia beranjak, dilihat dari segi wajah yang sepertinya blasteran Indo Korea, dia sangat tampan, namun matanya jelalatan ihh... Gak jadi deh masuk ke list jodoh aku.
“Kok lo tau gue anak Otomotif? Stalking gue ya?” Dia melirik ku nakal sambil berusaha menggapai jemariku. Aku pun mundur kebelakang menghindarinya.
Kuputar bola mataku malas. ”Yaiyalah gue tau ogeb, lo aja make wearpack,” ucapku ketus.
“Jay dipanggil BK, kali ini gue gak bisa--”
“Loh Keyra?”
Aku mengangguk menatap Bang Friski dan Akhir yang baru datang. “Gue duluan ya Bang.”
“Eh tunggu dulu,” Aku menghempaskan tangan Jay yang mencekal lenganku. “Nama lo Keyra?”
“Bukan, nama gue Bambang!” Kesal ku. Padahal dia udah denger Bang Friski memanggilku ‘Keyra', kenapa harus tanya lagi?
Basi tau gak!
Hari ini aku masih masanya menstruasi, emosi ku naik turun. Kalian yang perempuan pasti paham kan dengan situasi ku saat ini? Tak mau diganggu dan tak mau diajak basa-basi. Walaupun si Jay Jay itu Kakak Kelas ku, aku tetap tak peduli.
“Hati-hati dijalan Key,” ucap Akhir. Dia dan Bang Friski lalu menarik tangan Jay dan membawa cowok pecicilan itu ke ruangan yang berada tepat di sebelah koperasi, bisa kutebak itu adalah ruang BK.
Aku kembali berjalan mendekati lapangan. Langkahku terasa berat saat melihat sudah banyak siswa-siswi yang sedang pemanasan dipimpin oleh Ketua masing-masing.
“Kekey sini!" Kutolehkan kepalaku kesamping, dimana Ripan yang berdiri dibarisan TKR memanggilku. “Jangan lemot,” ucapnya lagi.
Apakah Ripan itu sejenis manusia ogeb yang ada didunia ini?
Kita jelas beda jurusan, tentu saja beda barisan juga. Lagian mengapa harus digabung sih? Kan terlalu ramai, apa Guru olahraga nya gak pusing? Batinku bertanya.
“Gak bisa!” Aku berkata pelan namun penuh penekanan. Kuyakin Ripan pasti mendengar nya.
Aku berdiri dibarisan paling belakang sambil membenarkan ikat rambutku, entah aku berada dibarisan jurusan mana, yang penting yang berdiri didepanku adalah, semuanya ber-gender perempuan.
“Anak pembantu elah barisnya dibelakang, jangan didepan, ngerusak pemandangan aja!” Suara Pitaloka terdengar nyaring didepanku.
Brugh
Tubuh mungil ku sedikit bergeser mundur ketika gadis bernama Lea itu menubruk ku karena dorongan dari Pitaloka.
“Euh... Maaf ya Kak, Lea gak sengaja,” ucap Lea dengan kepala tertunduk.
Kakak? Gue setua itu? Pekik ku dalam hati.
“Gue tau lo nggak salah, jadi sans aja.” Kutepuk pundak Lea yang bergetar. Ia terlihat seperti akan menangis.
Cih, sebenarnya aku benci orang yang ditindas dan menindas. Yang satu tak bisa melawan, dan yang satunya suka seenaknya sendiri.
Memuak'kan bukan?
“Panggil Keyra tanpa embel-embel ‘Kak' karena gue sekelas sama lo, maybe.” Ucapku datar sambil menatap Pitaloka tajam. Membuat Pitaloka takut, Ia menghadap kedepan tanpa menoleh lagi.
Lea mendongak, “Owhke Keyra.”
Aku tak menjawab, lebih memilih diam sambil menutup mataku menikmati sinar matahari yang menyerbu kulit wajah dan tubuhku. Dahi ku sudah bercucuran keringat dengan pipi dan kepala yang terasa panas.
Selama kurang lebih lima belas menit kami menunggu kedatangan Guru Olahraga yang akan menjadi pengampu kami siang ini. Banyak siswa-siswi yang mengeluh dan diam-diam mengumpati para guru.
“Cek cek,”
Alis ku naik sebelah begitu melihat Riza yang berdiri ditengah lapangan dengan ditemani Afka dan Ipang, sedang memegang mic sambil menatap semuanya serius.
“Ayang Iza kenapa?”
__ADS_1
Kulihat Riza mendeliki gadis berambut panjang tadi yang bertanya, sementara Afka dan Ipang sudah terbahak mendengar panggilan gadis tadi.
“Iza, Iza, lo kira gue cewek hah?” Sentak Riza keras.
“Back to topic," Afka berdeham. “Pak Mawan meninggal dunia tadi pagi, jadi kita semua FREE CLASS!” Seru Afka heboh.
Mataku memincing curiga.
“Perasaan minggu kemarin Pak Mawan sehat-sehat aja deh, dia meninggal kenapa?” Tanya salah satu siswi yang penasaran.
“Udah takdir-Nya lah, apalagi?” Tukas Ipang menantang.
Riza mengangguk, "Guru tercinta-ik kita itu sudah beda alam dengan kita.”
“Eh serius?” Bisik-bisik mulai terdengar, aku lumayan tak percaya dengan ucapan Afka dan kedua sohibnya.
Mana ada kan ada orang yang meninggal, tapi reaksinya heboh gitu. Lagian yang meninggal setauku itu Guru Bahasa Inggris, mengapa menjadi free class sementara pelajaran kali ini Olahraga?
Apa mereka sedang melayat?
“Becanda dong masa serius,” tambah Afka tanpa beban. Ia menendang tulang kering Ipang dan Riza yang kini mengaduh dan balas memukul kepala Afka lebih keras.
Kemudian, ketiga cowok itu tanpa dosa berlari mendekati tepi lapangan yang ditumbuhi rumput hijau dan langsung duduk disana. Beberapa anggota Traavo seperti Ripan, Bian dan Rey pun turut mengikuti ketiganya.
Astaghfirullah, mereka absurd banget.
Aku meraup wajahku kasar. Mereka yang berulah, malah aku yang merasa malu.
“Stt apa bener Pak Engres meninggal?”
“Enggak lah, Rafka juga udah bilang cuman becanda. Berani banget dia.”
“Kalo ada Guru yang denger gimana ya? Becandaan mereka gak lucu loh sampai bawa-bawa kata meninggal."
“Udahlah aku kangen kerusuhan mereka tau.. Seminggu ini mereka adem ayem kan kayak murid biasa? Rusuhnya mereka hari ini juga wajar, gak parah.”
Wajar? Ku geleng kan kepalaku miris, wajar saja sudah gitu, rusuh parahnya gimana? Gerutuku pelan.
“Hidih orang rusuh dikangenin, ancur otak lo?” Cetus gadis lainnya.
“QUEEN TRAAVO SINI LU!”
Aku diam, sementara lapangan kembali berisik mendengar teriakan Reska, si cowok yang sifatnya 11 12 dengan Ipang.
"KEYRA NAURA!”
Aku yang jengah mendengar teriakan Reska pun mendekat. Tak mau menolak karena seminggu kenal dengan satu persatu anggota Traavo, membuat ku tahu bahwa mereka tak suka ditolak dan aku saat ini sedang malas untuk berdebat dengan Afka cs.
Ku dudukan bokong ku di tengah-tengah Afka dan Ipang yang kosong, tak peduli tatapan orang lain yang serasa mengintimidasi diriku. Sebenarnya aku sangat malu dan risih, bagaimana tidak?
Mereka menatapku seakan aku itu seorang pelaku kriminal yang menjadi buronan polisi.
“Oi kekey berbaju hitam,” ujar Ipang bernada.
Aku melirik bajuku yang berwarna biru sedikit kehitaman, decakan pun lolos dari sela bibirku. Walaupun semua murid juga berpakaian yang sama denganku, ku yakin Ipang bernyanyi untuk mengejekku. Karena mulut cowok itu tepat berada di samping telinga ku.
“Cantik galak kek induk ayam.”
Nah apalagi Afka? Emang induk ayam cantik ya? Aku mencubit paha Afka karena kesal.
“Dapat salam dari pedo mesum,” kali ini Rivan dan anggota Traavo yang seangkatan ku menyeletuk.
Bahkan mereka nampak memotret dan mem-video Traavo diam-diam,
mampu membuat ku terheran-heran, apa yang menarik?
“Tamat SMK jadi si pedom.”
“Eakkk..”
Kudelikkan mataku pada Afka, “Pedom apaan?”
”Perampok dompet Om-Om ciahh,” balas nya tengil.
“WOE ANJI--”
Belum juga aku protes, Ripan lebih dulu menyela. "Kekey jangan segalak itu”
“Mentang Ipang ni buaya buntung.”
Apaan sih? Gak nyambung anjrittt. Ingin sekali ku acak-acak rambut anggota Traavo di sini. Praduga ku, otak mereka sudah miring alias tak waras.
”Banyak bacot itu kebiasaan-nya,” lanjut Riza.
“Lah kok jadi aing yang di nistain? Katanya mau nistain Neng Geulis doang." Mulai ngegas nya, Ipang mendorong kepala Ripan kebelakang karena cowok itu yang posisinya paling dekat dengannya.
Keyra's POV END
Pritttttt
Suara peluit panjang terasa memekakkan telinga. Mereka yang ada dilapangan bergegas untuk berdiri tegak sambil menatap lurus kedepan, dimana tujuh orang Guru yang mengenakan setelan olahraga khas Guru berdiri dengan tangan terkepal disisi tubuh.
Keyra juga berdiri, tapi tangannya ditahan oleh Rafka yang juga ikut berdiri di sampingnya. Pemuda itu membisikkan sesuatu, “Lo harus pura-pura pingsan sekarang, Ra. Kita mau ajakin lo mabal.”
Gadis itu menggeleng tanda menolak. Ia menatap tajam satu persatu anggota Traavo yang berdiri disekitarnya. “Kalo Papa tau gue bolos gara-gara Traavo, bisa dicincang lo semua.” Ucap Keyra pelan.
“Ayolah Ra--”
“Pagi semua!”
"Pagi Pak, Bu.” Sahut seisi lapangan keras.
Rafka melirik Keyra tanpa mendengarkan apa yang diucapkan oleh salah satu Guru di depannya. Ia tanpa basa-basi pun menggendong tubuh mungil Keyra hingga tangan gadis itu reflek memeluk lehernya. Gadis itu hendak bersuara, namun bisikan Rafka yang terdengar serak mampu membuatnya meremang.
“Diem atau lo gue cium disini!”
Keyra bungkam, ia memejamkan matanya dan berusaha tak bergerak saat Rafka mulai membawanya hendak meninggalkan lapangan.
“Pak, ada yang pingsan, kalian sih kelamaan kesininya sampe bikin kita-kita nunggu,” Rafka berlari menuju UKS dengan Keyra yang berada di gendongannya tanpa menunggu jawaban dari para Guru. Diam-diam ia membelokkan langkahnya menuju kantin Akuntansi yang ada dibelakang UKS.
“Itu yang dibelakang, mau kemana?” Pak Juki menunjuk Ivan dan teman-temannya yang berjalan santai hendak mengikuti langkah Rafka yang menggendong Keyra.
“Bapak gak liat tadi temen kita tuh pingsan? Bisa jadi dia sekarat kalo gak liat wajah tampan kita semua.“ Balas Rivan santai.
Garen mendelik, tak terima adiknya dibilang ‘sekarat' oleh Rivan. “Balik ke barisan kalian sekarang juga!” Titahnya. “Biar saya saja yang menyusul mereka, dan kalian tetap disini sampai jam Olahraga habis!”
Garen memandang Pak Juki sambil menunduk sekejap. “Saya izin melihat keadaan murid tadi dulu Pak, permisi.”
"Oh iya, silahkan.” Jawab Pak Juki mempersilahkan.
Kantin
__ADS_1
Keyra terus memukul dada Rafka yang menggendongnya, Rafka pun menurunkan Keyra dari gendongannya sambil tangannya terulur untuk membenarkan anak rambut Keyra yang berantakan.
“Gue berat goblog!”
Rafka menggeleng, “Enggak, gue malah gak ngerasa apa-apa bawa lo,” ucap nya. “Cuma...”
Keyra memincing, “Cuman apa?”
“Cuma kaya ada yang ngeganjel tadi di dada gue, kenyel kenyel itu apa ya Ra?” Tanya Rafka.
Keyra mendudukan diri dikursi sambil menelungkupkan wajahnya disela lipatan tangannya.
“Ra itu apa sih anjim? Gue kepo,” tanya Rafka lagi.
Keyra diam.
Rafka ikut duduk di samping Keyra, ia menggoyangkan bahu gadis itu.
“Masa gede banget Ra, keknya kalo dipegang, pas banget dikepalan tangan gue.”
Geram, Keyra mendongak, memandang Rafka bengis. Ia menendang betis
pemuda itu hingga Rafka mengaduh kesakitan.
“Lo ternyata lebih mesum dari Ipang, kita end!” Ucap Keyra sinis.
“Bu, beli mi goreng satu sama teh jahe nya ya!” Imbuhnya pada si Ibu kantin yang sedang memainkan ponsel sambil berjoged ria.
“Siap Neng, ditunggu.”
Keyra mengangguk, kembali menatap Rafka sinis. Ia merasa dilecehkan, walau Rafka sama sekali tak berbuat macam-macam saat menggendongnya tadi.
Rafka terbahak, ia menangkup kedua pipi Keyra. “Becanda elah, sorry.” Pintanya tulus.
“Jangan ngomong gitu lagi, lo kaya ngelecehin gue--”
“Keyra, Rafka," suara bariton Garen yang baru tiba membuat atensi kedua remaja tadi teralihkan. Mereka menatap Garen yang berdiri lima meter dari tempat keduanya duduk. “Orang pingsan dibawa ke kantin ya, bukan UKS?”
“Gimana keadaan kamu, Key? Baikan pas digendong tunangan kamu itu?” Tambah Garen sambil berjalan mendekat, ia duduk disamping Keyra yang kosong sambil bersedekap dada.
“Dia--”
“Saya tanya Keyra, bukan kamu.” Potong Garen.
“Dih--”
“Kamu kembali ke lapangan, saya yang akan jaga Keyra.“
Geram, Rafka memandang Garen kesal.
Duk
Keyra melirik Rafka yang menendang kakinya pelan, ia kemudian menatap Garen serius. “Perut saya tadi sakit Pak.”
Mata Garen membola, "Hey kamu panggil Abang, Pak, Bapak?”
“Sekolah Bang, lo aja tadi bicara formal,” ucap Keyra.
Garen menghela nafas panjang. “Sakit kenapa kamu? Perutnya udah mendingan?”
Belum sempat Keyra menjawab, ponsel Garen bergetar, ia melirik layar ponselnya sambil beranjak berdiri.
“Iya kenapa?”
“....”
“Tunggu disitu, aku masih ngajar di sekolah.”
“.....”
“Jam 12 semuanya selesai.”
“.....”
“Iya.”
Garen mengakhiri panggilan, ia memandang kedua remaja yang masih duduk anteng dengan memutar mata. Tangannya terulur memukul bahu Rafka tak santai.
“Mulai dari sekarang gue kasih saran sama lo Rafka. Pilih satu di antara tunangan atau pacar lo itu. Keyra sama Naya punya perasaan kali lo kira mereka dikasih perhatian gitu gak baper? Jangan jadi PHP ya bocah!” Ucapnya, lalu meninggalkan area kantin setelah mengusap kepala Keyra pelan.
“Loh Gula Aren tau dari mana Naya pacar gue, Ra?”
Keyra menggedik acuh. “Dia Guru disini, lo sama Naya sekolah disini, kalian bertiga tetanggan juga. Dan bukan hal mustahil kalo dia tau hubungan lo sama Naya.”
"Oowwh,” Rafka mengangguk. “Menurut lo, gue harus pilih siapa? Berasa ganteng banget gue Anjrittt,” Rafka tertawa, Keyra jelas tertawa ngakak mendengar nya.
“Heleh gak lucu,” cetus Keyra.
“Gue gak ngelawak nyet,” balas Rafka sambil menoyor jidat Keyra gemas. “Lagian lo ketawa anjirrr, kek eek kambeng lo.”
Brukkk
Pranggg
Suara piring pecah mengalihkan atensi Keyra dan Rafka. Mereka melirik seorang pemuda bertubuh gempal yang sedang menunduk sambil memunguti piring yang pecah.
Rafka berdiri, mendekati pemuda itu dan Ibu kantin yang terlihat sedang memarahi pemuda tersebut. Keyra ikut berdiri mengejar Rafka.
“Kamu tuh ya kalo jalan ya lihat-lihat! Tuh saya rugi banyak, ganti cepetan, seratus ribu!”
“Ma-maaf Bu.. sa-saya gak bawa uang.”
“Gak punya uang kok mainnya ke kantin? Mau minta-minta kamu disini?!” ucap Ibu kantin pedas.
Rafka berdiri dihadapan pemuda tadi. “Dimanapun lo itu selalu jadi masalah, Roby.”
Keyra mencekal lengan Rafka yang akan menarik kerah baju Roby.
Ya, pemuda itu Roby, orang yang tempo hari dibully oleh Rafka dan Ivan.
“Gak bawa uang bukan berarti gak punya uang, Bu,” ucap Keyra. Gadis itu mengambil uang pecahan seratus ribu dari saku bajunya dan menyodorkan nya pada Ibu Kantin. “Ini pesanan saya tadi, saya permisi.” Keyra menarik tangan Rafka untuk meninggalkan kantin Akuntansi.
TBC
**Tandai typo
like komen n favoritnya
gaje kan:v
See you!
__ADS_1