
Happy Reading...
Sembilan💫
“Ra,” Rafka menepuk pelan pipi Keyra yang masih terlelap.
“E-eungh. Bentar Ma! Lima menit lagi Keyra solat kok,” sahut Keyra melantur.
Cowok itu memutar bola matanya malas,
“dikira nya, gue Emak lo apa? Males bener punya anak gak ada akhlak kek lo,” Rafka beralih mencubit kedua pipi gadis itu gemas. “Lo tuh cocok nya jadi babu gue,“ sambung nya.
Lagi, Rafka menepuk pipi Keyra keras.
“Ayo, Ra! Lo mau? Disaat yang lain pada wangi sama cakep, lo burik sendiri! Lo tuh udah burik makin burik kalo kagak mandi,”
Cerca Rafka keras.
Mata cantik itu perlahan terbuka bersamaan dengan rambut Rafka yang tertarik ke depan, “ngomong sekali lagi?!”
“A-aduh buset! Lepasin, mayat idup!”
Rafka tak menyangka. Tenaga teman atau bisa dibilang musuh kecil nya itu sekuat itu. Ingat, Keyra baru saja terbangun dan tentu saja nyawa nya belum terkumpul.
“Lo ngatain gue 'mayat idup' lagi, gue
gorok----”
“ASTAGA NAGA! PAK, DI BELAKANG ADA KASUS KDRT PAK. TOLONG PISAHIN!” jambakan pada rambut Rafka terlepas, Keyra berbalik menatap Rivan yang tadi berteriak.
Pak Andra yang tengah duduk di samping kursi kemudi pun terlonjak. Ia berdiri dan memandang ke arah kursi belakang.
“Rivan, diam! Sebentar lagi bus akan jalan kembali. Jadi, mengapa kamu belum turun untuk mandi?” tanya Pak Andra tajam.
“Hati saya ketinggalan pak. Saya mau pulang ajalah kerumah Keyra buat bawa Alisa yang tertinggal,” ujar Rivan tak nyambung.
Pak Andra yang mendengar nama ’Alisa’ langsung melayangkan tatapan maut nya pada Rivan. “Ngehayal kamu! Segera turun dan ajak kedua teman mu untuk mandi be---”
“Astagfirullah, Bapak!”
“Istigfar pak, istigfar!”
“Kayak nya otak bapak perlu di bawa ke tukang tambal ban deh.”
Ujar Keyra, Rafka dan Rivan secara bergantian. “Kalian pikir saya kemasukan setan, makanya nyuruh saya istigfar?” Ujar guru itu nge-gas.
Oke, sepertinya Andra tak perlu berbicara lembut kepada ketiga murid bobrok nya itu.
Tangan Rivan bersedekap di depan dada nya, “tadi Bapak nyuruh kita buat mandi bareng, kan? Dih, saya nggak mau ya sama Neng Kekey yang kurus nya kayak mayat idup,” ejek Rivan sembari melirik kearah Keyra yang menatapnya horor.
Pak Andra menjambak rambut nya frustasi, “kalian turun. Mandi, solat dan silahkan membeli barang yang akan kalian beli di sini. Sebentar lagi, bus kita akan menuju candi Borobudur.” ujar Guru itu.
“Saya lagi datang bulan, Pak. Ini masih belom nyampe tempat tujuan, masa saya harus beli sesuatu di sini. Nanti kalo duit saya abis, Bapak mau bayarin jajanan saya?” Rivan berkata nelangsa.
__ADS_1
“Gue do'ain lo beneran pms, Van!” sahut Keyra.
“Tadi saya tidak berbicara ‘harus’ ya, Rivan! Kamu mau Bapak seruduk, hah?”
“Ih, takut!” Rivan berlagak seperti ketakutan. Ia berlari menuruni anak tangga bus itu dengan menenteng peralatan mandinya.
Andra hanya menggelengkan kepalanya heran, ada saja kelakuan murid kurang ajar nya itu. Pandangan pria dewasa itu berubah menatap kedua remaja berbeda gender yang masih berdiri dengan menatapnya. “Keyra, Rafka. Kalian tidak turun juga? Waktu hanya sepuluh menit lagi,” ujar Pak Andra.
“Turun Pak. Kami permisi,” Keyra dan Rafka langsung berjalan keluar melewati pintu bus bagian belakang, “tunggu, Keyra.” panggil Guru itu menghentikan langkah Keyra, gadis itu berbalik badan. Sementara Rafka sudah berdiri di bawah dengan menatap Keyra lamat. “Iya, kenapa Pak?” tanya nya.
Andra berdeham pelan. “E-ehem, boleh Bapak minta nomer kakak kamu?”
“Bang Garen ya, Pak? Memang nya Bapak tidak punya nomer teman Bapak sendiri?” Bukan maksud tak sopan Keyra bertanya seperti itu. Ia hanya sedikit penasaran dengan Guru nya itu.
“Alisa,” ucap nya mantap. “saya ada keperluan dengan dia masalah ijazah nya tahun---”
“Nanti saya kirim lewat WhatsApp saja, Pak. Saya turun dulu permisi,” pamit Keyra yang langsung turun mendekati Rafka.
Sementara Andra, pria itu nampak memerah mengingat akan penjelasan nya yang tak masuk akal. Alisa sudah lulus 3 tahun yang lalu, bagaimana ia begitu bodoh membuat alasan seperti itu kepada anak didiknya?
Apalagi sekilas Andra melihat bahwa Keyra tersenyum jenaka.
“Arghhh... Bodoh lo, Ndra!” maki nya sendiri. Tak menyadari kedatangan Friski dan juga Ivan yang baru saja tiba.
“Wih, baru tau saya kalo ada guru yang maki diri sendiri 'bodoh’. saya pada mu, Pak!” ujar Friski jahil.
Ivan menahan tawa nya agar tidak pecah. Jangan sampai ia tertawa yang bisa saja merugikan nilai ujian nya nanti di mata pelajaran guru olahraga itu.
“Saya permisi duduk, Pak.” ucap Ivan sok kalem
“Dih, dikira kita tempat penitipan barang apa? Apa kagak sekalian aja, cewek montok dititipin ke kita?!” Ivan membuka kemasan snack yang baru ia beli dan langsung memakan nya.
Friski menjitak kepala Ivan keras, “masih bocah, jangan omes!”
¿¿¿¿¿
Keyra menatap pantulan diri nya di cermin toilet umum yang nampak bersih. Wajah nya polos tanpa ada polesan make up sedikitpun. Outfit yang ia pakai pun sangat cocok dengan kulit nya yang putih berseri.
Setelah berwudhu, Keyra langsung keluar dengan menenteng plastik yang isi nya baju kotornya.
“Astaga, setan!” Gadis itu terkaget kala sebuah siluet berdiri tepat di depan pintu toilet tempat nya mandi.
“Setan ganteng!” Rafka, cowok itu mengambil alih plastik yang di pegang Keyra dan sedikit berlari mendekati gerombolan cowok yang duduk di kursi depan mushola.
Keyra mendengus. Ia ditinggal!
Keyra melewati gerombolan cowok itu begitu saja. Ia memilih melaksanakan kewajiban nya karena jam sudah menunjukan pukul lima pagi.
Di tempat Rafka. Cowok itu menoleh sekilas kearah Keyra yang masuk kedalam mushola.
“Oi, nitip ini! Gue mo ke dalem dulu,” ujar Rafka.
“Emang cewe tadi siapa, Raf?” tanya Alfarel —salah satu teman se tongkrongan Rafka.
__ADS_1
“Babu gue,” setelah mengatakan itu, Rafka langsung melepaskan sepatu nya dan masuk kedalam mushola itu.
“Anjirt. Rafka tolol! Lo berdua napa mau temenan modelan jerapah china kek dia sih?” tanya Alfarel berdecak sebal.
“Temen lo,” sahut Ervin.
“Temen seton,“ timpal Abian.
“Perkumpulan para seton aja sekalian kampret!.“
****
Keyra kembali masuk kedalam bus setelah melaksanakan sholat subuh. Langkah nya yang hendak duduk pun terhenti oleh kaki cowok yang mencegatnya.
“Dua hari lo gak ngomong sama gue, Key.” cowok itu bersua. Masih menampilkan raut setengah datar nya.
Keyra menautkan alis nya bingung, “gue duduk dulu ya, Bi.” kata Keyra.
“Ok,” Abian ikut beranjak dan duduk di bangku yang bersebrangan dengan Keyra.
“Tadi lo ngode mau ngomong sama gue?” tanya Keyra yang diangguki oleh cowok itu, “apa?”
Abian nampak ragu untuk bertanya.
“Lo sekarang deket sama Rafka?”
“Eits! Ngapain nama gue si ganteng di ghibahin?” Rafka tiba-tiba datang menyerobot duduk di samping Keyra.
“Ganteng itu di akuin bukan ngakuin!” seloroh Keyra yang hanya dibalas tatapan acuh dari Rafka. “Lo balik kedepan, Bi. Jangan ampe virus pede nya Afka nyebar ke elo,” sambung gadis itu.
Abian hanya beranjak dan duduk di samping Ervin kembali.
“Bi bi bi, babi!” cibir Rafka.
Bus kembali jalan menuju tujuan pertama mereka yakni, Candi Borobudur. Siapa sih yang tidak tahu mengenai Candi Borobudur ini? Salah satu keajaiban dunia yang Terletak di Magelang-Jawa Tengah.
Di sepanjang perjalanan menuju lokasi Candi Borobudur, Keyra menjumpai banyak pemahat–pemahat batu. Sebelum tiba di Candi Borobudur, bus mereka disambut oleh candi Mendut. Candi Mendut hanya berjarak 3 kilometer saja dari Candi Borobudur.
“Ra, kok firasat gue nggak enak, ya? Kayak bakal terjadi hal buruk,” ujar Rafka tiba-tiba. Cowok itu meletakan kepala nya di paha Keyra dengan posisi yang masih duduk.
Keyra bukan nya mengelus rambut Rafka malah menarik-narik helai rambut cowok itu seperti mencari kutu. “Perasaan lo aja kali, Af. Jangan di pikirin! Nggak baik buat otak udang lo,” sahut Keyra.
“Insting gue selalu tepat, Ra! Gue--”
Gue~
.
.
.
Typo...
__ADS_1
Thnks