Keyra Naura

Keyra Naura
Nasib


__ADS_3

..."Jangan mencintai manusia melebihi cinta kepada Tuhan."...


15:47


"Ke makam dulu kali ya?" Keyra bergumam sembari melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan mansion Gandawari.


Butuh sekiranya 45 menit untuk wanita itu sampai di area TPU. Keyra memarkirkan mobil disamping Ferrari putih yang nampak menonjol diantara mobil lain. Kaki putihnya yang terbalut stiletto heels melangkah menuju makam orangtua dan adiknya dengan membawa plastik berisi bunga mawar di tangannya.


Tadi sebelum ia tiba di TPU, Keyra sudah membeli mawar merah serta kerudung berwarna hitam untuk dirinya.


Keyra mengernyit menatap bahu tegap seseorang yang sedang jongkok di samping makam Papa nya. Posisinya, pria asing itu tengah membelakangi nya. Ia tak ambil pusing dan langsung menuju makam Rini yang bersisihan dua kuburan dengan Davin.


"Assalamu'alaikum, Naura."


Keyra yang hendak menyentuh nisan mantan Ibu mertuanya, langsung terdiam dan kepalanya sontak memandang ke asal suara.


"Waalaikumsalam," gumam Keyra lirih. Bibir wanita itu berkedut membentuk senyum kecil. Tak dapat ia sangkal, Rafka masih menempati posisi pertama dihatinya. Walaupun pria berstatus mantan suaminya itu pernah menyakiti hati nya begitu dalam.


Keyra akui, kesalahan terbesarnya adalah ketika pernah begitu percaya pada Rafka.


Janji manis dibibir Rafka, menjadi kenangan yang menggores hati bertahun lamanya. Impian dan harapan indah dulu, akan selalu menjadi kenyataan yang menyakitkan.


Merindu itu menyakitkan. Melupakan itu menyesakkan. Tapi, tidak tahu harus berbuat apa adalah jenis penderitaan yang lebih buruk. Itu yang Keyra rasakan. Pertemuan tak sengaja nya dengan Rafka, mampu memporak-porandakan hatinya.


Keyra tersenyum getir kemudian dirinya membalikkan badan dan mulai berdoa untuk keluarganya yang sudah meninggal dunia.


"Enam tahun, kamu gak bosen singgah ke mimpi aku terus, Ra?"


Dibalik punggung Rafka, Keyra tengah mengernyitkan dahi heran.


"Kamu tenang aja. Setiap hari, aku gak pernah absen baca al-fatihah sama surat yasin buat kamu, Papa dan Bunda." Keyra berdesir mendengar nada mantan suaminya yang begitu lembut. "Rasa-rasanya, aku pengen nyusul kalian. Tapi apa kalo aku mati, kita bakal ketemu di alam kubur?" Rafka menengadah menatap langit yang menguning.


Cukup lama lingkungan disekitarnya hening. Keyra mencoba tak acuh dengan isakan yang mulai terdengar dari bibir Rafka, mungkin.


"Thanks udah selalu hadir di mimpi aku. Walaupun gak selalu indah, aku bersyukur dan gak nyesel sama sekali. Kehadiran kamu di mimpi malah buat aku bisa ngejalani hari-hari tanpa kamu. Tapi, aku mau jujur.. aku kesepian, Ra."


"Maaf, i'll wait you, Naura."


'Gila!' Cicit Keyra dalam hati. Air matanya turun di iringi isakan kecil keluar dari sela bibirnya. Keyra berdesis pelan, 'apa-apaan coba?'


"Yaudah, aku masih harus kerumah sakit. Jangan lupa buat hadir di mimpi aku, sayang." Ucap Rafka membuat Keyra melotot kaget.


Keyra bangkit dan langsung berjongkok dimakam seseorang untuk menghindari Rafka yang pamit kepada Davin, Reva dan yang terakhir Rini. Wanita itu menarik kerudungnya kedepan seraya menundukkan kepala ketika Rafka mulai melewati dirinya.


Keyra menghela memandang punggung Rafka yang menjauh. "Kenapa jadi gini sih?"

__ADS_1


*****


Rafka menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Tubuhnya begitu lelah pasca pulang dari rumah sakit. Peluh keringat tercetak jelas di wajah dan rambutnya yang lembab.


Panggilan yang bersahutan dari balik pintu tak dihiraukan nya. Rafka sengaja mengunci pintu kamar agar Shahila ataupun Tio tak menganggu waktu istirahat nya.


Ia benar-benar lelah. Lelah dengan semuanya. Kepergian Ayah nya 2 tahun yang lalu, ternyata sama sekali tak membuatnya nyaman ataupun senang.


Yang ada hanyalah pikiran dan hatinya yang terus merasa kosong. Rafka sudah banyak ditinggalkan, mulai dari Ibu kandungnya, mantan mertua, Keyra, Ayahnya dan Milan juga ikut meninggalkan dirinya walaupun ia dan Milan masih bernafas ditempat yang sama.


Baru saja ia akan terlelap, ponsel yang berdering lumayan kencang berhasil membuat matanya kembali terjaga.


Erosi Ky Tai: Jangan lupa ya, bng. Jam lapan ini


Memandang layar ponsel yang menyala, Rafka seketika mendengkus mengingat permintaan Erosi tadi pagi. Ia pun tak punya pilihan selain bangkit dan membersihkan diri dikamar mandi lalu mulai bersiap mengenakan pakaian asal dilapisi jaket kesayangannya.


Membuka kunci kamar, Rafka meninggalkan kamarnya dengan langkah mantap. Matanya terus fokus kedepan, tak sedikitpun dirinya melirik dua orang manusia yang sedang duduk di meja makan, memandang dirinya penasaran.


Saat Rafka sudah mencapai pintu keluar, Tio bersuara. "Papa mau kemana, Mah?" Tanya bocah seumuran Milan itu sembari memandang Mamanya.


"Kerja," balas Shahila singkat. Mengambil ponsel diatas meja, Shahila memilih memainkan ponselnya untuk menghilangkan perasaan khawatirnya kala Rafka pergi dengan raut lelah.


Tio mendengkus jengkel lalu menggebrak meja. "Mama jangan main handphone mulu kalo lagi makan! Lagian, Papa gak pake baju rapih buat ke rumah sakit, Mama bohong?"


Raut Tio langsung muram. "Duitnya disobek sama Milan!" Dusta Tio. "Aku marah, aku pukul dia sampe anak pungut itu nangis dan berdarah-darah haha!"


"Tio!" Bentak Shahila reflek. Ia bangkit sembari menutup matanya melihat iris mata Tio yang berubah hazel. "Ka-kamu becanda kan?"


Tio menggeleng santai kemudian menyantap ayam kecap nya. "Gak tuh."


"Kamu jangan mukulin Milan lagi! Biar Mama aja yang urus, kamu fokus sekolah."


"Oke," balas Tio kemudian bergumam lirih. "Tapi gak janji!"


...🐤🐣🐥...


20:01 WIB


Rafka membelokkan setir memasuki restoran seafood tempat pertemuan Erosi dengan wanita yang katanya akan dijodohkan dengan Erosi. Rafka ingat jika yang menjadi owner di restoran ini adalah Akhir dan istrinya. Ia pun memandang Erosi penuh tanya.


"Ngapain harus disini?"


Erosi merangkul bahu Rafka. "Yailah bro, kita bisa makan gratis disini! Kakak sepupu gue yang punya ni restoran." Ucap Erosi tak sekaku pagi tadi. Kebiasaan dirinya dengan Rafka kala bertemu diluar area rumah sakit.


"Siapa sepupu lo?"

__ADS_1


Erosi memandang Rafka. "Ntar gue kenalin aja dah, dia dateng juga kok."


Saat tiba didalam, ia dan Erosi langsung diarahkan untuk duduk dimeja yang sudah di ditentukan oleh sepupu Erosi.


"Bang, anak lo masih dua ya? Gak niat bikin lagi gitu? Gue kalo nanti udah nikah sama bidadari jutek itu, bakal bikin puluhan cebong biar gak kesepian." Cerocos Erosi sambil mengingat wajah Keyra tadi siang yang terus terngiang-ngiang dipikirannya.


Ia menyantap cumi asam pedas kesukaannya yang sudah ada dimeja bahkan ketika ia baru masuk kedalam ruangan itu. Sementara Rafka hanya menyesap kopinya dengan santai.


"Tiga. Anak gue tiga" jawab Rafka.


"Tiga? Weh kapan si Tito sama si Melon punya adek?"


"Milan," koreksi Rafka. "Di mimpi gue cuy, gue mimpi punya anak lagi." Tambah Rafka lagi.


Seketika Erosi langsung tertawa sambil menjitak kening Rafka. "Etdah senior gue kang halu ternyata. Anak lo sama siapa? Kuntilanak atau suster bacot?"


Rafka menggedik acuh lalu iris coklatnya yang kuyu kini berubah tajam memandang seseorang yang baru masuk kedalam ruangan. Sosok wanita berpakaian seksi yang sekilas terlihat mirip dengan mantan istrinya.


"Naura?"


Flashback


"Aku ke toilet dulu, ya Key. Kamu tunggu di sini aja."


Keyra menahan lengan Awal yang hendak berlalu. "Jangan kelamaan, aku gak tau sepupu kamu itu."


Awal pura-pura menunjukkan raut tersiksa nya. "Aku kebelet! Udah aku kirim foto dia ke email kamu, tungguin ya!" Awal langsung ngacir ke toilet meninggalkan Keyra yang tengah dilanda kebingungan.


Seorang wanita berpakaian waiters berjalan kearahnya sembari tersenyum ramah setelah memindai Keyra dari atas hingga bawah.


"Ibu Keyra temannya Tuan Akhir?"


Keyra mengernyit kemudian mengangguk. "Ya, saya sendiri."


"Mari, Ibu sudah ditunggu oleh beliau."


'Heh? Akhirat kan lagi dirumah, jagain Tiffany sama Milan. Gak mungkin dia disini.' Gumam Keyra memandang curiga.


"Ayo Bu, ini juga perintah dari Ibu Awal."


Keyra mengikut saja langkah waiters tadi. Ia diarahkan untuk masuk ke ruangan yang didesain khusus untuk keluarga.


Waiters itu membuka pintu sambil menunduk mempersilahkan Keyra untuk masuk. Keyra masuk kemudian kakinya mulai berhenti berjalan ketika mata-nya bertemu pandang dengan iris mata tajam dan lelah seseorang.


"Nasib," gumam Keyra pasrah.

__ADS_1


__ADS_2